Love And Contract

Love And Contract
Kebahagiaan Felix Dan Kepulangan Devita



Kini suasana begitu sunyi. Felix dan Olivia saling beradu pandang. Felix tersenyum melihat Olivia yang membuka matanya. Felix mendekat ke arah Olivia.


"Sudah lama rasanya tidak melihatmu." Felix menatap lekat wajah Olivia, dia berdiri di hadapan Olivia.


"Duduklah Felix," pinta Olivia. Felix mengangguk lalu ia duduk di tepi ranjang


"Olivia, aku sudah membawakan Foto Alvaro Samudera untukmu beserta tanda tangannya. Aku di beritahu itu dari Devita jika itu yang kau inginkan. Tetapi jika kau bertanya bunga mawar biru dan hijau. Maaf, aku belum bisa menemukannya, Olivia. Tapi aku berjanji, setelah ini aku akan menemukannya, Olivia." ujar Felix, wajahnya menunduk malu karena belum berhasil menemukan bunga yang di minta oleh Olivia.


Olivia tersenyum, dia menyentuh tangan Felix. "Terima kasih Felix untuk foto dan tanda tangan dari Alvaro Samudera ini. Dan Felix, tidak masalah, jika kau belum bisa menemukan bunga yang aku inginkan itu. Nanti, aku akan memintamu untuk membawakan bunga mawar merah. Itu mudah bukan?"


"Sungguh Olivia, hanya bunga mawar merah?" Felix tidak percaya dengan apa yang dia dengar ini. Rasanya tidak mungkin, jika Olivia mempermudah semua ini.


"Ya, tidak masalah bunga mawar merah atau bunga mawar putih." balas Olivia dia masih menatap lekat wajah Felix. Terlihat jelas mata Felix memerah, karena tadi Olivia melihat Felix meneteskan air matanya, saat dirinya sudah sadar.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu, Felix?" tanya Olivia.


"Apa Olivia? Apa yang ingin kau tanyakan? Aku pasti akan menjawab semua pertanyaan darimu." jawab Felix antusias.


"Apa alasanmu tetap menungguku hingga aku sadar? Kenapa kau memilihku, Felix? Bisa kau berikan aku penjelasan?" tanya Olivia. Saat ini yang Olivia butuhkan adalah alasan Felix yang tetap begitu setia menunggunya. Bahkan, Felix mengorbankan waktunya hanya untuk dirinya.


Felix menyentuh tangan Olivia, dan membalas tatapan Olivia. "Kau mungkin tidak mempercayai ini. Tapi aku tidak pernah mencintai seseorang seperti aku mencintaimu. Meski Dokter mengatakan hal buruk tentang dirimu, aku akan tetap menunggumu hingga kau membuka matamu. Aku selalu yakin Olivia, kau akan sembuh."


"Dan kau lihat sekarang? Kau membuka matamu, Olivia. Aku benar-benar bersyukur. Tidak masalah bagiku jika kau selalu menolakku. Aku juga tidak masalah, jika kau mengusirku ketika kau melihatku. Karena ribuan kali kau mengusirku, maka aku akan memiliki kesempatan ratusan ribuan kali juga untuk mengejarmu. Aku tidak perduli seberapa banyak kau akan menolakku. Tapi percayalah Olivia Roberto, aku sangat mencintaimu dengan segala kelebihan atau pun kekuranganmu."


Mata Olivia berkaca - kaca setelah mendengar semua perkataan dari Felix yang begitu tulus padanya. Selama ini, Olivia selalu menolak Felix, tapi pria itu tidak pernah menyerah. Bahkan hingga dirinya memiliki kesempatan hidup yang kecil, pria itu selalu tetap menunggunya dengan setia. Olivia tidak mampu untuk membalas semua perkataan Felix. Dalam hidup, Olivia tidak pernah menyangka ada seorang pria yang begitu mencintai dirinya."


Felix menghapus air mata Olivia yang berlinang. "Aku tidak ingin melihatmu menangis, Olivia."


"Aku juga tidak tahu, harus mengatakan apa Felix. Kau begitu membuatku tersentuh dengan setiap perkataanmu. Kenapa kau begitu mencintaiku, Felix? Selama ini, aku selalu menolakmu?" suara Olivia terdengar begitu parau, air matanya terus berlinang membasahi pipinya.


