
Brayen menggeram, tangan Brayen langsung melayangkan pukulannya pada Laretta. Namun, Brayen terhenti saat Devita menghadang. Devita berdiri di depan Laretta, melindungi Laretta dari amarah Brayen. "Jika kau berani memukul Laretta! Aku bersumpah Brayen, kau akan kehilangan aku selamanya." ancam Devita dengan tatapan mata tajam ke arah Brayen.
"Jangan membelanya Devita.Aku tidak ingin melukaimu. Biar aku berikan pelajaran pada adikku! Aku sudah berkali-kali mengingatkan padanya, untuk tidak sembarangan mengenal pria! Bagaimana kalau pria yang menghamilimu itu, bukan pria yang pantas untukmu, Laretta!!" Seru Brayen meninggikan suaranya.
"Brayen, tenangkan dirimu. Pria itu, mau menikahi Laretta," kata Devita yang berusaha menenangkan suaminya itu.
"Brayen, kendalikan dirimu. Kau bisa menemui pria itu lebih dulu." Rena mendekat dan mengelus lengan Brayen.
Brayen membuang napas kasar tatapannya tetap menatap tajam Laretta. " Katakan padaku, siapa pria itu? Ingat Laretta! Aku tidak akan pernah membiarkanmu menikah dengan pria yang tidak akan pantas bersanding denganmu! Sejak awal aku sudah mengingatkanmu, untuk tidak sembarangan mengenal pria!"
"M.. maaf Kak, tapi pria itu cukup baik. Hari ini dia akan datang, Kak." ucap Laretta. Dia masih menunduk tidak berani menatap Brayen. " Sungguh, aku melakukan ini karena lepas kendali dan pengaruh alkohol. Jika tidak, sudah sejak dulu aku tidak akan pernah mungkin dengan mudahnya berkenalan dengan seorang pria, Kak. Kau sangat mengenal diriku,"
"Jika pria itu tidak tepat untukmu, jangan berharap kau bisa menikah dengannya," tukas Brayen dingin.
"Tapi Kak. Aku minta, kau tidak melukai pria itu," Laretta masih menunduk. Dia tidak berani menatap Brayen.
Brayen menggeram, "Aku bukan hanya melukainya. Tapi aku akan membunuhnya detik ini!"
"Kak, aku mohon jangan melukainya," bujuk Laretta.
Devita menyentuh lengan Rena. "Mom, sebaiknya Mommy istirahat. Mommy terlihat pucat, istirahatlah, Mom."
Rena mengangguk kemudian Albert memanggil pelayan untuk mengantarkan Rena ke ruangan lain untuk beristirahat. Sedangkan Devita, dia tidak ingin meninggalkan ruangan. Devita tidak mau Brayen bertindak kasar pada Laretta. Devita tahu, Laretta tidak melakukannya dengan sengaja.
Devita pun juga mengerti amarah Brayen, tidak mungkin seorang Kakak hanya diam saja, ketika adiknya melakukan kesalahan seperti itu. Bahkan hingga membuat orang tuanya masuk ke rumah sakit mendengar kabar itu. Namun, setiap masalah Devita percaya akan memiliki solusinya.
"Katakan padaku, bagaimana kau bisa bertemu dengan pria sialan itu!" Seru Brayen menyalang menatap tajam Laretta yang masih berdiri di hadapannya.
"Aku bertemu di klub malam. Aku hanya tahu dia memimpin perusahaannya di Jepang. Saat itu dia sedang berlibur ke Korea. Awalnya kami hanya mengobrol, saat kami mabuk, Kak. Tapi aku sudah tidak ingat lagi. Saat bangun aku sudah berada di kamar hotel dengannya," jawab Laretta dengan suara yang pelan.
"Aku sudah pernah mengatakan padamu. Buang mimpimu menjadi seorang pelukis! Jangan harap setelah ini kau bisa kembali ke Korea ataupun Australia!" Geram Brayen tatapannya semakin menatap tajam Laretta. Tangannya terkepal begitu kuat.
"Apa Kakak menyetujui hubungan aku dengannya? Aku tidak mungkin membiarkan anak ini tumbuh tanpa Ayahnya. Tapi aku mohon, Kakak jangan pernah memintaku untuk mengugurkannya," ucap Laretta dengan suara yang parau.
