
Devita mencebikkan bibirnya. "Apa tidak bisa di tunda sampai aku lulus?"
"Jangan bercanda Devita, kau lulus masih beberapa bulan lagi, jika kau sesuai dengan targetmu. Bagaimana aku bisa dengan menunda pembangunan Apartemen hingga beberapa bulan lagi. Perusahaan keluargamu dan perusahaanku akan mengalami kerugian," tukas Brayen menegaskan.
Devita mendesah pelan, " Maksudku, itu bukan seperti itu, Brayen. Untuk kali ini, biarkan Ayahku yang memimpin, nanti setelah aku lulus kuliah aku yang akan memulai dan belajar memimpin perusahaan milik Ayahku,"
"Tidak Devita! Kau bisa belajarnya dari sekarang. Kita sudah membahas ini sebelumnya," ucap Brayen dingin.
"Ya, baiklah. Aku akan belajar tentang perusahaan," jawab Devita dengan terpaksa.
"Sudahlah, Devita. Menurut saja, aku yakin Kakakku pasti akan membantumu," sambung Laretta.
Devita tersenyum kecut. " Kau benar, Laretta. Suamiku yang hebat ini pasti akan membantuku,"
Laretta terkekeh, "Jangan lupa, nanti pulang kuliah kau harus menjadi modelku. Aku ingin sekali melukismu,"
Devita mengangguk. " Tenang saja, aku mengingatnya. Aku sangat senang kau melukisku,"
"Devita, aku berangkat." Brayen bangkit berdiri, kemudian dia menatap lekat Laretta. "Laretta, kau tetap di rumah! Jangan berani kau pergi tanpa seizinku!"
"Ya, Kak. Aku tidak akan pergi kemana - mana. Aku hanya di rumah saja." balas Laretta memaksakan senyuman di wajahnya.
"Kita kedepan bersama Brayen, aku juga ingin berangkat ke kampus," Devita kemudian bangkit berdiri dia menatap Laretta. " Aku berangkat dulu, Laretta. Nanti, aku pasti akan pulang lebih awal Laretta."
"Hati - hati, Devita." balas Laretta.
Kini, Devita mengambil tas dan kunci mobilnya, lalu dia dan Brayen menuju ke arah mobil mereka masing - masing. Untungnya Ruby sudah mengambil mobil Devita di hotel kemarin. Devita tidak suka, jika dia harus ganti mobil. Dia sudah nyaman dengan mobil yang biasa dia pakai.
"Kau hati - hati," Brayen mengecup bibir Devita.
"Iya, kau juga hati - hati," balas Devita.
Brayen masuk kedalam mobil Bugatti Veyron hitamnya, sedangkan Devita masuk ke dalam mobil Lamborghini Veneno merah kesayangannya. Mobil mereka beriringan keluar meninggalkan mansion.
...***...
"Olivia!" Suara teriakan Devita mengejar Olivia, dia baru saja tiba di kampus dan langsung mengejar sahabatnya itu, tentu dia tahu, sahabatnya itu masih marah padanya.
Olivia menghentikan langkahnya dan menoleh, " Ada apa?" ucap Olivia ketus.
Devita menghela nafas kasar " Olivia, kau tahu jika kau marah seperti ini. Wajahmu itu akan di penuhi oleh keriput. Aku sudah mengirimkan high heels terbaru untukmu ke mansionmu. Dan hari ini aku akan mentraktirmu makan sepuasnya."
Olivia mendengus. "Kau ini sungguh menyusahkanku, Devita. Aku juga sampai di kejar - kejar banyak orang yang menanyakanmu dan suamimu itu," keluh Olivia yang masih mengingat kejadian saat di hotel.
Devita terkekeh geli, "Maaf, kau bisa menyalahkan suamiku kenapa dia itu terkenal. Karena itu sangat menyusahkanku juga."
Olivia memutar bola matanya malas. "Sudah kau harus segera mentraktirku makan, aku sangat lapar. Kau tahu, aku akan makan banyak hari ini. Tidak hanya itu, aku akan memesan makanan untuk di bawa pulang!" Kata Olivia yang sengaja melakukan ini dengan melampiaskan kekesalannya.
"Aku tidak keberatan kau memesan makanan yang banyak," balas Devita dengan santai. Kemudian mereka berjalan menuju ke salah satu restoran yang tidak jauh dari kampus.
Olivia memesan pasta dan tenderloin steak. Sedangkan Devita, karena melihat Olivia menikmati makanannya, membuat Devita memesan salon griil dan mashed potato.
"Devita, besok adalah hari ulang tahunmu. Kau ingin hadiah apa dariku?" tanya Olivia sambil menikmati makanannya.
