
Devita baru saja selesai membersihkan diri, ia sudah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur berwarna maroon motif brokat. Ia melirik ke arah jam dinding kini sudah pukul sembilan malam tetapi Brayen, masih juga belum pulang.
Devita berjalan menuju ranjang, ia duduk di ranjang dengan punggung yang bersandar di kepala ranjang. Devita mengambil ponselnya di atas nakas, tidak ada pesan satu pun. Biasanya Brayen selalu mengirim pesan, jika pulang terlambat. Tapi ini tidak.
Ceklek.
Suara pintu terbuka, Devita menoleh ke arah pintu kamar. Senyum di wajah Devita terukir, ketika melihat Brayen berada di depan pintu. Devita beranjak dan berjalan ke arah Brayen.
"Kenapa kau pulang malam, tidak kirim pesan padaku?" seru Devita kesal, namun meski Devita kesal Devita tetap membantu Brayen melepaskan dasi dan juga jasnya.
Brayen menundukkan kepalanya, lalu mengecup bibir Devita. " Maaf, aku terlalu sibuk dan banyak yang harus aku kerjakan." jawab Brayen.
Devita mendengus tak suka. "Jika aku yang pulang terlambat dan tidak memberikan kabar padamu. Kau langsung marah! Kau curang Brayen! Tidak adil!"
"Ya, lain kali aku akan mengatakannya." balas Brayen, ia langsung memegang pinggang Devita dan mengecup bibir Devita.
"Lebih baik kau mandi, aku akan menyiapkan baju untukmu," kata Devita dan Brayen mengangguk.
Kemudian Brayen menuju ke arah kamar mandi, Devita mengambil dasi, kemeja dan juga jas yang di pakai oleh Brayen, ia langsung meletakkannya di tempat pakaian kotor.
Devita berjalan ke arah wardrobe, khusus pakaian tidur milik Brayen, ia memilih piyama. Setelah itu Devita meletakkannya di atas sofa dan berjalan kembali ke arah ranjang. Tubuh Devita terasa begitu lelah satu hari ini. Ia langsung berbaring di ranjang. Setidaknya sekarang, ia tidak perlu memikirkan Brayen. Karena sekarang Brayen sudah pulang, Devita jauh lebih tenang.
Terdengar dering ponsel, Devita langsung mengambil ponselnya di atas nakas. Ia melihat ke layar ponsel Ayahnya menghubunginya. Devita mendengus kesal. Ia yakin, Ayahnya mengingatkan besok Devita harus ikut meeting.
"Ya Pa," jawab Devita saat panggilannya terhubung
"Devita, apa Papa menganggumu?" tanya Edwin dari sebrang telepon.
"Tidak, Pah. Aku juga belum tidur," jawab Devita.
"Papa sudah pulang dari London, tapi kenapa tidak memberi kabar padaku?" tanya Devita kesal.
"Maaf sayang, Papa sudah mengatakannya pada Brayen. Papa yakin, pasti Brayen sudah mengatakannya langsung padamu," ujar Edwin.
"Harusnya Papa mengatakannya langsung padaku! Kenapa harus melalui Brayen!" Seru Devita.
"Ya sayang, maaf Papa mengatakan ini pada Brayen karena suamimu menghubungi Papa saat Papa ingin pulang ke kota B." jelas Edwin.
"Sudah jangan marah,besok kita akan bertemu. Kau ingatkan? Besok kau harus hadir di meeting,"
"Ya Pa, aku mengingatnya. Memangnya aku boleh tidak datang."
"Devita!" Suara geraman Edwin terdengar begitu jelas.
"CK! Aku hanya bercanda, Pa. Besok aku datang."
"Anak nakal. Kau selalu saja mengerjai orang tuamu. Ya sudah, Papa tutup dulu. Kau beristirahatlah."
"Ya Pa, salamkan untuk Mama."
Panggilan tertutup, Devita meletakkan ponselnya di atas nakas. Meski kesal dengan Ayahnya karena tidak memberitahu sudah tiba di kota B, tapi Devita sangat merindukan kedua orang tuanya. Sudah lama Devita tidak bertemu dengan mereka. Belakangan Edwin Ayahnya memang sangat sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan Nadia, Ibunya selalu menemani di setiap perjalanan bisnis Edwin.
Brayen berjalan keluar dari kamar mandi, ia baru saja selesai membersihkan diri. Ia juga sudah memilih piyama yang di pilih oleh Devita. Brayen melangkah menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping Devita.
"Siapa yang menghubungimu?" tanya Brayen, ia menarik tangan Devita dan membawanya kedalam pelukannya.
"Papa, dia mengingatkanku untuk ikut meeting," jawab Devita.
"Ya, besok kau akan berangkat bersamaku. Tidak perlu membawa mobil kita akan pergi bersama." ujar Brayen.