Brayen membuang napas yang kasar. " Tidak semudah itu aku menyetujui hubunganmu dengannya. Aku harus tahu siapa pria itu, aku juga harus tahu latar belakangnya. Meskipun aku tidak menginginkan bayi di perutmu hadir di keluarga kita, tapi aku tidak akan mungkin memintamu untuk membunuhnya."
Mendengar ucapan Brayen, Devita tersenyum. Di balik sifat Brayen yang keras, tapi Brayen tetap memiliki perasaan. Bagaimana pun anak itu tidak salah. Meskipun anak itu lahir dari sebuah kesalahan, tapi anak itu tetap tidak bersalah. Jika sampai Brayen memaksa untuk menggugurkan kandungannya, orang pertama yang akan menghalangi sudah pasti Devita. Cukup orang tuanya yang melakukan kesalahan, dengan membunuh hanya akan menambah kesalahan yang di perbuat oleh Laretta.
Devita berharap Ayah bayi yang di kandung Laretta adalah pria yang baik. Devita tidak memperdulikan kekayaan pria itu. Terpenting bagi Devita, pria itu adalah pria yang baik untuk Laretta dan anak mereka.
"Kak, aku yakin dia adalah pria yang baik. Aku mohon, Kakak tidak akan menyakitinya dan aku berterima kasih karena Kakak tidak memintaku untuk membunuh bayiku. Aku tahu, Kakak masih tetap menyayangiku." ucap Laretta dengan penuh permohonan ke arah Brayen.
"Sekarang katakan dimana pria sialan itu? Kenapa dia belum datang juga!" Seru Brayen.
"Maaf aku terlambat." suara seorang pria yang menerobos masuk kedalam ruangan, kini pria itu melangkah masuk kedalam ruangan. Laretta dan pria itu saling beradu pandang. Pria itu berjalan mendekat ke arah Laretta.
Namun, saat pria itu berjalan ke arah Laretta. Pria itu menatap Devita yang berdiri di samping Laretta. Padangan pria itu begitu terkejut, melihat Devita yang berada di samping Laretta. Bagai di sambar petir di siang hari, Devita menatap pria yang mendekat itu.
"Tidak mungkin! Itu Tidak mungkin!" batin Devita saat melihat pria itu. Devita langsung mendekat ke arah Brayen. Menghentikkan memandang pria yang sejak tadi terus menatap dirinya. Devita berusaha untuk mengatur napasnya, berusaha untuk bersikap tenang pada pria itu.
"Kau siapa!" Tukas Brayen dingin. menatap seorang pria yang berdiri di hadapannya.
"Aku Angkasa Nakamura. Aku yang akan menikah dengan Laretta," ucap pria yang bernama Angkasa. Pandangan Angkasa tidak berhenti menatap Devita yang kini sedang berdiri di samping Brayen. Tapi Devita tidak menatap balik Angkasa. Devita menundukkan kepalanya, ia tidak ingin menatap Angkasa.
Tanpa menunggu, Brayen menarik kerah baju Angkasa. Dia menghajar hidung, pelipis Angkasa berkali - kali. Amarah Brayen tidak bisa lagi tertahan, kini dia berhadapan dengan seorang pria yang telah menghancurkan kehidupan adiknya.
BUGH.
Pukulan Brayen terakhir yang membuat Angkasa tergeletak tidak berdaya di lantai. Devita dan juga Laretta menjerit melihat Brayen yang menghajar Angkasa.
Laretta langsung menghampiri Angkasa. " Kau tidak apa - apa? Maafkan, Kakakku,"
"Tidak. Ini bukan kesalahannya. Aku pantas menerimanya," jawab Angkasa dia menyentuh hidungnya yang masih mengeluarkan darah.
Saat Brayen mendekat dan ingin mengajar Angkasa kembali, Devita langsung menghadang Brayen. " Hentikan Brayen! Tidak semuanya bisa kau selesaikan dengan kekerasan!" Sentak Devita.
"Menyingkir Devita! Dia pantas mendapatkannya" Geram Brayen.
Angkasa bangkit berdiri dan mendekat ke arah Brayen. "Maafkan aku, tapi aku akan menikahi adikmu. Karena sekarang adikmu hamil anakku."
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.