Love And Contract

Love And Contract
Kabar Pernikahan



Devita keluar dari ruangan dosen. Beruntung, Devita sudah menyelesaikan beberapa penelitian yang di minta oleh dosennya. Jika tidak, mungkin hari ini Devita tidak bisa bersantai. Hanya menghitung minggu saja, dirinya akan segera lulus kuliah. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Dulu saat Devita pindah ke Indonesia dia tidak pernah menginginkannya. Devita lebih suka tinggal di Kanada. Tapi pada saat itu, Devita tidak bisa menolak keinginan kedua orang tuanya.


Kini Devita duduk di depan ruang dosen. Olivia masih ada di dalam bertemu dengan Mr. Gerald. Dan tentu Devita tidak mungkin meninggalkan sahabatnya itu. Bisa - bisa Olivia akan marah karena sudah meninggalkannya. Devita pun mengambil novel di dalam tasnya. Membaca novel sambil menunggu Olivia. Dengan membaca itu jauh lebih baik dan tidak membosankan dari pada hanya diam didepan ruang dosen saja.


Terdengar dering ponsel, Devita pun membuang napas kasar. Dia baru saja akan membaca novel tapi sudah ada yang menganggunya. Devita mengambil ponsel yang ada di dalam tas. Menatap ke layar tertera nama suaminya. Dengan cepat, Devita mengusap ke layar ponsel untuk menerima panggilan, kemudian meletakkan di telinganya.


"Brayen?" jawab Devita saat panggilannya terhubung.


"Ku masih di kampus?" tanya Brayen dari sebrang telepon.


"Masih, aku sedang menunggu Olivia." jawab Devita.


"Apa kau sudah makan?"


"Sebentar lagi aku akan makan, karena aku sedang menunggu Olivia."


"Ya sudah, jangan lupa untuk makan."


"Tunggu, aku ingin berbicara sesuatu padamu?"


"Ada apa?"


"Kau memberikan supir untukku? Kenapa kau tidak memberitahuku dulu sebelumnya!"


"Aku sudah membicarakan padamu ketika kau berada di rumah sakit."


Devita mendengus kesal, "Tapi setidaknya, kau itu diskusikan lagi padaku Brayen!"


"Aku tidak perlu mendiskusikan padamu Devita. Apa yang sudah aku putuskan tidak bisa berubah."


"Tapi, aku tidak mau menggunakan supir. Aku masih bisa sendiri menyetir mobilku, Brayen."


"Tidak Devita! Kau itu sedang hamil. Aku hanya ingin, kau tidak membawa mobil selama masa kehamilanmu."


"Aku hanya hamil Brayen! Bukannya sedang sakit keras!" Devita menggeram kesal.


"Jangan membantahku Devita! Aku sudah mengatakan padamu bukan, semua tentangmu sudah aku atur. Aku melakukan ini demi keselamatanmu dan bayi yang ada di dalam kandunganmu. Karena kau ini sering lepas kendali ketika sedang mengendarai mobil. Jadi, aku minta padamu untuk kali ini saja kau itu mau menurut dan jangan membantahku." suara Brayen terdengar begitu dingin dari sebrang telepon.


Devita pun mendesah pelan, "Ya, baiklah,"


"Nanti, aku akan menghubungimu lagi. Aku ada meeting sore ini."


"Ya, selamat bekerja!"


Panggilan terputus, Devita meletakkan kembali ponselnya di dalam tas.


Percuma saja berbicara dengan Brayen. Jika suaminya itu sudah memutuskan sesuatu, dia tidak akan mungkin bisa untuk membantahnya. Padahal, Devita tidak sering mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Devita mengendarai mobil dengan kecepatan penuh biasanya jika dia terlambat.


"Devita?" panggil Olivia, saat keluar dari ruang dosen. Dia langsung berjalan cepat menghampiri Devita yang sedang duduk di depan ruang dosen.


"Olivia? Kau sudah selesai?" Devita menatap Olivia yang berdiri di hadapannya.


"Sudah, ada berita penting yang harus aku beritahu kepadamu?" Olivia duduk di samping Devita dan mengatakannya dengan serius.


"Berita apa?" Devita mengernyitkan dahinya.


"Kita ke kantin.Ada berita penting yang ingin aku tunjukkan padamu. Tapi sebelum itu, lebih baik kita makan ice cream. Aku sudah sangat merindukan ice cream di kantin." Olivia beranjak dan mengajak Devita untuk bangkit berdiri. Kemudian Devita bangun dari tempat duduknya. Dan mengikuti Olivia berjalan menuju kantin. Sepanjang jalan Devita menatap Olivia bingung, dia penasaran dengan apa yang di katakan oleh Olivia.


Setibanya di kantin, Olivia langsung memesan ice cream coklat, vanilla dan matcha untuknya dan Devita. Olivia memilih duduk di ujung dekat jendela yang jauh dari keramaian.


