
"Karena kau sudah jujur padaku, aku juga ingin jujur padamu," ucap Brayen sontak membuat Devita terkejut.
Devita mengurai pelukkannya dan mendongak menatap penuh selidik. "Memangnya kau sudah menyembunyikan apa dariku, Brayen?"
"Aku juga ingin minta maaf padamu," jawab Brayen.
"Minta maaf? Memangnya apa yang sudah kau lakukan?" Devita mengerutkan keningnya menatap Brayen bingung.
"Sebenarnya, tidak hanya dirimu. Tapi aku juga tidak ingat tanggal ulang tahunmu," balas Brayen. "Dan Albert yang sudah mengingatkan ulang tahunmu, jadi kau tidak perlu meminta maaf, sayang. Karena kita sama. Bagiku yang terpenting adalah selalu bersama denganmu."
Brayen mengeratkan pelukannya pada Devita. Namun, Devita mendorong pelan dada Brayen.
"Jadi kau juga lupa tanggal ulang tahunku? Dan yang mengingat itu Albert? Kalau seperti itu, aku tidak akan meminta maaf padamu!" Devita mendengus kesal. "Sebenarnya suamiku itu kau, atau Albert? Kenapa semuanya Albert jauh lebih mengetahui daripada dirimu?"
"Albert asistenku, sayang. Jadi dia memang harus tahu segalanya. Aku akan memecat Albert, jika dia tidak tahu informasi yang aku butuhkan. Kau tahu Devita, aku itu tidak suka orang yang lamban dalam bekerja denganku," jelas Brayen. Kemudian, Brayen kembali menarik tangan Devita dan membawanya kedalam pelukannya.
"Brayen, kita itu berbeda. Jika aku melupakan tanggal ulang tahunmu, karena aku memang tidak pernah memiliki kekasih. Sedangkan dirimu? Kau sudah beberapa kali memiliki kekasih, tidak adil? Kau mengingat tanggal ulang tahun mantan kekasihmu tetapi tidak mengingat tanggal ulang tahun istrinya sendiri!" Devita mengerutkan bibirnya.
Brayen menggeleng pelan dan tersenyum. "Kau itu selalu membahas mantan kekasihku? Mungkin kau tidak akan pernah percaya, tapi aku juga tidak pernah mengingat ulang tahun mereka."
"Memangnya kau itu tidak pernah merayakan hari ulang tahun para mantan kekasihmu?" tanya Devita sambil menatap Brayen tak percaya.
"Aku merayakannya, tetapi mereka yang mengingatkanku. Biasanya sebelum mereka berulang tahun, mereka itu akan mengingatkanku," balas Brayen.
"Mantan kekasihku tidak ada yang berarti di hidupku Devita, bagiku hanya kau wanita yang berarti dalam hidupku."
"Tidak, aku itu tidak merayu sayang. Aku bicara sejujurnya," Brayen mengeratkan pelukannya, dan memberikan kecupan yang bertubi-tubi di puncak kepala istrinya.
"Hingga kemudian, Devita mengurai pelukkan Brayen. "Aku harus mandi Brayen! Karena nanti siang aku ingin mengajak Laretta untuk pergi ke mall."
"Kalau begitu kita itu mandi bersama," Brayen langsung beranjak dan dengan mudahnya Brayen membopong tubuh istrinya itu. Devita terkesiap ketika Brayen langsung membopongnya.
"Brayen! Aku ingin berendam! Dan jika aku mandi denganmu, akan menghabiskan waktu yang lama!" Devita mencebik kesal.
"Mandi bersama akan menghemat waktu sayang," balas Brayen dia terus melangkah menuju ke arah kamar mandi. Devita mendesah kasar, dan percuma saja pada akhirnya Devita tidak bisa, jika tidak menuruti keinginan suaminya.
...***...
"Selamat pagi, Nona Laretta." sapa Chef Della menundukkan kepalanya saat melihat Laretta melangkah masuk ke ruang makan.
"Pagi Chef Della, apa Kakakku dan Devita belum turun?" tanya Laretta. Dia menarik kursi dan langsung duduk.
"Belum Nona, Nyonya Devita dan Tuan Brayen belum turun," jawab Chef Della.
Laretta mengagguk, "Baiklah, pagi ini menu apa yang kau buat untukku?"
"Khusus pagi ini, saya membuat hidangan Perancis. Croque monsieur, yang berisi ham dan keju mozzarella." Chef Della memberikan makanan yang di buat itu pada Laretta.
Laretta tersenyum, "Terima kasih aku sangat menyukai French cuisine."
"Kalau begitu, selamat menikmati Nona." Chef Della menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari hadapan Laretta.
Tidak lama kemudian, Brayen dan Devita melangkah masuk kedalam ruang makan. Laretta tersenyum melihat Devita dan juga Brayen melangkah masuk ke dalam ruang makan.
