
Devita sedang bersantai di taman sambil menikmati salad buah dan susu kacang yang di siapkan oleh pelayan. Dia sendiri sudah terbiasa dengan pelayan yang menyiapkan segala kebutuhannya.
Weekend ini Devita lebih memilih untuk bersantai di rumah. Biasanya Devita selalu jalan bersama Olivia menghabiskan weekend bersama dengan sahabatnya. Tapi entah kenapa dia lebih memilih untuk di rumah saja.
Devita mengambil majalah di atas meja. Untuk mengurangi rasa bosan, dia pun memilih membaca majalah, ketika Devita membuka majalah yang ada di tangannya, ternyata itu adalah majalah bisnis. Devita memperhatikan dengan jelas, wajah sang Ayah Edwin Smith masuk ke dalam salah satu pengusaha property terkenal.
Senyum di bibir Devita terukir ketika melihat Ayahnya. Dia memang sangat bangga sekali dengan Ayahnya. Dulu perusahaan keluarganya tidak terlalu besar. Tapi kini perusahaan keluarganya berkembang lebih pesat. Bahkan yang banyak orang mengakui kesuksessan seorang Edwin Smith.
Devita mulai membaca tiap lembar majalah bisnis yang membahas tentang Smith Company. Devita tersenyum saat membaca Ayahnya tengah membangun perusahaan yang bergerak di bidang teknologi. Devita semakin bangga dengan Ayahnya. Edwin memang sangat pekerja keras dan sangat hebat dalam menyusun strategi bisnis.
Saat Devita tengah membaca majalah, seorang pelayan berjalan menghampiri Devita.
"Maaf Nyonya, menganggu waktu Nyonya." sapa pelayan itu setengah membungkukkan badannya.
"Tidak, kau tidak mengangguku. Ada apa?" tanya Devita dengan senyuman yang ada di wajahnya.
"Tuan meminta Nyonya untuk datang ke ruang kerja Tuan," jawab pelayan itu.
Devita mengerutkan keninganya, tidak biasanya Brayen yang tengah bekerja mencari dirinya.
"Baiklah, aku akan kesana." balas Devita, kemudian dia beranjak dan berjalan menuju ke ruang kerja Brayen. " Sungguh malas sekali, ruang kerja Brayen berada di lantai tiga. Meskipun ada lift, tapi tetap saja dia malas. Baru saja dia ingin menikmati weekendnya dengan bersantai.
...***...
"Brayen, kau mencariku?" tanya Devita saat melangkah masuk, ke dalam ruang kerja Brayen.
"Ya, besok aku ada perjalanan bisnis ke Berlin." kata Brayen tanpa melihat ke arah Devita. Dia terus melihat ke arah Mcbooknya.
"Jika kau masih ada perjalanan dinas, silahkan pergi saja," balas Devita dengan santai. Memangnya kenapa jika Brayen ada perjalanan dinas? Itu malah membuat Devita bisa terbebas dari Brayen.
"Kau akan ikut denganku," tukas Brayen dingin.
Devita tersentak. "Kau akan mengajakku? Kenapa aku harus ikut denganmu?" tanya Devita.
"Kau tidak usah banyak tanya! Cukup ikut denganku ke Berlin." balas Brayen yang masih terus menatap layar mcbooknya. Dia sama sekali melihat ke arah Devita yang sedang berdiri di hadapannya.
"Apa kau ini sudah kehilangan akal sehatmu? Jika aku ikut denganmu, bagaimana dengan magangku?!" Seru Devita kesal.Bagaimana pun dia masih banyak memiliki kegiatan di Kota B. Brayen sungguh gila, jika memintanya ikut dalam perjalanan dinasnya.
"Aku tidak perduli," jawab Brayen dingin. Dia memang tidak peduli dengan magang Devita, lagi pula, jika Devita terbebani karena magangnya, Brayen akan mengurus perpindahan perusahaan untuk Devita.
"Bgaimana bisa seperti itu, Brayen Adams Mahendra! Aku ini memiliki tanggung jawab, kenapa kau ini seenaknya saja!" Protes Devita. Pria itu selalu bertindak seenak dan sesukanya tanpa memikirkan keinginan orang lain.
"Jika kau memikirkan masalah magangmu, kau tenang saja. Alberlt, asistenku sudah bertemu dengan William. Perjalanan dinasku hanya satu minggu. Dan jika nantinya William mempersulit, aku akan memindahkanmu ke perusahaanku. Lagi pula, magang yang kau butuhkan adalah surat dari perusahaan bukan? Sedangkan perusahaanku bisa dengan mudahnya mengeluarkan surat magang untukmu;" ujar Brayen dengan santai.
"Kenapa kau bisa selalu seenaknya seperti ini Brayen Adams Mahendra!" Sentak Devita. Dia tidak suka, Brayen selalu bertindak semaunya. Dia tahu jika Brayen bisa melakukan apapun yang Brayen inginkan. Tapi untuk masalah magang, dia ingin sendiri menentukkan masa depannya.
