
Laretta turun dari mobil, dia melangkah masuk kedalam rumah sakit. Mendengar Devita kecelakaan, Laretta langsung datang ke rumah sakit. Sebenarnya Rena juga datang ke rumah sakit saat Albert memberitahunya. Tapi karena pemberitaan dari media yang mengatakan Brayen melakukan pencucian uang dan membuat perusahaannya jatuh, mendengar hal itu membuat kesehatan David langsung menurun. Laretta ingin sekali menjenguk Ayahnya, tapi dia tidak ingin kesehatan Ayahnya semakin memburuk jika dia datang. Terlebih Laretta juga tahu kedua orang tuanya masih belum memaafkan nya.
Laretta berjalan masuk kedalam ruang rawat Devita, dia menatap Brayen yang terus menjaga Devita. Laretta tersenyum hangat, melihat Kakaknya terlihat jelas sangat mencintai Devita.
Laretta melangkah mendekat. " Kakak," panggil Laretta pelan.
Brayen mengalihkan pandangannya, dia menatap Laretta yang kini sudah berada di hadapannya. "Apa kau sudah melihat keadaan Daddy?"
"Belum Kak," Laretta menggelengkan kepalanya. " Aku mendengar dari Albert kalau kondisi Daddy menurun.Terakhir aku tanya Daddy sudah jauh lebih baik. Dan Mommy terus menjaga Daddy."
"Devita bagaimana, Kak? Dia tidak apa - apa kan?" Laretta menatap Devita yang terlihat sangat pucat.
Brayen menoleh ke arah Devita, dia mengelus dengan lembut rambut istrinya. " Devita sedang hamil, aku yakin dia akan segera pulih."
"Aku senang mendengarnya, Kak. Aku yakin Devita dan keponakanku sangat kuat, Kak." balas Laretta dengan senyuman di wajahnya. "Sekarang, lebih baik Kakak mengganti pakaianmu. Aku sudah membawakan pakaian ganti untukmu." Laretta menyerahkan paper bag yang sudah dia siapkan dari rumah. Laretta memang sengaja membawakan beberapa pakaian ganti untuk Brayen.
Brayen mengangguk singkat, dia menerima paper bag yang di berikan oleh adiknya itu. "Kau jaga Devita sebentar."
"Ya Kak. Aku akan menjaga Devita. Jangan khawatir."
Brayen berjalan menuju ke arah kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Kini Brayen lebih tenang jika yang menjaga Devita adalah Laretta adiknya. Sebelumnya Nadia dan juga Edwin, tapi mereka sudah pulang, saat Nadia terlihat pucat. Edwin pun akhirnya memaksa Nadia untuk beristirahat. Brayen juga menyerahkan semua pekerjaannya pada direktur operasional. Dia tidak akan pernah meninggalkan istrinya.
Laretta duduk di kursi samping ranjang, dia terus menatap Devita. "Apa kabar Devita? Aku sudah mendengar kalau kau hamil. Aku sangat senang sekali, anakku akhirnya akan memiliki sepupu. Mereka akan tumbuh bersama. Kita juga akan bersama memeriksa kandungan. Aku tidak sabar melewati itu bersama denganmu Devita." Laretta menyentuh tangan Devita. " Cepatlah bangun, banyak orang yang menunggumu, Devita."
Felix yang sudah sejak tadi berada di depan pintu, dia menatap Laretta dan juga Devita. Terlebih mendengar ucapan dari Laretta, hatinya begitu sesak. Bagaimana jika Olivia mengetahui ini semua. Bahkan Felix tidak akan pernah sanggup menceritakannya.
Felix melangkah mendekat ke arah Laretta yang duduk di sisi ranjang. " Bagaimana keadaan Devita?" tanya Felix.
Laretta menoleh, dia sedikit terkejut melihat Felix berada di ruang rawat Devita. " Kau di sini Felix? Maaf aku tidak melihatmu?"
"Aku yang meminta maaf, karena aku sudah mengejutkanmu," balas Felix. "Bagaimana keadaan Devita? Apa dia sudah sadar?"
