
Ceklek.
Suara pintu kamar terbuka, Devita langsung menatap ke arah pintu. Brayen masuk ke dalam kamar. Untungnya Devita sudah mengakhiri telepon dari Angkasa. Rasanya tidak enak sekali menutupi ini dari Brayen.
Brayen melangkah mendekat ke arah sofa, lalu duduk di samping Devita. "Kau sudah makan? Kenapa kau terlihat pucat?" tanya Brayen sambil mengelus pipi Devita.
"Sudah, aku sudah makan," jawab Devita berusaha untuk tenang. "Apa kau sudah makan?"
"Aku belum lapar, terlalu banyak yang aku pikirkan," jawab Brayen datar.
"Brayen, harusnya kau makan. Aku tidak ingin kau sakit. Aku akan meminta pelayan untuk mengantarkan makanan untukmu," ujar Devita. Dia hendak mengambil ponselnya dan menghubungi pelayan. Namun, Brayen langsung merebut ponsel Devita. "Aku akan makan nanti, sekarang aku belum ingin," balas Brayen.
"Kau masih terus memikirkan masalah Laretta?" tanya Devita, dia sudah yakin. Pasti Brayen terus memikirkan masalah Laretta.
"Aku membenci adikku, berkenalan dengan sembarangan pria. Harusnya aku memperketat penjagaan Laretta," seru Brayen dengan wajah penuh dengan kemarahan.
Devita memeluk Brayen dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. "Ini bukan salahmu Brayen? Apa kau mempercayai takdir? Dulu saat kita baru menikah. Apa kau berpikir kita akan seperti ini? Tidak, kan? Aku rasa pria itu memang takdir Laretta. Aku yakin, Laretta pasti akan memiliki kehidupan yang bahagia." Devita mengelus dada bidang suaminya, seraya memberikan kecupan di rahang suaminya itu.
Brayen membuang napas kasar. "Aku tidak mungkin begitu saja melepaskan adikku. Dia adalah adikku yang ceroboh dan sering melawanku. Aku akan menyelidiki dengan baik, siapa pria yang akan menjadi pendamping Laretta."
"Aku paham, kau bisa mencari tahu tentangnya. Aku rasa, dia terlihat seperti pria yang berasal dari keluarga terpandang. Jadi kau jangan mengkhawatirkan Laretta. Laretta pasti akan memiliki kehidupan yang bahagia."
"Kau memperhatikan pria sialan itu?" Seru Brayen.
Devita mendesah pelan. "Tidak Brayen, tidak ada pria yang setampan dirimu. Kenapa aku harus memperhatikan pria lain? Aku hanya melihat dia karena dia adalah Ayah dari anak yang di kandung oleh adik Iparku. Aku juga ingin menilai pria itu,"
Brayen membuang napas kasar, "Jika pria sialan itu pasti bukan yang terbaik untuk adikku, maka aku akan mencari pria yang terbaik untuk adikku. Banyak sekali rekan bisnisku yang sejak lama menginginkan Laretta."
"Brayen, kau tahu Laretta sedang hamil. Kenapa kau memisahkan anak yang di kandung Laretta dengan Ayahnya? Aku rasa dia bukan pria yang jahat, Brayen," ucap Devita yang tidak menyetujui Brayen.
"Kenapa kau selalu membelanya Devita!" Geram Brayen.
Devita menghela nafas dalam, lalu menangkup kedua rahang Brayen. "Aku tidak membelanya, sayang. Aku hanya ingin kau tidak memisahkan Ayah dan Anaknya. Sekarang aku tanya padamu, jika suatu hari aku hamil dan aku memisahkanmu dengan anakmu. Bagaimana perasaanmu?"
"Tapi dia tidak pantas menjadi suami dari Laretta! Berbeda denganku. Kau dan aku sudah menikah kita saling mencintai. Anak kita hadir karena kita memang menginginkannya. Berbeda dengan mereka!" Tukas Brayen menekankan.
Devita mengelus rahang Brayen. " Lebih baik kau tahu siapa Angkasa Nakamura. Jangan menggunakan egomu. Kau juga harus memikirkan bagaimana perasaan Laretta."
"Ini sulit-" ucap Brayen terpotong kala Devita langsung mencium dan ******* dengan lembut bibir Brayen. Ciuman yang sangat lembut membuat Brayen membalas ciuman Devita. Devita berusaha menenangkan Brayen, bibir mereka saling mencecap, lidah mereka saling berpagutan.
"Kau pintar sekali menenangkan amarahku," bisik Brayen saat pagutan mereka terlepas.
Devita tersenyum. "Karena hanya ini yang dapat meredakan amarahmu,"
Brayen tersenyum, dia menarik tangan Devita masuk kedalam pelukannya. Dia memberikan kecupan di puncak kepala Istrinya, "Ya, kau benar hanya kau yang membuatku tenang."
...***...
Kini Devita mematut cermin, memoles make up tipis di wajahnya. Dia tengah bersiap-siap. Ya, hari ini dia akan bertemu dengan Angkasa. Terpaksa Devita harus beralasan pergi ke mall. Devita tidak mungkin mengatakan pada Brayen, jika dia akan bertemu dengan Angkasa. Itu sama saja bunuh diri jika Devita mengatakan sebenarnya pada Brayen.
