
Tanpa Devita sadari. Sudah sejak tadi, ada sebuah mobil sport berwarna putih yang terus mengawasi Devita. Mereka mengawasinya dari jarak yang cukup jauh. Kaca gelap yang menutupi ada dua wanita cantik yang berada di dalamnya.
"Elena, apa rencanamu selanjutnya?" tanya seorang wanita di samping Elena.
"Kau akan tahu nanti, yang jelas aku sudah punya rencana yang sangat bagus untuk menyingkirkan istri Brayen itu" balas Elena dengan seringai di wajahnya.
"Baiklah, aku tinggal menunggu perintah darimu saja. Tapi Elena, apa kau sungguh ingin menggugurkan kandunganmu?" tanya wanita itu.
"Aku tidak ingin hamil, jika bukan anak Brayen. Sudah sejak awal aku berniat menggugurkannya setelah aku tahu. Brayen sudah mengetahuinya." jawab Elena.
Wanita itu tertawa. "Kau ini bagaimana Elena, dulu kau memiliki Brayen tapi kau malah berselingkuh."
"Dulu itu Brayen terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sungguh membosankan" balas Elena.
"Tapi istri Brayen itu sangat cantik. Dia juga wanita yang lembut Elena,"
"Aku jauh lebih cantik darinya. Kau tidak lihat, dia kalah seksi denganku." tukas Elena.
"Well, tidak semua pria menyukai wanita seksi Elena. Menurutku istri Brayen itu sangat cantik, dia anggun dan juga baik." ujar wanita itu.
"Jangan memujinya di depanku! Dia tidak pantas mendapatkan pujian seperti itu!" Seru Elena.
Wanita itu terkekeh. "Ya, baiklah. Kita pulang sekarang. Aku tidak ingin ada orang yang melihat kita. Tutuplah wajahmu dengan selendang, aku tidak ingin anak buah William atau Brayen datang ke Apartemenku dan menghancurkan Apartemenku."
"Tenang saja, William dan Brayen pasti tidak akan bisa menemukanku," balas Elena. Kemudian ia mengambil selendang dan menutupi wajahnya.
Kini mobil mereka berjalan meninggalkan tempat yang tidak jauh dari kampus Devita.
...***...
Olivia baru saja keluar dari kelas, ia mampir ke kantin untuk membeli dua hot chocolate. Setelah dari kantin Olivia berjalan menuju ke arah taman. Letak kantin dan taman tidak terlalu jauh. Olivia sudah melihat Devita sedang membaca novel, ia langsung melangkah mendekat dan duduk di hadapan Devita.
"Ini untukmu," Olivia menyerahkan hot chocolate untuk Devita.
"Terima kasih," ucap Devita, ia langsung menyesap hot chocolate yang di berikan oleh Olivia.
"Devita, bagaimana weekendmu? Apakah menyenangkan?" tanya Olivia.
Devita mendesah pelan. "Weekend ku ada Felix datang ke rumahku. Selain itu, Angkasa juga datang ke rumahku."
Olivia mendelik. " Tunggu, tadi kau bilang Angkasa datang kerumahmu?"
"Ya, dia datang ke rumahku dia menerobos masuk dan membawa anak buahnya. Pada akhirnya aku yang meminta Asistenku untuk mengizinkan Angkasa masuk. Karena, Brayen tetap pada sifat kerasnya, Brayen tidak mengizinkan Angkasa masuk kedalam rumah." ujar Devita.
Olivia menggeleng pelan, ia tidak menyangka dengan keberanian yang di miliki oleh Angkasa. " Ternyata Angkasa sangat berani." balas Olivia.
"Kau tidak tahu, saat kemarin Angkasa datang dan ingin membahas tentang pernikahannya dengan Laretta. Tentu saja Brayen menolaknya dan Angkasa akhirnya meminta pada Brayen untuk mengajukan persyaratan apa saja padanya, asalkan Angkasa bisa menikah dengan Laretta. Dan Brayen mengajukan persyaratan yang luar biasa seperti orang kehilangan akal sehatnya," ujar Devita ketika mengingat itu ia selalu saja kesal pada suaminya.