Devita mengangguk, " Baiklah, aku juga tidak memiliki pilihan selain menurut."
"Oh ya Brayen, tadi Ruby membuat cake untukku. Rasanya sangat enak dan aku memintanya untuk sering membuatkan cake untukku." ujar Devita.
"Memangnya chef kita yang membuatkan cake untukmu rasanya tidak enak?" tanya Brayen.
"Kau bisa meminta Ruby untuk sering membuatkan cake untukmu. Aku akan memberikannya bonus karena membuatkan cake untukmu." ujar Brayen.
Devita tersenyum. " Terima kasih Brayen,"
"Aku juga lupa, waktu itu aku berjanji padamu, untuk memperkerjakan chef yang khusus untuk memasak masakan Indonesia. Aku besok akan meminta Albert untuk mengurusnya." kata Brayen, untung saja Devita tidak marah. Sejak banyaknya masalah dan pekerjaan yang harus di urus, Brayen kini sampai lupa yang sudah ia janjikan pada Istrinya.
Devita mengelus rahang suaminya. "Aku mengerti Brayen, belakangan ini kau sedang sibuk. Terlebih mengurus Laretta, jadi aku sangat mengerti."
"Devita, apa kau percaya denganku, saat aku memberikan persyaratan kedua pada Angkasa?" tanya Brayen. Ia menatap dengan lekat mata Devita.
"Kau adalah suamiku, Brayen. Tidak mungkin aku tidak percaya padamu. Aku memang tidak tahu apa rencana dan maksudmu, tapi aku memilih dengan segala yang kau putuskan. Aku percaya ini semua demi kebaikan Laretta." ujar Devita, ia memang memilih untuk percaya pada suaminya. Ia yakin, Brayen akan melakukan yang terbaik untuk Laretta.
Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* bibirnya itu, "Terima kasih sudah mempercayaiku.
"Hem, Brayen. Ada hal yang ingin aku katakan padamu. Tapi kau harus berjanji tidak boleh marah padaku." kata Devita dengan hati - hati.
Brayen mengerutkan dahinya. "Apa yang ingin kau katakan, Devita?" tanya Brayen.
"Saat di kampus, William datang dan menemuiku. Dia ingin berbicara padaku," ucap Devita.
Rahang Brayen mengeras, saat mendengar ucapan Devita, tatapannya penuh dengan amarah, tapi Brayen berusaha untuk menahan diri. Devita menghela napas dalam, melihat wajah Brayen yang terlihat sangat marah. Devita yakin, Brayen pasti akan marah. Tapi lebih baik jujur, dari pada Brayen harus tahu di belakang. Devita tidak ingin mengulangi kesalahan seperti yang sebelumnya. Devita sangat mengenal Brayen yang sangat sulit mengatur emosinya dengan baik.
Dengan cepat Devita langsung mengelus rahang Brayen dengan lembut, lalu mengecup bibir suaminya itu. "Jangan marah Brayen, dengarkan penjelasanku dulu. Kau mau kan mendengarkannya?" pinta Devita.
Brayen membuang napas kasar, " Ya, katakan semuanya." tukas Brayen, dingin.
"William datang ke kampus, tadi dia mengatakan, Elena belum bisa di temukan. Dia memintaku untuk pergi bersama dengan pengawal. Tapi kau tahu sendiri, aku tidak suka pergi dengan pengawal. William juga bilang kalau Elena terobsesi padamu. Dia takut, Elena akan meukaiku." jelas Devita.
"Pria itu ternyata sangat peduli dengan istriku!" Tukas Brayen.
"Kau akan selalu aman. Aku akan selalu melindungimu. Tidak ada satu pun orang yang bisa melukaimu. Jika Elena berani melukaimu, maka dia akan mati di tanganku," seru Brayen.
"Aku tahu Brayen. Aku juga bisa melindungi diriku sendiri. Saat kecil dulu, aku pernah ikut boxing. Tenanglah, aku bisa melindungi diriku. Aku harap, Elena tidak akan melakukan hal yang buruk." ujar Devita.
"Ya, wanita itu tidak akan pernah bisa untuk melukaimu," balas Brayen.
"Devita, kau pernah ikut boxing?" tanya Brayen yang tidak percaya.
"Pernah, memang tidak terlalu hebat. Tapi Papa ku selalu mengatakan, paling tidak aku bisa melindungi diri" jawab Devita
"Bagaimana jika kau berlatih denganku?" tanya Brayen dengan nada yang menggoda.
Devita mendengus, " Jika aku berlatih denganmu, pasti nanti bukan latihan boxing!"
"Rupanya istri ku ini sudah cerdas." balas Brayen mengulum senyumannya.
"Sudahlah, ayo kita tidur Brayen. Besok kita harus berangkat pagi." Brayen mengangguk, lalu mengeratkan pelukannya pada Devita. Perlahan Devita mulai memejamkan matanya.
...****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.