Love And Contract

Love And Contract
Kebahagiaan



Di ruang persalinan Brayen terlihat begitu panik dan cemas, kala Devita menjerit dan merintih kesakitan. Sang dokter mengatakan pada Brayen, jika seorang ibu melahirkan akan merasakan sakit yang luar biasa. Namun, sang dokter langsung mendapatkan tatapan begitu tajam dari Brayen. Brayen tidak mungkin tega, melihat istrinya itu menjerit kesakitan seperti ini.


"Brayen...." Devita terlihat begitu pucat, keringatnya membasahi keningnya. Air mata Devita terjatuh membasahi pipinya. Dia sungguh merasakan sakit yang luar biasa.


"Sayang, bertahanlah, aku di sini." bisik Brayen seraya mengecup puncak kepala Devita. "Kau bisa memukulku dengan menarik rambutku untuk mengurangi rasa sakitmu."


"Sakit, Brayen." rintih Devita dengan air mata yang terus terjatuh membasahi pipinya.


"Iya sayang, aku di sini bertahanlah," Brayen mengecup bibir Devita, memberikan kekuatan untuk istrinya.


"Brayen, aku sudah tidak kuat." Devita memejamkan matanya, saat perutnya kini merasakan begitu sakit.


"Jangan berkata seperti itu, sayang." Brayen terus mengecupi kening Devita.


Dokter dan perawat masuk kedalam ruang bersalin. Mereka mempersiapkan alat - alat medis. Kemudian sang dokter, memeriksa jalan lahir Devita.


"Nyonya Devita, anda harus mendorong dengan kuat, kepala bayi sudah terlihat, Nyonya." ucap sang dokter.


Devita menggangguk lemah, kemudian dia mendorong sekuat mungkin. Brayen terus berada di samping Devita memberikan kekuatan pada istrinya.


"Akhhhh-" Devita menjerit keras, dia menarik nafas yang dalam dan mengeluarkan dari mulut.


Brayen menulikan pendengarannya kala mendengar suara jeritan Devita dan teriakan Devita yang begitu kencang.


Brayen meringis, saat Devita menggigit lengannya. Dia membiarkan istrinya itu menggigit lengannya. Ini semua demi mengurangi rasa sakit istrinya itu.


"Akh-" Devita menjerit panjang, seraya melepaskan gigitannya. Bersamaan dengan itu, suara tangis bayi pecah di segala penjuru ruangan bersalin itu.


"Kau berhasil, sayang." Brayen mengeluarkan air matanya, saat mendengar suara tangisan bayinya.


Devita tidak bisa lagi menahan harunya, ketika berhasil melahirkan buah cintanya dengan Brayen. Brayen tidak hentinya mengecup kening Devita. Baik Brayen dan Devita mereka berdua sama - sama mengeluarkan air matanya.


"Tuan Brayen, Nyonya Devita. Selamat bayi kalian laki - laki." ucap sang dokter.


Kemudian, sebelum sang dokter meminta Devita melakukan proses IMD. Brayen lebih dulu menggendong bayinya yang masih sangat mungil itu. Dia tidak henti meneteskan air mata ketika menggendong putranya. Brayen terus mengecupi kening putranya.


Brayen segera meminta perawat untuk segera memindahkan Devita keruang VVIP setelah proses IMD, tidak lama kemudian Devita dipindahkan ke ruang rawat VVIP sesuai permintaan dari Brayen.


...***...


Kini seluruh keluarga Brayen dan keluarga Devita masuk kedalam ruang rawat Devita. Terlihat Angkasa dan Laretta juga ada di sana. Sedangkan Vania, bayi perempuan mereka berada di gendongan Laretta.


Felix yang juga ada di sana bersama dengan Olivia yang tidak sengaja mereka bertemu di depan. Olivia masih bersikap seolah tidak terjadi apapun. Karena bagaimanapun kehadiran Olivia, untuk Devita.


"Selamat Devita," Olivia langsung memeluk Devita. Setelah sebelumnya Felix yang lebih dulu memeluk dan mengucapkan selamat pada Devita.


"Terima kasih, Olivia." jawab Devita sambil tersenyum.


"Devita, akhirnya Vania punya sepupu yang sangat tampan." ucap Laretta dengan begitu bahagia.


Devita tersenyum. "Ya, nanti anakku pasti akan melindungi Baby Vania."


"Brayen, apakah kau sudah memberikan nama untuk cucu Papa?" tanya David yang sudah tidak sabar.


"Sean Adams Mahendra," jawab Brayen dengan begitu bangga kala menyebutkan nama anaknya.


"Nama yang luar biasa, pasti cucuku akan tumbuh menjadi pria yang sangat hebat!" Seru Nadia dan Rena secara bersamaan.


David mendekat. Dia menepuk bahu putranya. "Kau sudah menjadi seorang Ayah. Selamat, son. Daddy akan selalu bangga padamu. Jaga dan lindungi anak dan istrimu melebihi dirimu sendiri."


Brayen tersenyum dan mengangguk. "Aku akan menjaganya, melebihi apapun di dunia ini."


