Love And Contract

Love And Contract
Tidak Ingin Di Ganggu



"Aku tidak memikirkan apapun Devita." jawab Laretta yang berusaha untuk menutupi sesuatu dari Devita.


Devita mendesah pelan, ia tahu apa yang di pikirkan oleh Laretta saat ini. Ia yakin pasti Laretta sudah melihat berita kemarin. " Kau sudah melihat berita tentang perusahaan Angkasa?" tanya Devita kembali, ia menatap lekat wajah Laretta.


Laretta mengangguk, " Ya, aku sudah melihat perusahan milik Angkasa sedang ada masalah. Angkasa gagal dalam proyek ini. Entah kenapa beberapa hari ini perasaanku memang sangat tidak enak. Ternyata Angkasa sedang dalam masalah besar. Apa yang harus aku lakukan Devita? Aku tidak mungkin mampu untuk membantunya?"


"Kau tenang lah Laretta, aku sangat yakin Angkasa pasti mampu untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik." kata Devita yang berusaha untuk menenangkan Laretta.


"Tapi bagaimana bisa Devita? Sedangkan waktu yang di berikan oleh Kakakku tinggal beberapa hari saja. Aku tidak yakin, dia bisa menyelesaikan semuanya." ujar Laretta cemas.


"Kau tenang saja Laretta, aku yakin semuanya akan berjalan dengan baik." ucap Devita dan Laretta pun mengangguk.


"Ya sudah, Laretta. Aku harus berangkat ke kampus dan hari ini aku akan pulang sedikit terlambat. Aku akan mengunjungi Dad David dan Mom Rena," ujar Devita.


"Terima kasih, Devita." balas Laretta.


"Sudah ku katakan, jangan berterima kasih." Devita beranjak dari tempat duduknya, ia mengambil tas dan juga kunci mobilnya. " Aku berangkat," pamit Devita.


Laretta tersenyum. "Hati - hati Devita."


Devita mengangguk kecil, lalu berjalan meninggalkan ruang makan. Sepulang kampus memang dia ingin mengunjungi rumah mertuanya.


...*****...


"Tuan," sapa Albert saat masuk kedalam ruang kerja Brayen.


"Ada apa?" tanya Brayen dingin tanpa menoleh ke arah Albert.


"Dana sebesar dua milyar sudah di cairkan dan sudah saya proses pada Nakamura company," ujar Albert.


"Kau ingat, nama investornya harus mencantumkan nama adikku bukan?" tanya Brayen, ia kini menatap lekat Albert yang berdiri di hadapannya.


Albert mengangguk, "Sudah Tuan. Saya memasukkan nama Nona Laretta sebagai investor yang ada di sana." jelas Albert.


"Good. Kalau begitu, jangan sampai ada yang tahu mengenai hal ini. Jika mereka bertanya, cukup kau katakan Laretta yang memintamu," balas Brayen.


"Baik, Tuan." jawab Albert.


"Hem Tuan. Saya juga ingin melaporkan tentang Ruby?" ucap Albert.


"Apa yang ingin kau katakan tentang wanita itu, Albert?" tukas Brayen dingin.


"Para pengawal sudah menyiksanya cukup berat, Tuan. Selanjutnya, apakah Tuan ingin menyerahkan Ruby ke kantor polisi?" tanya Albert hati - hati.


"Ya, kau serahkan dia kekantor polisi dan buat dia membusuk di dalam penjara. Penipuan, memalsukan identitas, dan berencana untuk membunuh istriku. Buatlah dia mendekam dan membusuk di penjara!" Tukas Brayen.


"Baik Tuan, saya akan segera melakukan semuanya." jawab Albert.


"Kau kembalilah ke ruanganmu, karena hari ini ini aku tidak ingin di ganggu. Katakan juga pada Raisa, aku tidak ingin di ganggu. Kosongkan jadwalku tiga jam kedepan." ujar Brayen.


"Baik Tuan," Albert menunduk lalu ia undur diri dari ruang kerja Brayen.


