Love And Contract

Love And Contract
Menengahi Perdebatan



Mobil Rolls Royce milik Brayen memasuki lobby The Ritz-Carlton Hotel. Brayen dan juga Devita turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam lobby hotel. Kilatan kamera terus memotret Brayen dan juga Devita ketika masuk kedalam hotel. Devita mengulas senyuman hangat pada para wartawan yang terus memotret dirinya dan juga suaminya. Menjadi istri dari Brayen Adams Mahendra membuat Devita terbiasa dengan kilatan kamera.


Brayen menggenggam tangan Devita memasuki ballroom hotel. Pandangan Devita menatap kagum hiasan Swarovski di pesta pertunangan Davin. Kemudian Brayen mendekat ke arah Davin dan tunangan pria itu.


"Brayen? Kau datang?" Seru Davin, ketika melihat Brayen mendekat ke arahnya.


"Selamat atas pertunangan mu," balas Brayen.


"Thanks, ini istrimu?" tanya Davin yang sejak tadi terus menatap Devita.


"Ya, ini Devita Mahendra istriku," jawab Brayen.


"Selamat atas pertunangan mu, Tuan Davin." ucap Devita dengan senyuman di wajahnya.


"Terima kasih, kau sungguh sangat cantik Nyonya Devita. Dan kau bisa memanggilku Davin. Aku lebih suka hanya di panggil dengan namaku tanpa sebutan Tuan," balas Davin. "Ah iya, aku ingin memperkenalkan kalian. Ini Siena tunanganku."


"Terima kasih Davin, kau juga bisa memanggilku cukup dengan namaku saja." Devita tersenyum hangat. Pandangannya kini menatap sosok wanita cantik yang berdiri di samping Davin. "Selamat atas pertunanganmu Siena."


"Terima kasih, Devita. Senang berkenalan langsung dengan istri Brayen Adams Mahendra," ujar Siena dengan tatapan yang lembut. "Aku juga senang bisa berkenalan denganmu, Tuan Brayen."


Brayen hanya membalasnya dengan anggukan singkat.


"Sama sepertimu, aku juga senang berkenalan denganmu, Siena." balas Devita.


"Davin, aku rasa aku harus kesana." tukas Brayen melihat ke arah rekan bisnisnya yang lain.


Davin mengangguk, "Ya, nikmati pestamu hari ini."


Brayen membawa Devita meninggalkan Davin dan juga Siena. Namun, saat Devita dan Brayen berjalan langkah mereka terhenti ketika melihat Felix, Olivia, Laretta dan juga Angkasa.


"Olivia? Laretta? Kalian sudah datang? Aku pikir kalian belum datang," kata Devita yang kini berhadapan dengan Laretta dan juga Olivia.


"Sudah Devita, kami sudah sekitar tiga puluh menit yang lalu berada di sini " balas Laretta.


"Devita, aku harus kesana." tunjuk Brayen ke arah rekan bisnisnya. Devita mengangguk pelan.


Tidak hanya Brayen, tapi Angkasa dan juga Felix juga berpamitan. Melihat Brayen, Angkasa dan Felix pergi, Devita, Olivia dan juga Laretta memutuskan untuk pergi ke tempat makanan.


"Olivia, kau kenapa? Apa terjadi sesuatu masalah padamu?" tanya Devita yang sudah sejak tadi melihat wajah kesal Olivia.


"Kau tahu, tadi Felix itu benar - benar menyebalkan!" Olivia mengambil cake, kemudian langsung melahapnya.


Devita menghela nafas dalam. "Jadi kau sebelum pergi ke pesta, kalian berdua bertengkar?"


"Bukan aku yang mencari masalah! Tapi dia lebih dulu!" Seru Olivia kesal.


"Olivia, sudahlah....mungkin Felix sedang lelah. Bukankah tadi kalian bercerita kalian baik - baik saja?" sambung Laretta.


Olivia mendesah pelan. "Saat Felix kembali dari Madrid, semuanya baik - baik saja. Tapi ada hal yang benar-benar membuatku kesal padanya."


"Ada masalah apalagi Olivia?" Devita menggelengkan kepalanya, Olivia terus saja bertengkar dengan Felix.


"Felix marah padaku, karena aku Vidio call dengan Vernon, teman kuliah kita Devita. Sungguh berlebihan Felix itu. Padahal aku hanya vidio call dengan Vernon, karena dia bertanya padaku apa rencanaku setelah lulus nanti." Olivia mendengus kesal. "Felix saja beberapa kali mendapatkan telepon dari wanita, aku percaya padanya. Kenapa sekarang dia sangat berlebihan? Memangnya aku ada niatan untuk selingkuh? Aku tidak berniat sama sekali."


