
Seketika wajah Laretta berubah, "Tunggu Angkasa, jika tertera namaku menjadi investor di perusahaanmu. Itu artinya Kakakku Brayen yang akan membantumu. Karena hanya dia yang memiliki kuasa untuk mencairkan dana besar." lanjut Laretta.
"Brayen? Apa kau tidak salah? Bagaimana mungkin Kakakmu mau membantuku? Bukankah dia yang memberikan persyaratan itu. Jika dia membantuku, maka itu sama saja aku tidak lolos dari persyaratan yang dia berikan." balas Angkasa hatinya mulai memanas. Rasanya tidak mungkin jika Brayen membantunya. Tapi jika benar Brayen yang membantunya apa sebenarnya tujuan Brayen.
"Aku tidak tahu alasan Kakakku membantumu. Tapi jika memang tertera namaku sebagai investor, pasti itu adalah Kakakku. Dia hanya menggunakan namaku. Apa mungkin Kakakku memiliki permintaan lain, Angkasa?" ujar Laretta.
Angkasa membuang napas kasar. " Aku akan bertemu dengannya besok, aku akan bertanya apa tujuannya membantuku. Karena rasanya aneh, dia yang telah memberikan persyaratan. Dan ya, ku akui proyekku gagal, tapi kenapa dia membantuku?"
Pikiran Angkasa kini terus memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Terlebih jika benar Brayen membantunya, dia harus tahu apa tujuan dari Brayen.
Laretta tersenyum, " Aku memang tidak tahu pasti alasan Kakakku. Tapi ada hal yang harus
kau ketahui Angkasa, Kakakku memang terkenal begitu arrogant dan dingin. Dia juga sering keras padaku, tapi itu semua hanya bagian kecil dari dirinya. Sebenarnya dia sangat baik Angkasa."
"Kakakku pernah di khianati oleh sahabatnya. Sejak saat itu, Kakakku berubah menjadi semakin arrogant. Jika kau lihat dia hampir tidak pernah memiliki sahabat. Dia hanya dekat pada Albert, orang kepercayaannya dan Felix sepupuku. Bagi dia, teman hanya akan mengkhianati dirinya."
"Percayalah Angkasa. Apa yang selama ini kau nilai tentang Kakakku tidak sepenuhnya benar. Karena dia sebenarnya sangat baik.
Meski terkadang dia menutupi semua itu dengan sifat angkuhnya."
Angkasa mengelus pipi Laretta. "Aku tidak mungkin menilai buruk Kakakmu, Laretta. Aku harus pergi dan bertemu dengannya. Jaga dirimu baik-baik."
Laretta mengangguk, " Ya Angkasa, hati - hati. Ingat, jangan perdulikan sifat angkuh Kakakku."
"Aku sudah biasa dengan keangkuhannya." balas Angkasa, dan Laretta mengulum senyumannya.
...***...
Devita mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia baru saja mengujungi rumah mertuanya. Beruntung kini keadaan mertuanya sudah lebih baik. Dad David sudah mulai pulih, hanya saja Devita tahu Ayah mertuanya itu masih enggan membahas tentang Laretta. Devita pun mengerti jika Dad David pasti sangat kecewa pada Laretta, tapi setidaknya tadi ibu mertuanya itu masih berpesan padanya untuk menjaga Laretta. Mom Rena memang sosok wanita yang baik dan juga lembut. Devita yakin, jika Ayah mertuanya itu suatu saat akan memaafkan dan menerima Laretta kembali.
Ketika Devita ingin membelokkan mobilnya menuju mansionnya, ia memutar balik mobilnya. Rasanya mengunjungi suaminya di sore hari bukanlah hal buruk. Terlebih kemarin, ia berdebat dengan Brayen. Kali ini Devita akan mencoba lagi untuk membujuk suaminya. Devita pun memutar arah, ia menuju ke perusahaan milik Brayen.
Saat Devita tengah menyetir terdengar dering ponsel miliknya. Ia mengambil ponsel miliknya dan menatap layar, tertera nama Olivia. Devita berdecak kesal, kenapa temannya itu selalu saja menganggunya.
"Ya, Vi." jawab Devita saat panggilannya terhubung.
"Devita! Tolong, aku di culik!" Suara teriakan Olivia begitu kencang dari sebrang telepon.
Devita mendengus. " Tidak ada yang mau menculikmu, Olivia! Kau kan makan banyak, orang yang menculikmu pasti akan rugi jika menculikmu."
Olivia mengumpat dari balik teleponnya. "Sepupu dari suamimu ini tidak sopan telah menculikkku dan memaksaku untuk ikut dengannya."
Devita terkekeh geli. "Sudahlah, itu namanya bukan menculikmu tapi berusaha untuk mendapatkanmu."
"Devita! Tapi tidak begitu caranya, sekarang dia sedang membopongku dan memaksaku untuk masuk ke dalam mobil! Bukankah itu namanya penculikan! Dan sekarang kepalaku sudah mulai pusing karena dia membopongku seperti karung beras!" Seru Olivia.
