Love And Contract

Love And Contract
Ajakan Kerja Sama



Dengan penuh amarah, Brayen kini berusaha untuk lebih tenang. Ia tidak ingin langsung menemui Ruby dan memberikan pelajaran pada Ruby dan juga Elena. Brayen memilih untuk mengikuti permainan mereka. Ia ingin melihat apa yang telah di rencanakan oleh Elena dan juga Ruby. Jika saja Albert mengetahui ini saat Devita terluka, Brayen bersumpah akan membunuh Elena dan juga Ruby dengan tangannya sendiri.


Sebelumnya Brayen juga sudah meminta Laretta untuk tinggal sementara di Apartemen. Dan Brayen juga sudah meminta Devita untuk datang ke perusahaan. Tujuannya, karena Brayen menunggu laporan dari Albert. Brayen tidak pernah sembarangan menerima karyawan yang akan tinggal di rumahnya. Ia selalu meminta Albert untuk menyaringnya dengan baik. Brayen juga selalu menekankan pada Albert, jika karyawan yang tinggal di rumahnya, harus memiliki latar belakang yang baik. Sejak kemarin, saat Albert mengatakan ada keanehan data pada Ruby. Brayen pun memutuskan untuk memindahkan Laretta sementara ke Apartemen. Beruntung, tadi malam Devita menginap di rumah orang tuanya.


Brayen melirik arlojinya, kini sudah pukul tiga sore. Tadi Brayen sudah meminta sopir untuk menjemput Devita. Brayen akan pulang bersama dengan Devita, ia tidak akan membiarkan Devita untuk pulang sendiri. Rasanya Brayen sudah tidak sabar untuk menemui dua wanita yang berniat melukai istrinya. Brayen bersumpah, walau hanya goresan kecil pada Istrinya, dia pasti akan membunuh dua wanita itu.


"Brayen Adams Mahendra, aku ingin berbicara denganmu." suara bariton menerobos masuk kedalam ruang kerja Brayen.


Brayen menatap tajam pria yang ada di hadapannya yang sudah berani masuk ke dalam ruang kerjanya. "Untuk apa kau kesini, William Dixon?" tukas Brayen dingin.


William tersenyum sinis, "Seperti ini caramu menyambut tamu? Bahkan tamu yang kau sambut tidak ramah ini ingin memberikan informasi pada mu dan kau tetap dengan sifat arrogant mu."


"Apa yang ingin kau katakan padaku? Aku tidak memiliki waktu banyak untuk berbicara denganmu," balas Brayen.


"Well, paling tidak kau harus menyapaku? Setidaknya aku datang kesini baik - baik. Aku juga ingin memberikan informasi yang sangat penting untukmu," kata William, ia melangkah dan duduk di hadapan Brayen dengan menyilangkan kakinya.


"Cepat, apa yang ingin kau katakan! Jika kau terlalu lama mengatakan hal yang tidak penting, aku akan meminta anak buahku untuk menyeretmu keluar dari sini," tukas Brayen tajam.


William tersenyum miring. " Brayen Adams Mahendra, sejak dulu kau memang sangat angkuh. Tapi bagaimana bisa pria arrogant sepertimu, bisa tidak ada yang mengetahui ada orang yang berniat buruk pada istrimu. Bahkan orang itu tinggal di rumahmu,"


"Ah, apa yang kau maksud adalah Ruby? Asisten pribadi istriku yang baru? Kau mau memberi informasi itu?" balas Brayen dengan seringai di wajahnya.


"Kau sudah mengetahuinya? Rupanya aku kalah cepat darimu. Aku datang kesini ingin memberitahumu dan kau sudah tahu. Tapi tetap saja bukan? Sebelumnya, anak buahmu bisa melakukan kecerobohan," tukas William dengan penuh sindiran.


"Apa bedanya dengan anak buahmu? Bukankah anak buahmu hingga sampai saat ini belum menemukan Elena? Ketika Asistenku melakukan kesalahan, aku masih bisa memaafkannya karena dia masih beruntung. Dia mengetahui semuanya sebelum dia melukai istriku. Tapi kau? Bagaimana denganmu? Anak buahmu terlalu lama menemukan Elena?" balas Brayen dengan tersenyum mengejek kepada William yang duduk di hadapannya.


