Love And Contract

Love And Contract
Pertengkaran Brayen Dan Devita



Brayen melayangkan tatapan tajamnya pada Olivia. " Kau pikir, kau siapa berani memerintahku?!"


"Bukan begitu Brayen. Hanya saja, biarkan Devita menginap di rumahku," ujar Olivia dengan suara tenang.


Tidak lama kemudian Devita berjalan menuju ke arah Olivia. Dia baru saja selesai mandi, saat dia berjalan ke arah Olivia, dia terkejut karena Brayen sudah ada di sana.


"B...Brayen? Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Devita dengan tatapan yang bingung. Dia tidak menyangka Brayen ada di sini.


"Kita pulang sekarang," Brayen langsung menarik paksa tangan Devita.


"Brayen lepas! Aku tidak ingin pulang!" Sentak Devita. Dia berusaha melepaskan tangan yang ditarik oleh Brayen.


"Kita pulang sekarang Devita!" Seru Brayen dengan nada tinggi.


"Aku sudah katakan padamu. Aku akan menginap di rumah Olivia. Kenapa kau memaksaku untuk pulang!" Tukas Devita, dia berusaha menahan emosinya.


Brayen menggeram, dia sudah kehilangan kesabaran. Tanpa menunggu Brayen langsung membopong tubuh Devita di pundaknya. Devita memekik terkejut karena Brayen membopongnya seperti karung beras.


"Brayen! Turunkan aku! Kau sudah kehilangan akal sehatmu! Turunkan aku!" Teriak Devita dengan sangat kencang. Dia memukul punggung Brayen, namun tetap saja Brayen tidak memperdulikan teriakan Devita.


Olivia terdiam, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia juga tidak bisa berbuat apapun. Bagaimanapun Devita adalah Istri Braye. Tidak mungkin dia menghalangi Brayen. Sebenarnya, Olivia tidak menyangka Brayen akan menjemput paksa Devita.


...***...


Brayen mendudukkan Devita di dalam mobil, Devita terus saja berontak tapi tetap saja tenaganya tidak akan menang. Brayen memasang seat belt. Lalu, Brayen menghidupkan mesin dan menginjak gas. Mobil Brayen kini sudah berjalan meninggalkan mansion milik Olivia.


Brayen tidak memperdulikan umpatan kasar Devita. Bahkan Devita berteriak memintanya untuk menghentikan mobil pun Brayen tidak mendengarnya. Dia tetap melajukan mobil dengan kecepatan penuh.


"Brayen, turunkan aku!" Teriak Devita, dia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Kenapa Brayen selalu bertindak semaunya dan sesukanya, memangnya dia pikir dia siapa?


"Brayen, aku sudah mengatakan padamu jika aku ingin menginap di rumah Olivia! Kenapa kau menjemputku secara paksa seperti ini!" Seru Devita. Dia sungguh tidak suka dengan Brayen yang menjemput paksa dirinya seperti ini.


"Kita bicara di rumah. Tidak di dalam mobil," tukas Brayen dingin.


"Tapi aku ingin tetap menginap di rumah Olivia! Cepat kau putar arah ke rumah Olivia! Kenapa kau selalu mengatur hidupku!" Sentak Devita. Dia ingin tetap menginap di rumah Olivia. Dia ingin menenangkan diri.


"Aku sudah mengatakan padamu bukan? Jika aku tidak mengizinkanmu untuk menginap di rumah Olivia!" Geram Brayen, dia berusaha menahan emosinya, dia tidak ingin membentak Devita.


"Apa kau tidak bisa membaca pesanku? Di situ tertulis aku bukan meminta izin padamu. Tapi aku memberitahumu jika aku akan menginap di rumah Olivia. Tidak perduli kau mengizinkan atau tidak! Ini hidupku! Aku memiliki kebebasan untuk mengatur hidupku!" Sentak Devita, dia sudah kehilangan kesabarannya bersama Brayen.


"Kita bicara ketika kita sudah sampai di rumah Devita!" Seru Brayen meninggikan suaranya. Dia menambahkan kecepatan mobilnya. Hingga membuat Devita ketakutan, karena Brayen mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.


Tidak lama kemudian, mobil Brayen sudah sampai di mansion. Devita turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam kamarnya. Devita rasanya ingin berteriak sekencang mungkin karena Brayen selalu memaksanya.


Melihat Devita berlari, Brayen langsung mengejar Devita. Kali ini dia harus berbicara dengan Devita.


"Lepas!" Sentak Devita. Dia tidak ingin Brayen menyentuhnya.