"Terima kasih," balas Devita. "Sekarang katakan padaku, apa yang ingin kau katakan?"


"Kau lihat ini. Aku akan memutarkan video yang tadi aku lihat." ucap Olivia sambil mengambil ponselnya, lalu memutar video yang ada di internet dan memberikannya pada Devita.


Devita menautkan alisnya, dia bingung dengan apa yang di maksud oleh Olivia. Devita pun menerima ponsel Olivia dan mulai melihat video yang di putar oleh Olivia.


*Salah satu pewaris Dixon's Company, Richard Alexander Dixon di kabarkan akan menikah bulan depan dengan seorang model cantik asal Paris. Kabar terakhir yang kami dapatkan, sebelumnya Richard tengah jatuh cinta pada seorang wanita yang memiliki darah Indonesia. Namun, dari informasi terakhir wanita itu telah menikah. Kini Richard telah memiliki calon istri, tapi apa mungkin Richard Alexander Dixon sudah melupakan wanita di masa lalunya? Karena mungkin saja calon istri Richard adalah pelampiasan dari Richard Alexander Dixon.*


Devita terdiam saat melihat video berita yang ada di internet itu. Kemudian Devita mengembalikan ponsel milik Olivia. Devita senang akhirnya Richard akan menikah. Tapi keterangan tentang wanita yang memiliki darah dari Indonesia yang Richard sukai itu menjadi pikirannya saat ini. Devita berharap wanita yang di maksud pembawa berita tadi bukan dirinya. Devita tidak ingin mendengar sikap berlebihan dari suaminya itu saat mendengar berita ini.


"Devita," Olivia menyentuh tangan Devita saat melihat Devita terdiam.


"Ya?" Devita menghentikkan lamunannya saat Olivia memanggilnya.


"Aku sangat yakin, wanita yang di maksud memiliki darah Indonesia itu adalah kau," kata Olivia. Dia menatap lekat Devita yang duduk di hadapannya.


Devita mendesah pelan, "Richard memang pernah mengungkapkan perasaannya. Tapi bagaimana media di sana bisa tahu tentang aku?"


Olivia mengangkat bahunya, "Mungkin Richard sendiri yang memberitahu media. Aku bisa melihat dari mata Richard, dia begitu menyukaimu Devita. Dan aku rasa itu alasan Richard memberitahu pada media tentang dirimu."


"Aku yakin Richard sudah melupakan perasaannya padaku," jawab Devita.


"Dan aku semakin yakin, Richard masih belum bisa melupakanmu," balas Olivia.


"Kau yang benar saja Olivia!" Devita mendengus tidak suka. "Aku dan Richard hanya sebatas teman."


"Kau menanggap Richard sebagai teman. Tapi aku sangat yakin, jika pernikahan itu hanya untuk menutupi perasaannya padamu," balas Olivia.


"Sudah, jangan bicara yang tidak - tidak. Aku tidak ingin membahasnya. Terpenting Richard sudah memiliki calon istri. Lupakan saja pemberitaan di media. Belum tentu itu diriku," kata Devita yang lebih memilih untuk tidak membahas lagi tentang Richard.


"Tapi kenapa calon istri Richard itu model? Aku lebih suka jika calon istri pria seperti Richard itu adalah Dokter atau pengusaha." kata Olivia sambil menikmati ice cream di tangannya.


"Memangnya apa yang salah dengan seorang model?" tanya Devita menatap Olivia bingung. Padahal bagi Devita, menjadi seorang model itu mengagumkan. Terkenal, cantik dan banyak di kagumi banyak pria.


"CK! Kau ini bagaimana? Dulu mantan kekasih Brayen bukan hanya seorang model tetapi dia juga artis terkenal. Tapi kau lihat? Dia itu berselingkuh!" Seru Olivia yang mengingat kembali mantan kekasih dari Brayen.


Devita menggelengkan kepalanya. "Tidak semuanya seperti itu, Olivia. Sudahlah lebih baik kita makan di restoran yang ada di dekat di kampus. Karena aku sudah sangat lapar."


"Kau masih lapar?" tanya Olivia sambil menaikkan alisnya. Menatap sahabatnya tak percaya. Pasalnya, Devita sebelum bertemu dengan dosen baru saja makan. Dan sekarang Devita sudah ingin makan lagi.


"Ya, karena aku ini Ibu hamil, Olivia. Aku akan mudah sekali lapar. Lebih baik kita pergi sekarang. Aku ingin sekali makan seafood," balas Devita.


Olivia menganggukkan kepalanya, kemudian mereka beranjak dari tempat duduknya. Dan berjalan meninggalkan kantin menuju ke arah restoran terdekat dengan kampus. Devita memang sengaja mengalihkan pembicaraan tentang Richard. Bagi Devita yang terpenting, saat ini Richard sudah menemukan calon istri yang tepat. Karena Richard memang pantas mendapatkan wanita yang baik, karena Devita tahu Richard adalah pria yang sangat baik."


...**********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.