Love And Contract

Love And Contract
Pertanyaan Sean



"Sayang, siapa yang menghubungimu?" tanya Brayen saat dia sudah membuka matanya, dia baru saja melihat Devita mengakhiri panggilan teleponnya.


"Brayen? Kau sudah bangun? Maaf, pasti karena aku, kau jadi terbangun." Devita mendekat, dia langsung masuk kedalam pelukan Brayen.


"Tidak sayang, ini bukan karenamu." Brayen mengecup puncak kepala Devita. "Siapa yang menghubungimu?"


Devita mendongak dari dalam pelukan Brayen, dia mengelus rahang Brayen. "Bibi Caroline, Ibunya Olivia yang menghubungiku. Dia menanyakan tentang Olivia yang tidak pernah kembali ke negara K, tiga tahun terakhir ini. Dia juga menanyakan kepindahan Olivia. Dan yang terakhir dia bertanya tentang hubungan Olivia dengan Felix."


"Kau jawab apa?" Brayen menyelipkan rambut Devita, ke daun telinganya.


"Aku tidak tahu Olivia tidak pernah kembali ke negara K, aku juga tidak mengatakan apapun pada Bibi Caroline. Besok, aku akan menanyakan langsung pada Olivia," jawab Devita.


Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* lembut bibir Istrinya. "Apa kau ingin berlibur ke negara K? Dulu, aku pernah berjanji membawamu untuk kembali berlibur kesana."


"Kau masih ingat?" Devita tersenyum, ketika mendengar ucapan dari Brayen.


"Aku tidak mungkin melupakan janjiku, sayang..." Brayen mencium hidung Devita gemas.


"Kalau begitu aku akan mencari waktu untuk berlibur. Bulan depan guru bahasa Jepang untuk Sean sudah datang, bukan?" tanya Devita. Dia baru mengingat dirinya memanggil khusus guru bahasa Jepang untuk Sean.


Brayen mengangguk. "Ya kau benar, beri tahu aku jika kau sudah menemukan waktu yang tepat. Aku akan mengaturnya."


"Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu, Brayen? Bukannya perusahaanmu belakangan ini sangat sibuk?" tanya Devita memastikan. Dia menatap lekat suaminya. Meski Devita ingin sekali berlibur ke negara K, tapi dia tidak ingin egois hanya memikirkan dirinya sendiri.


"Pekerjaanku, akan selalu menyita waktuku Devita. Tapi kau dan juga Sean adalah tetap yang utama. Aku bisa mengaturnya." Brayen menagkup kedua pipi Devita, dia memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir Istrinya itu.


Devita tersenyum, dia menempelkan hidungnya pada hidung Brayen dan menggeseknya pelan. "Kau tahu, kenapa aku selalu jatuh cinta padamu setiap harinya?"


"Kenapa?" tanya Brayen sambil mengelus lembut pipi Devita


"Karena kau selalu mencintaiku dengan sepenuh hatimu. Kau membuatku dan juga Sean selalu menjadi prioritas utamamu. Kau selalu sabar menghadapiku di awal - awal pernikahan kita sifatku yang kenakan. Aku selalu menyukai caramu yang mencintaiku." ucap Devita dengan jujur, tatapannya menatap lembut Brayen. Ya, Devita mengakui jika dirinya selalu jatuh cinta pada suaminya. Jika ada pasangan yang pernah bosan dengan pasangannya, tapi itu tidak terjadi pada Devita. Karena nyatanya, suaminya itu selalu membuat dirinya jatuh cinta padanya.


Brayen tersenyum mendengar ucapan Devita, dia menangkup kedua pipi Devita, mencium dan ******* dengan lembut bibir istrinya itu. "Aku juga selalu jatuh cinta padamu setiap harinya. Mungkin lebih tepatnya setiap detik, bukan setiap hari."


Devita mengulum senyumannya. "Kau ini berlebihan sekali!"


"Benar sayang, aku mencintaimu." bisik Brayen seraya mengecup bibir Devita.


Devita mengaitkan tangannya di leher Brayen. "Aku juga, mencintaimu." kemudian Brayen kembali mencium bibir Devita, memagut dengan lembut bibir Istrinya. Tidak hanya diam, Devita membalas pagutan Brayen.


"Mommy.... Daddy...." rengek Sean saat masuk kedalam kamar Brayen dan Devita.


Brayen langsung melepaskan pagutannya, ketika mendengar suara putranya. Kini tatapan Brayen menatap kesal putra kecil yang menggangunya.


"Daddy, you kissed Mommy?" cebik Sean.


"Devita tersenyum. "Sayang, kemarilah. You want Mommy hold you?"


"Yes Mommy," Sean mendekat, dia langsung membaringkan tubuhnya di tengah - tengah Brayen dan Devita.


"Boy, kenapa kau bangun? Dimana Bibi Syifa?" tanya Brayen dengan nada sedikit kesal.


"Aku ingin di sini, Daddy. Aku ingin memeluk Mommy," jawab Sean sambil memeluk Devita.