Devita tergelak, "Besok, ulang tahunku. Astaga. Aku sampai lupa tanggal. Tapi kenapa orang tuaku tidak menghubungiku? Biasanya mereka menanyakan apa yang aku inginkan," ucapnya yang bingung. Tidak biasanya orang tuanya tidak menghubungi dirinya.
Mungkin orang tuamu, sengaja ingin memberikan kejutan untukmu, lagi pula kau sudah menikah Devita. Oh ya? Besok kira - kita Brayen akan memberikan hadiah apa untukmu?" tanya Olivia yang penasaran.
"Aku bahkan tidak tahu, apakah Brayen mengingat ulang tahunku atau tidak. Mungkin dia lupa. Dia tidak pernah romantis," Devita menghela nafas pelan, dia baru mengingat jika suaminya itu tidak pernah romantis.
Olivia berdecak pelan. " Tidak romantis, bukan berarti tidak mengingatnya. Aku yakin dia akan membelikanmu hadiah yang sangat mahal. Ah, aku jadi iri padamu, Devita."
Devita mendengus, "Aku tidak suka hadiah mahal, Olivia. Kau tahu, Brayen sudah memberikanku segalanya. Tanpa harus dia membelikanku lagi, aku juga sudah memilikinya."
"Jangan bicara yang tidak - tidak, Olivia. Sudahlah, lebih baik kau habiskan makananmu dan kita langsung pergi ke kelas. Lalu kau bisa pesan makanan sepuasmu. Jangan pesan sedikit, aku ingin membuatmu, gemuk dalam satu hari. Ingat pesan yang banyak," Devita terkekeh pelan.
"****! Aku tidak akan memiliki tubuh yang gemuk!" Olivia mencebikkan bibirnya.
Tidak lama kemudian setelah selesai makan, Devita membayar seluruh makanan yang di pesan Olivia. Mereka berjalan meninggalkan restoran.
...***...
"Albert, apa restoran yang kau pesan sudah kau persiapkan semuanya?" tanya Brayen tanpa melihat ke arah Albert yang sedang berdiri di hadapannya. Kini Brayen telah membaca seluruh email yang masuk di MacBooknya.
"Sudah Tuan, semuanya sudah saya siapakan," jawab Albert.
"Restoran apa yang kau pilih?" Brayen menaikkan sebelah alisnya.
"Saya memilih Italian Restaurant di Eoteca Sociale Restaurant, Tuan." jawab Albert.
Brayen mengangguk singkat, " Great, pilihan yang tepat "
"Pastikan makan malam ku sempurna, Albert. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk istriku," tukas Brayen dingin.
"Baik Tuan, saya sudah menyiapkan semuanya dengan baik, Tuan." balas Albert.
"Ya, aku percaya padamu. Sekarang, kau kembalilah keruanganmu, Albert. Dan lanjutkan pekerjaanmu," perintah Brayen.
"Baik Tuan," Albert pun menundukkan kepalanya lalu undur diri dari ruang kerja Brayen.
Kini tatapan Brayen teralih menatap foto pernikahan dirinya dan juga Devita yang berada di atas meja kerjanya. Brayen mengambil bingkai foto pernikahannya dan menatap wajah istrinya yang sangat cantik dengan balutan gaun pengantin. Brayen tersenyum tipis melihat istrinya, dia tidak menyangka perjanjian yang dulu mereka telah buat kenyataannya telah membuat mereka saling jatuh cinta.
...***...
Devita yang melangkah keluar dari kelas. Dia baru saja menyelesaikan mata kuliahnya hari ini. Devita melirik ke arah arlojinya, kini sudah pukul tiga sore. Devita mengingat kini mertuanya sudah pulang dari rumah sakit. Devita mengambil ponselnya di dalam tasnya lalu dia mulai mencari kontak Mom Rena, Ibu mertuanya dan mulai menghubunginya.
"Mommy?" sapa Devita dengan suara yang lembut saat panggilannya terhubung.
"Devita? Apa kabar, sayang?" tanya Rena dari sebrang telepon.
"Aku baik Mom. Mom dan Dad, apa kabar? Daddy sudah keluar dari rumah sakit kan, Mom?"
"Mom baik, sayang. Daddy juga sudah keluar dari rumah sakit. Saat ini kesehatannya sudah mulai membaik sayang,"
"Aku ikut senang mendengarnya, Mom."
"Mom, saat ini Laretta tinggal bersama denganku dan juga Brayen."
"Biarkan Devita, bukannya Mom tidak ingin menemuinya. Hanya saya Daddymu belum bisa bertemu dengannya. Dia masih belum mau menemui Laretta. Biarkan Brayen yang menjaga Laretta. Mom percaya, Brayen akan melakukan yang terbaik.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.