
Pagi itu cuaca begitu cerah, Devita baru saja selesai berendam. Devita melangkah masuk ke arah walk in closet dan memilih dress sederhana yang biasa ketika dia pakai di dalam rumah. Seketika senyum di bibir Devita terukir, mengingat jika hari ini suaminya sudah berjanji akan memasak ketoprak untuknya. Devita mengulum senyumannya, suaminya itu pasti akan selalu menuruti dirinya karena sedang hamil.
"Brayen," panggil Devita sedikit keras saat keluar dari walk in closet.
"Ada apa Devita?" Brayen menjawab tanpa menoleh ke arah Devita. Pandangan Brayen menatap iPad yang berada di tangannya.
Devita mendengus kesal, dia langsung melangkah mendekat dan langsung duduk di samping Brayen. "Kau sudah berjanji kan akan membuatkan ketoprak untukku, Brayen! Kau jangan lupa! Kau harus membuatnya untukku!"
"Apa kau sungguh ingin memakan makanan aneh itu? Kasihan anakku Devita jika harus memakan makanan itu." Brayen meletakkan Ipad-nya di atas meja. Terdengar helaan nafas berat dari Brayen.
"Kau yang benar saja Brayen! Kenapa kau menyebutnya makanan aneh! Ibuku dari Indonesia! Wajar saja aku tahu makanan itu!" Seru Devita kesal. "Sejak kecil aku tidak dibiasakan untuk hidup mewah sepertimu. Meski Ayahku cukup mampu, tapi aku tidak seperti dirimu! Aku bahkan pernah merasakan naik kendaraan umum! Karena Ayahku selalu mengajarkanku untuk tidak menyombongkan diri!"
Brayen membuang napas kasar, dia mengumpat di dalam hati mendengar istrinya itu menggerutu. Kepala Brayen langsung sakit. Ingin sekali Brayen pergi ke kantor. Tapi tidak mungkin, mengigat tadi pagi Devita mengancam kalau dia pergi ke kantor.
"Devita, bukan itu maksudku. Aku hanya takut jika anak kita tidak akan menyukai makanan yang kau mau itu." Brayen kembali berusaha untuk membujuk istrinya.
Devita mencebik, "Anak kita masih di dalam kandungan! Aku jauh lebih tahu keinginannya daripada dirimu, Brayen!"
"Ya baiklah, aku akan meminta Chef Della untuk mengajarkanku," dengan terpaksa Brayen menyetujui keinginan istrinya itu. Tidak ada pilihan lain selain menyetujuinya. Jika tidak, istrinya pasti akan kembali menangis seperti tadi malam.
Devita tersenyum puas, kemudian Devita beranjak dari tempat duduknya mereka. Brayen mengambil ponselnya, dia mengirimkan pesan pada Della untuk datang ke dapur. Beruntung tadi malam, Brayen sudah menghubungi Della dan memberitahu pada Della keinginan aneh istrinya itu.
Devita memeluk lengan Brayen, kini mereka berdua berjalan menuju ke dapur.
...***...
"Tuan, Nyonya..." Della menundukkan kepalanya saat melihat Brayen dan juga Devita melangkah masuk kedalam dapur.
"Hai Chef Della." sapa Devita.
"Della, kau sudah mempersiapkan bahan makanan yang aku minta tadi malam kan?" tanya Brayen.
"Sudah Tuan, tadi saya juga sudah membuat lontongnya." jawab Della.
Brayen mengernyitkan keningnya, "Apa yang tadi kau bilang?
"Maaf Tuan? maksudnya lontong?" tanya Della memastikan.
"Ya, apa itu?" kening Brayen berkerut semakin dalam, dia sama sekali tidak mengerti makanan yang di katakan oleh Della.
Devita berdecak kesal, "Brayen! Kau ini memang tidak mencari di internet cara membuat ketoprak? Aku minta ketoprak itu artinya harus memakai lontong!"
"Aku tidak perlu mencari di internet. Kau sendiri sudah tahu jika kita memiliki Chef. Jadi untuk apa mencarinya di internet." jawab Brayen dingin.
Devita mengerutkan bibirnya. Suaminya ini memang menyebalkan sekali. Mungkin, karena Brayen sudah terbiasa dengan segala yang dimiliknya hingga membuat suaminya itu sangat angkuh.
"Chef Della! Harusnya kau membiarkan suamiku yang sekalian saja membuat lontongnya dan jangan kau!" Seru Devita, rasanya tidak puas jika Della yang membuat lontongnya. Harusnya Brayen saja yang membuatnya. Biar suaminya itu tahu, tidak semua kehidupannya itu harus sempurna.
Brayen menatap dingin ke arah Devita saat mendengar ucapan istrinya itu. Meminta dirinya untuk memasak makanan aneh. Brayen pun terus mengumpat di dalam hati. Kalau saja Devita tidak hamil, dia pun tidak akan mungkin menuruti keinginan aneh dari istrinya itu.
