
Brayen mengumpat keras, dia menajamkan matanya pada Felix. Tanpa menjawab dia menekan tombol interkom. Dia meminta Albert, untuk masuk kedalam ruang kerja.
"Tuan," sapa Albert, menundukkan kepalanya, saat melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen.
"Tuan Felix," sapa Albert, saat melihat Felix ada di ruang kerja Brayen.
Felix tersenyum "Hi, Albert, apa kabar?"
"Baik Tuan, bagaimana denganmu?" tanya Albert.
"Seperti yang kau lihat, aku baik." jawab Felix.
"Albert, kau turuti keinginan Felix. Sepupuku yang bodoh ini akan mengerjaimu dengan permintaannya yang juga bodohnya."
Felix tidak memperdulikan ucapan dari Brayen, dia langsung mengalihkan pandangannya pada Albert. "Aku mohon bantuanmu, Albert. Tolong carikan bunga mawar yang berwarna biru dan hijau. Temukan dalam Minggu ini, aku butuh itu secepatnya. Dan juga tolong aturkan pertemuan untukku dengan Alvaro Samudera."
Albert, mengerutkan keningnya. " Maaf Tuan, tapi untuk bunga mawar berwarna biru dan hijau apa itu ada? Karena saya tidak terlalu tahu tentang bunga, Tuan? Dan untuk janji temu dengan Tuan Alvaro Samudera sepertinya tidak bisa dalam minggu ini, karena yang saya tahu dari Sekretaris Rafael, Tuan Muda Alvaro sedang pergi berbulan madu."
Felix membuang napas kasar, " Kau jangan bertanya padaku. Aku sendiri tidak tahu apa itu ada atau tidak! Ini karena demi mendapatkan wanita yang aku inginkan. Dia memberikanku syarat yang aneh. Bayangkan, dia memintaku untuk membawakan bunga berwarna mawar biru dan hijau. Kenapa dia tidak sekalian meminta bunga yang berwarna pelangi?"
Brayen menggeleng pelan dan tersenyum, "Mungkin dia ingin menolakmu secara halus, karena kau selalu memaksa dirinya. Dan untuk Alvaro lebih baik kau menunggu saja sampai dia pulang dari bulan madu, karena sekarang aku tidak bisa membantumu."
Felix mendengus kesal. " Jaga bicaramu, Brayen Adams Mahendra! Tidak mungkin Olivia menolakku!"
Brayen mengedikkan bahunya. " Kita lihat nanti."
Felix tidak memperdulikan Brayen dia kembali menoleh ke arah Albert. "Albert aku mohon, kau segera temukan bunga mawar berwarna biru dan hijau yang aku minta. Dan untuk pertemuanku dengan Alvaro Samudera aku akan sabar menunggunya sampai dia pulang dari bulan madu,"
"Baik Tuan, saya akan berusaha untuk mencarinya." jawab Albert menundukkan kepalanya.
...***...
Devita menatap Olivia yang sedang duduk di taman, sejak tadi Olivia selalu melamun. Kemudian Devita melangkah mendekat ke arah Olivia, bahkan Olivia tidak menyadari kehadirannya. Devita duduk di hadapan Olivia, dia menatap sahabatnya yang tengah melamun.
"Olivia," panggil Devita, yang membuat Olivia menghentikan lamunannya. Olivia sedikit terkejut, ketika Devita sudah berada di hadapannya.
"Kau mengejutkanku, Devita! Apa kau ingin aku mati muda?" seru Olivia kesal.
Devita mendengus, "Padahal, kau tadi yang melamun! Kenapa aku yang di salahkan?"
"Maaf, aku sedang banyak pikiran." balas Olivia.
"Kau memikirkan apa?" tanya Devita ingin tahu.
"Felix, sepupu suamimu itu." jawab Olivia.
Devita tersentak, dia menatap Olivia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengarnya. "Kau memikirkan Felix? Kau sedang tidak bercanda kan?"
"Tidak mungkin aku bercanda di saat yang seperti ini, Devita?" ucap Olivia ketus.
"Baiklah, sekarang ceritakan padaku, kenapa kau bisa memikirkan Felix?" tanya Devita yang hingga detik ini masih belum mengerti.
"Tadi malam, Felix memintaku untuk jujur pada perasaanku." ucap Olivia.
Devita menatap lekat Olivia. " Lalu, apa yang ingin kau katakan?"
"Aku akan menerimanya, tapi dengan dua syarat?"
