Love And Contract

Love And Contract
Ulang Tahun Brayen



Brayen melihat arlojinya kini sudah pukul dua siang. Dia sudah terlambat tiga puluh menit. Tapi Brayen tidak perduli. Karena ini memang bukan kesalahannya. Rekan bisnisnya yang tiba-tiba yang merubah tempat meetingnya.


Brayen melangkah menuju restoran yang ada di dalam hotel. Sedangkan sejak tadi, Albert terus berada di samping Brayen.


"Happy Birthday." suara berseru keras ketika Brayen masuk kedalam restoran. Seketika Brayen tersentak, melihat para karyawannya berada di sana. Tidak, bukan hanya karyawan tapi Brayen menatap keluarganya juga ada di sana. Termasuk istrinya yang kini melangkah mendekat ke arahnya dengan membawakan sebuah cake.


"Albert-" Brayen ingin bertanya langsung pada Albert tapi rasanya sulit. Dirinya tidak mampu berkata-kata dengan apa yang dia lihat ini.


"Happy birthday, sayang." ucap Devita dengan senyuman di wajahnya. "Tiup lilinnya sekarang."


Brayen masih diam dan hanya menatap Devita, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat ini.


"Kakak ayo kita tiup lilinnya," seru Laretta dengan suaranya yang sedikit keras membuat Brayen menghentikkan lamunannya.


Brayen menatap Devita, dan terseyum tipis. Kemudian dia meniup lilin angka 28 di hadapannya. Suara tepuk tangan memenuhi ruangan itu.


Brayen mengambil cake yang ada di tangan Devita dengan tangan kanannya. Tangan kiri Brayen kemudian langsung memeluk pinggang Istrinya. Tanpa mempedulikan orang - orang Brayen langsung ******* bibir Istrinya.


"Brayen, kau ini banyak orang!"Devita mendorong pelan dada Brayen.


Brayen tersenyum. "Biarkan semua orang melihat kita!"


"Selamat ulang tahun, sayang." Rena mendekat dan memeluk Brayen.


"Selamat ulang tahun, son. Kau putra kebanggaan Daddy." David langsung mendekat dan memeluk Brayen.


Brayen tersenyum tipis mendengar ucapan kedua orang tuanya.


"Brayen, selamat ulang tahun sayang." seru Nadia yang kini memeluk Brayen. Begitu pun dengan Edwin yang memberikan ucapan selamat ulang tahun untuk Brayen, menantunya.


"Brayen, selamat ulang tahun. Semoga kau berubah tidak lagi mengancam ku dengan saham yang kau miliki di perusahann ku," seru Felix yang membuat semua orang tertawa.


"Selamat ulang tahun, Kakak Ipar. Di tahun-tahun berikutnya, aku akan selalu ada di pesta ulang tahunmu," sambung Angkasa. Brayen hanya memasang wajah datar dan dingin pada Angkasa.


"Tuan Brayen, selamat ulang tahun." seru Lee dan Nicholas bersamaan.


"Terima kasih, maaf meeting ini harus tertunda karena hal ini." balas Brayen.


"Tidak Tuan, kami sungguh senang turut hadir di pesta ulang tahun anda." ujar Mr. Lee. "Istri anda begitu mencintai anda, dia meminta kami dan rekan bisnis anda yang lain untuk hadir dalam pesta ulang tahun anda."


Brayen tersenyum. "Ya kau benar, dan aku beruntung memilikinya di hidupku."


Para rekan bisnis Brayen dan karyawan, bergantian mengucapkan selamat ulang tahun pada Brayen. David, Edwin, Rena dan Nadia. Membaur pada rekan bisnisnya mereka yang telah di undang oleh Devita.


"Tuan Brayen, selamat ulang tahun. Semoga kebahagiaan selalu hadir di hidup anda Tuan." ujar Albert seraya menundukkan kepalanya.


"Kau tahu ini semua, Albert?" suara Brayen terdengar begitu dingin.


"M.. maafkan saya, Tuan." jawab Albert gugup.


"Berani menutupi sesuatu dariku, apa kau ingin kehilangan pekerjaanmu?" tukas Brayen tajam.


"Brayen," tegur Devita pelan. "Albert hanya menuruti keinginanku saja."


"Kakak, jangan marah pada, Albert. Ini semua karenaku." Laretta langsung merengut meminta Brayen untuk memaafkan Albert.


"Tapi aku paling tidak suka, jika Albert menutupi sesuatu dariku!" Balas Brayen.


"Albert, kau tenang saja. Jika suamiku ini memecatmu, aku yang akan mempekerjakanmu. Aku akan memberikan gaji sepuluh kali lipat dari yang suamiku berikan padamu," ujar Devita.