Olivia mengerutkan keningnya. " Memangnya persyaratan apa yang Brayen minta dari Angkasa?"
"Brayen meminta Angkasa untuk melawan dirinya. Tidak seperti sebelumnya, ketika Brayen memukul Angkasa dulu. Angkasa tidak membalasnya. Tapi kemarin Brayen meminta Angkasa untuk membalas pukulan dari Brayen. Tujuannya, Brayen hanya ingin memastikan, jika Angkasa bisa menjaga Laretta." jelas Devita.
"Astaga Brayen, dia sungguh manis, dia begitu menyayangi adiknya. Aku jadi ingin memiliki Kakak laki - laki, dia bisa melindungiku. Ah, kenapa nasibku sama sepertimu, Devita. Kenapa aku harus menjadi anak tunggal. Aku melihat Brayen begitu menyayangi adiknya, membuatku sangat iri," balas Olivia.
Devita mendengus, " Kau ini sudah gila. Sama saja dengan Brayen!"
"Aku bukan gila, aku hanya melihat dari sudut pandang ku, suamimu itu memang hebat. Dia melindungi adiknya, meski dengan cara yang berlebihan. Tapi bukankah itu bagus, melindungi adiknya sendiri?" ujar Olivia.
"Dan untuk Angkasa, aku harus mengakui kehebatannya. Angkasa ternyata pria yang sangat bertanggung jawab. Tidak hanya itu, dia juga berani melawan suamimu yang hebat itu." lanjut Olivia.
"Tapi tunggu, jadi di antara Brayen dan Angkasa siapa yang menang?" tanya Olivia.
Devita langsung menatap tajam sahabatnya itu. " Kau itu memang sudah gila, Olivia. Bisa - bisanya kau bertanya siapa yang menang!" Seru Devita.
"Ck! Memang apa salahnya jika bertanya? Aku hanya ingin bertanya. Ya, tentu karena aku juga penasaran." balas Olivia.
"Tidak ada yang menang dan kalah. Kau tidak tahu, wajah Brayen dan Angkasa sudah di penuhi oleh luka lebam. Sebenarnya Angkasa jauh lebih parah, Brayen menghajar Angkasa tanpa ampun. Aku melihatnya dengan jelas. Tapi beruntung, Angkasa bisa bertahan dan membalas setiap pukulan dari Brayen." ujar Devita.
"Semoga setelah ini, Brayen bisa memberikan kesempatan untuk Angkasa. Aku saja yang mendengar ceritamu, aku ikut merasakan ketulusan dari Angkasa," kata Olivia.
Devita mengangguk setuju. " Aku juga demikian, aku yakin Angkasa akan menjaga Laretta dengan sangat baik."
"Olivia, lebih baik kita pulang sekarang. Aku ingin menemani Laretta di rumah." ucap Devita.
"Ya baiklah, kita pulang sekarang. Aku juga sudah tidak ada kelas lagi." balas Olivia.
Kemudian Olivia dan Devita beranjak, mereka berjalan menuju ke arah parkiran mobil. Saat Devita dan Olivia sudah tiba di parkiran, mata Olivia tertuju pada ban mobilnya.
"Devita, ban mobilku bannya kempes bagaimana ini?" ucap Olivia kesal.
"Tinggalkan saja mobilmu, aku akan mengantarmu pulang," balas Devita.
"Tapi, jarak mansion kita cukup jauh Devita. Kau akan pulang terlambat. Bukankah tadi kau bilang ingin menemani Laretta?" ujar Olivia.
"Tidak perlu khawatir. Aku masih memiliki waktu. Ayo masuk ke mobilku." ucap Devita, akhirnya Olivia mengangguk setuju.
Devita mulai mengendarai mobilnya, meninggalkan area parkir di kampusnya. Devita tidak tega jika melihat Olivia pulang naik taksi, lagi pula Devita masih memiliki waktu.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.