
Keesokan hari Devita baru saja membersihkan diri. Dia langsung mengganti pakaiannya dengan mini dress yang nyaman. Hari ini Brayen akan menuruti Devita untuk pergi ke Mandalay Day Beach. Sebuah tempat yang sejak awal ingin Devita dan Olivia datangi.
Devita menatap cermin, memoles wajahnya dengan make up tipis. Devita memilih untuk mengikat rambutnya. Model ponytail yang Devita pilih hari ini. Setelah selesai, Devita melangkah mendekat ke arah Brayen yang sejak tadi sudah menunggunya di sofa dan tengah fokus pada iPad yang ada di tangannya.
"Brayen, apa kau sibuk?" tanya Devita. Dia langsung duduk di samping suaminya itu. Devita mendesah pelan, Brayen memang tidak akan pernah mungkin lepas dari pekerjaannya.
Brayen mengalihkan pandangannya, menatap istrinya yang sudah di sampingnya. "Kau sudah siap? Aku tadi hanya membaca email yang masuk."
"Sudah," jawab Devita. "Kita breakfast dulu, aku yakin yang lainnya sudah menunggu kita."
Brayen mengangguk singkat, dia meletakkan Ipadnya di atas meja. Kemudian Brayen dan juga Devita beranjak. Devita memeluk lengan Brayen berjalan meninggalkan kamar hotel.
...***...
Ting.
Pintu lift terbuka, Brayen dan juga Devita berjalan keluar dari lift. Devita sudah melihat Olivia dan juga Laretta tengah menikmati sarapan mereka. Devita dan Brayen langsung mendekat. Brayen meminta pelayan untuk mengantarkan kopi espresso dan muffin blueberry untuknya. Sedangkan untuk Devita, Brayen memilih buttermilk pancakes dan orange juice.
"Morning," sapa Laretta dan Olivia bersamaan.
"Morning," balas Devita. Dia langsung duduk di samping Brayen. Tidak lama kemudian, pelayan mengantarkan sarapan yang sudah di pesan oleh suaminya itu.
"Angkasa, Felix... bagaimana permainan kasino kalian tadi malam? Siapa yang menang dan kalah?" tanya Devita sembari menikmati pancakesnya.
Angkasa membuang napas kasar, "Aku yang kalah."
"Ternyata Brayen memiliki sepupu yang sangat hebat." Devita mengulum senyumannya.
"CK! Kau darimana saja, Devita. Kenapa kau baru tahu sekarang?" tanya Felix sambil tersenyum miring, lalu melihat ke arah Brayen. "Kau lihat Brayen? Aku ini memang sangat hebat." sambungnya.
"Hanya karena kebetulan saja." tukas Brayen dingin. Felix mendengus tak suka.
Devita terkekeh pelan. "Sudahlah, hari ini kita akan pergi ke Mandalay Day Beach bukan?"
"Ya, kita akan pergi kesana." seru Laretta dan Olivia antusias.
"Aku sudah membawa bikiniku, kalian juga akan memakai bikini kan?" Olivia melirik ke arah Devita dan juga Laretta.
"Tidak!" Brayen sudah lebih dulu menjawab.
Devita mengumpat di dalam hati, kenapa Olivia harus mengucapkan bikini di sini. Devita melirik sedikit ke arah wajah Brayen yang terlihat memasang wajah yang begitu dingin. Jika seperti ini tentu artinya Devita di larang untuk memakai bikini.
"Brayen, aku tidak mungkin bukan untuk memakai baju yang panjang saat sedang berenang?" Devita tersenyum lebar, berharap suaminya itu memperbolehkannya.
"Masih banyak jenis pakaian renang yang lainnya. Tidak harus memakai bikini, Devita!"Jawab Brayen.
Devita mendengus kesal, "Tapi hanya hari ini saja, Brayen. Karena aku sudah lama tidak memakai bikini."
"Tidak Devita," tukas Brayen. Dia langsung melayangkan tatapan dingin pada istrinya. "Sekali aku bilang tidak, artinya tidak. Kau masih bisa memakai pakaian renang yang lainnya. Dan tidak harus bikini!"
"Terserah kau saja!" Devita tidak ada pilihan lain lagi selain menuruti keinginan suaminya itu. Dia juga tidak ingin berdebat dengan suaminya. Karena sekali Brayen itu bilang tidak itu artinya tidak. Beruntung Devita memiliki berbagai jenis pakaian renang yang sudah dia beli sejak awal. Devita pun sudah mulai berjaga - jaga jika suaminya itu melarang dirinya memakai bikini.