Tidak lama kemudian, semua orang berpamitan untuk pulang. Mereka memberikan ruang untuk Devita beristirahat. Setelah semua orang sudah berpamitan, Sean langsung digendong oleh Brayen.


"Brayen, Sean masih tertidur?" tanya Devita dengan suara yang pelan.


"Ya, dia masih tidur." jawab Brayen sambil melihat putranya itu.


"Sean, sangat mirip denganmu. Dari mata, hidung, alis. Itu sangat tidak adil! Kenapa tidak ada yang meniruku? Aku yang melahirkannya dengan susah payah!" Devita mendengus. Dia menatap kesal Brayen.


Brayen mengulum senyumannya, dia duduk di tepi ranjang. Dengan tangan yang masih menggendong Sean. "Anak - anakku harus mirip denganku, sayang. Nantinya Sean yang akan menggantikanku. Kau ingat, bukan?"


Devita mendesah pelan. "Bagaimana jika anak kita memiliki cita - cita sendiri, Brayen?"


"Tidak bisa. Aku sudah mengatur hidup Sean. Termasuk nanti pasangan untuknya. Aku tidak akan membiarkan Sean mendapatkan wanita yang sembarangan." jawab Brayen sambil melihat putranya itu.


Devita mendesah pelan. "Kasihan sekali anakku, sudah di atur hidupnya olehmu. Tidak ada sedikitpun kebebasan untuknya."


"Anak kita, Devita." sela Brayen.


"Iya, anak kita." cebik Devita.


Brayen tersenyum, dia mengecup kening Devita. "Terima kasih karena telah memberikanku kebahagiaan yang tidak pernah aku dapatkan dalam hidupku. Aku berjanji akan menjagamu dan juga anak - anak kita nanti. Aku pastikan dunia berada di genggaman anak kita."


Devita mengelus rahang Brayen. "Terima kasih Brayen, kau sudah sabar bersama denganku. Sifatku yang kekanakan, kau tidak pernah mengeluh sedikitpun. Terima kasih, karena sudah menjadi suami yang begitu sempurna. Aku yakin dan percaya. Kau akan menjadi Daddy yang sempurna untuk anak - anak kita. Kau dan anak-anak kita adalah hidupku."


"Kau juga istri yang sangat sempurna. Terima kasih telah menerima segala sifat dan kekuranganku." Brayen mendekatkan bibirnya ke bibir Devita lalu memagut dengan lembut bibir istrinya itu. Namun, tiba - tiba tangis Sean pecah, dengan terpaksa Brayen melepaskan pagutannya. Lalu dia menatap dingin putranya yang menangis. "Boy, kau jangan menganggu Daddy dan Mommy!"


Brayen mendengus, dia menatap putranya. "Boy, dengarkan Daddy. Jika kau terus menganggu Daddy dan Mommy, jangan berharap Daddy akan menuruti keinginanmu. Apa kau mengerti."


Perlahan suara tangisan Sean mulai mereda tepat di saat mendengar ucapan Brayen yang telah memberikan ancaman itu. Sedangkan Devita terkekeh geli, ternyata putranya itu sudah mengerti dengan ancaman dari Brayen.


"Good, kau memang harus selalu menuruti Daddy. Tidak ada lagi pilihan selain menuruti Daddy," ucap Brayen sembari mengecup pipi gemuk Sean.


Devita tersenyum haru, melihat pemandangan yang begitu indah. Ya, berawal dari sebuah perjanjian pernikahan, kenyataannya mereka saling jatuh cinta satu sama lain. Pada akhirnya mereka memiliki kehidupan yang bahagia dan sempurna. Di tambah kehadiran buah cinta pertama mereka Sean Adams Mahendra. Putra pertama mereka yang begitu mereka cintai.


...***...


Pagi harinya Olivia datang lagi ke rumah sakit untuk menjenguk Devita sekaligus berpamitan padanya.


"Devita....."


"Olivia?" ucap Devita dengan senyuman di wajahnya.


Olivia mendekat lalu mengecup pipi Sean. "Aku ingin berpamitan padamu, Devita." ucapnya dengan air mata yang kini mulai berembun. Namun, sebisa mungkin Olivia menahan air matanya.


"Kau mau kemana, Olivia?" wajah Devita terlihat begitu sedih, saat mendengar Olivia ingin berpamitan.


"Ini sudah waktunya. Sebelumnya aku bertahan di sini hanya karena menunggumu melahirkan. Sekarang waktunya aku untuk pergi Devita," balas Olivia dengan tatapan lembut ke arah Devita.


"Tidak Olivia, aku mohon jangan pergi." Devita menggelengkan kepalanya. Kini matanya berkaca - kaca menatap sendu Olivia. "Jangan pergi Olivia. Apa tidak bisa kau tinggal saja di sini."


Olivia mengelus lengan Devita. "Sekarang, kau sudah memilki Brayen dan juga Sean yang menjagamu. Dengan hidupmu sekarang sudah sempurna. Aku berjanji akan mengunjungimu suatu saat nanti."


