Love And Contract

Love And Contract
Harus Lebih Bijaksana



"Bagaimana denganmu? Apa rencanamu setelah lulus kuliah ini?" tanya Olivia.


"Menjadi seorang ibu dan seorang istri." jawab Devita.


Olivia tersenyum. "Tanpa kau mengatakan itu, aku juga sudah tahu Devita. Tapi bagaimana dengan mimpimu untuk membuka perusahaan even organizer?"


"Aku tidak tahu?" balas Devita. "Dulu mimpiku ada sebelum aku menikah dan hamil. Untuk sekarang aku tidak tahu. Terlebih aku sangat kasihan pada Brayen yang membantu Ayahku untuk memimpin Smith Company. Mungkin jika nanti anakku yang sudah berusia tiga atau empat tahun, aku akan mengambil alih perusahaan keluargaku."


"Menurutku, itu jauh lebih baik. Tidak ada salahnya kau memimpin perusahaan keluargamu. Aku saja, jika perusahaan keluargaku memiliki cabang di kota B, aku akan memimpinnya" ujar Olivia. "Tapi itu tidak mungkin, karena kau tahu perusahaan keluargaku hanya ada di Kanada."


"Aku juga masih belum yakin, Olivia. Karena semua tergantung Brayen. Jika dia memperbolehkan aku untuk bekerja maka aku akan bekerja. Tetapi jika dia tidak memperbolehkanku, maka aku tidak akan bekerja. " jelas Devita.


Dulu sebelum menikah, Devita memilki banyak mimpi. Kini semuanya sudah berubah. Bukannya tidak lagi berambisi pada impiannya, hanya saja Devita akan mengutamakan anak dan suaminya. Devita ingin memimpin perusahaan keluarganya, karena Devita ingin mengurangi sedikit beban Brayen. Namun, jika suaminya itu tidak memperbolehkan, tentu saja Devita akan menuruti keinginan Brayen.


"Sejak dulu aku selalu yakin, kau akan menjadi istri yang baik." Olivia mengulum senyumannya. "Jika mengingat masa lalu, aku masih tidak menyangka pada akhirnya kau jatuh cinta pada suamimu sendiri. Padahal dulu kau begitu meyakinkanku, kalau kau tidak mungkin jatuh cinta pada Brayen"


Devita tersenyum. "Karena seiring berjalannya waktu, cinta bisa tumbuh. Sifat keras Brayen kenyataan mampu meluluhkanku."


"Ya, karena memang harus akui, suamimu memilki pesona yang tidak mungkin di tolak para wanita." Olivia terkekeh pelan.


Devita menggelengkan kepalanya, Olivia memang mengetahui segalanya. Termasuk tentang perjanjian yang telah dia buat dengan Brayen.


Devita mengadahkannya kepalanya ke atas, lalu memejamkan mata sebentar ketika merasakan hembusan angin. Menikmati udara yang menyejukkan membuat Devita sedikit melupakan masalahnya.


...***...


"Pa, kenapa Papa tidak meminta pengacara keluarga kita untuk membantu Alena?" tanya Citra cemas, pasalnya sejak penangkapan putrinya. Varell sama sekali tidak membantu putrinya itu. Varell membiarkan proses hukum berjalan, dan seolah tidak memperdulikan putrinya itu.


"Biarkan dia menerima apa yang telah dia lakukan." jawab Varell dingin.


"Pa, kasihan Alena. Mama tahu, Alena bersalah tapi Mama tidak mungkin hanya diam saja melihat Alena berada di dalam penjara, Pa. Mama mohon, lakukan sesuatu untuk putri kita." kata Citra dengan tatapan memohon pada suaminya.


Terlihat jelas di wajah Varell yang tetap tidak mempedulikan. Meski istrinya telah memohon padanya, dia terlihat begitu acuh. Bahkan Varell tidak sama sekali menatap istrinya yang kini sudah mengeluarkan air matanya.


"Apa yang di lakukan oleh Alena tidak bisa lagi Papa toleransi. Meski Alena itu putri kita. Tapi Papa ingin membiarkannya mendapatkan hukuman dari apa yang telah dia lakukan. Alena bukan lagi anak kecil, dia bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Tapi dia memilih hal yang salah. Maka dia harus bertanggung jawab dengan apa yang telah dia perbuat."


"Papa tahu, saham perusahaan kita terus menurun akibat pemberitaan media tentang Alena. Tapi, Papa percaya kita akan segera pulih. Angkasa tidak mungkin hanya diam, ketika perusahaan kita berada di ambang kehancuran. Papa hanya ingin mengajarkan Alena arti sebuah tanggung jawab dari apa yang telah dia perbuat."


