
Mobil Devita mulai masuk kedalam halaman parkir mansion milik Olivia. Devita turun dari mobil, dia melangkah masuk kedalam mansion milik sahabatnya itu. Saat Devita melangkah masuk, dia sudah di sambut oleh Olivia yang berdiri di ambang pintu. Olivia tersenyum, ketika melihat Devita sudah datang.
"Kau di antar sopir?" tanya Olivia saat Devita sudah berada di hadapannya.
Devita mengangguk. "Ya, aku di antar sopir?"
"Ya sudah, kita masuk ke dalam saja. Nanti pelayanku akan membawakan barang - barangmu." Olivia memeluk lengan Devita, membawa sahabatnya itu masuk ke dalam kamar.
"Sebenarnya ada apa, Devita? Tidak biasanya kau menginap di tempatku. Sejak kau menikah, kau bahkan tidak pernah menginap di tempatku," ujar Olivia yang kini tengah duduk di sofa kamarnya.
"Kandunganku lemah, terlalu banyak hal yang membebani pikiranku. Jika aku masih di rumah, aku akan terus memikirkan masalah yang ada. Dan aku tidak ingin membahayakan anakku," jawab Devita.
"Kau masih bertengkar dengan Brayen?" tanya Olivia yang menatap lekat Devita yang sedang duduk di sampingnya.
"Tidak," jawab Devita sambil menggelengkan kepalanya. "Brayen sudah pulang, dia juga sudah meminta maaf." sambung Devita.
"Jika Brayen sudah meminta maaf, kenapa kau menjauh darinya?" Olivia mengerutkan dahinya menatap bingung Devita.
"Aku sudah mengatakan padamu, aku tidak marah pada Brayen." balas Devita. "Aku memang kecewa dengan sikapnya yang mendiamkanku begitu lama. Tapi aku tidak marah padanya. Jika aku masih marah, masalahku dan Brayen tidak akan pernah selesai hingga detik ini. Aku hanya ingin menenangkan pikiranku. Dengan aku berada jauh dari rumah, setidaknya aku bisa memikirkan hal lain."
"Ya sudah, nanti sore kita ke restoran terdekat dengan rumahku. Di sana, mereka memiliki steak yang sangat enak." ujar Olivia. "Selama kau disini, jangan lagi pikirkan masalahmu. Buatlah dirimu melupakan sejenak segala hal yang membebani pikiranmu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada keponakanku."
Devita tersenyum, "Kau benar, aku juga akan melupakan sejenak masalahku."
"Apa kau ingin berenang?" tawar Olivia.
"Aku pikir, itu bukan ide yang buruk." jawab Devita.
"Alright, let's go." Olivia dan juga Devita beranjak dari tempat duduk mereka, dan berjalan keluar kamar menuju ke arah kolam renang.
...***...
Setelah berenang, Olivia dan juga Devita menghabiskan waktu bersama dengan menonton film kesukaan mereka. Canda dan tawa menghiasi di kedua wanita itu. Devita sangat bersyukur selalu memiliki seorang sahabat yang selalu berada di sisinya. Setidaknya, Devita bisa melupakan sejenak segala permasalahan yang tidak bisa lepas dari pikirannya.
Kini Devita mematut cermin, dia tengah bersiap - siap. Karena sore ini, dia akan makan bersama di salah satu restoran yang tidak jauh dari rumah milik Olivia.
"Olivia, apa kita bisa pergi ke restoran dengan berjalan kaki? Aku sedang malas naik mobil." kata Devita sembari merapihkan rambutnya.
"Kau yakin?" Olivia menatap tak percaya dengan apa yang di katakan oleh sahabatnya itu. "Apa kau tidak lelah? Kau itu sedang hamil, Devita?"
Devita mendengus. "Aku sedang hamil Olivia, bukannya sedang sakit. Lagi pula Dokter Keira
pernah mengatakan padaku, wanita hamil sangat di sarankan untuk berjalan kaki."
"Ya sudah, terserah kau saja." balas Olivia. "Lebih baik kita berangkat. Aku sudah sangat lapar."
Devita mengangguk setuju, kemudian dia memeluk lengan Olivia sambil berjalan keluar kamar menuju ke arah restoran yang sudah Olivia pilih sebelumnya.
