Love And Contract

Love And Contract
Bertemu Alena



"Pagi Kak, Pagi Devita." sapa Laretta ketika melihat Brayen masuk kedalam ruang makan.


"Pagi Laretta," balas Devita. Dia duduk di samping Brayen.


Tidak lama kemudian, pelayan mengantarkan tuna sandwich dan susu kacang untuk Devita dan Laretta. Sedangkan Brayen lebih memilih kopi espresso dengan roti gandum.


"Kak, apa boleh hari ini aku kerumah Mommy?" tanya Laretta hati - hati.


"Sopir dan pengawal akan menemanimu." jawab Brayen datar.


Laretta menggangguk patuh. "Iya Kak,"


"Kau jangan coba - coba bertemu dengan Angkasa. Atau kau akan tahu akibatnya. Aku tidak akan memaafkan jika kau berani bertemu dengannya!" Suara Brayen terdengar begitu dingin dan penuh dengan peringatan.


"I- Iya Kak. Aku tidak akan bertemu lagi dengan Angkasa." Laretta menundukkan kepalanya tidak berani menatap Brayen.


Devita mendesah pelan. Dia memilih untuk tetap diam dan tidak menjawab. Devita yakin, setelah ini Brayen memiliki rencana. Devita sudah berjanji, dia akan percaya dan tidak akan menilai suaminya seperti orang lain menilai suaminya itu.


"Aku harus berangkat sekarang." tukas Brayen dingin. Dia beranjak dari tempat duduknya, mengecup keningnya Devita dan juga Laretta. Lalu berjalan meninggalkan ruang makan.


"Laretta?" panggil Devita saat Brayen sudah pergi.


"Ya Devita?" jawab Laretta dengan senyuman yang di paksakan di wajahnya.


"Kau kenapa?" Devita menyentuh tangan Laretta. "Kau masih memikirkan perkataan Brayen?"


"Kakakku hanya melakukan tugasnya sebagai seorang Kakak." balas Laretta. "Aku berusaha untuk mengerti."


"Laretta, lupakan sejenak masalahmu." kata Devita dengan tatapan lembut ke arah Laretta. "Lebih baik kita bersantai. Aku akan meminta Chef Della untuk mengajariku beberapa menu makanan Italia. Karena Brayen sangat menyukai makanan Italia. Apa kau mau menemaniku?"


Laretta tersenyum tulus, lalu dia menganggukan kepalanya. "Ya, aku akan menemanimu."


Setelah selesai makan, Devita memanggil Chef Della untuk mengajarkan beberapa masakan Italia. Karena Devita tahu, suaminya itu begitu menyukai Italian food. Devita memilih mengajak Laretta. Dia sengaja, setidaknya Laretta bisa sedikit melupakan masalahnya. Devita membiarkan Brayen yang menangani ini semua.


...***...


Brayen turun dari mobil, dia melangkah masuk kedalam perusahaan. Para karyawan yang melihat Brayen datang, mereka menundukkan kepalanya menyapa Brayen. Sedangkan Brayen hanya membalasnya dengan anggukan yang singkat. Brayen melangkah masuk kedalam lift, bersama dengan Albert yang juga masuk kedalam lift.


"Apa wanita itu sudah datang?" tanya Brayen dingin tanpa melihat ke arah Albert yang berdiri di sampingnya.


"Sudah Tuan, saat ini Alena Nakamura sudah berada di ruang kerja anda." jawab Albert hati - hati. "Maaf Tuan, apa hari ini Tuan jadi mengundang media?"


"Tidak." tukas Brayen. "Aku mengatakan itu, hanya karena ingin tahu bagaimana respon dari Angkasa. Rupanya, dia menjadi Kakak yang baik dan mau menggantikan posisi adiknya."


"Jadi Tuan, tidak mengundang media datang?" Albert kembali bertanya untuk memastikan.


"Tidak, aku memang tidak pernah berniat untuk mengundang media." balas Brayen datar. "Aku ingin sendiri berbicara dengan wanita itu."


Albert mengangguk patuh. "Baik Tuan."


Ting!


Pintu lift terbuka, Brayen keluar dari lift dan langsung masuk kedalam ruang kerjanya. Di ikuti oleh Albert yang juga ikut masuk kedalam ruang kerja Brayen.


Saat Brayen masuk ke dalam ruang kerjanya, dia melihat sosok wanita yang terlihat begitu gusar duduk di sofa. Brayen tersenyum sinis, dia melangkah lalu duduk tepat di hadapan wanita itu.


"A-Aku sebelumnya ingin berterima kasih padamu. Karena kau telah membebaskanku." Alena menundukkan kepalanya tidak berani menatap Brayen.