"Aku sangat mencintaimu karena semua sifatmu, Olivia. Dan selamanya, aku akan tetap mencintaimu." balas Felix. "Bolehkah aku memintamu untuk tetap berada di sisiku, Olivia? Tidak masalah jika kau masih menolakku, karena aku akan tetap mengejarmu jika-"


"Aku tidak akan menolakmu!" Potong Felix cepat. "Aku akan menemanimu dan selamanya akan berada di sisimu, Felix. Kau tidak perlu mengejarku, karena aku tidak akan pernah lari darimu. Aku akan selamanya bersama denganmu."


Felix tersentak, ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar ini, Olivia mengatakan jika dia akan bersama selamanya dengan dirinya.


"Olivia, apa yang aku dengar ini sungguh - sungguh?" Felix menatap Olivia penuh harap.


Olivia mengangguk, "Aku akan selamanya berada di sisimu, Felix. Terima kasih untuk perasaan cintamu yang begitu besar padaku itu."


Felix menangkup kedua pipi Olivia. Menempelkan keningnya pada kening Olivia."Olivia, terima kasih karena sudah mau menerimaku. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu. Aku mencintaimu." bisik Felix.


...***...


Hari ini Dokter sudah mengizinkan Devita untuk pulang ke rumah. Tentu saja Devita sangat bahagia mendengar dirinya bisa pulang ke rumah. Rasanya Devita ingin sekali tidur di kamarnya. Sudah sejak beberapa hari yang lalu Devita meminta untuk pulang. Karena memang Devita merasa jauh lebih baik. Hanya saja Dokter belum memberikannya izin dan Brayen ingin, agar Devita selalu di rawat agar Dokter bisa memeriksa keadaan dirinya.


"Nyonya, saya sudah selesai merapihkan pakaian Nyonya." kata pelayan yang baru saja merapihkan pakaian Devita.


"Kau duluan saja ke mobil, aku akan menunggu suamiku datang. Karena setelah ini, aku ingin bertemu dengan Olivia." jawab Devita sembari menikmati cake yang ada di tangannya.


"Kalau begitu saya permisi Nyonya." pamit pelayan itu. Devita pun mengangguk singkat.


Melihat pelayannya sudah meninggalkan ruangan, Devita memilih untuk menghubungi Brayen. Karena sejak tadi itu suaminya pergi dan mengatakan hanya akan pergi keluar sebentar. Tapi sudah dua jam Brayen belum kembali. Devita mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Brayen.


"Memangnya Brayen sedang menghubungi siapa sih sampai lama sekali!" Gerutu Devita, dia sudah mencoba untuk menghubungi Brayen selama lima kali tapi panggilannya selalu sibuk.


Ceklek.


Suara pintu terbuka, Devita mengalihkan pandangannya menatap ke arah pintu. Devita mendengus kesal, melihat Brayen yang melangkah masuk kedalam ruang rawat.


"Kau ini dari mana saja Brayen! Kenapa aku menghubungimu tapi kau sibuk!" Devita masih kesal, ketika suaminya itu pergi dan hanya mengatakan sebentar tapi nyatanya sudah dua jam tidak kembali. Benar - benar menyebalkan.


Brayen mendekat ke arah Devita, lalu duduk di samping istrinya itu. "Maaf sayang, sudah lama aku tidak mengurus perusahaan. Banyak pekerjaan yang tertunda."


Devita pun mendesah pelan, selama ini Brayen memang terlalu banyak memikirkan dirinya. Hingga perusahaan hanya di urus oleh Albert. Terkadang Devita kasihan pada Brayen yang memiliki banyak tanggung jawab.


"Apa sekarang kau masih sibuk?" Devita berusaha terpaksa untuk mengerti.


"Tidak, aku sudah menyerahkannya pada Albert." Brayen mengelus dengan lembut pipi Devita, lalu menyelipkan rambut Devita kebelakang telinga istrinya itu.


"Ya sudah, aku ingin ke ruangan Olivia sekarang. Karena sebelum pulang, aku ingin melihat Olivia." balas Devita.


Brayen mengangguk, kemudian membantu Devita untuk duduk di kursi roda. Kini mereka mulai berjalan meninggalkan ruangan.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.