Love And Contract

Love And Contract
Rencana Brayen



Kini Brayen sudah berada di dalam mobil Felix. Kali ini Brayen dengan terpaksa harus ikut dengan Felix, walau sebenarnya dia tidak ingin ikut dengan Felix. Dia ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Devita. Tapi hingga detik ini, Devita masih belum mau bicara dengannya. Brayen sudah berkali - kali mengajak Devita untuk berbicara, tapi Devita selalu menolak dirinya.


"Brayen, kau ingin aku antar langsung ke rumah?" tanya Felix tanpa mengalihkan pandangannya. Dia masih tetap fokus untuk menyetir mobil.


"Ya," jawab Brayen singkat.


"Aku tahu kau bertengkar dengan istrimu, kan? Apa karena wanita yang mengantarmu itu?" kekeh Felix sembari melirik Brayen sekilas.


"Beraninya kau menertawakanku!" Brayen menghunuskan tatapan tajamnya ke arah Felix.


"Aku sudah memberitahumu, jangan membawa wanita itu. Kau dengan berani membawa wanita itu. Sekarang kau rasakan sendiri, akibat dari yang kau lakukan itu," jawab Felix dengan santai, kali ini dia tidak mau di salahkan karena sebelumnya dia sudah memperingati Brayen. Tapi sepupunya itu tidak mau mendengarkan.


Brayen membuang napas kasar. "Harusnya kau memaksaku. Saat itu aku mabuk, kau tahu saat aku mabuk tidak bisa mengambil keputusan dengan tepat. Kenapa kau sudah membiarkan wanita itu pulang ke rumah!"


Felix mengumpat kasar, "Kau ini yang benar saja, Brayen! Aku sudah banyak membantumu, tapi masih juga kau menyalahkanku. Kenapa nasibku sungguh sial, memiliki sepupu sialan sepertimu!"


"Diam kau! Sekali lagi kau mengeluh aku akan menarik uang yang ada di perusahaanmu!" Tukas Brayen tajam.


"Damn it!" Umpat Felix. Dia bersumpah, jika bukan Brayen sepupunya, dia sudah menurunkan Brayen di tengah jalan. Sepupunya ini selalu mengancam akan menarik dana investasi yang telah dia berikan.


"Lebih baik kau membantuku memikirkan cara bagaimana caranya agar istriku mau memaafkanku." seru Brayen.


Felix berdecak pelan, "Kau harus menjelaskannya padaku, apa sebenarnya masalah kalian? Kenapa kau bisa mendatangi klub malam dan mabuk?"


Brayen menghembuskan napas gusar. " Pria di masa lalu istriku datang dan aku pikir istriku akan kembali padanya. Aku terlalu cemburu. Akhirnya aku menuduhnya berselingkuh di belakangku dan pada saat itu aku memilih datang ke klub malam. Kau pasti terkejut siapa pria masa lalu istriku. Dia adalah Angkasa, pria yang sedang berusaha mendapatkan hati adikku. Aku rasa kau sudah mengetahui semua tentang Angkasa dan adikku," jelas Brayen.


Felix mengangguk singkat, " Ya, aku sudah mengetahui tentang Angkasa dan juga Laretta. Lupakan tentang mereka, aku hanya membahas tentang Devita. Aku rasa kau sudah harus masuk ke rumah sakit jiwa, Brayen. Bagaimana kau berpikir, wanita sebaik Devita berselingkuh darimu? Dimana letak otakmu yang cerdas itu?" tanya Felix dengan nada penuh sindiran.


"Sekali lagi kau meledekku, aku akan menarik uangku dari perusahaanmu. Maka bersiaplah kau mengalami kebangkrutan mu!" Brayen kembali melayangkan tatapan tajamnya pada Felix yang sudah sejak tadi tidak henti menyindirnya.


"Aku hanya berbicara yang sebenarnya! Kenapa kau bisa berpikir, Devita berselingkuh darimu? Aku saja yang baru pertama kali melihat istrimu, sudah tahu dia adalah wanita yang baik - baik. Bukan mantan kekasihmu itu yang hanya mengincar hartamu itu," balas Felix yang kembali menyindir Brayen. Dia tidak peduli dengan sepupunya itu yang kini menatap tajam dirinya.


"Dulu istriku menunggu pria itu sangat lama, itu yang membuatku berpikir jika Devita berselingkuh dariku saat pria itu sudah kembali," Brayen mengepalkan tangannya dengan kuat. Kali ini dia mengakui kebodohannya yang tidak memercayai istrinya sendiri.