"Kau ini bagaimana? Aku ini istrimu! Jelas aku kaya!" Devita mendengus kesal. Semua orang tertawa mendengar ucapan dari Devita. Bahkan Laretta dan Olivia terkekeh geli mendengar ucapan dari Devita.


Brayen memeluk pinggang Istrinya, merapatkan tubuhnya dengan tubuh Devita. "Jadi kemarin, kau mendiamkanku karena ini?" bisik Brayen di telinga Devita.


Devita terseyum, dia mengelus rahang suaminya. "Menurutmu bagaimana dengan Tuan Brayen?"


"Harus aku apakan kau ini, hem?" bisik Brayen tepat di depan bibir Devita.


"Brayen, banyak orang." Devita berusaha mendorong namun sia - sia karena Brayen mengeratkan pelukannya.


"Siapa yang memberimu saran untuk mendiamkan aku, hm?" Brayen kembali berbisik. Hingga membuat tubuh Devita meremang.


"Jawab aku, Devita..."


"Ini ideku sendiri Brayen." Devita mengurai pelukannya. Dia sungguh malu, karena sejak tadi dirinya itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana. Beruntung orang tuanya tengah mengobrol dengan para tamu.


"Benarkah?" Brayen terseyum miring. "Artinya, nanti malam kau harus memberikanku hadiah sekaligus mendapatkan hukuman."


"Eh?" Devita mengerjap. "Aku memang sudah memberikan hadiah untukmu. Nanti di rumah aku akan memberikannya. Tapi kenapa kau juga memberikanku hukuman? Aku hanya mendiamkanmu satu hari saja!"


Brayen mengedikkan bahunya acuh. "Meski kau hanya mendiamkan aku satu hari, kau tetap harus mendapatkan hukuman karena sudah berani mendiamkan suamimu."


Devita mendengus kesal. "Kau ini curang sekali Brayen! Kenapa memberikanku hukuman! Kau saja pernah mendiamkan aku!"


Brayen tersenyum, dia kembali memeluk pinggang Devita dan memberikan ******* di bibir Istrinya itu. Kini bibir mereka saling berpagutan. Devita sudah tidak lagi memperdulikan orang - orang yang melihat dirinya bersama dengan suaminya.


Laretta tersenyum bahagia melihat Brayen dan juga Devita. Angkasa memeluk pinggang Laretta. Dia tidak ingin kalah dengan Brayen dan juga Devita. Begitu pun dengan Felix dan Olivia, mereka terlihat begitu mesra di hadapan semua orang.


...***...


Setelah acara ulang tahun selesai, kini Brayen dan juga Devita sudah kembali ke rumah. Devita kembali memeluk lengan Brayen dan melangkah masuk kedalam kamar. Dan Devita pun sengaja memberikan hadiah untuk suaminya saat mereka sudah berada di dalam kamar. Devita bersyukur semua rencana dirinya dan Laretta berlangsung dengan sempurna.


Beruntung Laretta mau membantu Devita. Tidak hanya itu, Laretta juga sudah mengingatkan Devita ulang tahun suaminya. Sungguh memalukan, Devita mengingat ulang tahun Brayen masih bulan depan. Tapi kenyataannya salah. Jika saja Devita sampai melupakan ulang tahun suaminya sendiri, Devita pasti akan sangat malu pada suaminya.


Tiba - tiba Brayen dan juga Devita sudah berada di dalam kamar, tanpa di duga Brayen langsung menangkup pipi Devita dan ******* bibir istrinya itu. Tangan kanan Brayen mulai meremas pelan gundukan kembar di dada Devita hingga membuat Devita mendesah.


"Brayen, kau harus melihat hadiah dariku dulu." bisik Devita saat pagutan mereka terlepas.


Brayen menyapukan jemarinya ke bibir Devita. "Kau adalah hadiahku Devita. Memilikimu adalah hadiah terindah yang pernah aku miliki. Aku tidak menginginkan apapun. Aku hanya menginginkanmu."


Mendengar ucapan Brayen, sungguh membuat Devita tersenyum hangat. "Kau juga hadiah terindahku Brayen. Meski terkadang kau ini menyebalkan, tapi kau berhasil membuatku jatuh cinta padamu setiap harinya." Devita mengelus lembut rahang suaminya. Tatapannya tidak henti menatap Brayen. Brayen tersenyum tipis, dia ******* kecil bibir Devita.


Kemudian Devita mengurai pelukannya. "Tunggu sebentar, aku harus mengambil kado untukmu. Aku sudah menyiapkannya."


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.