Love And Contract

Love And Contract
Setelah Kejadian Penculikan



Sebuah mobil harus terpakir jauh dari pemakaman Ivana Wilson. Ya, Brayen sengaja memarkirkan mobilnya, dan berjarak cukup jauh dari pemakaman Ivana Wilson. Tidak hanya Brayen yang melihat pemakaman Ivana Wilson, tapi Felix juga ikut menemani Brayen. Tujuan Brayen memarkirkan mobilnya dari jauh dari upacara pemakaman Ivana Wilson, tentu dia menghindari para media. Bukan tidak ingin memberikan keterangan pada para media, tapi Brayen lebih memilih untuk membiarkan Albert yang memberikan keterangan pada para media.


"Brayen, apa kau tidak ingin turun?" tanya Felix yang sejak tadi hanya melihat Brayen diam di dalam mobil. Namun, tatapannya menatap rangakaian upacara pemakaman Ivana Wilson.


"Tidak, di sana terlalu banyak para media. Aku tidak ingin mewawancaraiku." tukas Brayen dingin


"Lalu? Bagaimana dengan proyek kerjasama Mahendra Enterprise dengan Wilson Grup? Apa kau akan tetap melanjutkannya?" Felix menatap serius ke arah Brayen. Bagaimana pun proyek kerja sama ini sangat penting. Terlebih masih adanya kontrak yang tidak mungkin membatalkan secara sepihak.


"Aku tidak berniat untuk membatalkannya. Tapi aku ingin, kau yang memimpin proyek kerjasama dengan Wilson Grup." balas Brayen. "Kedepannya kau yang akan meeting dan membahas proyek kerjasama itu. Aku tidak ingin terlibat di dalamnya. Kau yang akan menggantikan aku dalam proyek kerjasama ini."


Felix membuang napas kasar. "Kau menambah pekerjaanku Brayen. Aku tidak akan bisa menemani Olivia. Sebentar lagi Olivia akan kembali ke Kanada."


"Kau tidak ada pilihan lain selain menerimanya. Kau harus ingat, kalau nama belakangmu masih Mahendra. Kau juga memiliki tanggung jawab di Mahendra Enterprise," tukas Brayen menekankan. Dengan nada tidak ingin di bantah.


Felix mendengus, dia mengumpat dalam hati "Ya, ya, baiklah...".


"Aku harus segera kembali ke rumah sakit. Devita membutuhkanku." tukas Brayen dingin.


"Aku juga ingin menemui Olivia di rumah sakit kondisinya masih belum pulih sepenuhnya," balas Felix.


Brayen mengangguk singkat, dia menghidupkan mesin mobil, lalu menginjak gas. Kini Brayen melajukkan mobilnya meninggalkan pemakaman Ivana Wilson.


...***...


Sudah lebih dari satu hari Devita masih belum juga sadar. Dokter mengatakan trauma berlebihan membuat Devita kehilangan kesadarannya. Namun beruntung, tidak terjadi sesuatu masalah pada kandungan Devita.


Brayen duduk di tepi tempat tidur, dia menatap istrinya yang masih tertidur pulas. Brayen mengelus lembut pipi Devita. Hingga detik ini, Brayen tidak hentinya bersyukur jika istrinya itu bisa selamat. Jika terjadi sesuatu pada Devita, dia tidak akan pernah memaafkan dirinya seumur hidup.


Perlahan, Devita mulai membuka matanya. Samar - samar dia mendengar ada yang memanggil namanya. Senyum di bibirnya terukir melihat suaminya berada di hadapannya.


Melihat Devita yang kini sudah sadar, Brayen langsung memagut lembut bibir Istrinya. "Aku merindukanmu.."


"Aku juga merindukanmu." Devita menjawab, dia mengelus rahang Brayen. Namun, terlihat jelas di wajah Devita yang tampak muram. Tatapannya matanya kosong, tidak seperti biasanya.


"Kau kenapa, sayang?" Brayen mengelus lembut pipi Devita. Dia terus memberikan kecupan di bibir Devita.


"Brayen, bagaimana dengan keadaan Ivana?" tanya Devita dengan suara yang parau.