Brayen menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya, ia memejamkan matanya sebentar, tadi malam, ia memang berdebat dengan Devita, meski sebenarnya dia tidak menginginkan perdebatan itu. Ia membiarkan Devita berasumsi dengan segala yang ada di pikiran istrinya. Brayen tidak suka menceritakan sesuatu yang masih dalam rencana.


...***...


Olivia yang baru saja menyelesaikan mata kuliahnya, ia melihat Devita yang sudah berada di depan kelas. Dengan cepat Olivia pun langsung berlari ke arah Devita. "Devita!!" Teriak Olivia kencang.


Devita membuang napas kasar. " Ini bukan hutan Olivia Roberto!"


Olivia tersenyum lebar. "Aku hanya ingin kau mendengarku."


"Sudahlah, lebih baik kita pergi ke kantin. Aku sedang ingin makan ice cream di kantin." kata Devita dan Olivia pun mengangguk setuju. Kemudian mereka berjalan menuju ke kantin.


Seperti biasa Olivia memesan ice cream rasa matcha untuknya. Sedangkan Devita memilih rasa vanila dan cokelat. Mereka memilih untuk duduk di ujung, terlebih Devita ia tidak suka jika harus di ganggu oleh seniornya.


"Kau kenapa Devita? Wajahmu terlihat sedang memikirkan sesuatu," ucap Olivia yang sedang memperhatikan wajah Devita.


"Apa kau tidak melihat berita yang kemarin?" tanya Devita.


Olivia mengerutkan dahinya. "Memangnya ada berita apa?" Olivia langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam tas, lalu melihat berita yang terbaru. Saat Olivia mencari berita yang terbaru matanya langsung membulat sempurna. Ia kembali membaca berita ulang yang ada di internet.


"Devita, perusahaan Angkasa kenapa?" tanya Olivia setelah ia membaca berita di internet.


"Brayen mengajukan persyaratan, dia meminta Angkasa untuk mengembangkan perusahaannya dalam waktu kurang dari satu bulan. Terakhir aku dengar, kalau Angkasa menjalankan sebuah proyek dan ternyata gagal. Sekarang, kondisi perusahaan Angkasa sedang dalam masalah. Aku jadi tidak enak dengan Angkasa, ini karena permintaan dari Brayen yang tidak masuk akal itu. Bagaimana bisa Angkasa di berikan waktu kurang dari satu bulan. Memangnya semua orang itu seperti Brayen." tukas Devita kesal.


"Lalu apa yang kau lakukan, Dev? Apa Laretta juga sudah mengetahui berita ini?" tanya Olivia.


"Ya, Laretta sudah mengetahui tentang berita ini. Dan tadi pagi Laretta terlihat begitu muram. Aku kasihan padanya." jawab Devita.


"Apa kau akan membantu, Angkasa?"


"Aku tidak tahu, Olivia. Bukannya aku tidak mau membantu, tapi pastinya Angkasa sedang membutuhkan dana yang besar untuk menjalankan perusahaannya. Sedangkan aku, tidak memiliki uang sebanyak itu. Semua uang itu milik Brayen. Jika aku ingin mencairkan dana besar, tetap harus ada persetujuan dari Brayen."


"Kenapa kau tidak meminta Brayen untuk membantumu?"


Devita mendengus kesal. "Aku tadi malam sudah berdebat dengan Brayen. Meminta dia paling tidak untuk memikirkan perasaan Laretta. Tapi dia malah mendiamkan aku. Bahkan tadi pagi, dia berangkat lebih awal."


"Hem, apa kau akan meminta bantuan lagi pada Ayahmu?" tanya Olivia hati - hati.


"Tidak mungkin Olivia. Aku tidak mungkin meminta bantuan kepada Ayahku. Brayen akan tahu, dan Brayen pasti akan sangat marah padaku. Aku sungguh sangat kasihan pada Angkasa jika perusahaanya sampai hancur. Ini karena Brayen yang selalu bertindak sesukanya. Memangnya semua orang bisa seperti dirinya." tukas Devita kesal.


"Kalau begitu kau harus mencoba untuk membujuk Brayen." ucap Olivia.


Devita mengangguk. "Ya, aku akan mencobanya, semoga kali ini dia mau mendengarkan aku."


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.