"Morning Devita, Morning Kak..." sapa Laretta.
Devita tersenyum, dia langsung duduk di samping Brayen. "Morning Laretta," balas Devita.
"Kak Brayen, tadi pagi Daddy menghubungiku. Daddy bilang, dia ingin berbicara denganmu tapi ponselmu belum aktif. Daddy memintaku untuk menyampaikannya kalau Daddy ingin bertemu denganmu," ujar Laretta ingin menikmati makanannya.
"Nanti, aku akan menghubunginya," balas Brayen.
"Aku harus berangkat sekarang. Devita, kalau kau mau pergi ingat harus bersama dengan sopir." Brayen beranjak, dia mengecup kening Devita dan juga Laretta kemudian berjalan meninggalkan ruang makan.
Devita mendengus kesal, bahkan suaminya itu belum menyelesaikan sarapannya tapi malah langsung berangkat.
Devita menoleh ke arah Laretta. "Ah, aku lupa memberitahumu, aku ingin mengajakmu pergi ke mall. Apa kau mau?"
Laretta mengangguk, "Aku tentu saja setuju, karena sudah lama sekali aku tidak pergi berbelanja. Nanti, aku akan sekalian membelikan barang untuk keluarga Angkasa."
"Kau kapan bertemu dengan keluarga Angkasa?" tanya Devita.
"Angkasa bilang, besok dia akan mengajakku untuk bertemu dengan keluarganya," jawab Laretta.
"Menurutmu, apa yang harus aku belikan untuk keluarga Angkasa? Aku dengar, Angkasa memiliki adik perempuan yang masih seusia denganmu, Devita."
"Ya, namannya Alena. Dia kuliah di Paris, usianya sama denganku." balas Devita. ""Hem, menurutku, kau lebih baik membeli tas. Seingatku Alena dan juga Ibunya Angkasa menyukai tas."
"Aku akan memesankan Hermes bag keluaran terbaru untuk mereka." ujar Laretta. "Devita, apa kau pernah bertemu dengan Alena?"
"Pernah, dulu Alena sering datang ke Kanada. Aku cukup dekat dengannya. Tapi saat SMP dia pindah sekolah ke Australia dan sekarang aku dengar dia kuliah di Paris."
"Apa menurutmu keluarga Angkasa itu akan menyukaiku, Devita?" tanya Laretta yang mulai merasakan takut.
"Kenapa mereka tidak menyukaimu?" seru Devita. "Kau adalah Laretta Gissel Mahendra, harusnya dengan segala yang kau miliki, tidak mungkin mereka tidak menyukaimu. Semua pria pasti tidak mungkin tidak menyukaimu Laretta."
Laretta mendesah pelan, "Aku hanya takut saja, Devita. Aku takut keluarganya berpikiran buruk tentangku."
"Tidak, jangan pikirkan apapun. Aku sangat yakin kalau mereka itu sangat menyukaimu." jelas Devita. "Lebih baik kita bersiap - siap sekarang."
"Ya, kau benar." balas Laretta.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Devita beranjak dan langsung berjalan meninggalkan ruang makan. Devita harus bersiap - bersiap, karena hari ini dia akan pergi berbelanja dengan Laretta.
...***...
Brayen tengah membaca dokumen yang baru saja di berikan oleh Raisa, asistennya. Meski sudah di periksa oleh Albert, tapi Brayen selalu kembali memeriksa dokumen sebelum mendatanginya.
Suara ketukan pintu terdengar, membuat Brayen mengalihkan pandangannya. Kemudian Brayen menginterupsi untuk masuk.
"Tuan," Albert menundukkan kepalanya saat melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen.
"Ada apa?" tanya Brayen dingin. Dia kembali membaca dokumen di hadapannya.
"Tuan, saya ingin memberitahu kalau saya sudah mendapatkan Asisten paling tepat untuk Nyonya. Namanya Nagita, dia lulusan terbaik dari Cambridge university. Tidak hanya itu Nagita juga menguasai lima bahasa. Russia, Jepang, Mandarin, Perancis dan English. Nagita juga mampu ilmu bela diri. Saat ini usianya 26 tahun." jelas Albert.
"Apa kau yakin dia tidak akan seperti yang terakhir kau pilih?" suara Brayen bertanya tersirat sindiran dan nada yang tidak ramah.
"Tidak Tuan." jawab Albert meyakinkan. "Saya sudah menyelidiki keluarga Nagita, baik ibu dan juga Ayah dari Nagita sudah saya selidik dengan baik."
"Kau bawa dia besok padaku." balas Brayen. "Sekarang kau boleh pergi dan lanjutkan pekerjaanmu."
Albert mengangguk patuh, kemudian undur diri dari hadapan Brayen.
Brayen mengambil gelas sloki di atas meja yang berisikan wine, dia kemudian menyandarkan punggungnya di kursi dan mulai menyesap wine di tangannya.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.