"Maaf Nyonya, tetapi saya hanya ingin mempersingkat waktu. Saya juga takut jika nanti Tuan Brayen akan mengalami kesulitan." jawab Chef Della.
Devita mendesah pelan, "Ya sudah, tolong bantu suamiku untuk membuatnya."
Della mengangguk patuh. Sedangkan Brayen menatap dingin istrinya itu. Dan mau tidak mau Brayen harus menuruti keinginan istrinya itu.
"Tuan, ini bumbu - bumbunya dan saya
akan mengajarkan Tuan, cara untuk menumbuk bumbunya." kata Della dan Brayen hanya mengangguk singkat.
Devita duduk dengan manis, dia menopangkan tangannya di dagu. Pandangannya menatap Brayen yang sedang menumbuk bumbu. Terlihat jelas semua bumbu itu berantakan saat Brayen menumbuk. Devita mengulum senyumannya dan menggigit bibir bawahnya dan berusaha untuk menahan tawanya. Sepertinya hamil sangat menyenangkan. Suaminya itu selalu menuruti keinginan dirinya.
"Makanlah," tukas Brayen saat menyerahkan piring yang berisikan ketoprak kepada istrinya.
Devita tersenyum senang, "Brayen, kenapa kau tidak membuat makanan untukmu juga."
"Aku tidak akan mungkin menyukai makanan yang seperti itu!" Jawab Brayen dingin.
"Kau itu belum mencobanya! Sekarang kau cobalah," Devita langsung mengarahkan sendok yang sudah terisi ketoprak pada bibir Brayen.
"Tidak Devita, aku sungguh tidak menyukainya," Brayen menjauhkan wajahnya dari sendok yang di berikan oleh Devita.
"Kau harus mencobanya, Brayen!" Devita pun merajuk, dia mengerutkan bibirnya dan memaksa suaminya itu untuk mencoba ketoprak. Brayen pun membuang napas kasar, dengan terpaksa Brayen pun membuka mulutnya dan memakan ketoprak yang tadi telah dia buatnya dan di bantu oleh Chef Della.
"Not bad." ucap Brayen di dalam hati.
"Bagaimana? Enak kan?" tanya Devita sembari menikmati ketoprak yang dibuat oleh suaminya itu.
"Rasanya aneh," tukas Brayen.
Devita mencibir, "Di lihat dari wajahmu, kau terlihat cukup menikmatinya. Jangan membohongiku Brayen!"
"Lebih baik kau itu makan saja dan jangan berisik!" Balas Brayen.
Devita tidak membalas perkataan dari Brayen, dia lebih memilih untuk menikmati ketoprak yang sudah di buat oleh suaminya itu. Rasanya cukup enak, ini karena Chef Della yang ikut turun tangan membantu Brayen. Jika bukan, mungkin Devita tidak tahu bagaimana rasanya ketoprak yang di buat oleh Brayen.
"Devita, besok jika kau ingin makan lebih baik kau meminta Italian food." seru Brayen.
"Ini yang meminta itu anakmu, Brayen dan bukannya aku." balas Devita yang tidak mau kalah.
"Jangan membawa - bawa anakku, Devita." Brayen menggeram menahan kesalnya.
"Apa kau ini tidak pernah membaca buku panduan ibu hamil?" dengus Devita kesal, "Di buku itu tertulis, ibu hamil sering meminta hal - hal yang aneh itu karena keinginan anaknya."
"Lebih baik kau lanjutkan saja makanmu." jawab Brayen yang terlalu malas menanggapi ucapan istrinya itu
Devita mencebik, "Asal kau tahu, dulu saat aku SMA, aku sering makan makanan di pinggir jalan di sekolah bersama dengan Olivia. Aku juga dulu tidak memakai mobil yang mewah. Mobilku hanya mobil biasa. Terkadang Ayahku, selalu mengajarkanku untuk selalu mencoba menggunakan kendaraan umum. Ayahku mengatakan padaku, dulu aku tidak seberuntung sekarang."
"Bahkan Ayahku mengatakan, saat dia bekerja hanya menjadi staff marketing. Dia juga mengontrak di rumah yang kecil. Sekarang, saat Ayahku sudah cukup mampu,dia tidak pernah sekalipun mengajarkanku untuk membuang uang. Ayahku selalu mengajarkanku, untuk tidak selalu menganggap semua makanan enak itu, berasal dari restoran mewah."
"Jadi nanti, aku ingin mengajarkan anak kita seperti itu Brayen! Aku ingin anak kita terutama jika kita memiliki anak perempuan. Aku tidak ingin dia menjadi seorang yang angkuh. Aku ingin agar dia tetap belajar untuk rendah hati." jawab Devita.
"Tidak bisa Devita! Semua yang menyangkut anak kita nanti sudah aku atur!" Tukas Brayen menekankan.
Devita membuang napas kasar. "Menyebalkan sekali!!"
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.