Love And Contract

Love And Contract
Berpamitan Dan Permintaan Maaf Selena



Devita menghela nafas berat, lebih baik bagi Devita untuk tidak menambah masalah baru. Karena memang Devita menjauh sejenak, untuk tidak memikirkan hal - hal yang membebani pikiran nya. Devita tidak ingin lagi membuat Brayen marah. Sudah cukup masalah yang datang di tengah - tengah mereka. Devita tidak ingin memperkeruh suasana dengan munculnya masalah baru.


"Kau benar, lebih baik kau tidak ikut. Aku juga tidak ingin di salahkan oleh suamimu yang sangat pencemburu itu." kekeh Olivia geli. "Nanti aku akan pergi sendiri. Lagian aku hanya akan membeli jam tangan untuk Felix saja."


"Apa kau tidak berniat membelikan hadiah untuk Felix selain jam tangan?" Devita mengambil gelas yang berisi lemon tea, lalu meneguknya.


"Aku memperhatikan apa yang di sukai oleh Felix, dan ternyata dia menyukai jam tangan seperti suamimu?" jawab Olivia. "Jadi aku memilih untuk memberikan Felix jam tangan, meski aku tahu harga jam tangan di sana sangat mahal. Tapi tidak masalah, karena selama ini Felix selalu memberikanku banyak barang - barang."


Devita tersenyum, dia meletakkan gelas yang berisi lemon tea di tempat semula. "Aku sungguh senang mendengar itu. Kau memang kekasih yang tepat untuk Felix."


Olivia mencebik. "Kau ini jangan meledekku, sudahlah kita pulang sekarang. Aku mengantuk."


Devita mengedikkan bahunya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dalam dompetnya dan meletakkan di atas meja. Setelah membayar, Devita dan juga Olivia beranjak dari tempat duduk mereka. Kemudian berjalan keluar meninggalkan restoran itu.


"Devita?" seorang perempuan memanggil nama Devita, hingga membuat Devita dan Olivia menghentikkan langkah mereka. Devita dan Olivia membalikkan tubuh mereka, menatap sosok perempuan yang kini melangkah mendekat ke arah mereka.


Kening Devita berkerut dalam ketika melihat wanita itu. "Selena?"


"Hi, Devita. Kau di sini?" sapa Selena dengan senyuman di wajahnya.


"Ya, aku sedang berada di rumah temanku." jawab Devita.


Selena mengangguk. "Kau tidak bersama dengan Laretta?"


"Tidak, aku hanya sendiri." balas Devita


"Oh ya, Selena perkenalkan ini Olivia sahabatku." ucap Devita yang memperkenalkan Olivia.


Selena tersenyum. "Senang berkenalan denganmu, Olivia."


"Aku juga senang berkenalan denganmu, Selena." balas Olivia.


Pandangan Selena kini menatap Devita yang berdiri di hadapannya. "Devita? Apa kau memiliki waktu sebentar? Kebetulan kita bertemu, ada hal yang ingin aku katakan padamu."


"Baiklah, kita bicara di dalam." balas Devita sembari menunjuk restoran yang baru saja dia tinggalkan.


"Devita, lebih baik aku duluan. Nanti kalau kau


minta di jemput hubungi aku." ucap Olivia.


"Kau tenang saja, jangan mengkhawatirkan ku." jawab Devita. "Kau hati - hati, nanti kau tidur duluan saja. Aku akan segera menyusulmu."


Olivia mengangguk lalu dia berjalan meninggalkan Devita. Melihat Olivia sudah pergi, Selena dan juga Devita masuk ke dalam restoran.


...***...


"Kenapa kau bisa di sini Selena?" tanya Devita yang sejak tadi penasaran.


"Beberapa minggu yang lalu, aku baru saja membeli rumah di dekat sini," jawab Selena. "Kebetulan aku membelinya melalui Smith Company. Perusahaan keluargamu Devita."


"Kau membelinya melalui perusahaan keluargaku?" ulang Devita.


"Ya, aku juga pernah bertemu dengan Ibumu? Dia wanita yang sangat cantik Devita? Aku juga menyukai wanita yang memiliki rambut hitam." kata Selena.


Devita tersenyum. "Aku juga menyukai wanita dengan rambut yang berwarna hitam. Tapi sayangnya, aku tidak memiliki warna rambut seperti Ibuku."


"Rambut pirang yang kau miliki saja sudah sangat cantik Devita," balas Selena.


"Aku ingin berpamitan denganmu, Devita. Dua hari lagi aku akan ke Paris dan aku tidak akan kembali lagi ke Indonesia." ujar Selena. "Aku menghubungimu beberapa hari yang lalu, tapi sepertinya kau sangat sibuk. Kebetulan hari ini kita bertemu, jadi aku bisa berpamitan padamu."


"Tunggu, bukannya kau baru saja kembali? Kenapa kau sudah ingin lagi meninggalkan Indonesia?" tanya Devita bingung. "Sebelumnya aku minta maaf karena beberapa hari ini memang aku tidak bisa menjawab telepon."