Brayen beranjak dari kursi kerjanya, lalu dia berjalan mendekat ke arah Devita. Tangan kanannya menarik dagu Devita serta matanya kini menatap tajam Devita yang berada di hadapannya itu. "Devita Mahendra, kenapa kau melawanku? Bukankah sudah kukatakan, apa yang aku katakan, kau harus selalu mematuhinya?" desis Brayen.
"Tapi Brayen kena....." ucapan Devita terpotong. Kini Brayen mencium dan ******* bibir Devita. Tangan kirinya memeluk pinggang Devita, agar menempel di tubuhnya. Perlahan Brayen menekan tengkuk leher Devita agar Devita membuka mulutnya. Sedangkan Devita, dia masih tidak bergeming. Dia terkejut karena Brayen menciumnya lagi. Brayen terus memagut bibir Devita, menghisap dan mencecapi bibir ranum Devita secara bergantian.
"Kau memang harus ikut denganku dan jangan pernah membantahku."seru Brayen saat pagutannya terlepas.
Devita yang tadinya terdiam, kini jantungnya berdebar dengan kencang ketika terlalu dekat dengan Brayen. Kemudian ketika dia sadar Brayen telah menciumnya lagi, dia langsung menendang tulang kering Brayen.
"Oh ****!" Umpat Brayen, meringis kesakitan, karena gadis kecil ini berani menendang tulang keringnya.
"Are you lost your mind?" Brayen menatap tajam Devita. Beraninya gadis kecil ini menendangnya, rasanya dia ingin sekali melempar gadis yang melawannya ini.
"Not me! But You!" Tukas Devita kesal.
"Jangan berani kau menciumku lagi! Atau aku akan menendangmu lagi!" Seru Devita. Kenapa Brayen sering menciumnya? Bukankah di kontrak sudah tertulis dengan jelas jika di larang kontak fisik. Brayen kurang ajar.
"Benarkah, aku bisa saja mengatakan kepada Ayah mertuaku, jika kau tidak melayani suaminya dengan baik," balas Brayen dengan seringai di wajahnya.
"Kau berani mengadu kepada Ayahku! Lihat saja!" Seru Devita.
Tanpa memperdulikkan Brayen, Devita langsung berjalan menuju ke kamar. Dia sangat kesal sekali dengan Brayen. Apapun yang Brayen katakan dia harus selalu menurutinya. Jika seperti ini terus sungguh akan membuatnya gila.
...***...
Devita sedang duduk di tepi ranjang dan mengambil ponselnya di atas nakas. Dia langsung menghubungi Olivia sahabatnya.
"Olivia?" sapa Devita dengan nada kesal, saat panggilannya terhubung.
"Ya, Dev. Kau kenapa?" tanya Olivia dari sebrang telefon.
"Brayen mengajakku untuk ikut perjalanan bisnis?"
"Lalu?"
"Bagaimana dengan magangku? Aku rasa dia sudah kehilangan akal sehatnya! Kenapa dia harus mengajakku?"
"Mungkin karena kau Istrinya, jadi dia memintamu untuk menemaninya. Lagi pula, dulu Ibuku juga selalu menemani Ayahku saat Ayahku memiliki perjalanan bisnis. Sama seperti Ibumu yang pasti menemani Ayahmu di perjalanan bisnisnya,"
"Come on Olivia, pernikahanku hanya sebatas perjanjian. Kenapa harus di samakan dengan pernikahan yang sungguhan?"
"Devita Mahendra, itu namamu bukan? Setelah kau resmi menjadi Istri dari Brayen Adams Mahendra, nama belakangmu sudah berganti. Perjanjian kalian bisa saja di robek atau di musnahkan. Tidak perduli kalian memiliki perjanjian atau tidak. Tapi intinya, kau adalah Istri sahnya, jadi menurutku itu adalah hal yang wajar,"
"Oh astaga Olivia, jadi kau sekarang membela Brayen yang kurang ajar itu?!"
"Tidak! Aku tidak membelanya! Kau ini benar - benar. Aku hanya memberitahukanmu kenyataannya saja. Sudahlah lupakan, jadi kapan kamu rencananya akan berangkat?"
"Besok,"
"Lalu bagaimana dengan magangmu?"
"Brayen sudah meminta asistennya yang akan mengurusnya,"
"Berapa lama kau akan di Berlin?" tanya Olivia.
"Satu minggu," jawab Devita.
"Ya, kau anggap saja sedang berlibur. Belikkan oleh - oleh untukku, jangan lupa!"
"****! Kau hanya ingin oleh - oleh saja!"
"Tidak! Tentunya aku juga mau kau selamat. Tapi aku yakin kau pasti selamat. Jadi, karena kau selamat kau harus membawakan oleh - oleh untukku,"
"Ya, ya kau berisik! Sudah aku matikan."
"Oke, take care,"
Panggilan tertutup Devita meletakkan ponselnya di atas nakas. Devita menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Dia memilih untuk memejamkan matanya sebentar. Memikirkan harus menemani Brayen, membuat kepalanya sakit.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.