"Kau jangan berisik Olivia! Aku sedang menyetir mobilku. Lebih baik kau meminta Felix untuk membawamu ke tempat yang indah. Pasti rasa pusingmu akan cepat hilang." balas Devita.
"Devita!!" Geram Olivia.
Tanpa menghiraukan, Devita langsung menutup panggilan teleponnya. Jika dia masih mendengarkan gerutuan dari sahabatnya itu, bisa - bisa telinganya bisa sakit.
...***...
Devita memarkirkan mobilnya di perusahaan milik Brayen, ia turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam perusahaan. Para karyawan yang melihat Devita, mereka langsung menyapa dan menundukkan kepalanya. Devita membalas mereka dengan senyuman ramah. Devita melangkah masuk ke dalam lift pribadi yang sering di gunakan oleh Brayen.
Ting!
Pintu lift terbuka, Devita melangkah ke luar lift. Matanya menatap wanita cantik yang duduk di kursi sekretaris. Devita kembali mengingat pertengkaran terakhirnya dengan Brayen. Saat Devita di ajak oleh Olivia, ke salah satu pesta pernikahan anak dari rekan bisnis orang tua Olivia. Waktu itu Devita marah karena melihat Brayen bersama dengan wanita itu. Devita menggeleng pelan dan tersenyum mengingat tingkahnya sendiri.
Devita melangkah mendekat ke arah meja sektretaris, " Brayen ada di dalam?" tanya Devita pada wanita yang ada di hadapannya. Devita membaca name tagnya bernama Raisa.
"Maaf Nona. Tuan Brayen sedang tidak bisa di ganggu," jawab Raisa dengan sopan.
"Tidak Nona, memang Tuan Brayen sedang tidak bisa di ganggu. Nona bisa datang lagi besok. Saya akan membuatkan janji untuk bertemu dengan Tuan Brayen." ujar Raisa.
Devita mengerutkan keningnya. "Aku tidak butuh membuat janji untuk bertemu dengan suamiku sendiri." balas Devita.
Seketika wajah Raisa berubah pucat. "M..Maaf Nyonya, saya tidak tahu kalau anda istri Tuan Brayen." jawab Raisa gugup.
Devita tersenyum. "Tidak masalah, karena aku yang belum memperkenalkan diri. Namaku Devita senang berkenalan denganmu, Raisa. Ya sudah, aku masuk dulu kedalam."
"Saya juga demikian Nyonya, senang berkenalan dengan anda." jawab Raisa.
Devita tersenyum, lalu ia berjalan meninggalkan Raisa dan langsung menuju ke ruang kerja Brayen.
"Raisa?" panggil Albert. Ia melihat wajah Raisa yang memucat.
Raisa menoleh dan tersenyum. " Tuan Albert."
"Kau kenapa?" tanya Albert.
Raisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah itu tadi Tuan, saya tidak tahu wanita tadi istri dari Tuan Brayen."
"Kau bertemu dengan Nyonya Devita?" tanya Albert lagi.
Raisa mengangguk. " Ya Tuan, saya bertemu dengannya. Beruntung dia tidak marah tadi, karena saya sempat menghalanginya untuk masuk kedalam."
"Kau tenang saja, Nyonya Devita itu sangat baik dan juga lembut. Dia tidak mudah marah." jawab Albert.
Raisa bernafas lega. " Beruntungnya, aku pikir aku akan di pecat." gumam Raisa.
...***...
"Brayen.." panggil Devita, ia melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen.
Brayen sedikit terkejut melihat istrinya berada di ruang kerjanya. "Devita, kau di sini?"
Devita melangkah mendekat kearah Brayen, tanpa di duga Devita langsung duduk di pangkuan suaminya itu. " Ya, aku datang. Kau masih marah padaku?"
Melihat tingkah Devita yang seperti ini, tidak mungkin Brayen tidak tersenyum. " Jadi kau datang hanya ingin bertanya aku marah atau tidak?" tanya Brayen.
"Hem, bukan hanya itu saja. Aku juga memiliki alasan lain." jawab Devita.
Brayen mengerutkan keningnya. "Alasan apa?"
"Brayen, kau jangan marah padaku. Aku memintamu untuk membantu Angkasa, karena aku hanya kasihan dengan Laretta. Bahkan tadi pagi, Laretta terlihat begitu muram." ujar Devita.
"Bagaimana jika, aku tetap tidak ingin membantu Angkasa? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Brayen dingin.
Devita mendengus tak suka. " Jangan seperti itu, Brayen! Kau tidak boleh bertindak kejam. Bukankah Angkasa sudah berusaha, tapi jika dia gagal kau jangan langsung menolaknya. Semua orang sering gagal, terkadang orang harus melalui kegagalan dulu, bukan? Sebelum mendapatkan keberhasilan?
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.