
Pagi hari, Devita dan Brayen sudah bersiap. Hari ini Devita memang tidak datang ke kampus. Devita harus ikut Brayen ke perusahaan. Sebenarnya jika boleh memilih, lebih baik Devita tidak usah ikut. Devita tidak suka datang ke perusahaan dan membahas bisnis. Bagi Devita sangat membosankan, tapi Devita tidak mempunyai pilihan yang lain. Mau tidak mau dia harus menuruti suami dan keinginan Ayahnya.
Devita menatap cermin, memoles wajahnya dengan make up tipis, dengan balutan dress formal dan blazer membuat Devita terlihat anggun dan jauh lebih dewasa. Brayen juga sudah selesai bersiap. Seperti biasa mereka breakfast di ruang makan. Meski Devita tahu, kemarin Brayen berdebat dengan Laretta. Tapi bukan berarti Brayen menjauh dari Laretta.
"Morning," sapa Laretta, saat melihat Brayen dan Devita melangkah masuk ke ruang makan.
"Morning Laretta." balas Devita saat duduk di samping Brayen.
Pelayan menyiapkan beef chese omelette untuk Devita dan juga Laretta. Sedangkan untuk Brayen, lebih memilih kopi espresso dan juga muffin vanila.
"Devita, hari ini perusahaan keluargamu meeting dengan perusahaan Kak Brayen?" tanya Laretta.
Devita mengangguk. " Ya, dan aku harus ikut."
"Kau pasti bisa Devita, nilaimu sangat bagus di kampus. Kau pasti memimpin perusahaan keluargamu dengan baik." ujar Laretta dengan senyuman di wajahnya.
"Aku tidak sehebat itu, Laretta. Tapi aku harap aku juga bisa mengurusnya dengan baik," balas Devita.
"Tenanglah, aku yakin pasti Kak Brayen akan selalu membantumu," kata Laretta.
"Brayen memang harus selalu membantuku," tukas Devita.
"Ya, kau benar. Pasti Kakakku akan membantumu," balas Laretta, ia mengulum senyumannya.
"Hem. Kak," panggil Laretta hati - hati.
"Ada apa?" tanya Brayen dingin.
"Kak, aku ingin ke dokter hari ini. Apa Kakak mengizinkan aku keluar?" tanya Laretta.
"Pengawal akan menemanimu hari ini. Setelah dari dokter, kau harus langsung pulang kerumah," tukas Brayen dengan nada penuh penekanan.
Laretta mengangguk patuh, " Ya Kak, aku akan langsung pulang."
"Devita, kita berangkat sekarang." ucap Brayen.
"Ya Brayen," jawab Devita. Ia langsung mengambil tasnya yang berada di atas meja.
"Laretta, aku berangkat dulu." pamit Devita.
"Ya, Devita. Hati - hati." balas Laretta.
Kemudian Brayen dan Devita berjalan meninggalkan ruang makan. Hari ini, Devita tidak membawa mobil. Devita ikut bersama dengan Brayen.
...***...
Laretta beranjak dari kursinya, hari ini dia harus ke dokter untuk memeriksa kandungannya. Sebenarnya, Laretta ingin sekali mengajak Angkasa. Tapi tidak mungkin, pasti Kakaknya itu nanti akan marah besar padanya. Laretta sangat mengenal sifat Brayen. Kakaknya itu, paling tidak suka kalau di bantah.
Terdengar dering ponsel milik Laretta, ia mengambil ponselnya dan tertera nama di layar ternyata Angkasa mengirimkan pesan padanya.
Angkasa : Laretta, kau sedang apa? Bagaimana kabarmu?
Laretta : Aku baik. Hari ini aku akan periksa kandungan. Kau sendiri bagaimana kabarmu?
Angkasa : Aku juga baik. Aku ingin sekali menemanimu untuk memeriksa kandunganmu.
Laretta : Ya, bersabarlah. Suatu saat nanti, kau pasti akan menemaniku untuk memeriksa kandunganku.
Angkasa : Sekarang aku sedang mengerjakan proyek yang cukup besar. Semoga ini berhasil, waktuku hanya sampai akhir bulan ini. Tapi aku pastikan aku tidak akan gagal.
Laretta : Aku selalu berdoa yang terbaik untukmu. Aku yakin, kau pasti akan mampu mengerjakannya dengan baik.
Angkasa : Terima kasih, sudah percaya padaku. Aku harus kembali meeting dan jaga kesehatanmu.
Laretta : Ya, kau juga harus jaga kesehatanmu.
Setelah membalas pesan dari Angkasa. Laretta kembali menyimpan ponselnya. Laretta berjalan meninggalkan ruang makan. Ia langsung menuju kamar. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Ruby.
"Ruby, kau membawa temanmu?" tanya Laretta, ia seperti melihat seseorang yang di bawa oleh Ruby menggunakan selendang berwarna hitam.
"Bukan teman Nona, tapi sepupuku." jawab Ruby.
Laretta mengangguk, " Ya sudah, aku ingin pergi ke dokter. Kau ajaklah sepupumu itu untuk berkeliling mansion.
"Baik Nona," jawab Ruby.
Laretta melanjutkan langkahnya lagi kedalam kamar. Laretta harus segera bersiap, ia tidak ingin terlambat dengan menemui dokternya.
...***...