Brayen menyilangkan kakinya, lalu menggerakkan jarinya meminta Albert untuk membawa wine untuknya. Tidak lama kemudian, Albert mengambil dan menuangkan wine pada kedua gelas sloki. Dia memberikannya pada Brayen dan juga Alena. Brayen mengibaskan tangannya, meminta Albert untuk keluar. Albert menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari hadapan Brayen.


"Kau tahu, apa tujuanku memintamu untuk datang?" Brayen menggerakkan gelas sloki di tangannya berirama.


"A- aku sungguh minta maaf. Aku sudah melakukan kesalahan besar. Aku tahu, kau tidak akan mungkin memaafkanku. Tapi aku mohon kali ini, maafkan kesalahanku. Aku berjanji, tidak akan pernah mengusik adikmu. Dulu, aku hanya kecewa karena Devita tidak menikah dengan Kakakku. Sekarang, aku sadar dan aku bersalah karena telah mempermalukanmu Laretta."


Suara Alena terdengar begitu gugup. Tatapannya penuh dengan permohonan. Terlihat jelas, Alena begitu menyesali perbuatannya.


"Berada di penjara, membuat kau sadar atas kesalahanmu?" Brayen menyesap winenya. "Aku rasa, kau salah jika meminta maaf padaku. Seharusnya kau meminta maaf pada adikku."


Alena mengangguk. "Aku akan mendatangi Laretta dan langsung meminta maaf padanya."


"Well, jadi putri dari keluarga Nakamura sekarang mengakui kesalahannya? Dan ingin meminta maaf pada adikku?" Brayen tersenyum miring. "Kau tahu, aku itu masih berbaik hati untuk membebaskanmu. Tadinya, aku itu berniat untuk mempermalukanmu di hadapan seluruh banyak orang. Jika saja bukan karena istriku, aku sudah pasti menghancurkanmu. Aku membiarkanmu bisa menghirup udara segar, semua karena adik dan juga Istriku."


"Tidak hanya itu, tapi aku juga sedikit tersentuh pada Kakakmu yang ingin menggantikanmu. Aku meminta Kakakmu untuk mempermalukanmu, tapi dia mengatakan biarkan dia yang menggantikan posisimu. Kakakmu itu sangat bertanggung jawab pada adik sepertimu. Jika aku berada di posisi Kakakmu, aku tidak akan membela adikku."


Brayen menyeringai puas melihat wajah Alena begitu menegang ketika dia mengatakan ini. Brayen kembali menyesap winenya, tatapannya tidak lepas menatap Alena yang duduk di hadapannya.


"A- Aku sungguh minta maaf. Jika kau ingin membalas dengan mempermalukanku, sungguh aku tidak apa-apa..." mata Alena berkaca-kaca menatap Brayen. Hatinya begitu sakit dan juga sesak mendengar pengorbanan Kakaknya.


"Jika saja, aku bisa melakukan itu. Maka aku sudah melakukannya." tukas Brayen dingin. "Aku hanya ingin melihat bagaimana Kakakmu. Dan rupanya dia begitu bertanggung jawab atas dirimu."


"Jangan libatkan Kakakku. Dia tidak bersalah. Aku mohon." kata Alena lirih. Air matanya berlinang membasahi pipinya.


"Datanglah kerumahku. Dan minta maaf pada adikku." balas Brayen datar. "Aku mengampunimu hanya satu kali. Jika aku tahu, kau berniat untuk melukai adikku lagi maka aku akan benar-benar melenyapkanmu. Aku tidak perduli dengan Kakakmu. Dan harus aku tegaskan padamu Alena Nakamura. Aku bukan orang yang baik. Ketika aku memberikan kesempatan, maka tidak akan pernah ada kesempatan yang lain."


"Semua yang aku lakukan karena istriku masih memikirkanmu. Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Tapi berterima kasihlah pada istriku. Jika bukan karena Istriku, sudah pasti aku menghancurkanmu."


Brayen mengatakannya dengan tegas. Sorot matanya tetap menatap dingin Alena. Meski Brayen masih menaruh dendam pada wanita yang ada di hadapannya. Tapi dia memilih untuk memikirkan perasaan istri dan juga adiknya. Jika bukan karena Devita, maka dia tidak akan pernah memaafkan orang yang telah berani menghina keluarganya.


"Terima kasih. Aku berjanji tidak akan pernah menyakiti adikmu." Isak Alena. Air matanya juga tidak berhenti sejak tadi. Ada rasa kelegaan dalam dirinya. Ketika Alena datang, dia tidak pernah berpikir, bahwa Brayen akan memaafkannya. Kenyataannya, Brayen memberikan kesempatan padanya. Ya, Alena harusnya bersyukur, karena Devita masih berbaik hati padanya.


"Setelah kau bertemu dengan adikku. Temui kedua orang tuamu dan minta pada keluargamu agar datang ke kediaman keluargaku." tukas Brayen.


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.