Love And Contract

Love And Contract
Perjalanan Menuju Ke Bandara



Suara dering ponsel terdengar, Brayen langsung mengambil ponselnya. Saat dia melihat ke layar nama Albert, dengan cepat Brayen langsung menjawab.


"Apa kau sudah berhasil menangkapnya?" kali Brayen sudah tidak ada lagi kesabaran. Ketika panggilan terhubung, Brayen langsung bertanya.


"Tuan, saya sedang dalam perjalanan menuju ke bandara. Karena Lucia Wilson sedang menuju ke private airport keluarganya. Saya tidak tahu kemana tujuannya, tapi beruntung anak buah kita telah menjaga Apartemen yang telah di tempati oleh Lucia." ujar Albert dari sebrang telepon.


Rahang Brayen mengetat dia mengepalkan tangannya dengan kuat. "Cepat temukan! Jangan sampai dia berhasil kabur! Jika dia berhasil kabur maka kau yang akan menggantikan posisinya, Albert!"


"B-Baik, Tuan. Saya pastikan saya akan segera menangkap Lucia." jawab Albert gugup.


Brayen mematikan ponselnya, dia meremas dengan kuat ponselnya. Lucia berniat ingin melarikan diri dan sampai kapanpun, dia akan mengejar wanita itu. Karena dia yang telah menghancurkan semuanya.


"Brayen, dimana wanita itu?" seru Felix yang sudah tidak sabar. Terlihat jelas kemarahan di wajah Felix.


"Dia sedang dalam perjalanan menuju ke Bandara. Albert dan anak buahku yang lain sedang mengejar mereka." tukas Brayen.


Felix mengepalkan tangannya dengan kuat. " Dia harus membayar, apa yang telah dia lakukan. Aku bersumpah akan membalaskan air mata Olivia. Penderitaan Olivia akan terbalaskan!"


"Tidak hanya dirimu, aku juga akan membuat perhitungan pada wanita itu!" Seru Brayen, dengan sorot mata yang tajam.


...***...


"Tuan Edgar?" Arthur berlari masuk kedalam ruang kerja Edgar.


Edgar membuang napas kasar, " Ada apa Arthur? Kenapa kau terlihat begitu panik?"


"Nona Lucia, Tuan."


"Ada apa dengan Lucia?" Edgar mengernyitkan dahinya.


"Nona Lucia tengah dalam perjalanan menuju ke arah bandara. Saya baru mendapatkan informasi Nona Lucia meminta penerbangan mendadak ke Korea." ujar Arthur dengan suara cemas.


Edgar tersentak, dia menatap tajam Arthur. "Bagaimana bisa? Harusnya dia itu pergi ke Amsterdam. Dan itu juga tidak sekarang. Harusnya Minggu depan Lucia baru berangkat."


"Tuan, sepertinya Nona Lucia ingin mengelabui Brayen Adams Mahendra. Tapi jika melakukan cara ini, tentu salah, Tuan. Karena anak buah dari Brayen Adams Mahendra selalu berada di sekitar Apartemen milik anda, Tuan."


Edgar mengumpat dengan keras, dia menyambar ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Lucia. Satu, dua hingga lima kali melakukan panggilan tidak terjawab. Edgar meremas dengan kuat ponsel di tangannya.


"Lucia! Kau memang selalu mencari masalah!" Geram Edgar.


"Siapkan mobil, dan kita susul Lucia sekarang!" Tukas Edgar.


"Tapi Tuan, kita juga harus bersiap. Karena saya yakin, anak buah dari Brayen Adams Mahendra juga sedang mengejar Nona Lucia. Kita harus membawa lebih banyak anak buah yang kita miliki, Tuan." ujar Arthur.


Edgar memejamkan matanya, dia terus mengumpat kasar. Sudah berkali - kali dia mengatakan pada Lucia untuk tidak mencari masalah. Tapi kenyataannya Lucia memang selalu mencari masalah. Jika seperti ini, tidak mungkin bagi Edgar untuk menyelamatkan Lucia. Bahkan dia sendiri tidak mungkin untuk menyelamatkan Ibunya.


"Arthur, pindahkan uang dalam jumlah besar ke rekening pribadiku yang ada di Melbourne. Kita harus menyiapkan segala kemungkinan yang terburuk."


