Love And Contract

Love And Contract
Tidak Mampu Berkata - Kata



"Well, bukannya kau itu sudah sangat tahu? Aku bukan orang yang mudah memaafkan orang lain? Aku tidak sebaik itu, Davin Bautista," tukas Brayen dingin.


Davin menganguk paham. "Aku mengenalmu cukup lama Brayen, jadi aku pun mengetahuinya. Tapi untuk kali ini, tolong maafkan Raymond. Aku berjanji Raymond tidak akan lagi menganggu istrimu."


"Kau pulanglah Davin, aku tidak bisa memutuskannya hari ini. Tapi aku hargai dirimu yang berani meminta maaf atas kesalahan yang di lakukan oleh Kakakmu. Hubunganku dan kau masih terjalin baik, aku tidak ingin menyangkut pautkan itu pada dirimu." balas Brayen.


"Baiklah, aku pulang. Sebelumnya aku ingin menyampaikan. Ayahku mengirimkan salam untukmu, dia juga sungguh meminta maaf atas perilaku Raymond." ucap Davin, lalu beranjak dari tempat duduknya, dia menatap lekat Brayen yang sedang berdiri di hadapannya. "Aku berharap kau mau memaafkannya."


Davin membalikkan tubuhnya, dia langsung berjalan meninggalkan Brayen. Namun, langkah kaki Davin terhenti ketika melihat Devita berada di ambang pintu.


"Devita?" sapa Davin.


Devita tersenyum. "Hi Davin, apa kabar?"


"Baik, bagiamana denganmu?"


"Aku baik,"


"Aku senang mendengarnya, maaf aku harus pergi. Semoga harimu menyenangkan Devita."


"Hati - hati Davin, semoga harimu juga menyenangkan."


Davin tersenyum, dia melanjutkan langkahnya meninggalkan ruang kerja Brayen.


"Sayang? Kau di sini?" Brayen sedikit terkejut, melihat Devita berada di ruang kerjanya. Devita tidak menjawab, dia melangkah mendekat ke arah Brayen dan langsung duduk di atas pangkuan suaminya itu.


"Apa kau sibuk?" Devita mengaitkan tangannya ke leher Brayen, dia merapatkan tubuhnya ke tubuh suaminya itu.


"Tidak, aku tidak sibuk." jawab Brayen, sambil membenarkan posisi istrinya, agar jauh lebih nyaman. "Kau darimana? Aku dengar dari Nagita, hari ini kau itu pergi ke salon."


"Aku ke salon hanya sebentar saja, setelah itu aku langsung datang kesini." balas Devita. "Oh ya, Davin tadi datang untuk apa?"


"Untuk meminta maaf padaku."


"Meminta maaf?" Devita menatap tak percaya, pasalnya yang mengganggu dirinya adalah Raymond tapi kenapa malah Davinlah yang meminta maaf.


Brayen mengangguk. "Dia meminta maaf karena Kakaknya yang sialan itu sudah berani mengganggu istriku."


"Lalu kau bilang apa pada Davin?" tanya Devita ingin tahu.


Brayen mengedikkan bahunya acuh. "Aku hanya bilang, bahwa aku tidak sebaik itu. Aku tidak memiliki masalah dengan Davin. Aku hanya mau yang mengemis untuk meminta maaf padaku adalah Kakaknya bukan dirinya."


"Brayen!" Tegur Devita pelan. "Harusnya kau itu memaafkannya, kasihan Davin."


"Sudahku katakan, aku itu tidak sebaik itu Devita..." Brayen mengeratkan pelukannya pada istrinya.


Devita mendengus, "Tetapi Davin sudah meminta maaf. Aku tidak ingin hubunganmu dengan Davin menjadi berantakan hanya karena masalah Kakaknya Davin yang sudah menggangguku."


"Aku masih membutuhkan waktu, aku tidak bisa langsung memaafkan begitu saja, ketika ada orang yang berani mengganggu istriku," balas Brayen dingin.


Devita mengelus dengan lembut rahang Brayen. "Kau tahu? Terkadang aku masih tidak menyangka, pria yang dulunya tidak memperdulikan ku, sekarang menjadi suamiku bahkan pria itu sekarang begitu mencintaiku, melindungiku dan memberikan segalanya untuk bisa membahagiakan ku. Karena aku begitu beruntung memilikimu di hidupku. Tapi Brayen, aku tidak ingin kau menaruh dendam dan amarah yang terlalu lama pada seseorang hanya karena diriku."


