Love And Contract

Love And Contract
Kekesalan Devita Dan Tangisan Laretta



Brayen membelokkan mobilnya memasuki halaman parkir mansionnya. Dia turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam rumah. Dia melirik arloji, kini sudah pukul sembilan malam. Para pelayan dan pengawal yang melihat Brayen masuk, mereka menyapa dan menundukkan kepala mereka. Brayen membalasnya dengan anggukan singkat, lalu melanjutkan kembali langkahnya masuk kedalam kamar.


Saat tiba di dalam kamar Brayen tersenyum melihat istrinya sudah tertidur pulas di ranjang. Dia langsung melangkah mendekat ke arah ranjang sembari melonggarkan dasinya yang masih terpasang rapi. Dia membuka jas dan meletakkannya di sofa.


Brayen duduk di tepi ranjang, dia merapihkan rambut yang menutupi wajah istrinya itu. Napas teratur dan halus milik Devita, membuat Brayen langsung memberikan kecupan ke mata, hidung dan bibir Istrinya.


"Hmmptttttttt." Devita menggeliat, dia tersentak saat membuka mata sudah ada suaminya yang tengah memberikan banyak kecupan di wajahnya.


"B-Brayen? Kau sudah pulang?" tanya Devita dengan suara yang serak, khas bangun tidur. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu memindahkan kepalanya, ke pangkuan suaminya.


"Ya maaf, hari ini aku sedikit sibuk." Brayen mengusap rambut istrinya. "Apa kau sudah makan?"


"Sudah Daddy mana mungkin aku belum makan di jam seperti ini. Anakmu pasti marah padaku." jawab Devita. Dia melingkarkan pelukannya memeluk erat tubuh suaminya.


Brayen mengulum senyumannya. "Apa tadi, Viona sudah datang?"


"Sudah sayang, kau tenang saja. Tadi gaun yang di pilihkan oleh Viona sangat bagus dan tidak terlalu seksi." balas Devita. "Sekarang, lebih baik kau mandi. Aku ingin tidur lagi, karena aku masih mengantuk."


"Kau tidurlah duluan, nanti aku menyusul." Brayen memindahkan posisi Devita, karena dari tadi kepala istrinya berada di pangkuannya. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya itu. Lalu memberikan kecupan di kening istrinya itu.


Setelah melihat Devita kembali memejamkan matanya, Brayen beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah kamar mandi.


...***...


Suara dering ponsel yang sejak tadi tidak henti berdering, membuat Devita tengah tertidur pulas harus terbangun. Devita membuka matanya, dia melirik ke arah Brayen yang masih tertidur pulas.


Devita meraba ke atas nakas, dia melihat ponsel Brayen yang tidak berhenti berdering. Devita mengerutkan keningnya ketika nomor tidak di kenal menghubungi suaminya. Tanpa menunggu lama, Devita menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan, sebelum kemudian meletakkan di telinganya.


"Hallo?" jawab Devita saat panggilannya terhubung.


"Ah, maaf saya menganggu di pagi hari. Apa anda istri Tuan Brayen?" suara seorang wanita dari sebrang telepon.


"Ya, aku istrinya kau siapa?"


"Aku Ivana, maaf menghubungi Tuan Brayen. Karena sejak kemarin malam saya menghubungi Albert tidak mendapat jawaban."


"Nona Ivana? Aku tidak tahu itu kau. Karena suamiku tidak menyimpan nomor ponselmu. Sekarang masih pagi, lebih baik kau menghubungi Albert jika membahas pekerjaan. Atau kau bisa menghubungi Raisa, sekretaris suamiku."


Devita langsung memutuskan panggilan sepihak, dan meletakkan kembali ponsel Brayen ke tempat semula.


"Siapa yang menelpon ku, sayang?" Brayen menarik tangan Devita, dan membawanya kedalam pelukannya.


"Kau tahu ponselmu berdering, dan kau memilih untuk tidak menjawab." Devita memincingkan matanya, menatap kesal suaminya itu.


"Aku tahu ponselku berdering, tapi kau sudah menjawab. Jadi aku tidak perlu lagi menjawabnya bukan?" jawab Brayen yang seolah tidak perduli jika istrinya itu menjawab ponselnya itu. Brayen merapatkan tubuhnya, dia memeluk erat tubuh Devita.


Devita mendengus. "Aku ingin mandi dan sarapan. Aku sudah lapar "


Devita mendorong tubuh Brayen, dan hendak beranjak bangkit dari tempat tidurnya. Namun, Brayen tidak membiarkannya. Dia semakin mengeratkan pelukannya.


"Jangan marah di pagi hari, sayang." Brayen memberikan kecupan di puncak kepala istrinya.


"Aku ingin mandi Brayen!" Ucap Devita ketus.


"Sebentar lagi, aku ingin memeluk istriku yang terus cemburu ini." balas Brayen sembari memberikan kecupan singkat di bibir Istrinya itu.


...***...


Setelah selesai mandi, Devita yang masih kesal karena kejadian tadi pagi membuat Devita yang tadinya ingin sarapan, dia memilih untuk menonton film drama kesukaannya.


"Devita, kau belum sarapan?" Brayen yang baru saja selesai mengganti pakaiannya, dia melihat istrinya yang tengah menonton film.