"Belum, keadaannya masih sama. Tapi aku yakin, Devita akan baik - baik saja." jawab Laretta. " Felix, aku sudah mendengar kalau Olivia sudah membantu Devita. Maaf aku belum menjenguk Olivia. Setelah aku menjaga Devita, aku akan menjenguknya."
Felix tersenyum tipis. " Tidak masalah, sekarang orang tua Olivia sedang menjaganya. Aku tidak ingin menganggu mereka. Kau bisa menjenguknya nanti."
"Bagaimana keadaan Olivia? Apa dia sudah sadar?" tanya Laretta sambil menatap wajah Felix.
"Ada apa, Felix? Kau bisa menceritakannya padaku?" Laretta berusaha untuk menenangkan Felix. Paling tidak dengan bercerita akan jauh lebih baik.
"Kondisi Olivia lebih parah dari Devita. Olivia memiliki luka di bagian kepala dan juga perutnya. Dan-" ucapan Felix menggantung, rasanya dia tidak sanggup untuk menceritakan ini. Jika di ingat hatinya begitu sakit.
Laretta beranjak, dia mendekat ke arah Felix. Laretta menepuk pelan lengan sepupunya itu. "Aku akan mendengarkanmu, Felix. Terkadang dengan bercerita akan membuat kita jauh lebih tenang."
Felix terdiam sebentar, hingga akhirnya dia memilih untuk menceritakannya. "Akibat kecelakaan, rahim Olivia mengalami luka yang parah. Dokter mengatakan, kemungkinan Olivia memiliki anak akan kecil." suara Felix terdengar parau. " Aku tidak tahu harus bagaimana menceritakannya. Orang tua Olivia juga sudah mengetahui ini. Mereka meminta ku untuk sementara menyembunyikan ini. Tapi tidak mungkin selamanya harus aku sembunyikan. Olivia harus mengetahui kondisinya. Dan aku tidak mungkin sanggup mengatakannya pada Olivia."
Laretta tidak bergeming saat mendengar kabar tentang Olivia. Dia tahu Olivia memang mengorbankan diri demi Devita. Di sisi lain, Laretta bersyukur Devita tidak terluka parah. Tapi di sisi yang lainnya, dia kasihan dengan keadaan Olivia. Tidak ada seorang wanita di dunia yang bisa menerima kenyataan tidak bisa memiliki keturunan.
"Felix, terkadang tidak semua yang di katakan oleh Dokter sesuai dengan kenyataan. Banyak orang yang sembuh dari penyakit parah di saat Dokter sudah menyerah." ujar Laretta berusaha untuk meyakinkan Felix. " Begitu pun dengan Olivia. Ketika Dokter mengatakan jika Olivia akan kesulitan mempunyai anak, aku yakin Olivia pasti akan tetap bisa memiliki anak. Meski berpeluang kecil bukan berarti tidak bisa sama sekali."
Felix tersenyum, "Aku berharap itu semua benar Laretta. Setelah Olivia lulus kuliah nanti, aku akan langsung melamarnya."
"Aku senang mendengarnya, Felix." hati Laretta tenang mendengar itu. Dia sungguh merelakan Felix pada Olivia. Karena Laretta tahu, Olivia adalah wanita yang baik.
Brayen berdiri di depan pintu, sudah sejak tadi, dia mendengarkan pembicaraan Felix dan juga Laretta. Brayen terdiam mendengar ketika Felix menceritakan tentang Olivia. Brayen memang sangat bahagia melihat istri dan anaknya selamat. Tapi, dia harus menatap sepupunya yang terlihat hancur dan sedih. Ini pertama kali bagi Brayen melihat Felix seperti ini. Kali ini Brayen benar - benar bersumpah, akan memberikan pelajaran yang berharga pada orang yang telah menghancurkan kehidupan keluarganya.
Dering ponsel terdengar, Brayen mengambil ponselnya, dia menatap ke layar tertera nama Albert. Brayen berjalan keluar dari ruang rawat. Dengan cepat Brayen langsung menjawab panggilan itu.
"Apa kau sudah menemukan wanita itu?" Brayen langsung bertanya dengan cepat saat panggilannya terhubung.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.