"Kau salah Devita," Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* dengan lembut bibir Istrinya. "Jika kau berpikir aku dulunya tidak perduli. Kau salah sayang, sejak dulu aku peduli denganmu. Hanya saja aku tidak mengakui itu di awal pertemuan kita.".


"Apa kau ingat? Kau menabrakku dengan kue di tanganmu, tepat di hari itu kau sudah menarikku dengan tingkahmu yang polos. Dan untuk pertama kalinya ada seorang gadis yang memanggilku dengan sebutan Paman. Di saat itu kau telah berhasil mengambil perhatianku Devita. Terlebih saat kenyataan membawaku harus di hadapkan menikah denganmu. Aku tidak pernah menyesali semua itu."


Devita terdiam, dia tidak mampu berkata-kata setelah mendengar perkataan dari Brayen. Air matanya kini mulai berlinang jatuh membasahi pipinya. Air mata ke bahagian, tidak ada satu pria pun yang dulunya mengatakan hal seperti ini pada dirinya. Sekarang dia bisa mendengarnya dari suaminya sendiri. Rasa haru dan bahagia tidak bisa lagi tertutupi. Hatinya kini begitu tersentuh dan bahagia mendengar ini semua.


"Ssst, aku tidak suka melihatmu menangis sayang...." Brayen menghapus air mata Devita dengan jemarinya.


"Kau membuatku tersentuh dengan caramu mencintaiku," ucap Devita terisak karena tangisnya tidak juga berhenti.


Brayen menangkup pipi Devita memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir istrinya itu. "Kenapa kau itu begitu menggemaskan, huh?"


Devita mencebik, "Kau itu sering membuatku menangis! Terkadang sifatmu yang meluluhkan hatiku, dan terkadang sifatmu yang menyebalkan!"


Brayen mengeratkan pelukannya. "Maaf sayang, tapi ini adalah caraku mencintaimu."


"Dan aku menyukai caramu yang mencintaiku." Devita menempelkan keningnya di kening Brayen, dan menggesek pelan hidungnya pada hidung suaminya itu.


Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* dengan lembut bibir istrinya. Kemudian dia membawa tangannya untuk mengelus perut Devita. "Apa dia baik - baik saja hari ini?"


"Dia tumbuh dengan sangat sehat Daddy. Tapi sepertinya Mommy lapar...." Devita mengerutkan bibirnya.


Brayen terkekeh pelan, "Apa yang kau inginkan?"


"Hem, sepertinya salmon grill dengan mashed potato dan prawn grill, itu sangat enak. Aku mau itu Daddy." pinta Devita.


"Sure, will do." Brayen langsung menekan tombol interkom dan meminta Albert untuk membawakan makanan yang di inginkan oleh istrinya itu.


"Kau tidak ke salon bersama dengan Laretta hari ini?" Brayen menyelipkan rambut Devita kebelakang telinganya.


"Tidak, Laretta pergi dengan Angkasa." jawab Devita. "Tadi pagi, Angkasa menjemput Laretta. Karena Ibunya Angkasa ingin bertemu dengan Laretta."


"Apa kau sering bosan jika berada di rumah?" tanya Brayen.


"Ya, terkadang aku bosan. Tapi aku sering menghabiskan waktuku di salon dan berbelanja," jawab Devita. "Kau itu tidak perlu cemas sayang, istrimu ini akan berbelanja jika merasakan bosan. Jadi kau harus bersiap - siap dengan tagihan kartu kreditku yang banyak itu. Bukannya tagihanku setiap bulannya selalu banyak."


Brayen mengangguk setuju, dia mengelus lembut pipi Devita. "Benar, tagihanmu itu setiap bulannya sangat banyak sayang. Tapi aku tidak peduli, meski kau berbelanja setiap hari, aku akan dengan senang hati membayar seluruh tagihan kartu kreditmu."


"Kau memang suamiku yang terbaik." Devita mengecup bibir suaminya.


Tidak lama kemudian, Albert mengantarkan makanan yang telah di pesan oleh Devita. Brayen membenarkan posisi duduk istrinya, agar lebih nyaman. Kini Devita mulai menikmati makanan yang sudah tersedia di atas meja.


Brayen menggeleng pelan dan tersenyum, istrinya begitu lahap menikmati makanannya. Bahkan Devita mampu menghabiskannya dan beberapa dessert yang sengaja Brayen sudah pesankan untuk Devita. Semenjak hamil, istrinya itu memang mudah sekali lapar. Terpenting bagi Brayen anak dan istrinya itu selalu sehat.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.