"Syarat pertama aku meminta Felix untuk mempertemukanku dengan Tuan Muda Alvaro. Dan syarat yang kedua aku meminta Felix untuk mencari bunga mawar berwarna biru dan juga hijau. Aku tahu, itu sangat langka. Tapi aku tidak perduli. Aku memintanya untuk membawakan itu padaku. Lalu aku juga meminta dia untuk membangun taman, yang di penuhi oleh bunga di mansionku nanti," kata Olivia yang menceritakan semua syarat yang dia inginkan pada Felix.
Devita tersentak mendengar permintaan dari Olivia yang luar biasa aneh ini. Tidak pernah terpikir oleh Devita, permintaan Olivia sungguh ajaib seperti ini.
"Apa kau ini sudah gila Olivia? Meminta Felix untuk mempertemukanmu dengan Alvaro Samudera? Dan meminta Felix untuk membawakan dua mawar yang berwarna langka itu? Kenapa kau tidak mengunjungi taman bunga saja, jika mencari yang aneh- aneh!" Devita menggelengkan kepalanya, benar - benar permintaan Olivia ini sungguh aneh.
Olivia mengangkat bahunya acuh. " Kau tahu sendiri kan Devita, aku sangat mengidolakan Tuan Muda Alvaro, lagian jika aku bisa bertemu dengannya aku hanya ingin berfoto dan minta tanda tangannya tidak lebih . Dan Jika memang Felix serius padaku, maka dia harus menemukan bunga itu.Karena memang aku sedang mengujinya. Setidaknya dengan dia berjuang, aku jadi tahu, sebesar apa kesungguhannya padaku,"
Devita mendengus kesal, "Kenapa kau tidak sekalian meminta bunga Raflesia Arnoldi? Kau ini benar - benar gila, Olivia!"
"Ah! Kau benar Devita. Kenapa aku tidak sekalian meminta bunga Raflesia Arnoldi saja? Itu artinya dia harus berpetualang ke hutan, bukan? Untuk mencari bunga itu!" Raut wajah Olivia sumringah bahagia. Seketika otaknya mulai bekerja. Benar apa yang di katakan oleh Devita.
Devita membuang napas kasar. " Sudahlah, lebih baik kita makan cake! Kepalaku mulai sakit berbicara denganmu!"
Olivia tersenyum lebar. " Kau benar, lebih baik kita makan cake,"
Olivia memeluk lengan Devita, berjalan meninggalkan kampus menuju ke kafe terdekat. Devita dan Olivia memang pencinta makanan manis. Beruntung keduanya memiliki tubuh yang kecil.
Tanpa mereka sadari seseorang dari dalam mobil sport berwarna merah terus menatap Devita dan juga Olivia yang tengah tertawa.
...***...
Pagi itu, hujan begitu deras. Devita yang masih tertidur lelap, terlebih hujan yang turun membuat Devita enggan untuk membuka matanya. Devita bisa merasakan suara deras air hujan. Beruntung, tidak ada kilatan petir, jika saja Devita mendengar suara petir, sudah pasti ia akan melompat dari ranjang dan segera bersembunyi.
Terdengar bunyi alarm yang cukup keras, dan Devita pun mengumpat di dalam hati. Dia mulai mematikan alarm di ponselnya, lalu melirik ke arah jam dinding kini sudah pukul jam sembilan pagi. Dan hari ini, Devita tidak memiliki jadwal kuliah, itu kenapa dia lebih bersantai.
Devita beranjak dari ranjang mengikat asal rambutnya dan berjalan menuju ke arah kamar mandi. Namun, langkah Devita terhenti ketika mendengar ponselnya berdering. Devita pun membalikkan tubuhnya mengambil ponselnya di atas nakas. Dia menatap ke layar nomor yang tidak kenal. Devita pun mengerutkan keningnya, menatap nomor yang tidak kenal itu. Akhirnya Devita lebih memilih untuk menerima panggilan itu, dia mengusap layar ponsel itu sebelum kemudian menempelkan ponselnya ke telinganya.
"Hallo?" sapa Devita panggilannya terhubung
"Devita, apa aku sudah menganggumu?" suara bariton terdengar dari sebrang telepon.
"Maaf, kau siapa?" tanya Devita dia berusaha untuk mengenali pemilik suara ini. Karena Devita merasa tidak asing dengan pemilik suara yang ini, tapi dia tetap tidak bisa mengingat siapa pemilik suara."
"Aku Edgar, apa aku menganggumu?"
Devita menaikan alisnya." Kau Edgar Rylan Wilson."
"Ya, aku Edgar Rylan Wilson. Apa aku mengganggumu?"
"Ada hal apa kau menghubungiku, Edgar?" tanya Devita, dia sedikit bingung kenapa Edgar menghubunginya.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.