Love And Contract

Love And Contract
Aku Bicara Fakta



"Richard, atas nama Brayen aku minta maaf. Aku sungguh meminta maaf padamu," kata Devita yang merasa tidak enak pada Richard.


Richard tersenyum. " Tidak perlu meminta maaf Devita, aku sudah melupakannya."


"Andai saja kita tidak berdansa, Brayen tidak akan memukulmu. Maafkan aku Richard." Devita sedikit menundukkan kepalanya, dia merasa benar - benar tidak enak pada Richard.


"Aku malah ingin berterima kasih padamu. Karena akhirnya aku bisa berdansa dengan gadis secantik dirimu. Aku sangat senang," balas Richard.


Devita mengulas senyuman hangat di wajahnya. " Kau pria yang baik Richard. Aku senang berteman denganmu,"


"Kau juga gadis yang baik Devita, aku lebih senang karena mengenalmu. Jika suamimu menyakitimu, percayalah aku adalah orang pertama yang akan menjemputmu," ujar Richard.


"Tidak, suamiku tidak menyakitiku. Kemarin kami hanya salah paham saja Richard," balas Devita.


Richard mengangguk paham, " Baiklah, kalau begitu aku harus duluan. Aku harus bertemu dengan William,"


"Ya, Richard. Semoga harimu menyenangkan," kata Devita dan Richard membalasnya dengan senyuman. Lalu Richard berjalan meninggalkan Devita.


"Devita, tidak biasanya kau menyebut Brayen dengan ucapan suamiku. Apa kau ini sakit?" Olivia menyipitkan matanya menatap Devita penuh selidik, karena jarak Olivia dan Devita tidak terlalu jauh, itu yang membuat Olivia mendengar percakapan Devita dan Richard.


Devita mendengus, " Kau ingin aku sakit rupanya? Sudahlah lebih baik kita ke kafe, aku ingin bercerita padamu."


"Itu yang sejak tadi aku tunggu! Ayo kita ke caffe. Kali ini, aku yang akan mentraktir mu," kata Olivia, lalu dia langsung memeluk lengan Devita dan melangkah menuju ke kafe langganan mereka.


Saat tiba di caffe, seperti biasa Olivia memesan hot chocolate untuk Devita, matcha cream untuknya dan dua cheesecake untuk mereka berdua.


"Tadi malam, apa kau dan Brayen bertengkar? Katakan padaku?" tanya Olivia yang sejak tadi ingin menanyakan ini pada Devita.


"Ya, kami bertengkar, setelah itu sudah tidak lagi," jawab Devita sambil menyesap hot chocolate di tangannya.


"Aku melihat amarah Brayen, saat di klub sungguh mengerikan," kata Olivia yang masih membayangkan kejadian di klub.


Devita membuang napas kasar, "Brayen memang seperti kehilangan akal sehat. Bagaimana bisa dia menghajar Richard seperti itu,"


"Tapi itu artinya dia memang cemburu. Dia membuktikan, jika dia menyukaimu Devita. Aku sudah melihat itu," kata Olivia dengan sangat yakin.


"Ya, tadi malam Brayen bilang dia mencintaiku. Dia juga bilang kalau dia jatuh cinta padaku," balas Devita dengan senyuman di wajahnya.


"Kau serius? Kau sedang tidak bercanda kan? Sekarang ceritakan semuanya padaku," seru Olivia dengan semangat. Terlihat dia sangat bahagia mendengar ucapan Devita.


"Tadi malam, Brayen mengakui dia tidak suka aku bersama dengan pria lain. Tapi dia tetap tidak bisa meninggalkan Elena. Dan aku memilih untuk menyerah, aku tidak mau berbagi dengan wanita manapun. Saat aku memilih mengakhiri pernikahan ini, ternyata dia malah menahan ku. Dia akhirnya mengatakan perasaannya padaku," ujar Devita dengan wajahnya yang begitu bahagia, ketika menceritakan kejadian tadi malam.


"Bagaimana denganmu? Apa kau juga menyatakanmu?" tatapan Olivia menatap serius Devita.


