Love And Contract

Love And Contract
Bertemu Selena



Berlin salon and spa, adalah tempat yang di pilih oleh Devita dan juga Laretta. Mereka melakukan berbagai treatment kecantikan yang tentunya sangat aman untuk ibu hamil. Seperti biasa, Devita selalu merawat kukunya agar tetap indah. Begitupun dengan Laretta yang melakukan treatment di wajahnya agar kulitnya tetap terjaga.


Menghabiskan waktu bersama dengan Laretta di salon, adalah hal yang sangat menyenangkan. Devita memang sering merasakan bosan. Bahkan sangat bosan, tapi Devita tidak selalu menghabiskan waktunya bersama dengan Laretta.


"Devita, apa setelah ini kau ingin berbelanja?" tanya Laretta.


"Aku rasa tidak, karena aku sudah banyak berbelanja bulan ini." jawab Devita.


"Tidak masalah, kau sering berbelanja setiap detik. Karena Kakakku sangat mampu untuk membayar seluruh tagihanmu."


"CK! Ini bukan karena Brayen mampu membayarnya atau tidak. Hanya saja, aku sedang tidak ingin."


"Baiklah, setelah dari salon kita ke Thailand restoran saja, karena aku ingin makan tom yum."


"Ya, aku juga sudah lama tidak makan tom yum," balas Devita.


"Laretta?" suara seorang perempuan memanggil Laretta. Hingga membuat Devita dan juga Laretta mengalihkan pandangannya, mereka menatap sosok wanita cantik yang berambut merah melangkah mendekat.


"Selena?" Laretta mengerutkan keningnya, ketika melihat sosok wanita yang sangat dia kenali itu.


"Hi Laretta, apa kabar?" sapa seorang wanita yang kini berada di hadapan Laretta dan juga Devita.


"Selena? Kau ada di kota B?" tanya Laretta dengan tatapan yang tak percaya.


"Ya, Laretta. Aku sekarang kembali lagi dan tinggal menetap di sini," jawab wanita bernama Selena itu.


Laretta menggangguk, "Aku terakhir mendengar kabar kalau kau itu tinggal di London."


"Kota B jauh lebih menarik menurutku. Itu yang membuatku untuk memutuskan kembali." balas Selena.


"Ah begitu, baiklah. Oh ya Selena, ini Devita istri Kak Brayen." ucap Laretta yang memperkenalkan Devita.


"Devita, ini Selena temanku." Laretta memperkenalkan Selena pada Devita.


Seketika raut wajah Selena terkejut saat Laretta memperkenalkan Devita. " Jadi berita Brayen sudah menikah itu benar?"


"Benar Selena, ini Devita istri dari Kak Brayen." balas Laretta.


"Hi Selena, senang bertemu denganmu?" sapa Devita dengan senyuman di wajahnya.


Namun Selena memaksakan senyuman di wajahnya. "Aku juga senang berkenalan denganmu."


"Laretta, Devita apa besok kalian berdua bisa datang ke acara ulang tahunku? Aku ingin mengundang kalian berdua, jika kalian bersedia datang." jawab Selena.


"Besok ulang tahunmu? Aku sampai lupa?" balas Laretta. "Aku dan Devita pasti akan datang. Kau tenang saja."


"Benar, aku dengan senang hati pasti akan datang." sambung Devita.


"Baiklah, nanti aku akan kirimkan alamatnya lewat pesan." ujar Selena. "Laretta nomor ponselmu masih yang lama kan?"


"Masih, aku tidak pernah merubah nomor ponselku." jawab Laretta.


Selena mengangguk, "Ya sudah, kalau begitu aku harus pergi dulu karena aku masih mengurus beberapa persiapan untuk acara besok."


"Ya Selena, take care." ujar Laretta dan juga Devita.


Melihat Selena sudah pergi, Devita dan juga Laretta meninggalkan salon. Mereka kemudian mencari restoran Thailand sesuai dengan keinginan Laretta, yang sudah sejak tadi ia ingin makan tom yum soup.


...***...


Setelah satu harian menghabiskan waktu bersama, kini Devita dan juga Laretta sudah berada di dalam mobil. Meski lelah tetapi Devita sangat senang menghabiskan waktunya bersama dengan adik iparnya itu.


"Selena?" Devita mengerutkan keningnya. "Apa aku pernah mengenalnya? Tapi sepertinya aku tidak pernah mengenalnya?"


