Love And Contract

Love And Contract
Itu Bukan Salahnya



Hati Laretta tidak bisa tenang, pikirannya terus memikirkan Devita. Bagaimana pun ini terjadi karena dirinya. Jika saja Laretta tidak meminta Devita untuk merahasiakannya dari Brayen, ini tidak mungkin terjadi. Kali ini Laretta tidak akan membiarkan masalah Devita semakin larut. Laretta tidak bisa membiarkan Devita kembali menangis. Terlebih beberapa hari ini Devita terlihat kurus tidak seperti biasanya.


Hingga kemudian Laretta mengambil tas dan ponselnya, dia melangkah keluar dari kamarnya. Tidak ada pilihan lain, dia harus segera menemui Kakaknya itu. Tidak perduli, apa yang terjadi nanti. Setidaknya Laretta sudah berusaha yang terbaik.


Saat Laretta hendak melangkah keluar dari rumah, di ambang pintu sudah berdiri empat pengawal yang menghadang langkah Laretta.


"Minggir!" Tukas Laretta dengan tatapan tajam pada pengawal yang berada di hadapannya.


"Aku ingin ke kantor Kakakku! Kau minggir jangan halangi langkahku!" Seru Laretta penuh dengan peringatan.


"Nona Laretta, Tuan Brayen tidak memperbolehkan anda keluar dari rumah," ujar pengawal itu. "Lebih baik, jika Nona Laretta ingin bertemu dengan Tuan Brayen, Nona bisa menghubungi Tuan Brayen terlebih dulu."


"Kau membuang waktuku!" Balas Laretta tidak mau kalah. "Aku hanya pergi ke kantor Kakakku, apa salahnya? Jika kalian berpikir aku akan bertemu dengan Angkasa, kalian salah besar! Aku ingin bertemu dengan Kakakku! Jadi jangan pernah kalian halangi langkahku! Atau kalian akan tahu akibatnya!"


"Nona, maafkan saya. Tapi Tuan sudah memberikan perintah pada kami untuk melarang Nona keluar dari rumah," kata pengawal itu. "Saya mohon Nona, kalau Nona ingin bertemu dengan Tuan, lebih baik Nona menghubungi Tuan. Saya tidak bisa membiarkan Nona keluar tanpa izin dari Tuan."


Laretta membuang napas kasar. "Aku bersumpah aku akan memecatmu!"


"Ada apa ini?" suara bariton terdengar dari arah belakang. Laretta langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara itu. Senyum di bibir Laretta terukir ketika melihat Kakaknya melangkah masuk kedalam rumah.


"Kau ingin kemana Laretta?" Brayen bertanya dengan tatapan dingin dan penuh intimidasi.


"Aku ingin menemuimu!" Laretta menjawab cepat, dia langsung mendekat ke arah Brayen. "Ada hal penting yang harus aku bicarakan padamu, Kak?"


"Aku tidak memiliki waktu!" Tukas Brayen. Dia melangkah masuk meninggalkan Laretta. Namun, ketika Brayen melangkah masuk dengan cepat Laretta sedikit berlari menghampiri Brayen.


"Tunggu Kak," Laretta berhasil menahan Brayen, hingga membuat pria itu menghentikkan langkahnya.


Brayen membalikkan tubuhnya, tersirat jelas di wajah Brayen masih marah pada Laretta. "Aku memberikan waktu untukmu lima menit! Apa yang ingin kau katakan?"


"Kak, kau tidak bisa seperti ini pada Devita," ujar Laretta. "Devita menutupi semua ini atas permintaanku. Devita tidak mungkin mengatakannya langsung padamu, jika Devita menceritakannya dia pasti membuatku kecewa."


"Kak, aku mohon jika kau ingin membenci maka kau harus membenciku. Aku tidak bisa melihat Devita menderita. Semua ini karena aku, Kak. Aku mohon jangan lagi menghukum Devita. Semua ini bukan kesalahannya, jika saat itu Devita memilih menceritakannya padamu mungkin aku tidak bisa lagi menjalin hubungan yang baik dengan Kakak Iparku. Devita sangat menyayangiku, Kak. Itu kenapa dia selalu memegang janjinya untuk menyimpan setiap rahasia yang aku ceritakan padanya."


"Kak, ingat Devita sedang hamil. Tiga minggu kau tidak pulang membuat Devita melewati hari - hari beratnya. Aku tidak bisa membiarkan Devita seperti itu, aku sangat takut, itu akan membahayakan kandungannya. Jadi aku mohon maafkan Devita, Kak. Kau bebas menghukumku apapun, asal kau tidak menghukum Devita. Selama ini Devita selalu baik padaku, aku tidak bisa melihatnya menderita."


"Sebentar lagi, hari kelulusan Devita, Kak. Harusnya dia bahagia di hari kelulusannya. Aku mohon, jangan menghancurkan momen kebahagiaannya. Maafkan Devita, aku yakin dia tidak akan pernah menutupi sesuatu darimu, Kak. Tidak hanya Devita, tapi aku berjanji tidak akan menutupi sesuatu darimu, Kak. Aku akan selalu jujur padamu. Aku berjanji asal kau memaafkan Devita."


