Love And Contract

Love And Contract
Cappadocia



Kini Brayen dan Devita sudah dalam perjalanan menuju ke Cappadocia. Sesuai permintaan Devita akhirnya mereka bisa ke Cappadocia. Sebelumnya memang tertunda karena ada beberapa pekerjaan Brayen yang harus membuat Brayen menundanya.


Sejak pertemuan Devita dengan Veronica, Devita tidak menceritakan apapun pada Brayen. Termasuk dengan Veronica yang memberitahu masa lalu mereka. Devita bisa melihat Veronica adalah perempuan yang baik.


"Brayen, apa nanti kita akan pulang ke Instabul?" tanya Devita sambil menatap Brayen yang sedang berkutat dengan iPad yang ada di tangannya.


"Aku sudah meminta Ruby, untuk mencari hotel di Cappadocia," jawab Brayen tanpa mengalihkan pandangannya. Dia tetap melihat layar iPadnya.


"Lalu baju kita bagaimana? Aku tidak mempersiapkan apapun," Devita mengerutkan keningnya. Menatap kesal Brayen. Seharusnya jika ingin menginap di Cappadocia, Brayen mengatakannya sejak awal. Tapi ini Devita tidak di beri tahu apapun.


"Perlengkapan kita sudah di siapkan oleh Ruby," balas Brayen.


Devita mendesah pelan, " Baiklah, hm Brayen sebenarnya aku merindukan masakan Indonesia?"


"Masakan Indonesia?" Brayen mengalihkan pandangannya, lalu menatap lekat Istrinya itu.


Devita mengangguk, "Ya, aku merindukannya. Kau tahu bukan Ibuku asli orang Indonesia. Karena semenjak aku pindah ke kota B aku belum pernah makan makanan Indonesia" ujar Devita.


"Setelah kita pulang nanti, aku akan mencarikan chef untuk bekerja di rumah kita dan memasak makan makanan Indonesia," Brayen mengelus lembut pipi Devita.


"Eh? Kenapa harus chef? Tidak perlu, mungkin pelayan biasa di rumah kita sudah cukup, Brayen." jawab Devita dengan tatapan yang protes. Meski dia tahu suaminya memiliki uang yang cukup, tapi baginya cukup pelayan asal kota B saja sudah lebih dari cukup. Tidak perlu chef.


"No, aku akan meminta Albert untuk menyiapkan chef yang bisa memasak makanan Indonesia dengan enak," balas Brayen tanpa ingin di bantah.


Devita mendengus, di mencebikkan bibirnya. "Terserah kau saja, kau memang selalu berlebihan. Apa jika nanti aku meminta uang padamu milyaran dollar kau juga akan memberikannya padaku?"


Brayen menaikkan sebelah alisnya, lalu menjawab dengan santai, " Uang yang aku miliki adalah milikmu juga. Tanpa harus kau yang memintanya, kau bisa mempergunakannya sepuasmu,"


Devita menatap kesal Brayen. Suaminya itu selalu saja berlebihan. Pantas dulu Elena sering memanfaatkannya. Bagaimana tidak? Brayen akan selalu membahagiakan wanitanya dengan apapun yang pria itu miliki.


"Aku ingin bertanya padamu," Devita melipat tangannya di depan dada, lalu menatap Brayen dengan penuh selidik.


"Kau ingin bertanya apa, sayang?" Brayen mengelus lembut pipi Devita.


"Berapa banyak barang yang sudah kau belikan untuk mantan kekasihmu itu? Mobil mewah? Apartemen? Apa lagi?" tukas Devita sinis.


"Jangan membahas masa lalu, Devita." balas Brayen yang enggan menjawab pertanyaan Devita. Bisa - bisa Devita akan marah jika Brayen menceritakannya.


"Jawab saja, Brayen Adams Mahendra! Jangan mencoba mengalihkan pertanyaanku," ucap Devita ketus.


"Aku tidak mengingatnya, sayang," jawab Brayen datar.


Devita tersenyum miring, " Tidak mengingatnya? Begitu banyak yang kau berikan hingga kau tidak mengingatnya?"


Brayen membuang napas kasar. "Aku memberimu jauh lebih banyak darinya."


"Tapi aku tetap ingin mengetahui apa saja yang sudah kau belikan. Jika tidak, aku akan memeriksa mutasi rekening mu selama kau di Milan!" Tukas Devita dengan nada penuh ancaman.