Felix membuang napas kasar. " Dengar Brayen, seorang yang berada di masa lalu, mereka memang di tempatkan untuk masa lalu. Aku rasa kau tahu itu. Kecemburuanmu itu terlalu kekanak-kanakan. Saat ini, kaulah suami Devita. Tidak perduli dengan masa lalu Devita, aku yakin Devita tidak akan pernah berpaling darimu dan memilih pria dari masa lalunya,"


"Ya, aku tahu itu, aku bahkan sudah meminta maaf pada Devita tapi dia tetap ingin menenangkan diri. Aku hampir gila, karena memikirkannya Felix," jawab Brayen.


Felix menggeleng pelan seraya menarik sudut bibirnya membentuk senyuman kecil. " Kau sekarang menyesali apa yang telah kau lakukan. Tidak semudah itu kau bisa mendapatkan maaf darinya. Kau telah memberikan luka di hatinya. Kau butuh waktu untuk memulihkan semuanya,"


"Sekarang aku tanya padamu, apa kau sudah tidur dengan wanita yang kau bawa pulang ke rumah itu?" tanya Felix dengan serius.


"Jangan melontarkan pertanyaan bodohmu itu! Aku tidak mungkin melakukan itu!" Tukas Brayen dingin.


"Bukan hanya itu, aku mabuk. Saat aku mabuk, aku mencium wanita itu di depan Devita. Tapi aku tidak mengingat jika aku sudah berciuman dengan wanita itu. Aku di beritahu Devita, jika aku telah mencium wanita itu," Brayen memejamkan matanya putus asa. Dia benar - benar menyesali semua ini. Jika saja, dia bisa mengatur emosinya dengan baik, hal ini tidak akan pernah terjadi.


Felix tersenyum sinis. " Kalau begitu nikmatilah aku yakin Devita tidak mudah untuk melupakannya. Tidak ada wanita yang bisa melihat pasangannya berciuman dengan wanita lain. Terlebih di depan matanya sendiri."


"Aku mabuk sialan!" Seru Brayen.


Felix mengedikkan bahunya acuh, " Ya, terserah apa yang menjadi alasanmu,"


"Lebih baik kau memberikan saran padaku. Bagaimana caranya agar Devita mau memaafkanku. Aku akan membelikan apapun yang dia inginkan, asal dia mau memaafkanku." ucap Brayen dingin suaranya terdengar putus asa.


Felix membuang napas kasar, " Aku rasa kau harus memberikannya waktu untuknya dua atau tiga hari. Biarkan dia menyendiri sejenak, biarkan dia menenangkan pikirannya. Setelah itu, kau bisa memberikan sebuah kejutan yang indah. Untuk kejutannya aku rasa harus kau sendiri yang memikirkannya. Karena kau suaminya, kau jauh lebih tahu apa yang di sukai oleh Istrimu,"


"Dua, tiga hari itu sangat lama Felix. Aku tidak bisa bertahan selama itu!" Tukas Brayen yang tidak menyetujui perkataan Felix.


"Kau juga jangan berlebihan Brayen, hanya dua atau tiga hari! Bukan dua atau tiga bulan! Setelah itu kau menyiapkan kejutan untuk istrimu," balas Felix memberi saran.


Brayen terdiam sesaat, hingga dia menjawab "Aku akan memikirkannya. Aku pastikan akan memberikan yang terbaik untuk istriku."


"Ya, you have to. Karena ini adalah kesalahanmu, kau harus menebus kesalahanmu itu. Ingat Brayen, jangan lagi cemburu yang berlebihan. Kau sudah mendapatkan seorang wanita yang baik - baik. Tidak perlu kau ragukan lagi. Dia tidak akan pernah mungkin mengkhianatimu. Aku saja bisa menilai dengan baik istrimu," seru Felix mengingatkan. Dia sendiri tidak habis pikir dengan sepupunya, kenapa bisa berpikir Devita berselingkuh. Padahal dia saja bisa menilai bahwa Devita adalah wanita yang sangat baik.


"Aku tidak akan pernah lagi meragukan Istriku. Aku yakin, dia tidak mungkin mengkhianatiku." balas Brayen dengan nada penuh penyesalan.


Kini yang ada di pikiran Brayen adalah memikirkan kejutan manis yang akan di siapkan untuk Devita. Dia memang harus menahan beberapa hari, untuk tidak bertemu dengan istrinya. Dia ingin memberikan sedikit ruang untuk istrinya. Tapi meski demikian, Brayen akan tetap menjaga Devita dari kejauhan.


Brayen mengambil ponselnya dan memberi pesan pada Albert untuk memberikan beberapa pengawal yang mengawasi keberadaan Devita tanpa di ketahui oleh Devita. Setidaknya ini adalah hal yang membuat Brayen jauh lebih tenang. Menjaga istrinya dari kejauhan. Dengan seperti ini, Brayen akan tetap mengetahui apa saja yang sedang di lakukan istrinya itu.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.