"Maaf Tuan, lalu bagaimana dengan Nona Lucia?" tanya Arthur hati - hati.


...***...


Lucia memakai kacamata hitam dan topi hitam untuk menutupi wajahnya. Yeslin, asisten Lucia dan beberapa pengawal pribadi yang menjaga Lucia mengikutinya dari belakang. Lucia melangkah memasuki private airport milk keluarganya. Kali ini Lucia sangat bersyukur Ibunya sangat cerdas memilih seorang suami. Valdis Wilson, termasuk salah satu pengusaha hebat asal Australia."


"Yeslin, apakah Edgar sudah tahu, kalau malam ini aku akan pergi ke Korea?" tanya Lucia tanpa menoleh ke arah Yeslin yang berada di belakangnya.


"Nona, saya rasa Tuan Edgar mungkin sudah mengetahuinya. Karena memang akses dari private jet harus di ketahui oleh Tuan Edgar, Nona." jawab Yeslin. " Tapi, saya rasa Tuan Edgar jika mengetahui ini sudah terlambat. Karena saya sudah mengatur semuanya dengan baik." sambung Yeslin.


Lucia tersenyum puas, "Great, saudara kembarku itu memang terlalu bodoh. Aku tahu dia sepertinya memiliki rasa suka pada Devita. Karena dia selalu membela wanita itu daripada aku, saudara kandungnya sendiri. Harusnya jika dia memang menyukai Devita, dia mau bekerja sama denganku. Tapi di lebih memilih untuk menjadi orang yang tidak berguna! Jika dia seperti itu, lebih baik aku saja yang memegang kendali perusahaan."


"Benar Nona, seharusnya Nona Lucia saja yang memegang kendali perusahaan." balas Yeslin yang menyetujui perkataan dari Lucia.


"Ya, i know that." tukas Lucia.


"Nona Lucia Wilson!" Suara bariton memanggil nama Lucia. Hingga membuat Lucia menghentikkan langkahnya. Lucia pun berbalik, saat ada suara yang memanggil namanya. Seketika Lucia tersentak, melihat beberapa orang pria yang dia yakini adalah anak buah dari Brayen Adams Mahendra. Lucia menggerakkan kepalanya pada pengawalnya untuk melindungi dirinya. Pengawal dari pihak Lucia pun langsung menutup akses agar anak buah dari Brayen tidak bisa mendekat ke arahnya.


"Kau siapa?" Lucia kini menatap tajam pria yang ada di hadapannya. Jaraknya memang cukup jauh karena memang anak buahnya sudah menutupi dirinya.


"Nona Lucia, perkenalkan namaku Albert. Mohon Nona untuk ikut kami." kata Albert yang masih berbicara dengan sopan.


Lucia tersenyum sinis, " Well, aku tahu siapa dirimu. Kau adalah asisten dari Brayen bukan?"


"Ya kau benar, jadi jangan mempersulit ku. Karena aku sudah memiliki semua buktimu. Dan sekarang Tuan Brayen menunggumu." jawab Albert dingin.


"Katakan pada Tuanmu itu, aku tidak akan pergi kemana - mana, kecuali jika dia datang khusus untuk menjemputku dan memintaku menikah dengannya. Aku tentu mau ikut dengannya." balas Lucia dengan seringai di wajahnya.


"Aku harap Nona Lucia jangan terlalu banyak bermimpi! Karena Tuan Brayen tidak akan pernah mau untuk menikah dengan wanita ular seperti dirimu." tukas Albert sarkas.


Lucia mengedikkan bahunya. " Memangnya apa yang kurang dariku? Aku memiliki segalanya. Jadi lebih baik kau katakan pada Tuanmu itu. Dan dia bisa datang untuk menjemputku dan aku pun mau ikut dengannya asalkan, dia datang kesini untuk melamarku."


"Kau terlalu bermimpi, jika aku datang untuk melamarmu!" Suara Brayen tajam dari arah depan, semua orang pun mengalihkan pandangannya saat Brayen melangkah mendekat. Tatapan mata Brayen, terus menatap ke arah Lucia. Sedangkan Felix menatap Lucia dengan penuh kebencian. Felix hendak menerjang Lucia, namun Brayen sudah lebih dulu menahan Felix.


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.