Love And Contract

Love And Contract
Kejujuran Devita



Kemudian Devita mengurai pelukannya. "Tunggu sebentar, aku harus mengambil kado untukmu. Aku sudah menyiapkannya."


Brayen mengangguk pelan, lalu Devita langsung berjalan mengambil kotak hadiah yang sudah di siapkan. Sebuah kotak yang berwarna hitam sudah berada di tangan Devita, dan dengan cepat Devita melangkah ke arah suaminya yang sejak tadi tidak henti menatap dirinya.


"Ini hadiah dariku, kau harus membukanya. Aku berharap kau menyukainya." Devita memberikan kotak yang berada di tangannya itu pada Brayen.


"Harusnya, kau itu tidak usah membelikan apapun, sayang. Karena hanya kau yang aku butuhkan," balas Brayen. Namun, dia tetap menerima kotak yang ada di tangannya itu.


Senyum di bibir Brayen terukir, melihat sebuah arloji yang dia inginkan. "Darimana kau tahu aku ingin membeli arloji ini?"


"Kau ingin membelinya?" Devita mengerutkan keningnya, menatap bingung suaminya.


"Ini edisi terbaru, aku belum sempat meminta Albert untuk memesankan ini. Terakhir aku sudah mengingatnya, saat kita pulang dari Las Vegas. Tapi karena setelah kita pulang berlibur, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan itu yang membuat aku lupa meminta pada Albert untuk memesankannya." ujar Brayen yang membuat Devita tersenyum senang. Tentu saja Devita sangat bahagia, karena kado yang dia pilih ternyata suaminya sangat menyukainya.


"Jadi, kau sangat menyukai kado dariku?" Devita merapatkan tubuhnya pada tubuh suaminya itu, lalu mendongak. "Aku senang kau menyukainya, besok saat kau bekerja. Kau itu harus memakainya," bisik Devita.


Brayen, memagut lembut bibir istrinya. "Aku menyukai semua hadiah darimu," bisiknya.


"Tapi satu hal yang aku tidak suka, aku tidak suka jika kau mendiamkanku." Brayen mengelus lembut pipi Devita. "Meski hanya satu hari, tapi aku tidak bisa jika kau mendiamkanku. Apa kau mengerti Devita Mahendra.?"


Devita mengulum senyumannya mendengar ucapan dari suaminya itu. "Kau melupakan sesuatu, Tuan Brayen Adams Mahendra? Kau juga pernah mendiamkan aku karena rasa cemburumu yang berlebihan itu." Devita terkekeh pelan sengaja meledek suaminya itu.


"Jadi, kalau aku dekat dengan wanita lain kau tidak akan cemburu?" Brayen tersenyum miring. "Kalau begitu aku akan dekat dengan wanita lain."


Devita mendelik menatap tajam Brayen. "Coba saja! Aku akan membawa anak kita dan meninggalkanmu! Tidak hanya anak, tapi aku akan menuntut setengah harta milikmu!"


Brayen mengangguk seolah menyetujui perkataan istrinya, kemudian dia memeluk pinggang Devita dan menempelkan keningnya pada kening istrinya. "Aku tidak mungkin tertarik pada wanita lain. Aku sudah memilki istri yang sempurna di hidupku."


Brayen mengecup mata, hidung, pipi, dan leher Istrinya. Tubuh Devita meremang merasakan helaan nafas Brayen di lehernya. Hingga kemudian tatapan mereka saling beradu. "Apa kau ingat? Aku itu harus memberikanmu hukuman? Karena sudah mendiamkanku? hm?"


"T- Tapi Brayen, aku kan hanya pura - pura saja mendiamkanmu." bantah Devita cepat. Dan jantungnya berdegup dengan kencang saat dirinya berdekatan dengan suaminya itu. Padahal Devita sudah sering berada di dekat suaminya ini, tapi getar perasannya tetap sama. Bahkan lebih besar dari sebelumnya.


Brayen mendekatkan bibirnya ke telinga Devita dan berbisik, "Kalau begitu berikan aku spesial gift."


"Spesial gif?" Devita menautkan alisnya. "Seperti apa Brayen?"


Brayen tersenyum, bahkan sudah berkali - kali melakukannya istrinya itu masih sering polos. Brayen menangkup kedua pipi Devita. "Seperti ini." ucap Brayen yang kemudian memagut bibir istrinya itu.


Mata Devita membulat sempurna, seketika Devita mulai mengerti dengan apa yang di inginkan oleh suaminya itu. Kini Devita mulai memejamkan matanya dan membalas ******* yang di berikan oleh suaminya. Bibir mereka saling mencecapi atas dan bawah secara bergantian dan lidah mereka saling berpagutan.