"Aku tidak berbohong, alasan aku mengajak Richard berdansa karena hatiku terlalu sakit melihat Brayen berciuman dengan Elena. Rasanya aku ingin sekali marah saat itu. Tapi kau tahu kan posisiku. Akhirnya aku meluapkan amarahku dengan mengajak Richard berdansa," jelas Devita.


Olivia tersenyum puas, melipatkan tangan di depan dada. " Well, apa yang aku katakan terjadi. Kalian memang saling jatuh cinta. Hanya terlalu menjaga harga diri kalian untuk mengatakan. Ketika kau dengan pria lain, Brayen pasti marah. Sedangkan jika Brayen dengan wanita lain kau akan seperti perempuan yang terbakar api cemburu.


Devita mengulum senyumnya, " Sudahlah jangan menggodaku lagi Olivia,"


Devita menggeleng pelan, dia kembali tersenyum. "Aku sudah melupakannya, aku sudah menganggap Angkasa sebagai temanku,"


"Ya, great! Aku tahu itu!" Kata Olivia antusias.


"Ya sudah, lebih baik kita kembali keperusahaan. Masih banyak yang harus kita kerjakan," kata Devita dan Olivia mengangguk setuju.


Kemudian Olivia meminta bill, dia langsung membayarnya. Setelah selesai membayar, Olivia dan Devita mereka berjalan meninggalkan kafe.


...***...


"Kau tidak takut ketahuan oleh Brayen, jika kau sering tidur denganku?" kata pria itu, dia menyesap wine di tangannya. Tatapannya terus menatap Elena yang masih berdiri di hadapannya.


"Diam kau! Jangan pernah kau membawa - bawa nama kekasihku!" Seru Elena.


Pria itu terkekeh. " Sudah berapa banyak kau berganti pria? Sayang sekali seorang Brayen Adams Mahendra, bisa memiliki wanita ****** sepertimu," tukas pria itu dengan nada penuh sindiran.


Elena melayangkan tatapan tajamnya pada pria yang ada di hadapannya. " Tutup mulutmu, atau aku akan membunuhmu dan mengirimmu ke neraka!"


Pria itu menaikan sebelah alisnya, " Kenapa kau harus marah? Aku hanya berkata sejujurnya. Jika aku berbicara tentang fakta, kau tidak boleh marah,"


"Berhentilah berbicara! Brayen tidak akan pernah mengetahui, jika aku sudah sering tidur denganmu. Selama ini, dia tidak tahu apapun tentangku. Aku selalu menutupinya dengan sangat cerdas. Dia sangat mencintaiku, dan dia akan selalu percaya dengan apa yang aku katakan padanya! Sampai saat ini juga Brayen masih belum tahu bahwa aku sudah sering tidur dengan banyak pria!" kata Elena dengan penuh percaya diri.


Pria itu tersenyum sinis, " Well, kalau begitu dia percuma saja menjadi pewaris Mahendra Enterprise, jika bisa di bohongi oleh ****** kecil sepertimu tapi dia tidak tahu,"


"Jaga bicaramu! Aku adalah kekasih Brayen Adams Mahendra. Aku bisa saja menghancurkan perusahaanmu!" Seru Elena.


Pria itu mengedikkan bahunya acuh. " Alright, aku akan menunggu, hari dimana kau bisa menghancurkan ku. Tapi rasanya kau harus takut pada istrinya Brayen, dia sangatlah cantik,"


"Tapi dia tidak sebanding denganku. Aku jauh lebih cantik darinya. Aku juga jauh lebih seksi darinya. Dia hanya gadis yang kurus. Kau tidak melihat lekukkan di tubuhku yang begitu indah?" Elena mendongakkan wajahnya, menatap pria yang ada di hadapannya itu penuh dengan keangkuhan.


Pria itu beranjak dari tempat duduknya, kemudian dia melangkah mendekat kearah Elena, memeluk pinggang Elena. Lalu dia membopong tubuh Elena di atas meja.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.