Brayen dan Devita melangkah masuk kedalam perusahaan. Para staff yang melihat Brayen dengan Devita, mereka langsung menundukkan kepalanya menyapa Brayen dan Devita dengan sopan. Tentu saja Devita membalas mereka dengan senyuman ramah. Brayen dan juga Devita menuju ke lift pribadi yang selalu di pakai oleh Brayen.
Ting.
Pintu lift terbuka, Brayen dan juga Devita berjalan keluar. Mereka sudah melihat Albert yang berdiri di depan ruang meeting.
"Selamat pagi Tuan Brayen dan Nyonya Devita." sapa Albert menundukkan kepalanya saat Brayen melangkah dan mendekat ke arahnya.
"Pagi Albert," balas Devita dengan senyuman di wajahnya.
"Semua orang sudah berada di ruang meeting?" tanya Brayen.
"Sudah Tuan. Tuan Edwin juga sudah berada di dalam." ujar Albert.
Brayen mengangguk, "Siapkan dokumen yang di perlukan."
"Baik Tuan," jawab Albert.
Brayen dan Devita kini melangkah masuk kedalam ruang meeting. Jantung Devita berdegup dengan kencang, karena ini pertama kalinya Devita harus ikut meeting seperti ini. Devita takut, ia akan membuat suatu kesalahan. Devita berusaha mengatur napasnya dengan baik. Mau tidak mau, ia harus menghadapi ini.
"Maaf, karena telah membuat kalian menunggu," kata Brayen. Ia melangkah masuk kedalam ruang meeting bersama dengan Devita.
Devita melirik ke Ayahnya yang sudah berada di ruang meeting. Ingin sekali Devita memeluk Ayahnya itu, tapi tidak mungkin. Karena di ruang meeting ia harus bersikap profesional.
"Mr. Brayen, apa ini Ms. Devita? Putri dari Mr. Edwin?" tanya Nicholas yang sudah sejak tadi terus menatap Devita.
"Mrs. Devita. Ya, dia adalah putri dari Mr. Edwin," jawab Brayen, ia langsung mengoreksi panggilan Devita.
"Maaf aku tidak tahu jika, Mrs. Devita sudah menikah," jawab Nicholas.
"Baiklah, lebih baik kita segera memulai meetingnya," kata Edwin.
"Ya, kita mulai sekarang," balas Brayen. Kemudian Brayen duduk di kursi pimpinan. Sedangkan Devita tepat duduk di samping Brayen.
"Proyek pembangunan sebuah Apartemen khusus menengah atas, rencananya akan di bangun di Singapore, Jepang, Korea dan Irlandia. Semua persiapan sudah di persiapkan dengan baik. Kontrak kerja sama juga sudah di tanda tangani. Hanya saja, saya ingin mendengar langsung pendapat dari Mrs. Devita," ujar Nicholas.
Seketika wajah Devita langsung menegang. Sebisa mungkin Devita tidak menunjukkannya. Padahal, dia baru saja duduk, tapi sudah di mintai pendapat. Bahkan Brayen memilih untuk diam. Begitu pun juga dengan Ayahnya. Devita terus mengumpat di dalam hati. Karena suami dan Ayahnya lebih memilih untuk diam dan tidak langsung membantunya.
Devita tersenyum "Menurut saya, pembangunan di negara maju itu, sangat berpotensi. Singapore, Jepang dan Korea. Mereka bagian dari negara Asia yang sudah terkenal memiliki turis yang sangat banyak di setiap tahunnya. Seperti kita tahu, bangunan di negara yang telah tadi anda sebutkan tidaklah murah. Di tambah, banyak orang yang lebih menyukai dan tinggal di Apartemen." jelas Devita.
"Great, jawaban yang sangat luar biasa. Saya suka dengan cara anda berbicara Mrs. Devita." balas Devita.
Edwin menatap Devita dengan tatapan bangga. Ia langsung tersenyum tipis melihat putrinya yang kini sudah dewasa. Ia sudah tahu, pasti putrinya itu mampu untuk mengurus bisnis miliknya dengan baik.
"Terima kasih," balas Devita dengan senyuman di wajahnya.
"Aku rasa, proyek ini bisa langsung di jalankan." kata Brayen.
Nicholas mengangguk setuju. "Ya, saya rasa ini bisa segera kita jalankan."
"Saya juga setuju Mr. Nicholas." jawab Edwin.
"Baik, meeting sampai hari ini. Kita akan bertemu di meeting yang selanjutnya." tutup Brayen.
Nicholas beranjak, ia langsung bersalaman dengan Brayen, Edwin dan juga Devita. Terakhir Nicholas tidak berhenti menatap Devita. Bahkan, jabatan tangan Nicholas pada Devita, tidak juga di lepas oleh Nicholas.
"Ehm." Brayen berdehem, akhirnya Devita melepaskan jabatan tangannya pada Devita.
"She is my wife." tukas Brayen dingin dengan menatap Nicholas.
Mendengar ucapan dari Brayen, seketika wajah Nicholas langsung memucat. "M...maaf. Mr. Brayen, saya tidak tahu kalau Mrs. Devita istri anda."
Tanpa menjawab, Brayen menarik tangan Devita dan meninggalkan ruang meeting. Edwin hanya menggeleng pelan melihat sikap menantunya itu. Bahkan kini Edwin melihat dengan jelas, wajah Nicholas yang terlihat memucat dan takut.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.