Love And Contract

Love And Contract
Panik



Brayen turun dari mobil, dia membanting kasar pintu mobilnya dan langsung masuk kedalam mansion. Dia tidak berhasil mengejar Devita, saat dia mengejar Devita, mobil yang di bawa oleh Istrinya sudah lebih dulu menghilang dari pandangannya.


Wajah Devita yang menangis terus berada di pikiran Brayen, dia tidak henti menyalahkan dirinya. Dia sungguh menyesal membuat istrinya menangis. kecemburuannya membuat istrinya terluka. Bahkan dia tidak menyangka, jika dirinya begitu melukai istrinya.


Brayen memang tidak pernah bisa mengendalikan emosi dan amarahnya. Terlebih ketika mengetahui pria dari masa lalu dari istrinya kembali. Dia hanya takut jika istrinya kembali pada pria yang ada di masa lalunya. Rasa takutnya membuatnya telah melukai Istrinya.


"Devita," panggil Brayen saat memasuki kamar, namun dia tidak menemukan keberadaan istrinya itu.


"Devita, sayang...," teriak Brayen. Dia mencari Devita di setiap sisi ruangan. Tapi tetap saja tidak menemukan Devita.


Laretta yang tadi menatap Brayen yang berlari masuk ke dalam kamar, dia langsung segera mengikuti kakaknya itu. Terlihat dari wajah Brayen yang sangat panik.


"Ka, kau mencari Devita?" tanya Laretta ketika melihat Brayen meneriaki nama Devita.


Brayen menoleh, dia menatap Laretta yang berada di hadapannya, dengan cepat dia bertanya, "Dimana Devita?"


Laretta mengerutkan keningnya. "Devita, bukannya datang ke kantormu? Dia belum pulang dari tadi."


"Damn it! Dia belum pulang?" Brayen mengepalkan tangannya.


Laretta menggelengkan kepalanya. "Belum, kau bertengkar lagi dengannya?"


Tanpa menjawab, Brayen mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Devita, satu, dua hingga lima kali dia menghubungi Devita tapi tidak terhubung. Raut wajah Brayen berubah cemas, kini dia memikirkan keadaan istrinya. Terlebih, ketika dia mengingat Devita menangis. Rasanya dia benar - benar menyesali tindakan yang telah dia lakukan.


"RUBBYYYY!" Suara Brayen berteriak memanggil asisten istrinya itu dengan kencang.


"Ya, Tuan?" Ruby langsung belari menghampiri Brayen.


"Minta Albert temukan istriku. Dia harus datang kesini dalam waktu sepuluh menit. Aku hanya memberikan waktu padanya sepuluh menit, jika dia masih belum menemukan istriku, maka kalian berdua akan tahu akibatnya." tukas Brayen tajam.


"Baik, Tuan." jawab Ruby. Dia langsung bergegas meninggalkan Brayen, dan segera menghubungi Albert.


"Ka, sebenarnya ada apa?" tanya Laretta. Dia terus menatap Brayen yang terlihat gusar dan tidak bisa tenang.


"Ini semua karena pria sialan itu!" Seru Brayen. Rahangnya mengetat, tangannya terkepal kuat, dengan sorot mata yang begitu tajam.


Laretta mendesah pelan dan menetap lekat Brayen. "Ini bukan karena Angkasa, tapi ini karena kau sudah di butakan oleh kecemburuan. Devita sudah menceritakan semuanya padaku, mereka hanya masa lalu. Bukankah kau juga memiliki masa lalu? Kenapa kau egois sekali! Kau juga membawa pulang seorang wanita. Kau berciuman dengan wanita itu di depan Devita. Sekarang apa kau bisa bayangkan bagaimana perasaan Devita? Kenapa kau jadi seperti ini?" seru Laretta yang kesal.


"Kau tidak mengerti Laretta! Kau tidak mengerti rasanya di bohongi dengan pasanganmu sendiri! Aku tidak suka Devita menutupi sesuatu dariku!" Ucap Brayen dingin.


"Haruskah dengan membawa seorang wanita dan berciuman di depan istrimu sendiri? Apa kau benar - benar mencintai Devita? Karena jika memang kau mencintainya, kau tidak akan berbuat seperti itu. Kau sungguh memalukan!" Balas Laretta sarkas.