"Tidak masalah Devita, yang terpenting aku sudah bertemu denganmu hari ini." jawab Selena. "Aku memang sengaja memilih untuk meninggalkan Indonesia. Alasannya, karena setiap kali aku melihat pria yang aku cintai, aku tidak sanggup. Dia selalu menolakku, bahkan tidak mau berteman denganku."


Seketika Devita terdiam ketika mendengar ucapan dari Selena. Tanpa Selena memberitahu pria yang menolaknya. Tentu saja Devita sudah tahu, pria yang di maksud oleh Selena.


"Kenapa dia tidak mau berteman denganmu?" Devita berusaha bersikap normal, dia ingin menunjukkan seolah dia tidak mengenal pria yang di maksud oleh Selena.


"Aku minta maaf Devita," jawab Selena dengan wajah muram.


Devita menatap bingung Selena. "Kenapa kau meminta maaf padaku?"


"Aku mencintai Brayen, suamimu. Aku sungguh minta maaf karena sudah mencintai suamimu...." Wajah Selena menunjukkan rasa bersalahnya di hadapan Devita.


Devita mengulas senyuman hangat di wajahnya, kemudian dia menyentuh tangan Selena. "Kenapa kau meminta maaf padaku, Selena? Memiliki perasaan cinta itu adalah hal yang wajar. Aku tidak akan marah, hanya karena kau mencintai suamiku."


"Kau sungguh beruntung, Devita. Karena Brayen sangat mencintaimu. Bahkan, untuk berteman saja denganku Brayen tidak menginginkannya," balas Selena dengan tatapan sendu.


"Selena, bisa kau ceritakan padaku. Kenapa suamiku itu tidak bisa berteman denganmu?" tanya Devita tak mengerti.


"Aku masih mengingat perkataan Brayen. Dia mengatakan tidak membenciku, tapi dia tidak bisa berteman denganku. Karena baginya, tidak ada pertemanan antara seorang pria dan wanita," Selena tersenyum getir. "Hatiku sangat hancur dengan semua penolakan Brayen. Bahkan untuk berteman saja Brayen tidak mau. Tapi, ada hal yang membuat aku bangga untuk mencintai pria seperti Brayen. Dia adalah seorang pria yang selalu menjaga hati wanitanya."


Devita terdiam, hatinya terharu mendengar perkataan Selena. Devita sama sekali tidak menyangka, jika Brayen akan mengatakan hal seperti itu pada Selena. Tidak pernah terpikir oleh Devita, jika suaminya itu menolak untuk berteman dengan wanita.


"Jadi, ini adalah alasanmu memutuskan untuk segera meninggalkan Indonesia?" tanya Devita yang menatap lekat Selena yang duduk di hadapannya.


"Apa aku terlihat seperti seorang wanita yang tengah patah hati?" Selena tersenyum miris. "Ya, yang kau katakan itu benar Devita. Aku meninggalkan Indonesia, karena aku tidak sanggup melihat Brayen. Aku tidak sanggup melihatnya bersikap dingin dan tidak pernah menatapku. Aku bahkan sangat iri padamu, Devita, kau mendapatkan cintanya, kau memilikinya. Setiap hari kau bisa mendapatkan pelukannya yang sejak dulu sangat aku impikan?"


Mata Selena berkaca-kaca setelah mengatakan itu, dia sedikit menunduk. Air matanya pun mulai jatuh berlinang membasahi pipinya. Devita terharu melihat perasaan Selena. Devita tidak menyangka jika Selena akan menceritakan ini padanya. Di sisi lain Devita begitu bahagia dengan suaminya yang menolak untuk berteman dengan wanita. Namun, Devita tidak pungkiri, dia itu merasa kasihan pada Selena.


"Selena," Devita mengelus punggung tangan wanita itu. "Aku berterima kasih padamu, kau begitu mencintai suamiku. Aku juga minta maaf atas nama Brayen, jika perkataan suamiku sudah melukai hatimu. Tapi Selena, aku tahu suatu saat nanti, kau akan mendapatkan seorang pria yang terbaik di hidupmu. Dan jika meninggalkan kota ini, membuat hatimu jauh lebih tenang, aku mendukungmu. Kelak, kau akan menemukan pria yang terbaik di hidupmu. Kau akan mendapatkan pria yang mencintaimu, Selena."


"Aku bahkan tidak tahu, apa aku bisa menemukan pria yang mencintaiku atau tidak. Aku pindah dari Indonesia, karena aku tidak sanggup melihat Brayen. Aku ingin melanjutkan kehidupanku." kata Selena lirih.


"Kau bisa menemukannya," balas Devita menyakinkan. "Akan ada pria yang memberikan cintanya padamu, Selena. Kau itu sangat cantik dan juga cerdas. Tidak ada pria yang akan menolakmu, Selena."


"Kau salah Devita, karena kenyataannya ada pria yang menolakku." Selena tersenyum miris. "Aku selalu berusaha agar Brayen selalu melihatku, tapi kenyataannya Brayen tidak pernah melihatku."


"Jika ada pria yang menolakmu, maka pria itu memang bukan di takdirkan untukmu,Selena." ujar Devita. "Aku yakin, kau bisa mendapatkan seorang pria yang baik di hidupmu."


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.