
Devita dan Brayen kini berada di dalam kamar mereka. Devita memutuskan untuk membersihkan diri lebih dulu dan jika tidak, Brayen akan meminta mandi bersama. Devita tahu, jika mereka mandi bersama itu tidak akan pernah sebentar.
Setelah, Devita baru saja selesai membersihkan diri, dia juga sudah mengganti pakaiannya dengan gaun tipis motif brokat berwarna putih. Kemudian, dia duduk di ranjang dengan punggung yang bersandar di kepala ranjang.
Brayen yang masih fokus dengan iPadnya, dia tidak menyadari jika Devita sudah selesai mandi. Brayen menoleh saat merasa ada yang duduk di sampingnya. Saat Brayen melihat Devita sudah berada di sampingnya, dia sudah meletakkan iPadnya di atas nakas, lalu mengecup kening Devita. " Kau sudah selesai?" tanyanya.
Devita mengangguk, " Sudah, aku sudah selesai mandi. Kau mandilah, Brayen. Aku akan menyiapkan pakaian untukmu"
Brayen mendekatkan bibirnya ke bibir Devita, lalu mengecup dengan singkat bibir Devita. "Ya, aku akan mandi," jawabnya, lalu dia beranjak dan berjalan menuju ke arah kamar mandi.
Melihat Brayen, sudah berjalan menuju ke arah kamar mandi. Devita langsung bangun menuju ke arah wardrobe tidur pakaian milik Brayen. Devita memilih celana panjang dan kaos berwarna hitam. Meski Devita yakin, pasti Brayen memilih untuk tidak memakai kaos. Karena Brayen memang suka sekali memperlihatkan dada bidang dan otot perutnya yang sangat menggoda itu.
Setelah menyiapkan pakaian untuk Brayen, Devita meletakkannya di atas sofa. Lalu dia melangkah menuju ke arah ranjang dan duduk kembali ke ranjang. Pikiran Devita kini mengingat, apa Brayen mengingat besok adalah hari ulang tahunnya? Namun, rasanya tidak mungkin, jika pria seperti Brayen mengingat hal seperti itu. Selama Devita menikah dengan Brayen, suaminya itu tidak pernah romantis.
Tidak lama kemudian, Brayen sudah selesai membersihkan diri. Dia juga sudah memakai pakaian yang sudah di siapkan oleh Devita. Hanya saja, seperti biasa Brayen tidak memakai kaos. Devita sudah tahu itu, pasti Brayen tidak akan memakai kaos.
Brayen melangkah mendekat ke arah ranjang dan membaringkan tubuhnya. Dia menarik Devita untuk ikut berbaring. Tanpa di minta, Devita langsung meletakkan kepalanya bersandar di dada bidang suaminya. Ini sudah seperti kebiasaan Devita yang tidak mungkin terlupakan.
"Bagaimana harimu di kantor?" tanya Devita, sembari mengusap pelan dada bidang suaminya.
"Ya, semuanya berjalan dengan baik. Beberapa hari kedepan mungkin aku akan jauh lebih sibuk. Aku memiliki banyak kerjasama dengan perusahaan luar," Brayen mengecup kening Devita.
Devita mengangguk paham. "Brayen, tadi aku menghubungi Mom Rena. Daddy David sekarang sudah berada di rumah, kan? Aku merindukan mereka," ucapnya seraya menghela nafas dalam.
"Nanti, jika waktunya tepat, kita akan kesana. Saat ini, biarkan mereka untuk beristirahat," Brayen mengecup lembut bibir Istrinya itu.
"Ya, aku tahu itu. Mom Rena juga bilang, dia menitipkan Laretta pada kita. Dia juga meminta kita untuk menjaga Laretta. Saat ini Mom Rena dan Dad David, masih belum bisa untuk menemui Laretta," terang Devita yang menceritakan pembicaraannya dengan ibu mertuanya.