"Aku mabuk, aku tidak mengingat aku mencium seorang wanita. Aku memang ingat di antar pulang oleh seorang wanita di klub malam, tapi untuk berciuman aku tidak mengingatnya," ucap Brayen dengan suara yang parau. Wajahnya terlihat begitu frustasi. Terlebih saat Laretta mengatakan dirinya berciuman dengan wanita lain di depan Devita. Dia telah menyakiti istrinya. Brayen mengumpat dalam hati, dia merutuki kebodohannya.


"Ka, dengarkan aku. Kau memiliki emosi yang tinggi. Bahkan sering tidak mengendalikan amarahmu, bagaimana bisa Devita langsung mengatakan padamu? Aku saja yang hanya adik iparnya percaya padanya. Kenapa kau yang suaminya tidak percaya padanya? Kau suaminya, harusnya kau lebih mempercayai Devita dari padaku," ucap Laretta dengan nada penuh sindiran.


"Kecemburuanmu benar - benar seperti anak kecil, lihatlah sekarang istrimu pergi!" Tukas Laretta sinis. Dirinya tidak habis pikir, sifat kekanakan Kakaknya itu


Tidak lama kemudian Albert berlari menghampiri Brayen, dia mengingat semua pesan yang di sampaikan oleh Ruby. Waktu yang di berikan oleh Ruby hanya sepuluh menit.


"Tuan," sapa Albert menundukkan kepalanya saat berhadapan dengan Brayen.


"Katakan dimana Istriku?" tanya Brayen dengan dingin.


"GPS mobil Nyonya berada di Hotel RitzSyakila. Saya sudah memeriksa CCTV hotel, Nyonya memesan kamar di sana, Tuan" jawab Albert.


"Aku harus kesana sekarang," saat Brayen hendak meninggalkan rumah, tangannya di tahan oleh Laretta. Kemudian Brayen menoleh dan menatap dingin Laretta. "Ada apa? Aku harus segera menemui Devita!"


"Ka, lebih baik kau membiarkan Devita untuk menenangkan diri dulu," balas Laretta.


"Tidak. Mana mungkin aku membiarkan Devita sendirian! Aku harus segera bertemu dengannya!" Seru Brayen.


"Tapi Kak, saat ini kalian berdua sedang dalam emosi. Jika kau ingin bertemu dengannya kau harus menjaga emosimu. Kau juga harus lebih banyak mengalah," tukas Laretta mengingatkan.


"Aku tahu itu!" Ucap Brayen dingin.


Tanpa menunggu, Brayen langsung menuju ke mobilnya. Dia masuk kedalam mobilnya, dan langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia harus segera bertemu dengan Devita. Pikirannya tidak henti memikirkan Devita


...***...


Devita duduk di ranjang dengan punggung yang bersandar di kepala ranjang. Dirinya berusaha untuk memejamkan mata, tapi sejak tadi dia tidak bisa tidur. Saat ini pikirannya terlalu banyak memikirkan masalahnya. Hatinya masih terlalu sakit jika mengingat semuanya. Rasanya ingin sekali dia pergi meninggalkan Brayen. Tapi di sisi lain dia sangat mencintai suaminya.


Meski tidak sepenuhnya salah Brayen. Tapi tetap Devita tidak bisa melupakan rasa sakit ini. Hatinya terlalu terluka, bahkan rasanya dia belum sanggup untuk bertemu dengan Brayen. Di sisi lain Devita ingin sekali membujuk Brayen agar menyetujui hubungan Laretta dengan Angkasa. Tapi jika Devita melakukan itu, Brayen akan mengira Devita masih menginginkan Angkasa.


Devita sangat kecewa kenapa Brayen tidak mempercayai dirinya. Bagaimana jika hubungan bisa terjalin jika salah satunya tidak percaya. Itu artinya Brayen tidak pernah tahu bagaimana perasaan Devita kepadanya. Selama ini sama saja dengan Brayen tidak pernah percaya dengan perasaan Devita padanya. Berkali - kali Devita mengatakan jika hanya ada Brayen di hatinya. Tapi ternyata Brayen tidak sepenuhnya mempercayai dirinya.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.