Devita mengulum senyumannya. "Ya sayang, Mommy akan memelukmu sepanjang malam. Tidurlah...." Dia mengeratkan pelukannya, lalu mengecup puncak kepala putranya itu. Sedangkan Brayen, langsung menatap kesal pengganggu kecilnya itu.


...***...


Pagi hari Devita membantu Olivia menyiapkan sarapan. Khusus hari ini Devita tidak meminta pelayan untuk menyiapkan sarapan. Rasanya dia sudah lama sekali tidak memasak untuk Brayen. Terlebih saat dirinya memegang kendali perusahaan keluarganya. Dia jarang sekali memasak untuk Brayen.


"Devita, kau sekarang sangat hebat. Apa setiap hari kau selalu memasak untuk Brayen?" tanya Olivia dengan tatapan yang kagum.


Devita tersenyum, tidak Olivia aku jarang memasak untuk Brayen. Kau tahu, sekarang aku sudah memegang kendali perusahaan keluargaku."


"Jangan berlebihan, Olivia." Devita mendengus.


Olivia terkekeh.


"Tadi malam Bibi Caroline menghubungiku," Devita menoleh, dia menatap lekat Olivia.


"Ibuku menghubungimu?" Olivia mengerutkan keningnya. "Apa yang ibuku katakan padamu, Devita?"


"Bibi Caroline bertanya tentang hubunganmu dengan Felix. Ibumu juga bertanya alasan kepindahanmu ke negara M. Terakhir Ibumu bertanya, kenapa tiga tahun terakhir kau tidak pernah pulang ke negara K." ujar Devita dengan tatapan serius pada Olivia.


Olivia menarik napas dalam, dan menghembuskan perlahan. "Aku sengaja tidak pulang, Devita. Kau tahu, usiaku sebentar lagi 25 tahun. Ibuku itu terlalu kuno. Dia ingin aku menikah ketika usiaku sudah 25 tahun."


Devita mengulum senyumannya. "Lagi pula apa yang kau tunggu? Kau memiliki Felix yang tampan dan mapan. Selama ini Felix juga begitu setia padamu. Jadi tidak ada salahnya, kau segera memikirkan hubunganmu dengan Felix."


Olivia kembali menghela nafas dalam. Dia memilih diam dan tidak menjawab ucapan Devita. Hingga kemudian, Olivia memilih membalas Devita dengan senyuman.


"Mommy...." Sean berlari masuk kedalam ruang makan. Olivia dan Devita langsung menoleh ketika mendengar suara teriakan Sean. Di belakang Sean ada Felix dan juga Brayen yang melangkah masuk kedalam ruang makan.


Devita mengulurkan tangannya dan langsung memeluk Sean. "Sudah lapar, sayang?"


Sean mengangguk, "Ya, Mommy aku lapar..."


"Kalau begitu kita makan," Devita mengelus lembut pipi gemuk Sean.


Meski Sean memilki pengasuh untuk menjaga Sean, tapi jika dia ada di rumah Sean akan selalu makan bersamanya. Seperti saat ini Sean begitu lahap, jika makan bersama dengannya.


"Mommy, nanti ketika aku dewasa apa aku akan tampan seperti Daddy dan Paman Felix?" Sean mendongak, dia bertanya sembari mengunyah makanannya.


Devita mengecup hidung Sean gemas. "Kau akan sangat tampan. Dan nantinya akan ada banyak gadis yang menyukaimu."


"Tapi Daddy bilang, aku harus mencari gadis yang seperti Mommy?" jawab Sean dengan suara polosnya.


Devita mengulum senyumannya, dia melirik Brayen yang tengah menikmati makanannya. Kemudian, Devita kembali melihat putranya dan menjawab. "Kenapa harus seperti, Mommy?"


"Kata Daddy, Mommy sempurna." jawab Sean yang membuat Devita kembali tersenyum.


"Habiskan makananmu, sayang? Hari ini kau akan pergi bersama dengan Paman Felix dan Bibi Olivia, bukan?" ujar Devita, sambil membersihkan sisa makanan yang ada di bibir putranya itu.


"Iya Mommy, aku akan pergi bersama dengan Paman Felix dan Bibi Olivia. Tapi Mommy kenapa Vania tidak ada? Biasanya Vania selalu menggangguku?" ucap Sean yang menyadari tidak ada Vania sejak kemarin.


Devita berdecak, dia menyubit pelan hidung mungil putranya. "Kenapa kau bilang Vania menganggumu. Tidak boleh seperti itu, dia adikmu Sean."


Sean mencebikkan bibirnya. "Itu karena Vania sering memaksaku bermain barbie, Mommy! I don't want it!"


"Tapi tetap saja, kau tidak boleh berkata kalau Vania menggangumu." Devita mengecup pipi gemuk Sean. "Saat ini, Vania sedang bersama dengan Paman Angkasa dan juga Bibi Laretta. Vania sedang menemani Paman Angkasa untuk bertemu dengan rekan bisnisnya."


...***...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.