Laretta mengatakan dengan tatapan yang memohon. Laretta berharap Brayen mau memaafkan Devita, meski kini terlihat dari raut wajah Brayen, masih tetap dingin dan seolah tidak perduli.


"Ini bukan hanya karena Devita menutupi masalahmu, tapi ini karena dia yang selalu tidak pernah jujur padaku!" Tukas Brayen tajam. "Bagus kalau kau menyadari untuk tidak lagi membohongiku. Karena aku tidak akan pernah mungkin tidak tahu dengan apa yang terjadi. Dan hal yang paling aku benci ketika kau dan Devita tahu, dan memilih untuk tidak menceritakannya padaku!"


"Masalahku dengan Devita kau tidak perlu ikut campur! Biarkan aku sendiri yang mengurusnya. Lebih baik kau memikirkan dirimu. Ingat Laretta, jangan pernah berani kau menemui pria sialan itu! Karena jika kau berani, aku dengan mudahnya akan menghancurkan pria sialan itu."


Suara Brayen mengatakannya dengan penuh penekanan. Dia sengaja mengancam Laretta, karena Brayen tahu dengan seperti ini, Laretta tidak akan mampu berkutik.


"Tapi aku mohon maafkan Devita." kata Laretta lirih. "Aku tidak bisa melihatnya bersedih Kak. Apa kau tidak bisa melihat? Belakangan ini tubuh Devita jauh lebih kurus?"


"Tapi-"


"Masuk kedalam Laretta!" Seru Brayen.


Laretta tidak memiliki pilihan lain, dia menganggukkan kepalanya lalu melangkah masuk kedalam kamar.


Brayen membuang napas kasar, dia terus menatap Laretta hingga menghilang dari pandangannya. Brayen melihat arlojinya kini sudah pukul sepuluh malam. Brayen tahu, pasti Devita sudah tertidur. Brayen melanjutkan langkahnya menuju ke arah kamar.


...***...


Malam itu hujan begitu deras, Devita tertidur pulas dengan tubuh yang terbalut oleh selimut tebal. Seketika Devita merasakan kenyamanan ketika ada yang memeluk dirinya. Mata Devita masih tetap terpejam. Dia begitu enggan membuka matanya. Rasa kantuk membuatnya memilih untuk tetap menutup matanya, meski merasakan sebuah hangatnya pelukan.


Namun, perlahan Devita mulai membuka matanya, dengan mata yang masih mengantuk Devita menatap bayangan sosok pria yang begitu dia rindukan.


"Brayen, kau sudah pulang?" gumam Devita. "Tidak mungkin, kau kan masih marah padaku. Aku pasti sedang bermimpi."


Devita kembali memejamkan matanya, membiarkannya bermimpi indah. Setidaknya Devita menatap bayangan suaminya ada di sampingnya.


Brayen duduk di tepi ranjang, dia menatap Devita yang tengah tertidur pulas. Meski rasa marah di dirinya tak kunjung reda, tapi Brayen tidak bisa ketika melihat keadaan istrinya yang terus menerus menangis. Di tambah tubuh Devita yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Nagita, asisten istrinya itu selalu melaporkan tentang asupan makan Devita. Tapi belakangan ini Devita tidak memiliki napsu makan yang banyak.


Tiga minggu Brayen tidak pulang, dia memilih untuk tidur di perusahaan. Brayen sengaja menghindar, dia tidak ingin semakin melukai Devita dengan perkataannya. Terbukti, ketika Devita menghampirinya hari ini. Luapan emosi dan perkataan kasar terlontar dari Brayen. Bahkan saat Devita tiba di rumah, Brayen memeriksa keadaan Devita lewat CCTV. Brayen melihat istrinya menangis dalam pelukan Laretta. Sejak dulu, Brayen tidak pernah bisa melihat Devita menangis. Namun, tidak bisa di bohongi Brayen masih memiliki kekecewaan yang besar terhadap istrinya itu.


Brayen mengusap perut Devita dengan lembut, perut Devita kini sudah semakin membuncit. Meski Brayen tidak menemani Devita, tetapi Brayen selalu meminta Dokter Keira untuk selalu memeriksa keadaan istri dan anaknya. Brayen mendengar napas halus dan teratur istrinya, Devita jika sudah tertidur pulas, dia tidak pernah menyadari kedatangan seseorang.


Hingga kemudian Brayen mengecup perut Devita yang sudah membuncit itu. Bukan dia tidak merindukan istrinya, dia sungguh merindukan istrinya. Hanya saja, setiap kali berhadapan dengan Devita, Brayen selalu mengatakan perkataan kasar dan melukai hati Istrinya. Itu kenapa Brayen memilih untuk menjauh.


"Kau harus jaga kesehatanmu, sayang. Ingat kau sedang hamil. Aku belum ingin bicara denganmu bukan berarti aku membencimu. Aku hanya tidak ingin melukai hatimu dengan perkataanku." Brayen mengatakannya dengan suara yang pelan, dia tidak ingin membangunkan Devita.


Brayen menarik selimut Devita, merapatkan selimut ke tubuh Devita, kemudian dia bangkit berdiri dan meninggalkan Devita yang masih tertidur lelap.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.