Rahang Brayen mengeras, ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Aku rasa cukup berbasa - basi denganmu, Brayen! Tujuanku datang kesini untuk mengajakmu bekerja sama,"


"Kerja sama apa yang kau maksud?" tukas Brayen.


"Apa kau sudah tahu alasan Ruby memalsukan identitasnya?" tanya William dingin.


"Untuk apa aku memberitahumu?" seru Brayen.


"Dengarkan aku Brayen, aku sedang mencari Elena. Aku sangat yakin, dia meminta Ruby untuk bekerja padamu. Sudah sejak awal aku katakan padamu, Elena berniat untuk mencelakai Istrimu. Tapi kau tidak percaya padaku." tukas William.


"William Dixon dengarkan aku, aku sangat mampu untuk melindungi istriku. Kenapa aku harus bekerja sama denganmu?" seru Brayen.


Ceklek.


Suara pintu terbuka. Percakapan Brayen dan juga William terhenti, ketika ada yang membuka pintu.


"Brayen," Devita masuk ke dalam ruang kerja Brayen, ia terkesiap saat melihat William juga berada di sana.


"William, kau juga di sini?" sapa Devita ia melangkah mendekat ke arah William.


"Hi Devita," sapa William.


"Tidak sayang, kemarilah." Brayen menarik tangan Devita agar lebih dekat.


"Aku senang melihatmu di sini Devita, jika kau di sini aku bisa berbicara tentang rencana yang ku buat. Karena suamimu itu begitu arrogant dan keras kepala. Aku tidak bisa berbicara padanya," ujar William.


"William!!" Geram Brayen.


Tanpa menghiraukan Brayen, William menatap Devita yang berada di hadapannya. "Apa Brayen sudah menceritakan tentang Ruby padamu, Devita?" tanya William.


"Tunggu, Ruby? Memangnya asisten pribadiku kenapa?" tanya Devita, ia tidak mengerti apa yang di katakan oleh William.


"Brayen, ada apa ini?" tanya Devita, ia menoleh ke arah Brayen.


Brayen membuang napas kasar, ia tidak mungkin tidak menceritakan pada Devita, saat William sudah mengatakan tentang Ruby langsung pada Devita. "Ruby adalah sepupu Elena. Aku baru tahu dari Albert, hari ini. Ruby berniat mencelakaimu. Freddy anak buahku, meletakkan CCTV di dapur saat Ruby sedang membuat cake yang kau minta. Dia memasukkan sesuatu di cake itu. Sekarang, Ruby belum mengetahui, jika aku sudah mengetahui identitasnya. Seluruh anak buahku di rumah, sedang mengawasi Ruby," jelas Brayen.


Devita terdiam mendengar semua ucapan Brayen. Rasanya, ini semua benar - benar tidak mungkin. Selama ini Ruby sangat baik padanya. Bahkan, Devita sangat menyukai keberadaan Ruby.


"Kau tidak main - main kan, Brayen? Bagaimana mungkin, kau tidak pernah sembarangan memilih karyawanmu." kata Devita yang masih tidak percaya. Rasanya ini tidak mungkin. Brayen selalu berhati-hati menerima karyawannya, terlebih yang akan tinggal di rumah mereka.


"Dia memalsukan datanya. Albert sudah mengakui kesalahannya. Beruntung Albert mengetahui semuanya, sebelum mereka mencelakaimu. Jika Albert terlambat, maka aku pastikan akan membunuhnya dengan tanganku," tukas Brayen.


Devita menghela napas dalam, ia tidak ingin menyalahkan Albert sepenuhnya. " Brayen, aku tidak apa - apa," ucap Devita ia mengelus rahang suaminya.


Kini Devita menoleh dan menatap William yang berada di hadapannya. "William, jadi apa tujuanmu datang ke sini? Apa yang kau inginkan?" tanya Devita.


"Aku ingin mengajak kalian bekerja sama," jawab William.


"Tidak!!"" Tolak Brayen tegas.


"Brayen, jangan seperti itu. Biarkan William berbicara." tegur Devita dengan suara yang pelan


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.