
"Aku masih ingin berbicara denganmu Brayen Adams Mahendra!" Seru Devita meninggikan suaranya.
"Akhh!" Devita meringis kesakitan menyentuh perutnya. Brayen langsung membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara rintihan kesakitan.
"Devita!" Brayen mendekat ke arah Devita, dia menatap wajah pucat istrinya.
"B- Brayen perutku sangat sakit." ringis Devita, kini wajah Brayen menegang dan panik. Brayen langsung memeluk bahu Devita
Kemudian pandangan Devita mulai buram, kepala Devita mulai memberat. Hingga kemudian, tubuh Devita ambruk. Dengan sigap, Brayen langsung menangkap tubuh Devita.
"Devita?" teriak Brayen menatap istrinya yang sudah tidak sadarkan diri. Brayen langsung membopong tubuh Devita dan meletakkan di atas ranjang. Terlihat raut wajah Brayen yang panik dan juga cemas.
Brayen mengeluarkan ponselnya dan dia langsung menghubungi pelayan. "Panggilkan Dokter Keira! Dan dalam waktu lima menit dia sudah harus datang!" Seru Brayen.
...***...
"Bagaimana dengan keadaan istriku?" tanya Brayen panik dan cemas saat Dokter Keira baru saja selesai memeriksa Devita. Sejak tadi Brayen tidak bisa tenang, ketika Dokter mulai memeriksa istrinya. Jantungnya terasa berhenti ketika melihat istrinya tidak sadarkan diri.
"Maaf Tuan, kandungan Nyonya sangat lemah. Mohon untuk tidak membebani pikiran Nyonya dengan hal - hal berat." jawab Dokter Keira.
Brayen memejamkan matanya singkat, mendengar perkataan Dokter Keira. Jika sampai terjadi sesuatu pada istrinya, dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
"Aku ingin kau setiap hari datang dan memeriksa kondisi istriku." tukas Brayen. "Pastikan tidak terjadi sesuatu pada istri dan juga anakku."
"Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi." Dokter Keira menunduk, lalu undur diri dari hadapan Brayen.
Brayen mendekat ke arah, Devita. Dia duduk di tepi ranjang. Brayen merapihkan rambut Devita yang menutupi wajah istrinya itu. Brayen memberikan kecupan di seluruh wajah Devita. Rasa cemas Brayen sedikit berkurang. Paling tidak, anak dan istrinya tidak terjadi sesuatu.
Brayen menatap Devita yang masih belum membuka matanya. Hingga kemudian, Brayen menempelkan keningnya di kening istrinya. "Maaf, aku terlalu keras padamu, Devita. Aku menjauh karena aku tidak ingin melukai hatimu, sayang."
"Jika sampai terjadi sesuatu hal buruk padamu dan juga anak kita. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri." Brayen mengelus lembut pipi Devita dan memberikan kecupan di bibir istrinya itu. "Bangunlah sayang, aku merindukanmu. Setelah ini kau boleh memukulku. Aku tidak akan pernah membiarkanmu terluka lagi. Maaf, karena sifatku yang selama ini sering melukai hatimu."
"Kakak, apakah aku boleh masuk?" Laretta yang sejak tadi berada di ambang pintu, dia tidak ingin menganggu Brayen. Kini Laretta melangkah masuk kedalam. Dia tidak tenang, ketika mendengar Devita pingsan.
Brayen mengalihkan pandangannya, dia mengangguk. Melihat Brayen memperbolehkan masuk, Laretta langsung berjalan menghampiri Brayen dan duduk di samping Brayen.
Tatapan Laretta kini menatap Devita yang masih belum sadarkan diri. "Bagaimana keadaan Devita, Kak?"
"Baik, tapi kandungannya sangat lemah." jawab Brayen. "Aku sungguh menyesal, jika terjadi sesuatu padanya aku tidak akan pernah memaafkan diriku."
Laretta mengelus lengan Brayen. "Kak, aku sangat tahu Devita wanita yang sangat kuat. Selama ini aku mengenalnya dia adalah wanita yang sangat baik. Kau itu begitu beruntung memilikinya. Devita menjadi Kakak Ipar dan sahabat bagiku. Jangan lagi menyalahkan Devita, seharusnya kau bisa menyadari alasan Devita menutupi ini darimu, Kak."
