
Brayen melangkah keluar dari ruang meeting menuju ruang kerjanya. Pagi ini, Brayen memang berangkat lebih pagi. Tapi tidak dengan istrinya. Brayen yang membiarkan Devita tadi pagi masih tertidur dengan pulas. Ia tahu, pasti istrinya itu masih sangat lelah.
Saat Brayen melangkah menuju ke ruang kerjanya, langkahnya terhenti ketika melihat sosok pria yang keluar dari lift. Kini mereka saling beradu pandang. Pria itu melangkah mendekat ke arah Brayen.
"Apa yang kau lakukan di perusahaanku William Dixon? Aku tidak lagi memiliki urusan denganmu?" tukas Brayen dingin.
"Well, kau benar aku memang tidak memiliki urusan lagi denganmu. Tapi setidaknya sedikit berbincang bukanlah kesalahan, bukan?" balas William.
"Kita bicara di ruang kerjaku," tukas Brayen ia berjalan menuju ke ruang kerjanya bersama dengan William.
Brayen melangkah masuk ke ruang kerjanya dan duduk di kursi kerjanya, sedangkan William, ia memilih duduk tepat di hadapan Brayen.
"Apa yang ingin kau katakan? Aku tidak memiliki banyak waktu untuk berbicara denganmu," tukas Brayen dingin.
William tersenyum sinis. " Sejak dulu, sifat arrogant mu memang tidak pernah berubah Brayen, tapi aku harus mengakui dengan segala yang kau miliki kau sangat pantas memiliki sifat arrogant yang seperti itu."
Brayen tidak bergeming, ia membuang napas kasar mendengarkan ucapan William. " Aku rasa kau sangat tahu kalau aku tidak suka berbasa - basi. Katakan saja apa yang ingin kau katakan."
"Ya kau benar, aku juga tidak suka berbasa - basi denganmu. Aku datang kesini hanya ingin memberitahukan nasib dari mantan kekasihmu. Mantan kekasihmu itu sekarang sudah berada di rumah sakit jiwa. Aku tidak ingin membuatnya mati. Karena, menurutku kematian terlalu bagus untuknya. Apalagi hidup di dalam penjara, itu juga masih terlalu bagus untuk wanita ****** seperti Elena " ujar William.
"Jadi, apakah kau ingin menjenguk mantan kekasihmu itu? Kalau kau ingin menjenguknya kau bisa datang ke rumah sakit jiwa. Aku mengatakan ini karena aku berpikir kalian menjalin hubungan lama. Siapa tahu kau ingin melihat bagaimana nasib dari mantan kekasihmu itu." lanjut William dengan seringai di wajahnya.
Brayen menaikkan sebelah alisnya. "Menjenguk? Aku rasa itu kata yang harus kamu ucapkan pada dirimu sendiri William Dixon. Aku sama sekali tidak peduli dengan wanitamu. Bahkan aku tidak mengingat kalau aku dengannya pernah memiliki hubungan. Saat ini hanya ada satu wanita yang ada di dalam hidupku yaitu Devita Mahendra, istriku." tegas Brayen.
William menganguk - anggukan kepalanya. "Alright, rupanya kau sangat mencintai Istrimu. Jika aku memiliknya aku rasa aku juga sangat mencintainya." balas William.
"Maka aku akan memberikan peringatan padamu, William. Jika kau berani mendekati istriku, maka bersiaplah untuk menerima kehancuranmu. Selama ini aku masih sangat baik padamu. Tapi tidak kali ini, jika kau masih mendekati istriku, maka kau akan tahu akibatnya." tukas Brayen dengan nada penuh ancaman dan penekanan.
"Rupanya aku berhadapan dengan lawan bisnis yang hebat jika aku berani menganggu istrinya. Tenanglah Brayen Adams Mahendra, istrimu yang sangat cantik itu selalu menolakku. Jadi, kau tidak perlu khawatir." balas William, ia beranjak dari tempat duduknya. " Baiklah, aku harus pergi. Senang bisa berbincang denganmu," lanjut William kemudian ia melangkah keluar dari ruang kerja Brayen.
Saat William melangkah keluar ia berpapasan dengan Albert yang masuk ke dalam ruang kerja Brayen. Albert menunduk dan menyapa William. William mengangguk kecil dan melanjutkan lagi langkahnya.