"Biarkan seperti itu, aku yang akan menangani semuanya. Laretta akan tetap di sini, dia akan tetap dalam pengawasanku," jawab Brayen datar.
"Brayen, aku ingin mengatakan sesuatu padamu?" kata Devita dengan hati - hati.
Brayen mengerutkan keningnya, menatap Devita dengan lekat. " Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Tapi kau harus berjanji, kau tidak boleh marah. Kau tidak boleh curiga, dan tidak jelas seperti sebelumnya." gerutu Devita.
"Ya, aku berjanji. Apa yang ingin kau katakan?" Brayen menarik dagu Devita, dia menatap lekat manik mata Istrinya itu.
Devita sengaja mengatakan ini, karena dia ingin Brayen memberikan kesempatan kepada Angkasa. Bagaimanapun anak yang di kandung oleh Laretta adalah anak Angkasa. Devita ingin, Brayen menerima semua itu. Setidaknya Angkasa adalah pria yang sangat baik. Devita sangat yakin, jika Angkasa tidak akan pernah melukai Laretta. Angkasa akan menjaga Laretta dan anaknya dengan baik.
Brayen membuang napas kasar, "Devita, aku ingin bertanya kepadamu, kenapa kau begitu yakin, pria itu akan menjaga dan melindungi Laretta dengan baik?"
"Brayen, bukan maksudku untuk membela Angkasa. Tapi kau bisa menganggap kami adalah teman masa kecil. Dia adalah pria yang sangat baik. Aku yakin, dia akan menjaga dan melindungi Laretta juga anaknya dengan sangat baik. Jika kau masih meragukannya. Kau bisa menyelidiki dengan baik, tentang kehidupan Angkasa," jelas Devita, dia memang tahu, Angkasa itu pria yang baik. Setidaknya Brayen harus memberikan kesempatan agar Angkasa bisa membuktikannya.
"Aku masih belum yakin sepenuhnya. Beberapa hari yang lalu, dia memang datang ke kantorku. Pria itu mengatakan padaku, jika dia ingin belajar untuk mencintai Laretta. Aku masih ingin mencari tahu tentang dirinya. Aku tidak mungkin dengan mudahnya melepaskan adikku, Laretta" tukas Brayen dingin.
Devita mendongakkan kepalanya, dari dalam pelukkan Brayen dan tersenyum. "Jadi, kau akan memberikan Angkasa kesempatan?"
Wajah Brayen berubah tidak suka dengan ini semua. "Aku belum tahu, aku hanya ingin melihat sebatas mana kemampuan yang di miliki olehnya, hingga berani meminta adikku untuk menikah dengannya. Laretta hamil, bukan alasan bagiku untuk menikahkan dirinya dan Laretta. Aku ingin yang terbaik untuk Laretta. Pria yang akan menjadi pendamping hidup adikku adalah pria yang hebat dan pria yang bertanggung jawab. Tidak hanya itu, Pria itu juga mampu melindungi adikku dengan baik."
Devita mendesah pelan, " Aku tahu Brayen, tapi aku meminta padamu. Kau harus memberikannya kesempatan, untuk dia bisa membuktikan dirinya. Aku juga tahu, kau sangat menyayangi Laretta. Karena bukan hanya kau saja. Aku juga sangat menyayangi Laretta. Aku ingin dia mendapatkan yang terbaik di hidupnya."
Brayen mengecup pucuk kepala Devita. "Biarkan dia membuktikan dirinya, jika dia memang pantas untuk adikku. Aku masih memerlukan waktu untuk menilai dia. Aku harap kau mengerti."
Devita menyentuh rahang Brayen. " Ya, aku paham. Aku juga sangat mengerti. Aku tahu, kau menginginkan yang terbaik untuk Laretta,"
Brayen menyentuh tangan Devita dan mengecupinya. " Lebih baik, kita tidur sekarang, besok kau harus pergi kuliah. Aku juga ada meeting di pagi hari."
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.