"Jika saat itu, Devita memberitahumu tentang Alena, maka aku yang akan kecewa pada Devita. Aku yakin, kau juga pernah menutupi sesuatu dari Devita. Dan kau pasti memiliki alasan tersendiri kenapa lebih memilih untuk menyembunyikannya dari istrimu sendiri."
"Bukan aku bermaksud untuk mencampuri urusanmu dan juga istrimu, Kak. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak ingin kau bersikap terlalu keras pada Devita. Kau itu sudah sangat beruntung mendapatkan wanita yang sebaik Devita, Kak. Di usia Devita yang masih sangat muda, harusnya dia lebih bersikap egois. Tapi, selama ini Devita selalu berusaha menjadi istri yang baik untukmu bukan?"
Laretta sengaja mengatakan ini. Tiga minggu Brayen bersikap begitu dingin pada Devita, sungguh membuat Devita tersiksa. Selama ini Laretta tidak tega melihat Devita yang selalu menangis. Tidak ada seorang wanita pun yang kuat, ketika suaminya mendiamkan dirinya. Begitu pun dengan Devita. Terlebih Devita tengah mengandung.
Brayen terdiam mendengar semua perkataan Laretta. Jika sebelumnya Brayen selalu meminta Laretta untuk tidak ikut campur. Tapi kini Brayen membiarkan adiknya itu untuk menceritakan semuanya. Karena memang, apa yang telah di lakukan Brayen begitu melukai istrinya.
"Ya sudah, aku ingin kembali ke studio lukisku." Laretta beranjak dari tempat duduknya. "Kabarkan aku, jika Devita sudah sadar, Kak."
Brayen mengangguk kemudian Laretta berjalan meninggalkan Brayen dan juga Devita. Melihat Laretta sudah pergi, Brayen membaringkan tubuhnya di samping Devita. Dia membawa tangannya, mengusap perut istrinya yang mulai membuncit. Dia merapatkan tubuhnya ke tubuh Devita. Kali ini Brayen berjanji tidak akan melukai istrinya. Rasa marah di dirinya hilang tergantikan dengan rasa takut dan juga cemas.
Brayen mendekatkan bibirnya ke telinga Devita, dia mengecup leher istrinya. "Maaf sayang, aku minta maaf. Aku menyesal telah membuatmu terluka seperti ini. Aku tahu, apa yang aku lakukan sudah begitu melukaimu. Setelah ini, kau bebas menghukumku. Aku tidak ingin kau terluka."
Brayen menjauhkan wajahnya, lalu dia mendekatkan wajahnya ke perut Devita. Memberikan kecupan di perut istrinya itu. Brayen tidak berhenti bersyukur, karena tidak terjadi sesuatu pada anaknya.
Perlahan Devita mulai membuka matanya. Ketika dia merasakan ada sesuatu yang menyentuh perutnya. Pandangan Devita kini menatap Brayen yang terus memberikan kecupan di perutnya. Bahkan Brayen tidak menyadari, jika Devita sudah sadar. Senyum di bibir Devita terukir ketika melihat Brayen tidak henti memberikan kecupan di perutnya.
"Brayen?" Devita memanggil Brayen pelan dengan suara yang pelan.
Brayen terkejut, dia menjauhkan wajahnya. Menatap Devita yang kini sudah membuka mata, dengan cepat Brayen langsung menyambar bibir Devita, memagut dengan lembut di bibir istrinya.
"Maaf..." bisik Brayen saat pagutannya terlepas. "Maaf sayang... Maaf karena sudah mendiamkanmu lama. Maaf sudah bersikap keterlaluan padamu. Sungguh aku tidak pernah berniat untuk melukaimu. Kau boleh menghukumku atau apapun. Aku hampir gila ketika melihat kau pingsan. Aku takut terjadi sesuatu padamu dan anak kita."
"Bagaimana kandunganku Brayen?" wajah Devita langsung berubah panik, mengingat dirinya pingsan akibat sakit di perutnya. Bahkan Devita tidak menjawab permintaan maaf Brayen. Di pikiran Devita hanya memikirkan kesehatan anak yang ada di dalam kandungannya.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.