
Devita melangkah keluar dari kamar mandi. Dia baru saja selesai berendam. Ia juga sudah selesai mengganti bajunya dengan gaun tidur yang berwarna maroon. Entah kenapa gaun tidur yang di bawa oleh Ruby untuk dirinya semuanya terlihat sangat seksi. Devita yakin pasti ini di sengaja. Karena, jika Devita yang packing tidak mungkin memilih gaun tidur yang seksi.
Devita melihat Brayen duduk di sofa sambil fokus dengan iPadnya, dia melangkah mendekat ke arah Brayen dan duduk tepat di samping Brayen.
"Apa kau sibuk dengan pekerjaanmu?" tanya Devita.
Brayen menoleh, dia tidak menyadari jika Devita sudah duduk di sampingnya. Brayen meletakkan iPadnya. Lalu menarik Devita masuk ke dalam pelukannya. " Tidak terlalu, hanya mengurus beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan. Pemilik perusahaan Hongkong itu tidak mau di wakilkan. Dia hanya ingin bertemu denganku langsung," jawab Brayen.
Devita memeluk erat Brayen. " Pulang nanti apa kau akan langsung ke kantor?"
"Tidak, saat kita sudah tiba di Kota B aku akan ikut pulang bersamamu?"
"Good, aku juga tidak ingin pulang sendiri,"
Brayen tersenyum, " Manja sekali, huh?"
Devita mengerutkan bibirnya. " Tapi aku manja pada suamiku sendiri bukan pada suami orang,"
"Kau memang harus manja denganku," tukas Brayen dengan penuh penekanan.
Devita memutar bola matanya malas, "Kau ini benar - benar."
"Hem, Brayen sebentar lagi aku masuk kuliah. Aku akan mengambil semester pendek. Aku akan mengejar agar aku bisa lulus kuliah kurang dari satu tahun," ujar Devita.
Brayen mengangguk setuju. "Ya, kau memang harus cepat lulus. Aku ingin setelah kau lulus kau memegang perusahaan properti keluargamu, saat kau sudah menjabat aku akan menginvestasikan uang di perusahaanmu."
Devita mendengus, "Kenapa aku harus segera memegang tanggung jawab? Menyusahkan sekali menjadi anak tunggal.
"Untuk sementara sayang, aku tidak ingin karena kau sudah menikah aku membatasi karirmu. Aku hanya ingin kau bisa berbisnis. Tapi jika nanti kau sudah hamil, aku akan mencari orang kepercayaanku untuk menggantikanmu. Kau hanya fokus padaku dan anak kita," Brayen mengecup gemas hidung Devita.
"Maksudmu, aku hanya menjadi ibu rumah tangga seutuhnya setelah kita memiliki anak?" tanya Devita mengerutkan keningnya.
Brayen kembali mengangguk. "Ya, aku hanya ingin kau fokus menjadi ibu rumah tangga jika kita sudah memiliki anak. Aku tidak ingin kau kelelahan dengan tanggung jawab perusahaan dan harus mengurusku dan anak kita. Jadi aku hanya memintamu untuk belajar berbisnis, saat kita sudah memiliki anak kau hanya fokus padaku dan anak kita. Perusahaanmu akan menjadi tanggung jawabku,"
"Tapi aku takut aku bosan, Brayen. Jika di rumah saja dengan anak kita," Devita menghela nafas dalam.
" Jika bosan, kau bisa datang ke kantorku atau berbelanja. Aku hanya tidak ingin kau kelelahan," ucap Brayen sambil mengecupi pucuk kepala Devita.
"Baiklah, aku akan menurutimu. Setelah pulang nanti aku pastikan aku akan lulus cepat," jawab Devita yang memilih untuk menuruti suaminya itu.
Brayen tersenyum, " Good, aku ingin menunggu istri kecilku ini lulus,"
"Aku bukan anak kecil Brayen!" Cebik Devita.
"Ah,benar juga. Kita sudah sering-" Devita langsung menutup mulut Brayen dengan telapak tangannya. Devita tahu apa yang akan di katakan oleh suaminya ini. Brayen mengulum senyumannya. Lalu menarik tangan Devita mengecupi tangan Devita.
Kemudian Brayen mendekatkan bibirnya pada bibir Devita. Mencium dan ********** dengan lembut. " I want you tonight," bisik Brayen tepat di depan bibir Devita.
Tanpa menunggu jawaban Devita, Brayen langsung membopong Devita menuju ke arah ranjang. Devita mendengus kesal, dia sudah tahu apa maksud suaminya. Tidak mungkin menolak jika Brayen sudah menginginkannya.
...****...
Keesokan harinya Brayen dan Devita sudah bersiap. Tubuh Devita masih sangat lelah akibat ulah dari Brayen tadi malam. Devita kesal, karena suaminya itu tidak pernah memberikan libur satu hari pun.
Devita menatap cermin dan memoles wajahnya dengan make up tipis. Hari ini Devita dan Brayen akan kembali ke kota B. Devita memilih memakai mini dress simple tanpa lengan berwarna navy dan flat shoes.
Semua barang - barang belanjaan Devita sudah di urus oleh Ruby. Ya, kali ini Devita lebih ringan karena ada Ruby yang mengurus semuanya. Belanjaan Devita memang sangat banyak. Devita membelikan banyak oleh - oleh untuk orang terdekatnya di kota B.
Brayen menatap Devita yang sedang berias, ia melangkah mendekat ke arah Devita. " Devita ada yang ingin aku katakan padamu?"
