
Sudah beberapa hari setelah Brayen mengetahui hasil Tes DNA itu, dia memilih untuk diam. Brayen belum ingin memberitahukannya pada Edwin. Alasannya Brayen ingin melihat apa rencana dan maksud dari Gelisa. Saat Ini Brayen meminta Albert untuk mengawasi pergerakan dari Gelisa dan kedua anak dari Gelisa. Hingga detik ini Edwin masih belum menemui Lucia. Ini yang membuat Brayen memilih untuk menahan diri memberitahukan pada Edwin.
Brayen tengah berdiri menatap luar jendela, dia ingin sekali mengajak Devita berlibur setelah semua ini selesai. Belakangan memang sangat sibuk di perusahaan. Tentu saja ini karena David, Daddynya masih dalam. pemulihan. Brayen memang sengaja meminta David untuk beristirahat.
Terdengar suara ketukan pintu, Brayen menoleh ke arah pintu dan memintanya untuk masuk, dia melirik arlojinya kini sudah pukul sepuluh pagi. Brayen ingat sebentar, dia memiliki meeting dengan Mr. Lee.
"Tuan," sapa Albert menundukkan kepalanya, saat melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen.
"Apa kau datang untuk mengingatkan meeting?" tukas Brayen dingin tanpa menoleh ke arah Albert.
"Tidak Tuan, saya ingin melaporkan tentang Nakamura Company." jawab Albert.
Brayen membuang napas kasar, dia berbalik, lalu menatap Albert. " Katakan, apa yang ingin kau laporkan."
"Saat ini perusahaan milik Angkasa Nakamura sudah mengalami peningkatan, Tuan. Dana yang kita berikan untuk Nakamura Company telah di kelola dengan sangat baik oleh Angkasa Nakamura. Proyek mereka berhasil, Tuan. Bahkan, dari hasil yang saya amati, mereka dalam waktu dekat mampu membuka cabang perusahaan mereka." ujar Albert yang menceritakan hasil pengamatannya.
Brayen tersenyum tipis. " Great, rupanya dia melakukan ini dengan baik."
"Tuan, apa Tuan akan memberikan persyaratan selanjutnya?" tanya Albert hati - hati.
Brayen terdiam sebentar, lalu dia kembali menatap keluar jendela. "Sepertinya tidak, aku lihat dia cukup mampu tapi aku harus memastikan sebelum keputusan yang aku ambil ini tepat. Setelah aku selesai mengurus masalah Gelisa Wilson baru aku akan mengurus masalah Laretta karena aku masih membutuhkan sedikit waktu dalam menilai Angkasa."
"Baik Tuan. Tapi menurut saya, Tuan Angkasa Nakamura cukup bisa di andalkan. Dia banyak berubah saat gagal dalam proyek yang dia jalankan sebelumnya. Melihat keseriusan dari Angkasa Nakamura, saya yakin Tuan David dan Nyonya Rena pasti bisa memaafkan Nona Laretta." Albert berusaha untuk menjelaskan keyakinannya tentang seorang Angkasa Nakamura.
"Kita lihat nanti, aku akan melihat bagaimana dia kedepannya. Saat ini, dia masih memiliki waktu untuk menunjukkan dirinya." balas Brayen. "Sekarang, lebih baik kita keruangan meeting." Brayen berjalan keluar ruangan kerjanya, Albert pun menunduk dan langsung mengikut Brayen dari belakang.
...***...
Satu jam kemudian Brayen sudah selesai meeting, setelah selesai meeting dia langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan meeting menuju ruang kerjanya, langkahnya terhenti ketika Raisa, sekretarisnya menghampirinya. " Tuan Brayen." sapa Raisa.
"Ada apa?" tanya Brayen dingin.
"Maaf Tuan, ada Tuan Felix datang dan dia sudah menunggu di ruang kerja anda, Tuan." jawab Raisa.
"Untuk apa dia kesini?"
"Maaf Tuan. Sepertinya Tuan Felix ingin berbicara tentang hal yang penting."
Tanpa menjawab, Brayen langsung melangkah masuk kedalam ruang kerjanya. Kini dia tengah menatap Felix yang tengah melihat foto di atas meja kerjanya. Brayen membuang napas kasar, sepupunya itu datang di waktu yang tidak tepat. Saat ini Brayen ingin beristirahat setelah selesai dari meeting.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" suara Brayen terdengar begitu dingin. Dia melangkah menuju ke ruang kerjanya dan langsung duduk di kursi kerjanya itu. Sedangkan Felix langsung mendengus kesal mendengar Brayen bertanya apa yang dia lakukan di sini. Felix tidak menjawab, dia lebih memilih untuk langsung duduk di hadapan Brayen.
"Brayen, kau ini apa tidak bisa menyambut sepupumu ini dengan baik? Apa kau tidak ingat, aku yang selalu membantumu ketika kau ada masalah dengan istrimu?" seru Felix yang sengaja menyindir Brayen.