Kini suara ******* dan erangan memenuhi ruangan itu. Devita menjerit ketika Brayen menghentakkan miliknya semakin dalam. Bahkan keduanya sudah tidak lagi merasakan AC di kamar mereka. Devita terus meneriaki nama Brayen di setiap pelepasannya.


Hingga akhirnya tubuh Brayen ambruk, dia membenamkan tubuhnya di ceruk leher Devita. Brayen kemudian menggeser tubuhnya, dan menarik tangan Devita masuk kedalam pelukannya. Dan Devita hanya menurut, napasnya masih tersengal-sengal dan kehabisan tenaga.


Brayen mengeratkan pelukannya dan mengecup puncak kepala istrinya. "Thank you for your special gift."


Devita tersenyum dan mengangguk pelan. Devita membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Meski tubuh Brayen di penuhi oleh keringat. Tetapi Devita masih mencium aroma parfum dari suaminya yang menjadi kesukaannya.


Perlahan, Devita mulai memejamkan matanya tubuhnya terasa begitu lelah dan lemas. Brayen mengeratkan pelukannya, dia mengelus punggung istrinya. Tidak lama kemudian Brayen mulai memejamkan matanya menyusul istrinya dalam mimpi indahnya.


Sinar matahari pagi menembus dari sela - sela tirai. Brayen yang sudah duluan bangun, dia tidak ada hentinya menatap wajah Devita yang masih tertidur pulas. Tubuh polos istrinya masih terbalut dengan selimut.


Brayen mengelus dengan lembut pipi Devita yang mulai bertambah berisi. Brayen senang melihat pipi istrinya yang mulai berisi itu. Dan Brayen mulai menelusuri wajah Devita, bulu mata yang lentik, hidung yang mungil, bibir ranum yang selalu menggodanya itu.


Perlahan Devita mulai menggeliat dan membuka matanya ketika merasakan sentuhan di wajahnya. Senyum di bibir Devita terukir, ketika melihat suaminya terus menatap dirinya.


Brayen menarik pelan tangan Devita dan membawanya kedalam pelukannya. "Apa aku menganggu tidurmu?"


Devita membenamkan wajahnya di dada bidang Brayen, menghirup aroma tubuh suaminya yang begitu dia sukai. Kemudian Devita mendongak dari dalam pelukan Brayen. "Tidak, kau tidak membangunkanku. Aku menyukai yang seperti ini, ketika aku bangun pagi kau masih berada di sampingku."


"Maaf, karena belakangan ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku?" Brayen mengeratkan pelukannya, dia mengecupi puncak kepala Devita.


"Tidak perlu meminta maaf, aku mengerti." balas Devita. "Brayen, apa kau itu tidak pergi ke kantor hari ini?"


"Hari ini, aku akan datang siang." jawab Brayen.


Devita mengangguk paham. " Brayen, ada yang ingin aku katakan padamu." ucap Devita sedikit malu.


"Ada apa?" Brayen sedikit mengerutkan keningnya.


"Aku ingin jujur sesuatu padamu. Tapi, kau jangan marah," cicit Devita. Dia menggigit bibir bawahnya, tidak berani menatap Brayen.


Brayen terus menatap bingung istrinya itu. "Ada apa, Devita?"


"Aku sebelumnya ingin meminta maaf padamu, Brayen. Tadinya aku tidak ingin mengatakannya padamu, karena aku malu mengatakannya. Tapi aku rasa kau itu harus mengetahuinya," ujar Devita. "Sebenarnya, aku mengingat hari ulang tahunmu itu bulan depan. Aku sungguh lupa, karena kau tahu, aku tidak pernah merayakan ulang tahun bersama dengan pasanganku. Beruntung, saat aku sedang mengobrol dengan Laretta, dia mengingat kalau sebentar lagi kau akan berulang tahun."


"Ketik Laretta mengatakan ulang tahunmu sebentar lagi, aku langsung memeriksa foto paspormu di ponselku. Jangan marah Brayen, aku janji di tahun-tahun berikutnya aku tidak akan pernah melupakan hari ulang tahunmu."


Devita kembali membenamkan wajahnya di dada bidang Brayen, dan memeluk tubuh suaminya itu dengan erat. Brayen mengulum senyumannya mendengar ucapan istrinya itu.


"Karena kau sudah jujur padaku, aku juga ingin jujur ingin jujur padamu," ucap Brayen sontak membuat Devita terkejut.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.