"Olivia, aku juga tidak memperbolehkanmu untuk memakai bikini. Kau pakai saja pakaian renang yang lainnya," tukas Felix yang tidak menyetujui keinginan dari Olivia.
"Tidak ada kata tapi Olivia. Kalau kau masih tidak mendengarkan ku, aku akan kurung kamu di dalam kamar. Dan jangan harap kau bisa keluar dari kamar!" Seru Felix memberikan peringatan pada kekasihnya itu.
Sedangkan Laretta tersenyum kaku mendengar perdebatan itu. Laretta melirik ke arah Angkasa yang melemparkan tatapan dingin padanya. Hingga akhirnya Laretta tersenyum lebar ke arah Angkasa. "Perutku sudah membuncit Angkasa. Aku tidak mungkin untuk memakai bikini. Pasti akan terlihat tidak cocok."
"Meski kau sudah melahirkan nanti. Kau juga tidak akan aku perbolehkan memakai bikini " balas Angkasa datar.
Laretta memaksakan senyuman di wajahnya. "Ya aku pasti akan menurutimu."
"Lebih baik kita berangkat sekarang, karena sopir sudah sejak tadi menunggu kita." Laretta memberikan saran. Setelah perdebatan Brayen dan Felix memang diam. Laretta sesekali melirik ke arah Olivia dan juga Devita yang masih terlihat kesal di wajah mereka.
Hingga kemudian, mereka semua menyetujui untuk langsung berangkat. Mereka beranjak dan langsung berjalan menuju ke arah mobil. Sepanjang perjalanan Devita melirik Brayen yang lebih memilih untuk tengah fokus pada ponsel di tangannya. Devita mendesah pelan, suaminya itu terkadang benar - benar seperti anak kecil.
...***...
Mandalay Day Beach, adalah tempat yang di pilih Olivia dan juga Devita. Swimming pool di sini begitu terkenal. Itu yang membuat Olivia dan Devita memilih untuk mengunjungi tempat ini.
Kini Brayen dan juga Devita sudah tiba di Mandalay Day Beach. Devita, Laretta dan Olivia langsung pergi ke ruang ganti. Devita tentu tidak mungkin tetap memakai bikini. Itu sama saja dia mencari masalah dengan suaminya sendiri.
"Devita, kau jadi memakai pakaian renang yang mana? Aku kesal sekali dengan Felix. Dia mengatur hidupku!" Keluh Olivia yang masih tidak terima.
Devita mendesah pelan. "Tidak ada pilihan lain lagi selain menuruti keinginan Brayen. Aku tidak ingin berdebat dengannya."
"Benar apa yang di katakan oleh Devita. Lebih baik kita memakai pakaian renang yang lainnya saja. Lagi pula masih banyak yang terlihat bagus dan juga seksi." kata Laretta yang menyetujui ucapan Devita.
"Ya, aku juga sangat malas jika harus berdebat dengan Felix." ucap Olivia sambil membuka tasnya, dia langsung mengambil pakaian renangnya yang berwarna navy.. Pakaian renang yang di miliki oleh Olivia ini terbilang sangat seksi.
Laretta mengambil tasnya, dia mengambil pakaian yang berwarna kuning. Warna yang sangat cantik di kulit Laretta. Sedangkan Devita, dia sudah menatap Olivia dan Laretta mengganti pakaiannya. Dengan malas Devita mengambil pakaian renangnya yang berwarna maroon dan langsung menggantinya.
Seketika Laretta dan Olivia menatap kagum Devita yang sudah terbalut dengan pakaian renang yang sangat seksi. Warna maroon, membuat Devita terlihat begitu menggoda. Tanpa harus memakai bikini, Devita sudah terlihat sangat cantik dan menggoda.
"Devita, kau cantik sekali!" Seru Olivia dan Laretta bersamaan saat melihat Devita sudah mengganti pakaiannya.
"Sudah jangan berlebihan, kalian berdua juga sangat cantik. Lebih baik kita keluar. Pasti Brayen, Felix dan Angkasa sudah menunggu kita." balas Devita.
Olivia dan Laretta menganguk setuju. Kemudian mereka berjalan keluar menghampiri Brayen, Felix dan Angkasa. Saat Devita, Olivia dan juga Laretta keluar, sejak tadi para pria terus menganggu mereka. Meski mereka tidak memakai bikini, tapi pakaian renang yang mereka pakai saat ini sungguh seksi.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.