"Olivia, apa hari ini Felix tidak datang ke rumahmu?" tanya Devita sambil menikmati makanannya.
"Tidak," Olivia menggelengkan kepalanya. "Belakangan ini, Felix sangat sibuk. Jadi aku rasa dia tidak kerumahku karena mengurus beberapa pekerjaannya."
"Para pria memang sangat bekerja keras." balas Devita. "Apa nanti setelah kau lulus, kau akan langsung bekerja di perusahaan Felix?"
"Aku rasa, aku akan langsung bekerja di perusahaan milik Felix. Karena jika tidak, kau tahu sendiri, orang tuaku akan memintaku untuk pulang ke Kanada." ujar Olivia dengan nada kesalnya.
Devita mengulum senyumannya. "Jadi, kau sungguh tidak ingin pulang ke Kanada? Jika kau tidak ingin pulang ke Kanada, lalu siapa yang akan mengurus perusahaan milik keluargamu yang ada di sana." Devita meletakkan gelas di tempat semula. Kemudian, dia kembali melanjutkan menyantap rib steak yang ada di hadapannya.
"Kenapa kau tidak meminta bantuan, Felix?" tanya Devita.
"Posisiku berbeda denganmu, Devita." jawab Olivia. "Brayen membantumu karena memang kau sudah menjadi tanggung jawabnya. Kau istrinya, jadi memang sudah seharusnya Brayen membantumu dalam mengurus perusahaan keluargamu. Sedangkan aku? Aku hanya kekasih Felix. Aku tahu, Felix pasti akan selalu membantuku. Hanya saja, aku tidak enak dengan Felix yang selalu membantuku. Seluruh tagihanku saja sudah dia bayarkan. Aku tidak ingin terlalu banyak merepotkan Felix."
"Kalau begitu, kau bisa menikah dengan Felix." balas Devita. "Jika kau sudah menikah dengan Felix, tentu kau sudah menjadi tanggung jawab Felix. Tidak perlu lagi, kau merasa tidak enak pada Felix. Karena memang, kau sudah menjadi bagian dari tanggung jawab Felix."
Olivia membuang napas kasar. "Kau saja yang sudah menikah tapi masih sering bertengkar. Kepalaku ini sampai ikutan sakit mendengar kau dan Brayen sering bertengkar. Lebih baik aku menunggu satu atau dua tahun lagi. Setelah itu aku akan menikah dengan Felix."
"Jangan menyamakanku dengan hubunganmu dan Felix," ujar Devita. "Yang jelas, Brayen dan Felix itu memiliki sifat yang berbeda jauh. Kau sangat tahu, seperti apa sifat suamiku itu. Jadi kau dan Felix tidak mungkin sama."
"CK! Meski mereka memiliki sifat yang berbeda tapi tetap saja. Kenyataannya juga aku sering bertengkar dengan Felix, hanya karena masalah kecil," jawab Olivia. "Rasa cemburu Felix terkadang membuatku pusing. Itu kenapa aku lebih memilih untuk menunggu satu hingga dua tahun lagi."
Devita mendesah pelan. "Ya, baiklah terserah kau saja. Terpenting kau harus ingat, selama ini Felix sudah menunggumu lama."
"Aku selalu mengingatnya. Tidak pernah ada pria yang mencintaiku seperti Felix." balas Olivia. "Devita, rencananya besok aku akan pergi ke toko jam. Aku ingin membelikan jam tangan untuk Felix. Selama ini, Felix selalu memberikanku banyak barang - barang mewah. Aku ingin membelikannya sesuatu. Apa kau mau ikut denganku?"
"Toko jam?" Devita menautkan sebelah alisnya. "Apa toko jam yang kau maksud itu, toko jam milk Raymond Bautista?"
Olivia meringis. "Ya, toko jam yang terkenal, kau tahu itu milik Davin Bautista dan Raymond Bautista."
"Kalau begitu, aku tidak bisa ikut Olivia?" jawab Devita. "Aku tidak ingin Brayen berpikir yang tidak - tidak padaku. Aku meninggalkan rumah sejenak, dan bukannya ingin menambah masalah baru. Jika aku datang ke toko jam milik Raymond Bautista dan Brayen tahu pasti dia berpikir aku sedang menemui pria itu."
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.