Love And Contract

Love And Contract
Informasi Terbaru



Devita memarkirkan mobilnya di parkiran kampus. Ia turun dari mobil dan langsung melangkah masuk kedalam kampus. Devita melirik ke arah arlojinya kini sudah pukul sembilan pagi. Hari ini Devita memiliki kelas di jam sebelas siang, ia masih memiliki waktu dua jam lagi untuk bersantai. Pikiran Devita beberapa hari ini benar-benar tidak bisa berpikir dengan baik. Tetapi beruntungnya Brayen selalu berada di sisinya. Brayen selalu membantu Devita, bahkan Brayen mengambil semua hal yang membebani Devita. Devita benar - benar beruntung memiliki suami seperti Brayen.


Olivia yang baru saja memarkirkan mobilnya. Ia turun dari mobil lalu menatap Devita yang melangkah ke dalam kampus. Dengan cepat Olivia langsung masuk dan mengejar Devita.


"Devita" suara Olivia berteriak cukup keras hingga membuat Devita menghentikkan langkahnya.


"Olivia! Aku sudah bilang jangan berteriak! Ini bukan hutan!" Seru Devita kesal, ia sudah berkali - kali mengatakan jangan berteriak tapi tetap saja temannya tidak pernah mendengarnya.


Olivia tersenyum lebar. "Maaf, kau jangan marah nanti kau cepat tua!"


"Sudahlah, ayo kita masuk ke kelas." tukas Devita.


"Eh! Tunggu!" Olivia langsung menahan lengan Devita.


"Ada apalagi Olivia?" ucap Devita ketus.


"Masih ada waktu dua jam lagi sebelum kelas Mr. Gerald, lebih baik kita bersantai di taman." tanpa mendengar balasan dari Devita. Olivia langsung menarik tangan Devita dan membawanya ke taman.


Devita mendesah pelan, mau tidak mau dia harus menuruti permintaan dari Olivia. Karena mau bagaimana lagi, jika Olivia sudah menarik dirinya. Percuma saja untuk menolak, Olivia pasti akan memaksanya.


"Duduk di sini." Olivia meminta Devita untuk duduk di kursi taman. Kemudian Olivia duduk di hadapan Devita.


"Sekarang, katakan kepadaku kenapa kau bisa mengenal Lucia Wilson? Aku rasa sangat aneh kau bisa mengenal sosialita asia itu." ujar Olivia. Sejak kemarin dirinya terus bertanya bagaimana Devita bisa mengenal Lucia.


Devita mendesah pelan. " Ada hal yang ingin aku ceritakan padamu."


Olivia mengerutkan dahinya. Ia menatap lekat Devita. "Ada apa?"


"Lucia Wilson adalah anak Ayahku dengan wanita lain." jawab Devita datar.


Olivia terkesiap. " Kau bercanda? Bagaimana mungkin? Aku sangat mengenal Paman Edwin dengan baik. Jangan bercanda Devita."


"Aku tidak mungkin bercanda dalam hal ini." balas Devita.


"Tunggu, usia Lucia Wilson tidak beda jauh dengan Brayen. Usianya sekitar 26 atau 27 tahun. Aku tidak tahu pasti. Maksudnya Ibunya lebih dulu mengandung anak Ayahmu?" ujar Olivia bingung. Pasalnya, usia Lucia lebih tua dari Devita. Rasanya sangat sulit mempercayai ucapan Devita.


"Lucia adalah anak dari mantan kekasih Ayahku. Wanita itu sekarang muncul dengan kenyataan dia memiliki dua anak dari Ayahku." jelas Devita, ia terlihat begitu enggan untuk membahas ini.


"Maksudmu mantan kekasih Paman Edwin datang kembali dan Paman Edwin memiliki anak darinya?" tanya Olivia yang tidak percaya.


Devita mengangguk dan menghela nafas berat. "Ya, itu kenyataan yang saat ini aku dan Ibuku sulit untuk menerimanya."


"Apa Paman Edwin sudah melakukan Tes DNA? Maksudku, apa Ayahmu sudah memastikan semua ini? Karena masa lalu yang datang menurutku tidak seharusnya di percayai sepenuhnya." kata Olivia, karena hingga detik ini rasanya Olivia sangat mengenal dengan baik Ayah dari sahabatnya itu.


"Aku tidak tahu, tapi aku lihat Ayahku sangat yakin. Itu artinya sudah menunjukkan jika benar kenyataan seperti itu." balas Devita.