Varell mengatakan dengan tegas. Bukan tidak perduli, Varell memang ingin mengajarkan pada putrinya untuk bertanggung jawab. Jika Varell membantu Alena, dia tahu hanya akan menambah peperangan antara keluarganya dengan keluarga Brayen.


"Pa, tapi apa Papa tidak kasihan dengan Alena? Putri kita itu tidak pernah mengalami kesusahan dalam hidupnya. Terakhir Mama melihatnya dia selalu menangis, Pa. Sungguh Papa tidak tega melihat penderitaan Alena?" kata Citra lirih. Air matanya terus berlinang membasahi pipinya. Hatinya begitu sakit dan terasa sesak jika mengingat keadaan Alena di dalam penjara.


Varell membuang napas kasar. "Kau tahu siapa Brayen Adams Mahendra bukan? Selain Papa ingin membiarkan Alena untuk bertanggung jawab, kita juga tidak akan pernah mungkin melawan Brayen Adams Mahendra. Dengan segala kekuasaan yang di miliki oleh Brayen, dia bisa menghancurkan kita jika kita berani melawannya."


"Ma, kita ini sudah salah mendidik Alena. Jika kita selalu membantunya keluar dari masalah. Biarkan Alena mendapatkan sebuah pelajaran berharga dari apa yang sudah dia lakukan. Papa yakin, setelah masalah ini kedepannya Alena akan lebih bertanggung jawab dengan apa yang telah dia lakukan."


"Lepas dari Papa memikirkan Alena, Papa juga memikirkan nasib ribuan karyawan yang ada di perusahaan kita. Karena mereka menggantungkan hidupnya di perusahaan kita. Jika perusahaan kita terus - terusan mengalami penurunan, tidak menutup kemungkinan kita akan mengurangi karyawan kita. Papa harap Mama bisa mengerti ini. Papa melakukan ini bukan karena Papa tidak menyayangi Alena. Hanya saja dalam posisi ini, kita harus lebih bijaksana sebelum mengambil sebuah keputusan."


Varell menyentuh tangan istrinya, memberikan ketenangan. Karena yang dia pikirkan bukan hanya tentang Alena, tapi dia juga harus memikirkan nasib para karyawannya.


"Ma...," Varell mengelus lengan istrinya. "Bisa Mama pikirkan bagaimana perasaan Laretta? Dia adalah Tuan putri dari keluarga Mahendra. Tidak akan ada yang mungkin berani menghina Laretta. Tapi putri kita sudah melakukan kesalahan besar dalam hidupnya. Lepas dari itu, apa Mama sudah berusaha menemui Laretta? Di sini, yang paling tersakiti adalah Laretta. Segala perkataan Alena begitu menyakiti hati Laretta."


"Mama sudah berusaha untuk menemui Laretta," kata Citra lirih. "Tapi Brayen memperketat keamanan mansionnya. Saat Mama datang kesana, pengawal Brayen melarang Mama untuk masuk. Beberapa hari ini, Mama mencoba untuk menghubungi Laretta juga tidak bisa."


Varell mendesah kasar. "Papa sudah tahu ini pasti akan terjadi. Brayen pasti akan menutup akses keluarga kita untuk bertemu dengan Laretta."


"Ma, lebih baik kita fokus pada masalah Angkasa dan juga Laretta." ujar Varell. "Bukannya Papa tidak ingin memikirkan tentang Alena, tapi percayalah. Alena akan menjadi wanita yang kuat setelah ini. Dari masalah ini, Alena akan belajar dari apa yang telah dia perbuat."


Citra mengangguk. "Mama juga kasihan pada Angkasa. Kini pernikahannya terancam batal Dan kandungan Laretta juga sudah semakin membesar."


"Ya, Papa juga berharap pernikahan Angkasa dan juga Laretta tidak batal." balas Varell.


Pandangan Varell kini sedang menatap Angkasa yang baru saja tiba di rumah. Putranya itu hendak menuju ke arah kamarnya.


"Angkasa?" Varell memanggil dengan cukup keras. Hingga membuat Angkasa menghentikkan langkahnya.


Angkasa membalikkan tubuhnya, dia menatap Ayahnya. "Ya? Ada apa?"


"Ke ruang kerja Papa sekarang? Ada yang ingin Papa bicarakan padamu?" tukas Varell. Dia beranjak berdiri meninggalkan Citra menuju ke ruang kerjanya. Sedangkan Angkasa tidak menjawab apapun. Angkasa langsung berjalan mengikuti Ayahnya.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.