"Aku tidak lapar." ucap Devita ketus.


Brayen mengulum senyumannya, dia melangkah mendekat lalu duduk di samping Devita. "Masih marah karena ada yang menghubungiku tadi pagi?"


Brayen menarik tangan Devita, membawanya kedalam pelukannya. "Aku sudah menghubungi Albert tadi, aku sudah memberitahu Albert untuk mengingatkan Ivana menghubunginya. Bukan menghubungiku."


"Tapi dia masih saja menghubungimu di pagi hari! Menganggu tidurku saja!" Devita mendengus tak suka. "Aku yakin, dia hanya mencari alasan saja agar bisa menghubungimu! Tidak tahu malu!"


Brayen menangkup kedua pipi Devita, memberikan kecupan di bibir ranum istrinya. "Selanjutnya, aku akan mematikan ponselku jika kita tidur. Jadi, tidak ada lagi yang menghubungiku di pagi hari."


"Jangan! Nanti kalau ada hal penting, orang lain tidak bisa menghubungimu!" Devita mengerutkan bibirnya.


Brayen menghela nafas dalam. "Jika aku tidak mematikan ponselku, nanti ada yang menghubungiku seperti tadi pagi kau marah seperti ini!"


Devita membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, dia mengeratkan pelukannya. "Aku hanya kesal saja. Karena wanita itu menghubungimu di pagi hari. Padahal aku sudah bilang untuk menghubungi Albert."


Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* lembut bibir istrinya itu. "Aku sudah meminta Albert untuk memberikan peringatan padanya. Sekarang lebih baik kita sarapan."


Devita menganguk. "Apa Laretta ada di rumah?"


"Ya, dia masih di rumah." jawab Brayen. Dia beranjak berdiri, lalu mengulurkan tangannya ke arah istrinya. Devita tersenyum lalu menyambut uluran tangan Brayen. Kini mereka melangkah meninggalkan kamar menuju ke arah ruang makan.


...***...


"Morning Kak... Morning Devita..." sapa Laretta ketika melihat Brayen dan juga Devita masuk kedalam ruangan.


"Morning Laretta." Devita menyeret kursi, lalu dia duduk tepat di samping Brayen.


Tidak lama kemudian pelayan mengantarkan Tuna sandwich dan susu kacang untuk Devita. Sedangkan Brayen lebih memilih kopi espresso dan roti gandum.


"Laretta, gaun pengantinmu dan wedding organizer semuanya sudah siap bukan?"tanya Devita sambil menikmati tuna sandwich di tangannya.


"Sudah Devita, semua sudah siap. Bahkan dekorasi pernikahanku benar - benar sangat sempurna. Aku sudah melihat konsepnya." Pandangan Laretta kini melirik ke arah Brayen. "Ini semua berkat Kakakku, dia yang sudah membantuku mempersiapkan pernikahanku. Kakakku juga yang sudah mengatur konsep pernikahanku. Aku sungguh beruntung memiliki Kakakku."


Devita tersenyum ke arah Brayen. Rasa kesalnya kini sudah berubah menjadi tatapan bangga pada suaminya.


"Terima kasih karena sudah membantuku, Kak?" kata Laretta dengan tatapan haru ke arah Brayen. Namun Brayen lebih memilih untuk membaca koran di hadapannya dari pada melihat ke arah adiknya.


Laretta langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia langsung menghamburkan pelukkannya pada Brayen. Laretta menangis di pelukan Brayen, hingga membuat Brayen mengusap punggung adiknya itu.


"Aku membencimu menangis. Jangan menangis. Atau aku akan membatalkan pernikahnmu," tukas Brayen penuh dengan peringatan.


Laretta mengurai pelukannya dengan mata yang memerah dan masih berkaca-kaca dia menjawab dengan sesegukan "Aku menangis bahagia, Kak! Bukan menangis sedih!"


Brayen tersenyum, dia memeluk erat Laretta. "Aku membencimu menangis. Tugasku untuk menjagamu tidak akan pernah selesai. Angkasa menjadi yang utama dalam menjagamu. Tapi bukan berarti aku tidak lagi menjagamu. Seumur hidupku aku akan menjagamu. Aku akan kembali mengambilmu dari tangan suamimu, jika aku tahu di masa depan kau tidak berbahagia dengannya."


Mendengar ucapan Brayen, membuat air mata Laretta tidak juga berhenti. "Terima Kak, karena sudah menyayangiku. Aku berjanji akan selalu hidup bahagia. Aku tidak akan menyusahkanmu. Aku akan menunjukkan padamu, hidupku itu akan di penuh dengan kebahagiaan."


"Itu yang aku inginkan." Brayen mengusap kepala Laretta.


Mata Devita berkaca-kaca, hatinya begitu tersentuh mendengar perkataan Brayen. Suaminya itu memang bukan hanya suami yang terbaik. Tapi juga Kakak yang terbaik, Brayen memilki cara sendiri untuk menunjukkan rasa kasih sayangnya. Dan hari ini, Devita melihat sifat keras dan arrogant suaminya itu telah mencair. Devita tidak hentinya bersyukur, memiliki Brayen di dalam hidupnya.


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.