"Aku dulu pernah menceritakan Selena, dia adalah wanita yang begitu menyukai Kakakku. Tapi, Kak Brayen menolaknya bahkan Kakakku itu tidak pernah bersikap ramah padanya," ujar Laretta. "Beberapa minggu lalu, aku sudah mendengar kabar jika Selena sudah meninggalkan Indonesia. Aku tidak tahu alasan Selena meninggalkan Indonesia. Mungkin karena saat itu Selena patah hati dengan Kakakku."


"Aku ingat!" Seru Devita ketika mengingat nama wanita itu. "Kalau tidak salah saat kita berlibur di Las Vegas, kau menceritakan tentang Selena bukan?"


"Benar, dia adalah temanku yang terobsesi pada Kak Brayen." balas Laretta. "Tapi kau tidak perlu cemas, Selena pasti tidak mungkin mengejar Kak Brayen lagi. Karena terakhir Kakakku sudah memberikan ancaman pada Selena. Kau tahu bukan? Kakakku itu tidak terlalu suka jika ada yang terlalu terobsesi padanya."


Devita mengulum senyumannya. "Aku tidak cemas, Laretta. Karena aku sangat mengenal suamiku dengan baik. Brayen bukanlah seorang pria yang senang berganti - ganti wanita. Sifatnya yang dingin dan arrogant, yang membuatku tidak berhenti untuk mencintainya. Kakakmu itu sungguh menggemaskan."


"Kau benar, dan sejak kecil Kakakku itu memang idolaku," Laretta terkekeh pelan, dia kembali mengingat masa lalunya.


...***...


Kini Devita dan juga Laretta sudah tiba di mansion, mereka melangkah masuk kedalam mansion dan menuju ke kamar mereka masing-masing. Devita melirik arlojinya kini sudah pukul tujuh malam. Sebelumnya Brayen mengirimkan pesan kepadanya jika dia akan pulang terlambat malam ini.


Devita melangkah masuk kedalam kamar, dia melepas sepatu heels dan meletakkan tasnya di atas meja. Namun, seketika Devita terkejut saat masuk kedalam kamar sudah ada Brayen yang duduk di sofa sembari berkutat dengan iPad di tangannya.


"Brayen? Kau sudah pulang?" Devita mendekat, dia duduk di samping suaminya.


Brayen mengalihkan pandangannya, dia menatap Devita sudah duduk di sampingnya. Brayen meletakkan iPad di tangannya ke atas meja, dia menarik tangan Devita masuk kedalam pelukannya.


"Ya, aku hari ini pulang lebih awal. Pekerjaanku sudah selesai," jawab Brayen. "Bagaimana harimu, tadi Nagita mengatakan kau pergi ke salon. Kenapa kau tidak berbelanja?"


Devita mengulum senyumannya, dia mendongak dari dalam pelukan Brayen. "Kau ini, suami yang sungguh baik. Kenapa kau tidak takut, jika uangmu akan habis denganku?"


Brayen mengeratkan pelukannya. "Aku sama sekali tidak masalah dengan uang yang aku keluarkan, aku hanya menginginkan istriku bahagia. Meski aku harus banyak mengeluarkan uang, aku tidak perduli. Jika membuatmu bahagia dengan menghabiskan uangku, aku tidak masalah. Aku bekerja keras, memang untuk membahagiakanmu."


"Ah, kau memang suami yang terbaik." Devita mengecup rahang Brayen. "Aku sangat menyukai caramu mencintaiku."


Brayen tersenyum. "Apa kau sudah makan?"


"Sudah, tentu aku sudah makan. Anakmu ini bisa marah kalau aku terlambat kasih makan," Devita terkekeh pelan.


"Bagaimana kabarnya?" Brayen membawa tangannya mengusap lembut perut Devita yang masih rata. "Minggu depan kita periksa kandunganmu?"


"Dia sehat Daddy." jawab Devita. "Tenang saja, anakmu ini banyak sekali makannya. Jadi dia pasti tumbuh dengan sehat."


"Anaknya atau Mommy - nya yang makan banyak?" ledek Brayen.


Devita mendengus kesal. "Kau ini bagaimana! Aku ini makan banyak karena anakmu!"


Brayen tertawa pelan, dia menangkup pipi Devita dan memberikan kecupan di bibir istrinya itu. "Allright, kau selalu membawa anakku. Kau menang.."


Devita tersenyum penuh kemenangan. "Lagi pula aku memang berbicara kenyataan."


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.