Devita menoleh dan kini menatap suaminya. "Apa yang ingin kau katakan?"
" Tadi malam Veronica menghubungiku, dia meminta bertemu denganku. Aku sudah menolak, tetapi dia terus memaksa. Akhirnya aku memberikan waktu lima menit untuknya bisa berbicara denganku. Mungkin saat ini dia sudah berada di lobby," ujar Brayen. " Aku mengatakan ini, agar kau tidak salah paham Jika kita di lobby bertemu dengannya. Kau tahu bukan, antara aku dan dengannya sudah berakhir lama."
Devita tersenyum dia mengelus lembut rahang Brayen. " Sebenarnya saat aku bertemu dengan Veronica beberapa hari yang lalu, dia sudah menceritakan tentang masa lalu kalian. Brayen kau dan Veronica telah memiliki kehidupan. Aku melihat, dia seorang wanita yang baik. Veronica sudah menikah, kau juga sudah menikah. Aku harap kau tidak perlu mempermasalahkan masa lalu kalian. Temuilah, aku tidak akan marah. Aku akan mengerti,"
Devita menggeleng pelan sambil mengulum senyumannya. " Kau ini, pintar sekali berkata - kata,"
"Aku benar - benar ingin segera kembali ke kota B. Bertemu dengan kedua orang tuaku. Aku sangat berterima kasih padanya karena telah memberikanku wanita yang sempurna seperti dirimu," Brayen menangkup kedua pipi Devita dia memberikan kecupan bertubi - tubi di bibir Istrinya itu.
Devita mencebikkan bibirnya. " Sudahlah, lebih baik kita berangkat sekarang,"
Brayen menggenggam tangan Devita, lalu berjalan meninggalkan hotel.
...***...
Saat Brayen dan Devita sudah berada di Lobby, benar apa yang di katakan Brayen. Veronica sudah menunggunya. Devita tersenyum hangat melihat Veronica. Wanita itu memang sangat cantik dan terlihat dewasa.
"Devita," sapa Veronica ketika melihat Devita.
Devita tersenyum hangat, " Hi, Veronica."
"Devita, maaf sebelumnya bolehkah aku bicara sebentar dengan Brayen?" tanya Veronica yang tidak enak pada Devita.
"Silahkan Veronica, kau bisa bicara dengan suamiku." jawab Devita.
Kemudian Devita menoleh ke arah Brayen dan berkata, "Aku menunggumu di mobil."
"Ya," Brayen mengecup kening Devita.
Devita melangkah meninggalkan Brayen dan juga Veronica. Devita bisa melihat Veronica adalah wanita yang baik. Devita sengaja mengizinkan mereka karena Devita tidak ingin Brayen masih memiliki dendam. Bagi Devita, masa lalu adalah masa lalu. Tidak perlu menaruh dendam dan Devita hanya ingin Brayen melupakan amarah dan dendamnya. Karena kini Veronica dan juga Brayen sudah memiliki kehidupan masing-masing.
"Apa yang ingin kau katakan," tanya Brayen dingin saat melihat Devita sudah berjalan meninggalkannya.
"Bisakah kita tetap berteman seperti dulu Brayen? Setidaknya kau memaafkan atas kesalahanku padamu, Brayen. Aku tahu, mungkin aku bukanlah wanita yang baik. Tapi demi Tuhan, aku tidak mungkin melakukan hal yang serendah itu dalam hidupku. Aku bersumpah, aku tidak mungkin melakukan itu. Aku harap kau bisa mempercayainya, karena sungguh tidak ada untungnya bagiku jika aku berbohong padamu sekarang," ujar Veronica seraya menatap dalam mata Brayen.
"Lupakan semuanya Veronica. Jika tujuanmu meminta maaf maka aku sudah memaafkanmu. Kau dan Aku telah menemukan pasangan hidup. Aku berharap kau dan aku tidak perlu lagi membahas masa lalu. Kedepannya, kau tetap teman masa kuliahku," jawab Brayen dingin.
Veronica mengelus senyuman hangat di wajahnya. " Terima kasih Brayen, kau sungguh beruntung memiliki istri seperti Devita. Aku juga bisa melihat Istrimu adalah wanita yang sangat baik. Dia juga sangat cantik,"
"Ya, aku memang sangat beruntung memiliknya," balas Brayen.
"Hari ini kau akan kembali ke Indonesia?" tanya Veronica.
Brayen mengangguk singkat.
"Aku harap kau selalu berbahagia dengan keluargamu," ucap Veronica tulus.
"Kau juga demikian, semoga kau berbahagia dengan keluargamu," jawab Brayen dengan tulus. " Veronica, aku harus pergi sekarang. Aku harus segera kembali ke Indonesia."
"Baiklah Brayen, terima kasih atas waktu yang sudah kau berikan. Hati - hati Brayen." Veronica kembali tersenyum, tatapannya menatap lembut Brayen.
Brayen mengangguk, lalu berjalan meninggalkan Veronica. Brayen langsung masuk kedalam mobil. Tidak lama kemudian, mobil Brayen sudah berjalan meninggalkan lobby hotel.
Veronica masih menatap kepergian mobil Brayen, tanpa sadar air matanya mulai membasahi pipinya. Setidaknya dia sudah meminta maaf pada Brayen. Sudah tidak ada lagi permasalahan dengan Brayen. Dia lebih tenang, karena terus merasakan perasaan bersalah selama bertahun - tahun.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.