"Kenapa kau selalu bersikap seperti anak kecil Devita! Kau ini sudah dewasa! Kau sudah bukan gadis yang berusia 17 tahun lagi!" Geram Brayen. Dia sudah kehilangan kesabarannya menghadapi Devita.


"Aku memang bukan gadis 17 tahun. Tapi aku hanya tidak suka kau mengatur hidupku Brayen! Kau tidak berhak melarang ku! Kau tidak berhak memaksaku untuk selalu menuruti perkataan mu!" Balas Devita dengan penuh emosi.


"Aku berhak mengaturmu, kau sudah lupa jika kau sudah menikah denganku? Dan kau lupa isi perjanjian kita, kau harus selalu menurutiku!" Seru Brayen, dia menggeram. Menahan emosinya. Dia tidak ingin membentak Devita. Tapi kali ini, rasanya sangat sulit untuk menahan emosinya.


"Lupakan perjanjian itu! Kita harus merubahnya! Aku tidak mau di atur olehmu! Kau harus memiliki batasanmu Brayen! Aku tidak pernah mengaturmu. Aku tidak perduli dengan hidupmu. Aku harap kau juga seperti itu! Jangan perduli kan aku! Jangan mengurus hidupku!" Teriak Devita dengan keras.


Devita membalikkan semua pertanyaan Brayen. Ya, ini memang yang harus dia ucapkan. Brayen memang harus memiliki batasannya. Sama seperti apa yang di katakan oleh Brayen. Devita juga harus berani mengatakan ini.


Brayen melayangkan tatapan dinginnya ke arah Devita. "Kau sudah mulai berani melawan ku Devita. Kau pikir, kau bisa melakukan sesukamu? Kau pikir kau bisa merubah isi kontrak perjanjian kita? Kau terlalu bermimpi! Aku lah yang memegang kendali! Hanya aku yang berhak merubahnya, kau tidak berhak merubahnya!"


"Dengarkan aku baik - baik. Jangan karena kau mencukupi ku, aku harus mendengarkan mu. Aku tidak membutuhkan uang ataupun hartamu. Dengar Brayen Adams Mahendra. Aku adalah putri tunggal dari Edwin Smith! Aku tidak kekurangan uang sedikitpun! Kau bukan menikahi seorang gadis yang kekurangan! Aku tidak pernah kekurangan! Aku sangat mampu membiayai hidupku tanpa bantuan uang darimu!" Seru Devita. Ini pertama kalinya Devita membawa nama Smith. Dia sungguh tidak ingin di pandang sebelah mata. Dia juga tidak pernah membutuhkan uang dan harta dari Brayen.


"Kau sudah pandai melawan rupanya. Dengarkan aku Devita Mahendra. Namamu sudah bukan lagi Smith. Kau sudah memakai nama Mahendra di belakang namamu tepat saat kita mengucapkan janji suci pernikahan. Aku jauh lebih berhak atas hidupmu, dari pada Ayahmu!" Ucap Brayen dengan tegas. Sorot matanya menatap tajam Devita yang ada di depannya.


"Listen to me Mr. Mahendra, kau sendiri yang bilang jangan ikut campur urusan pribadimu. Kau juga yang mengatakan padaku, jika aku harus memiliki batasan. Aku tidak perduli apa yang kau katakan. Tapi aku juga akan berkata sama sepertimu. Jangan ikut campur masalah pribadiku. Kau harus tahu batasan siapa dirimu Mr. Mahendra!" Geram Devita. Dia kembali mengingat, apa yang dikatakan oleh Brayen kemarin. Itu sangat menyakiti dirinya. Hatinya benar - benar terluka.


Brayen kembali terdiam, dia kembali mengingat perkataan kasarnya pada Devita. Dia tahu dirinya sudah melukai Devita. Padahal Devita tidak melakukan hal yang besar. Namun kemarin memang Brayen sudah terlanjur emosi. Dia memang tidak suka Devita mencampuri urusan pribadinya.


"Aku tahu, aku salah. Kemarin aku sudah membentakmu. Aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk melukai hatimu," kata Brayen.


"Kau tidak perlu minta maaf, karena apa yang kau katakan itu benar Brayen. Kau tidak salah, dan masalah kau membentakku, aku sudah melupakannya," balas Devita dengan suara tenang. Dia berusaha menurunkan emosinya. Dia terlalu lelah berdebat dengan Brayen.


Brayen membuang napas kasar kemudian berkata,. "Aku sungguh minta maaf padamu. Aku tidak bermaksud untuk melukai hatimu."


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.