"Jangan pikirkan dia." balas Brayen.


"Aku hanya ingin tahu kabar tentangnya." Devita terlihat begitu sedih. Hal yang Devita tidak bisa lupakan adalah ketika Ivana menceritakan masa lalunya.


"Nanti kau akan tahu, tapi tidak sekarang, Devita." Brayen membawa tangannya mengelus lembut perut Devita. "Lebih baik, kau pikirkan kesehatanmu dan juga anak kita.


"Brayen, bagaimana dengan anak kita?" wajah Devita langsung berubah panik, dia baru mengingat jika Ivana memukul dirinya. Meski dia berhasil melindungi perutnya. Tapi tidak bisa pungkiri, kini perasaannya begitu cemas."


Devita mengangguk patuh, kemudian dia membenamkan wajahnya di dada bidang Brayen. Memeluk erat tubuh suaminya. Begitu pun dengan Brayen dia langsung membalas pelukan Devita. Memberikan kecupan bertubi-tubi di puncak kepala Istrinya.


"Kau tahu, di dunia tidak ada yang pernah aku takutkan. Tapi aku hanya takut kehilanganmu. Karena aku tidak akan pernah bisa hidup, jika kau tidak ada di sisiku." Brayen mengeratkan pelukannya, dia terus mengecupi kening Devita.


Devita tersenyum mendengar ucapan dari Brayen, hingga kemudian Devita menjawab dengan suara yang lembut. "Sama sepertimu, aku juga tidak akan pernah bisa hidup. Jika kau tidak ada di sisiku. Aku selalu mencintaimu."


Brayen menangkup kedua pipi Devita, memanggut bibir ranum Istrinya itu, lalu berbisik. "Aku jauh lebih mencintaimu. Terima kasih, karena kau menerima segala sifatku. Aku berjanji, setelah ini akan lebih menjagamu."


...***...


Beberapa hari kemudian.....


Setelah kejadian penculikan Devita lebih banyak diam, dan menyendiri di rumahnya. Beberapa hari ini Brayen selalu menemani Devita. Seluruh pekerjaan, telah Brayen serahkan pada Albert, terlebih banyak media yang memberitakan kematian pewaris Wilson Grup, setiap kali Devita melihat berita dia sungguh kasihan dengan nasib Ivana. Devita tahu, apa yang di lakukan Ivana itu memang salah. Namun, lepas dari itu Devita merasa iba dengan Ivana. Bahkan, demi mendapatkan Brayen, Ivana sampai menghancurkan hubungan Brayen dengan William dan juga Veronica.


Hal yang membuat, Devita terus mengingat Ivana, adalah ketika wanita itu memilih untuk mengakhiri hidupnya karena tidak bisa mendapatkan Brayen. Ivana bunuh diri tepat di hadapannya. Beruntung, Brayen masih bisa menyelamatkannya saat Ivana menariknya dari atap gedung. Jika Brayen terlambat menyelamatkannya, mungkin dia juga sudah tidak ada lagi.


Devita duduk di ranjang, dengan punggung yang bersandar di kepala ranjang. Tatapannya menatap kosong ke depan. Belakangan ini napsu makan Devita berkurang. Tapi Devita selalu memaksakan dirinya untuk makan. Dia tidak ingin melukai anaknya. Setiap hari, dokter selalu datang untuk memeriksakan kandungannya dan kesehatannya.


"Sayang...." Brayen berdiri di ambang pintu, dia menatap Devita yang terus melamun seperti tengah memikirkan sesuatu. Brayen mendekat, dia langsung duduk di samping Devita.


Devita mengalihkan pandangannya ke arah Brayen, yang duduk di sampingnya. Lalu dia tersenyum. "Kau hari ini tidak ke kantor?"


"Tidak, aku ingin di sini menemanimu." Brayen menarik tangan Devita, membawanya kedalam pelukannya. Dia memberikan kecupan di puncak kepala istrinya.


"Maafkan aku sayang...." Brayen mengeratkan pelukannya, suaranya terdengar pelan dan merasa bersalah.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.