"Tuan Brayen," sapa Albert saat masuk ke dalam ruang kerja Brayen.
"Ada apa?" tanya Brayen dingin tanpa menoleh ke arah Albert.
"Tuan, ada hal penting yang ingin saya katakan." ujar Albert.
"Hal penting apalagi yang ingin kau katakan." tukas Brayen,
"Ini tentang Nakamura company, Tuan" jawab Albert.
Brayen mengalihkan pandangannya, kini ia menatap lekat Albert yang berdiri di hadapannya. " Ada apa dengan Nakamura Company?"
"Proyek yang dikerjakan oleh Nakamura company telah gagal, Tuan. Mereka kini sedang berada di ambang kehancuran. Angkasa Nakamura mengeluarkan uang delapan ratus juta dollar, hingga mungkin perusahaan tidak mampu untuk membayar biaya operasional termasuk gaji untuk para karyawan. Para pemegang saham juga kini tengah menuntut Angkasa Nakamura, karena telah bertindak ceroboh." jelas Albert.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Tuan? Mereka juga tidak bisa mendapatkan investor hingga detik ini. Mereka tidak mungkin bisa mencari investor dalam waktu dekat beberapa hari." ujar Albert.
"Cairkan dana dua milyar dollar. Berikan pada Nakamura Company. Dan Gunakan nama Laretta sebagai investor di sana. Dan jangan pernah menggunakan namaku," Tukas Brayen.
"T..Tuan. Apa Tuan yakin akan memberikan dua milyar dollar pada Nakamura company? Kerugian mereka juga tidak sebanyak itu, Tuan?" tanya Albert hati - hati.
" Aku tidak memberikannya untuk Nakamura company. Aku memberikannya untuk Laretta, adikku. Biarkan Laretta untuk belajar di perusahaan. Uang yang aku keluarkan tidak ada artinya." balas Brayen.
"Baik Tuan. Tapi kenapa harus menggunakan nama Nona Laretta, Tuan? Bukankah selama ini Nona Laretta tidak pernah memegang perusahaan." kata Albert.
"Ya, aku tahu itu. Aku ingin membuat adikku belajar tentang perusahaan. Dia tidak mungkin memimpin perusahaan cabang milik keluargaku. Kau tahu, Daddyku masih belum bisa memaafkan Laretta. Jadi aku membiarkan Laretta belajar di perusahaan pria itu," ujar Brayen.
"Jadi, apa Tuan meluluskan Angkasa Nakamura di persyaratan kedua yang telah Tuan ajukan?" tanya Albert kembali.
"Tujuanku meminta Angkasa Nakamura untuk mengembangkan perusahaannya adalah aku ingin melihat bagaimana dia mengambil keputusan dalam waktu dekat. Selain itu, aku juga ingin adikku mendapatkan pria yang terbaik." balas Brayen.
"Kau awasi terus Nakamura company. Aku ingin tahu, bagaimana caranya Angkasa akan mengelola dana yang telah aku berikan." tukas Brayen.
"Baik Tuan," jawab Albert.
...***...
Olivia berjalan keluar dari kelas, ia melirik arlojinya kini sudah pukul sebelas siang. Hari ini Olivia dan juga Devita memiliki jadwal mata kuliah yang berbeda. Olivia melirik ke arah taman, tapi Devita tidak ada di taman. Akhirnya Olivia menuju kedalam kelas Devita, ia berpikir mungkin Devita masih berada di dalam kelas.
Olivia duduk di depan kelas Devita, sembari menunggu Devita menyelesaikan mata kuliahnya hari ini. Sebenarnya perut Olivia sudah lapar, tapi tidak mungkin Olivia meninggalkan Devita. Biasanya Devita menunggu dirinya, jadi dia juga harus menunggu Devita.
Saat Olivia tengah duduk menunggu Devita, terdengar dering ponsel miliknya. Olivia mengambil ponselnya di dalam tas dan melihat ke layar, Olivia mengerutkan keningnya ketika nomor yang tidak di kenal mengirimkannya pesan padanya.
+62817788 " Hari ini seperti biasa aku akan menjemputmu. sopirku akan membawa mobil mu. Aku tidak menerima penolakan Olivia. Karena kita harus saling mengenal satu sama lain." - Felix Jordy Mahendra.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.