Devita terkekeh pelan, "Mungkin pria dari keluarga Mahendra terkenal dengan tingkat kecemburuannya yang tinggi. Brayen juga sama, dia terlalu bersikap berlebihan. Itu yang terkadang membuatku malas.


"Benar, kau sangat benar Devita. Pria dari keluarga Mahendra memang seperti itu. Bahkan Daddyku saja masih sering cemburu jika Mommyku pergi keluar." kata Laretta yang menyetujui perkataan dari Devita


"Aku sungguh beruntung, Angkasa tidak seperti itu. Angkasa selalu percaya padaku. Angkasa tidak pernah berpikiran buruk, bahkan ketika teman priaku menghubungiku saja Angkasa tetap percaya padaku," ujar Laretta dengan senyuman kemenangan.


Kini Laretta, Devita dan Olivia sama - sama tertawa pelan. Mereka tidak habis pikir, karena memang kenyataannya para pria dari keluarga Mahendra sangat pencemburu. Dulu hanya Devita yang harus pusing dengan sikap Brayen, tapi kini Olivia juga ikut pusing seperti Devita. Sedangkan Laretta, dia yang paling beruntung karena Angkasa selalu mempercayai Laretta.


"Aku ingin mengambil tomato juice." kata Laretta. Kemudian dia membalikkan tubuhnya menuju tempat minuman yang dia inginkan.


Brukk.


seorang wanita menumpahkan minuman di baju Laretta. Devita dan juga Olivia yang melihat itu, langsung menghampiri Laretta.


"Laretta, kau tidak apa-apa?" tanya Devita yang menatap gaun Laretta yang sudah basah akibat minuman yang di tumpahkan ke bajunya.


"Ups, sorry aku tidak sengaja." ucap wanita itu dengan nada seolah yang tidak perduli.


Devita menoleh dan menatap wanita yang menumpahkan minuman di gaun milik Laretta. Seketika Devita tersentak menatap wanita yang ada di hadapannya ini. "Alena? Kau yang menabrak Laretta?" Devita melayangkan tatapan dingin, dia tidak bersahabat ketika melihat Alena lah yang menumpahkan minuman ke gaun milik Laretta.


"Aku sudah mengatakan bukan, aku itu tidak sengaja," jawab Alena acuh, terlihat jelas di wajah Alena dia tidak perduli dengan apa yang terjadi. Bahkan tatapan Alena tidak menunjukkan rasa bersalahnya sama sekali.


"Alena! Kau pasti sengaja menumpahkannya! Kenapa kau sekarang ini jadi jahat, Alena? Aku bahkan seperti tidak mengenalmu!" Seru Olivia dengan tatapan tajam ke arah Alena.


"Apa pendengaran kau itu rusak? Bukannya aku sudah mengatakannya padamu, jika aku itu tidak sengaja?" balas Alena yang tidak terima jika di salahkan.


"Alena, jaga sifatmu! Ini pesta, dan ada Brayen dan juga Angkasa di sini. Jangan pernah membuat masalah yang nantinya akan kau sesali!" Tukas Devita yang memberikan peringatan pada Alena.


"Sudah, aku tidak apa-apa. Aku yakin Alena tidak sengaja." Laretta berusaha untuk menengahi perdebatan itu.


"Jangan terlalu baik padanya Laretta. Ingat kesabaran seseorang ada batasnya!" Olivia masih tidak terima dengan apa yang di lakukan oleh Alena.


"Olivia aku baik - baik saja. Jangan di perpanjang lagi masalah ini," balas Laretta. "Ya sudah, aku harus ke toilet untuk membersihkan gaunku."


"Aku ikut menemanimu Laretta." ujar Devita yang langsung membawa Laretta menuju ke arah toilet.


Sedangkan Olivia dan juga Devita masih menatap tajam satu sama lain. Jika sedang bukan berada di pesta, Olivia pasti sudah menarik rambut Alena. Tidak perduli jika dia adik Angkasa, karena Olivia paling tidak suka jika ada yang berbuat jahat pada Laretta. Terlebih sifat Laretta yang terlalu baik, itu yang membuat Olivia semakin kesal.


"Untuk apa kau masih di sini? Cepat pergi dari hadapanku! Aku tidak suka melihat wanita sepertimu!" Seru Olivia dengan tatapan yang terus menatap tajam Alena.


"Aku juga tidak ingin di sini!" Alena membalikkan tubuhnya dan langsung meninggalkan Olivia.


"Olivia? Dimana Laretta?"


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.