Love And Contract

Love And Contract
Aku Sudah menikah



"Banyak hal yang harus kau ketahui, mungkin kau belum melihat berita di media tentang diriku," tukas Brayen dingin.


Elena mengerutkan dahinya " Apa yang kau maksud Brayen? Aku tidak mengerti?"


"Aku di jodohkan dengan anak sahabat Daddyku. Dia anak dari Edwin Smith. Aku rasa kau pernah mendengar nama Edwin Smith. Beberapa bulan terakhir Edwin Smith, mampu membawa perusahaannya berada di puncak," jawab Brayen menatap lekat manik mata Elena. "Dan aku sudah menikah dengan anak dari Edwin Smith,"


Elena tertawa rendah, " Kau jangan membohongi ku Brayen. Ini sungguh tidak lucu. Jika kau ingin bercanda, tidak dengan cara seperti ini,"


Brayen membuang napas kasar, " Aku tidak berbohong, kau bisa melihat kabar di media mengenai diriku. Aku memang sudah menikah,"


Seketika raut wajah Elena berubah, dia menggelengkan kepalanya menatap tak percaya. " Kau mengkhianati ku Brayen? Kau menikahi wanita lain? Dimana janjimu Brayen? Kau berjanji akan menikahiku, tapi ketika aku berada di kota B, kau memberikan sebuah kenyataan yang melukaiku. Selama ini aku yang menunggumu Brayen. Kenapa kau membohongiku seperti ini? Kenapa?!" Suara Elena berusaha untuk tenang, namun tersirat penuh amarah dan kekecewaan.


Brayen menyentuh tangan Elena, "Aku sungguh minta maaf Elena, ini semua terpaksa aku lakukan. Aku harus menikahi anak dari sahabat Daddyku. Kau tahu, jika aku tidak menuruti Daddyku. Maka aku akan kehilangan segalanya. Daddyku akan merebut semua harta yang aku miliki. Daddyku tidak memperdulikan bagaimana aku membesarkan perusahaan ini," jelas Brayen yang membuat Elena terdiam.


Elena tersenyum miris. "Apa kau sudah jatuh cinta padanya? Kau akan meninggalkan aku, Brayen. Aku yakin, dia hanya gadis manja yang tidak bisa apapun," jawab Elena dengan nada yang tidak suka.


"Jaga bicaramu Elena! Devita tidak seperti itu!" Peringat Brayen dengan tatapan dingin ke arah Elena.


"Jadi gadis itu bernama Devita? Dan sekarang kau sudah membelannya? Ingat Brayen, aku adalah kekasihmu. Hubungan kita sudah terlalu lama. Jangan pernah kau mencoba mengkhianati ku!" Tukas Elena dengan nada penuh penekanan.


Brayen mengusap wajahnya dengan kasar. "Mengertilah Elena, kau tidak bisa menghina Devita. Dia gadis baik - baik, dia di paksa oleh kedua orang tuanya. Aku bahkan tidak pernah menyentuhnya."


"Kau tidak pernah menyentuhnya? Benarkah?" Elena menatap tak percaya. Bagaimana mungkin ada seorang pria yang telah menikah, tapi pria itu tidak pernah menyentuh Istrinya? Sangat tidak mungkin!


"Tidak. Aku tidak akan pernah menyentuhnya. Hubunganku dengannya tidak seperti yang kau pikirkan," jawan Brayen.


"Lalu bagaimana dengan hubungan kita, Brayen? Bukankah kau mengatakan, tahun depan kita akan menikah?" seru Elena.


Brayen membuang napas kasar. " Terpaksa kita harus menundanya. Aku tidak bisa menikah denganmu tahun depan. Berikan aku waktu tiga tahun,"


"Kenapa harus tiga tahun? Kau tidak jatuh cinta dengannya kan?" tanya Elena dengan sinis. Tatapannya menatap Brayen penuh selidik.


"Tidak mungkin aku baru menikah dan langsung bercerai Elena. Aku juga tidak jatuh cinta padanya," tukas Brayen menegaskan.


"Kau, jangan pernah berani berbohong kepadaku, Brayen." ucap Elena dengan ketus.


"Aku tidak pernah berbohong Elena," jawab Brayen dengan dingin.


"Apakah kau setelah tiga tahun nanti, akan bercerai dengannya?" tanya Elena kembali memastikan. Dia tidak ingin hanya menunggu dengan sia - sia. Tatapan Elena terus menuntut Brayen agar menceritakan kejujuran.


"Ya, aku akan bercerai dengannya," jawab Brayen meyakinkan.


"Berapa usia gadis itu?" tanya Elena.


"Dia baru berusia 20 tahun. Dia masih kuliah saat ini," jawab Brayen.