Awalnya memang Devita tidak ingin bertemu dengan Angkasa, tapi sepertinya memang benar, banyak sekali hal yang ingin Devita tanyakan pad Angkasa. Bagaimana pun Angkasa akan menjadi adik iparnya. Perasaan Devita pada Angkasa telah berakhir, yang Devita cintai hanya Brayen. Suaminya telah menempati hatinya.
Mungkin Devita akan bertanya kenapa Angkasa tidak pernah memberi kabar padanya. Kenapa Angkasa membuatnya menunggu dengan tidak adanya kepastian. Devita sering melihat pemberitaan Angkasa sering berkencan dengan wanita cantik. Tapi Devita berusaha untuk mempercayai Angkasa. Sampai akhirnya Devita jatuh cinta pada Brayen, suaminya sendiri. Kehadiran Brayen, membuat Devita melupakan segala perasaannya pada Angkasa.
Brayen yang baru saja keluar dari walk in closetnya dia menatap Devita yang tengah berias. "Devita, kau ingin pergi?" tanyanya dengan tak lepas menatap Istrinya.
"Aku ingin pergi ke mall sebentar, ada hal yang ingin aku beli," jawab Devita yang terpaksa berbohong. Tidak mungkin Devita mengatakan yang sejujurnya.
Brayen mengerutkan keningnya, "Kau ingin berbelanja?"
Devita mengangguk, "Ya, hanya sebentar. Ada beberapa makeup yang ingin ku beli."
"Apa kau membutuhkan uang cash? Kau bisa mengambilnya di brankas. Aku sudah memberikan password brankas bukan? Kau bisa mengambil uang cash di sana. Aku selalu menyiapkan uang cash di brankas," Brayen mendekat di mengecup bahu Istrinya.
Devita mengangguk, "Nanti, aku akan mengambilnya,"
"Brayen, kau akan berangkat sekarang?" tanya Devita sambil menatap suaminya itu.
"Ya, aku ada meeting pagi ini dengan Mr. Lee," jawab Brayen. "Devita, dimana Laretta? Apa dia masih di kamar?"
"Laretta sedang melukis, aku tadi datang ke kamarnya. Dia sedang melukis. Lukisannya sangat indah Brayen. Aku rasa, aku ingin memajang lukisan Laretta di kamar kita,"ujar Devita dengan begitu antusias. Dia mengakui kehebatan adik iparnya itu dalam melukis.
Brayen membuang napas kasar, "Aku tidak pernah menginginkan dia menjadi seorang pelukis. Tapi dia selalu memaksa ingin menjadi pelukis. Aku lebih suka jika dia memimpin perusahaan cabang,"
"Brayen, tidak semua orang bisa melukis dengan indah. Menurutku bakat yang di miliki oleh Laretta sangat mengagumkan. Aku juga menyukai setiap lukisan Laretta. Jadi biarkan dia melukis. Jangan melarang apa yang menjadi kesukaannya." balas Devita memberi saran.
"Terserah, aku tidak mengerti apa yang di pikirkan olehnya," balas Brayen dingin.
Devita mengelus rahang Brayen lalu memberikan kecupan di rahang suaminya itu. "Aku tahu, kau tidak akan membiarkan adikmu terluka. Aku juga tahu, kau pasti ingin yang terbaik untuk adikmu. Biarkan Laretta melukis Brayen, dia membutuhkan hiburan."
Brayen tersenyum lalu mengecup bibir Devita dan berkata, "Hanya kau yang bisa menenangkan segala amarahku,"
"Lebih baik kau berangkat sekarang. Kau harus bertemu dengan rekan bisnismu, bukan? Jangan terlambat, tidak enak membuatnya lama menunggu," kata Devita mengingatkan.
Brayen menarik dagu Devita mencium dan ******* bibirnya. "Ya, aku berangkat sekarang. Kau jangan pulang malam. Mungkin hari ini aku akan pulang sedikit terlambat. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."
Devita mengangguk patuh. "Ya, hati - hati Brayen,"
Kemudian Brayen berjalan meninggalkan kamar. Sedangkan Devita dia duduk di sofa, menunggu sampai Brayen pergi. Rasanya, dia merasa bersalah harus berbohong pada Brayen. Perasaan takut dan tidak nyaman yang kini Devita rasakan. Devita tidak ingin berbohong, tapi jika Devita mengatakan yang sebenarnya Brayen pasti akan salah paham. Brayen masih beranggapan Devita masih mencintai Angkasa.
Devita mendekat ke arah jendela melihat mobil Brayen yang sudah meninggalkan mansion. Devita mengambil uang yang ada di brankas, agar Brayen tidak curiga. Setelah Devita bertemu dengan Angkasa, Devita harus berbelanja. Karena Devita sudah berbohong pada Brayen akan pergi ke mall untuk membeli makeup. Saat nanti Devita pulang kerumah dia harus membawa shopping bag yang berisikan make up.
Devita mengambil kunci mobilnya dan tas, lalu berjalan meninggalkan kamar. Untungnya Devita masih di perbolehkan untuk membawa mobil sendiri. Setidaknya, jika Devita membawa mobil sendiri, dia masih bebas pergi kemana pun. Tapi jika dengan sopir, Devita akan merasa Brayen membatasi setiap pergerakannya.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.