Brayen mengumpat di dalam hati. Felix memang suka sekali mengungkit - ungkit tentang Devita. Padahal selama ini Brayen juga selalu membantu Felix. Terutama jika Felix kekurangan dana di dalam perusahannya. Brayen adalah orang pertama yang selalu membantu Felix. Tapi sialan,Felix tidak pernah mengingat itu. Jika Brayen ingin mengungkit tentang kebaikan yang telah dia lakukan, Felix pasti akan mengatakan bahwa dia adalah sepupu dari Brayen Adams Mahendra dan sudah sepantasnya mendapatkan bantuan itu.
"Memangnya kau butuh apa lagi? Cash flow di perusahaanmu hancur?" tukas Brayen yang sengaja meledek Felix.
Felix mengumpat kasar. " Tidak sialan! Kau ini kurang ajar! Beraninya kau mengatakan cash flow perusahaanku hancur."
"Jika bukan karena perusahaanmu dalam masalah, untuk apa kau datang kesini."
"Merindukanmu!"
"Jangan bicara yang tidak - tidak! Apa yang kau inginkan?"
"Jika aku bisa, aku ingin segera mengeluarkan seluruh darahmu. Kau mengatakan kita ini satu darah bukan? Kalau begitu aku tidak mau satu darah denganmu."
Felix berdecak. "Memang nasibku tidak beruntung memiliki sepupu sepertimu. Kasihan sekali Paman David, aku tidak tega padanya."
"Cepat katakan apa yang kau inginkan! Kau ini sejak kapan banyak berbasa - basi."
Felix membuang napas kasar. " Bagaimana kau bisa kenal dengan Edgar Rylan Wilson?"
Brayen menaikkan sebelah alisnya, lalu dia menatap lekat Felix. " Bagaimana kau bisa mengenal Edgar Rylan Wilson?"
"Dia adalah seniorku di kampus dulu, jika aku kembali ke Australia untuk mengunjungi Apartemenku yang ada di sana, aku sering ke klub malam bersamanya." jawab Felix.
"Sekarang katakan padaku, bagaimana bisa kau mengenal Edgar Rylan Wilson? Seingatku, Wilson Company tidak pernah menjalin kerjasama dengan Mahendra Enterprise." sambung Felix.
"Aku memiliki beberapa urusan dengan keluarga Wilson." balas Brayen singkat. "Darimana kau tahu, aku sedang berurusan dengan Edgar Rylan Wilson? Dia bercerita denganmu?" Brayen menatap Felix dengan menatap penuh selidik.
"Aku rasa, kau ini lupa ingatan Brayen. Asal kau ingat dan otak cerdasmu masih berfungsi dengan baik. Nama belakangku juga masih Mahendra. Ibuku belum mencoret namaku dari daftar keluarga. Jadi tentu Edgar bertanya padaku, apa hubunganku denganmu." Felix mendengus kesal. Jelas - jelas nama belakangnya sama dengan Brayen. Harusnya tanpa di beritahu cukup dengan mengatakan Edgar adalah seniornya, Brayen sudah memahami. Tapi ini masih bertanya.
"Apa yang dia katakan padamu?" Brayen tidak mempedulikan perkataan Felix yang lain. Dia hanya ingin tahu, apa yang di katakan Edgar pada Felix.
"Tadi malam, saat aku sedang bersama dengan teman - temanku di uniun club. Aku bertemu dengan Edgar dan dia bertanya, apa hubunganku denganmu. Saat aku mengatakan aku adalah sepupumu, wajahnya menunjukkan ketidaksukaan. Apa kau sedang mencari masalah Brayen?"
"Aku tidak pernah mencari masalah!"
"Lalu kenapa kau bisa mengenal Edgar Rylan Wilson?"
"Aku tidak bisa menceritakannya padamu. Tidak sekarang, ini berkaitan dengan keluarga Devita."
Felix terdiam, lalu dia mengangguk paham. Jika berurusan dengan keluarga Devita dia tidak ingin ikut campur. "Meski aku tidak pernah menginginkanmu menjadi sepupuku, tapi katakan padaku apapun masalahmu. Aku pasti membantumu."
Brayen tersenyum tipis. " Apa kau mengenal dengan baik latar belakang keluarga Wilson?"
"Tidak terlalu, tetapi aku cukup dekat dengannya. Yang aku tahu, Edgar bukanlah anak kandung dari Valdis Wilson dan aku tidak terlalu banyak tahu, karena media tidak pernah meliput buruk tentang keluarga Wilson." jawab Felix.Kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Baiklah, aku harus pergi. Aku ingin menjemput wanitaku. Kau tahu bukan?Aku sedang mengejar Olivia. Tapi, kalau kau membutuhkanku katakan saja padaku. Tapi ingat Brayen, ini tidak gratis. Sahammu sangat banyak di perusahan ku. Aku berjaga - jaga agar kau tidak mengakusisi perusahaanku."
Brayen menajamkan matanya pada Felix. Bisa - bisanya Felix mengatakan itu padanya. Felix tersenyum santai, lalu dia berjalan meninggalkan ruang kerja Brayen. Felix bahkan tidak memperdulikan tatapan tajam dari Brayen.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.