"Kau sungguh tidak akan pernah mengkhianati ku?" tanya Elena sambil menatap Brayen. Napasnya memburu. Jika bukan ini di kantor, sudah pasti dirinya akan meledak dengan penuh amarah. Siapa yang hanya diam ketika kekasihnya ternyata sudah menikah? Itulah yang Elena rasakan. Tidak ada seorang wanita yang ingin kekasihnya menjadi miliki wanita lain.


"Ya Elena, aku tidak akan pernah mengkhianati mu," jawab Brayen. "Sekarang, lebih baik kau pulang ke Apartemen yang sudah aku siapkan untukmu,"


"Kau melarang ku untuk ke mansionku? Pasti kau tinggal bersama dengan Istrimu?" seru Elena yang masih tidak terima Brayen tinggal bersama dengannya.


Brayen mengangguk samar dan berkata, "Ya, aku memang tinggal dengannya. Elena, jika kau ingin hubungan kita masih berjalan. Mengertilah posisiku,"


"Sekarang, kau lebih baik ke Apartemen yang sudah aku siapkan untukmu. Aku masih banyak pekerjaan," tukas Brayen.


Elena memeluk erat Brayen. Dia membenamkan wajahnya di dada bidang Brayen. Menghirup aroma parfum maskulin. Kemudian, dia mendongakkan wajahnya dari dalam pelukan Brayen. " Tapi kau nanti akan menemui ku kan?"


"Ya, aku akan menemui mu," jawab Brayen sambil mengelus lembut rambut Elena.


"Baiklah," Elena mengecup bibir Brayen, lalu beranjak dari tempat duduknya dan langsung berjalan meninggalkan ruangan kerja Brayen.


...***...


Brayen sedang duduk di kursi kebesarannya. Dia kembali memikirkan hubungannya dengan Elena. Hubungannya dengan Elena sudah bertahun - tahun. Tapi ini pertama kalinya dia merasakan perasaan yang tidak seperti dulu saat Elena menciumnya.


"Apa aku menganggumu, Brayen?" suara bariton menerobos masuk kedalam ruang kerja Brayen.


Brayen mengerutkan keningnya, melihat sosok pria yang menerobos masuk kedalam ruang kerjanya. " Felix? Untuk apa kau kesini?" tanya Brayen pada adik sepupunya itu.


Felix tidak mempedulikan pertanyaan Brayen. Felix terus berjalan menghampiri Brayen, dia duduk di depan Brayen dengan menyilangkan kakinya.


"Aku bertemu Elena di lobby tadi, kau masih berhubungan dengannya?" tanya Felix dengan tatapan tajamnya menyelidik Kakak sepupunya itu.


"Tidak," jawab Brayen singkat.


Felix tersenyum sinis, " Brayen Adams Mahendra. Aku tahu kau masih memiliki hubungan dengannya,"


"Jangan ikut campur urusanku, Felix!" Tukas Brayen dengan nada penuh penekanan.


Felix mengedikkan bahunya acuh. " Istrimu sangat cantik, Kak Brayen. Dia masih muda, Elena sudah berusia 27 tahun. Bukalah matamu Brayen. Aku pernah beberapa kali mendengar Elena pernah berkencan dengan pengusaha yang kaya raya. Aku sangat yakin, dia memilihmu hanya karena kau pewaris Mahendra Enterprise. Berbeda dengan Devita. Istrimu lahir dari keluarga yang cukup kaya raya. Edwin Smith, belakangan ini telah berhasil meraih kesuksesan," jelas Felix yang berusaha membuat pikiran Kakak sepupunya itu berubah.


"Diamlah, kau tidak mengerti, Felix! Ini terlalu rumit!" Balas Brayen.


"Beritahu padaku, apanya yang rumit? Kau lah yang membuat itu menjadi rumit. Jangan pernah kau membuang berlian. Kau tahu, Devita adalah gadis yang sangat baik. Aku bahkan mendengar dari beberapa temanku, dia senior Devita di kampus, mereka mengatakan Devita sangat terkenal. Banyak sekali pria yang menyukainya, tapi dia terlalu menuruti Ayahnya. Devita tidak berani untuk memiliki seorang kekasih," Felix menyandarkan punggungnya di kursi, tatapannya menatap lekat Brayen yang ada di hadapanku.


"Jika Ayahku, menjodohkan aku pada gadis seperti Devita, aku tidak pernah mungkin menolaknya. Tidak ada yang kurang dari sosok Devita," lanjut Felix dengan kekehan pelan.


"Felix, aku tidak pernah mempercayai berita mengenai Elena. Aku tahu dia seorang artis. Sudah pasti kehidupannya selalu di liput oleh media. Hubunganku dengannya juga sudah cukup lama. Harusnya tahun depan, aku sudah melamarnya. Tapi karena perjodohan ini, aku terpaksa menundanya," ujar Brayen dia mengalihkan pembicaraan untuk tidak membahas Devita dan juga Brayen.


...*****...


"


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.