"Sayang, sudahlah lupakan. Jangan pernah membahas masa lalu." Brayen mendekat, dia memeluk pinggang Devita.


"Tidak, aku hanya ingin bertanya apa saja yang sudah kau belikan!" Seru Devita. Dia tetap memaksakan Brayen untuk menjawabnya.


"Aku sudah pernah membelikannya mobil, Apartemen, Perhiasan dan uang setiap bulannya," Brayen menjawab dengan terpaksa, jika dia tidak menjawab, itu sama saja mencari masalah dengan istrinya.


Devita menggeleng pelan. Benar saja, pantas saja Elena tidak mau berpisah dengan Brayen. "Berapa jumlah uang yang kau berikan padanya setiap bulan?"


"Apa harus di sebutkan juga nominalnya?" Brayen menatap kesal Devita istri kecilnya itu selalu mengungkit masa lalunya.


Brayen menarik tangan Devita dan membawa Devita masuk ke dalam pelukannya. "Aku tidak mengingatnya,sayang. Tapi biasanya aku memberikannya dua juta dollar."


Devita mendelik tidak percaya. Dua juta dollar di buang oleh Brayen setiap bulannya untuk wanita macam Elena? Yang benar saja! Devita sungguh tidak habis pikir dengan suaminya itu.


"Tapi dia tidak pernah aku berikan kartu kredit sepertimu. Aku hanya memberikannya padamu. Aku juga tidak pernah memberikanmu batasan untuk menggunakan uangku," jelas Brayen. Dia sudah tahu Devita menatap tajam dirinya. Setidaknya dengan ucapannya ini bisa menenangkan hati Devita.


Devita mendengus. "Kau ini, tidak pernah menghargai uang, Brayen. Aku bukannya melarangmu memberikan sesuatu pada wanita. Tapi dia hanya kekasihmu, kau sudah memberikannya di luar batas. Aku berharap anak kita tidak sepertimu. Aku tidak mau anakku seperti Daddy - nya!"


Brayen mengeratkan pelukannya, " Maafkan aku, itu sudah masa lalu sayang . Bukankah kau juga memiliki masa lalu?"


"Jangan meledekku, Brayen! Kau tahu, aku tidak pernah memiliki kekasih!" Ucap Devita ketus.


Brayen mengulum senyumannya. " Maaf sayang, aku tidak meledek. Aku malah bersyukur kau tidak memiliki kekasih.


Devita mencebikkan bibirnya. " Menyebalkan!"


Brayen tersenyum dia mengusap rambut Devita.


Kini mereka berkunjung di Guray Museum. Biasanya para pengunjung yang datang ke Cappadocia pasti akan mendatangi meduei ini. Guray Museum di Cappadocia, menjadi museum keramik pertama di dunia dan satu - satunya yang berada di bawah tanah.


...***...


Brayen dan Devita kini sudah tiba di Cappadocia. Tempat yang sudah di nantikan oleh Devita. Jarak Istanbul ke Cappadocia cukup jauh. Dengan bus atau mobil kurang lebih dua belas jam. Itu kenapa Brayen tidak langsung pergi ke Cappadocia. Karena jaraknya dari Instabul cukup jauh.


Brayen dan Devita turun dari mobil. Lalu Brayen mengulurkan tangannya pada Devita. Devita menatap balon udara, dia tersenyum senang akhirnya bisa melihat Cappadocia.


"Devita, kau ingin naik balon?" tanya Brayen.


Devita menggeleng cepat. " Aku takut ketinggian, aku tidak mau Brayen. Aku datang hanya ingin melihat balon di udara saja


"Ada aku, kenapa kau harus takut? Aku akan memegangmu agar kau tidak takut," jawab Brayen.


"No, tetap saja lututku akan bergetar, jika melihat di bawah," tolak Devita cepat. Dia memang takut ketinggian. Tetap saja meskipun Brayen di sampingnya, tapi tetap takut.


"Lebih baik kita foto saja. Aku ingin kita berfoto," ucap Devita dengan senyum di wajahnya. "Ayo Brayen, kita berfoto." Dia sudah mengeluarkan ponselnya untuk berfoto dengan Brayen.


Brayen mengangguk singkat. Devita tersenyum bahagia, dia langsung melakukan berbagai pose. Mulai dari mencium Brayen, memeluk dan menempelkan hidung mereka satu sama lain. Setelah puas berfoto, Devita kembali menyimpan ponselnya di tas.


"Baiklah, ayo kita jalan ke tempat lain," Devita memeluk lengan Brayen.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.