"Ini rasanya memang sangat sulit untuk kau terima Devita. Bahkan aku juga tidak mempercayai semua ini. Aku sangat mengenal Ayahmu dengan baik. Kita tumbuh bersama. Dan aku melihat Ayahmu adalah sosok Ayah yang sangat baik." ujar Olivia.


"Devita, kau boleh marah dan kecewa pada Ayahmu. Tapi ingat, dia begitu menyayangimu dan mencintaimu Devita. Aku rasa tidak adil jika kau kecewa padanya karena masa lalu. Karena semua orang memiliki masa lalu Devita. Lebih baik, kau membantu Ayahmu untuk mencari tahu kebenarannya." lanjut Olivia yang berusaha mengingatkan sahabatnya itu.


"Olivia, saat ini aku dan Ibuku membutuhkan waktu untuk berpikir. Aku membutuhkan waktu untuk menenangkan diriku. Masalah terlalu banyak datang di hidupku belakangan ini." kata Devita. Wajahnya mulai terlihat muram. Ia sebenarnya sudah tidak ingin membahas ini. Tapi Olivia bukan hanya sekedar sahabat baginya. Olivia sudah seperti saudara bagi Devita.


"Aku berharap itu benar, Olivia. Semoga tuhan mengabulkannya. Karena saat ini yang aku pikirkan hanya perasaan Ibuku." balas Devita.


...****...


"Mr. Brayen, proyek kerjasama kita sudah berjalan. Banyak orang yang sudah tidak sabar dengan Apartemen yang kita bangun ini. Respon dari masyarakat sangat baik. Jika seperti ini, saya yakin. Keuntungan yang akan kita dapatkan berkali - kali lipat." ujar Mr. Lee, rekan bisnis Brayen.


"Alright, aku senang mendengarnya. Kalau begitu meeting cukup untuk sampai hari ini. Kita bertemu di pertemuan selanjutnya." tutup Brayen.


Mr. Lee beranjak dari tempat duduknya, ia menundukkan kepalanya dan Brayen membalasnya. Kemudian Mr. Lee berjalan meninggalkan ruang kerja Brayen.


"Tuan," sapa Albert. Melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen, dengan cepat Albert langsung masuk ke dalam ruang kerja Brayen.


"Ada apa?" tanya Brayen dingin tanpa menoleh ke arah Albert.


"Tuan, saya sudah mendapatkan lagi informasi tentang Gelisa Wilson." ujar Albert.


Brayen meletakkan dokumen tadi yang dia baca, lalu menoleh dan menatap Albert yang berdiri di hadapannya.


"Katakan, informasi apalagi yang kau dapat?"


"Saya mendapatkan informasi, jika Gelisa Wilson pernah mengalami keguguran di tahun yang sama sebelum dia mengandung bayi kembar. Di sini, saya menemukan kecurigaan Tuan, jika benar anak kembar dari Gelisa Wilson adalah anak dari Tuan Edwin, itu artinya setelah keguguran. Tuan Edwin masih melakukan hubungan dengan Gelisa Wilson." Albert menjelaskan informasi yang telah dia dapatkan


"Tetapi di tahun yang sama, saya juga telah memeriksa keberadaan Tuan Edwin. Dan keberadaan Tuan Edwin saat itu tengah berada di Indonesia. Tuan Edwin menjadi salah satu karyawan di bagian marketing di perusahaan asal Jepang yang membuka cabang di Indonesia." jelas Albert.


"Apa kau yakin semua informasi yang kau dapat ini benar?" tanya Brayen dengan serius.


Albert mengangguk, "Saya tidak mungkin salah Tuan. Bahkan saya sudah memeriksa rumah sakit dimana Gelisa Wilson dirawat saat mengalami keguguran."


"Maaf Tuan. Lebih baik Tuan Edwin segera melakukan Tes DNA. Karena sepertinya saya merasa ini ada yang tidak benar, Tuan." ujar Albert berusaha mengingatkan.


"Lebih tepatnya, aku sudah datang menemui Ayah mertuaku. Tapi rupanya dia begitu percaya dengan Gelisa Wilson. Dia mengatakan dia lah orang yang pertama yang menyentuh Gelisa Wilson." tukas Brayen dengan seringai di wajahnya.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Tuan? Apa Tuan yang ingin sendiri melakukan pemeriksaan Tes DNA?" tanya Albert dengan hati - hati.


Brayen menyeringai, ia menopangkan tangannya di atas meja dengan jari yang saling bertautan. " She play the games and let me finish what she has started (Dia memainkan permainan dan biarkan aku menyelesaikan apa yang dia mulai)."


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.