"Apa kau sudah memikirkan ini semua dengan baik, Olivia?" tanya Devita lagi dengan tatapan yang penuh harap Olivia akan membatalkan keinginannya untuk pergi.


"Aku sudah memikirkan ini semua, Devita. Aku harus tetap pergi." jawab Olivia dengan penuh keyakinan.


Devita tersenyum lirih. "Baiklah Olivia, jika itu maumu. Tapi kau harus tetap mengunjungiku dan segera beritahu kemana kau akan pergi."


"Suatu saat, aku pasti akan memberitahumu Devita." Olivia mendekat dia langsung memeluk Devita. Kemudian dia mengecup kening Sean. "Devita, aku harus berangkat sekarang. Penerbanganku dua jam lagi. Aku selalu merindukanmu."


Air mata Devita tidak mampu lagi tertahan. Perlahan air matanya mulai berlinang membasahi pipinya, karena Devita sama sekali tidak menyangka akan berpisah dengan Olivia seperti ini. "Aku juga akan selalu merindukanmu, Olivia."


Olivia tersenyum, kemudian berjalan meninggalkan Devita.


Setelah melihat kepergian Olivia, Devita langsung menghubungi Felix, dia ingin agar Felix bisa memperjuangkan hubungannya dengan Olivia tanpa adanya penyesalan.


...***...


Setelah mendapatkan informasi dari Devita Felix langsung pergi menuju ke arah Bandara. Devita juga sudah meminta bodyguard Brayen untuk mengikuti Olivia secara diam - diam sampai ke bandara agar memudahkan Felix menemukan Olivia. Sepanjang perjalanan Felix terus mengumpat, terlebih nomor ponsel Olivia sudah tidak aktif. Dia menginjak gas, menambah kecepatan. Kali ini Felix tidak mempedulikan dirinya yang melewati aturan lalu lintas. Dia tidak perduli dengan dirinya yang nantinya harus berurusan dengan kepolisian.


Kemudian, Felix langsung turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam bandara setelah mendapatkan informasi keberadaan Olivia dari bodyguard yang di kirimkan oleh Devita secara diam - diam.


"Olivia Roberto!" Suara bariton berteriak begitu menggelegar menyebut nama Olivia. Hingga membuat semua orang yang ada di bandara menoleh ke arah sumber suara itu. Termasuk Olivia yang terdiam mematung tidak bergeming dari tempatnya saat melihat sosok pria yang begitu dia kenali melangkah mendekat kearahnya. Melihat pria itu nyatanya Olivia tidak sanggup membendung air matanya.


"Felix," Ucap Olivia dengan suara yang pelan.


"Jangan tinggalkan aku, Olivia. Aku tidak bisa hidup tanpamu." Felix menyentuh tangan Olivia, dia menatap Olivia dengan tatapan penuh permohonan. "Olivia, kau pernah bilang padaku, jika aku mencintaimu. Aku harus melepaskanmu. Tapi kenyataannya aku tidak bisa, Olivia. Tidak akan ada seseorang yang begitu mencintai pasangannya, bisa melepaskan begitu saja. Maafkan aku Olivia, berikan aku satu kesempatan untuk menghapus luka yang aku berikan dengan kebahagiaan Olivia. Aku sangat mencintaimu, Olivia. Dan aku akan selalu menunggumu hingga kau mau memaafkan aku, meski harus bertahun-tahun, aku harus menunggu." Sambung Felix sambil menatap Olivia dengan tatapan yang begitu rapuh. Dirinya membiarkan air matanya berlinang.


"Apa kau benar akan menungguku, hingga aku memaafkanmu?" Olivia semakin terisak, dia menatap dalam Felix.


Felix mengangguk. "Jika kau akan meninggalkan Indonesia, maka aku juga akan ikut denganmu meninggalkan Indonesia. Aku akan selalu berada di sampingmu, Olivia. Meski harus bertahun-tahun menunggumu hingga kau mau memaafkanku."


"Bantu aku untuk memaafkanmu, Felix. Tapi, apa kau yakin akan ikut denganku? Lalu bagaimana dengan perusahaanmu?" ucap Olivia terisak dalam pelukan Felix. Dia menghirup aroma tubuh yang begitu dia rindukan.


Felix menggangguk. "Aku akan selalu menemanimu dan meninggalkan negara ini. Dan untuk perusahaanku aku akan meminta orangku untuk menanganinya."


"Terima kasih, karena kau masih mau menungguku Felix...." Olivia kembali meneteskan air matanya.


"Aku akan menunggumu. Maafkan aku. Meski,harus bertahun-tahun, aku tidak perduli. Aku mencintaimu, Olivia." balas Felix dengan tatapan yang lembut.


"Aku juga mencintaimu, Felix." ucap Olivia yang semakin terisak.


Felix tersenyum mendengar ucapan Olivia, jika mencintai dirinya. Dia langsung menangkup pipi Olivia, lalu membenamkan bibirnya pada wanita yang dia cintai itu.


Suara tepuk tangan riuh terdengar. Dan beberapa paparazi, mengambil gambar Olivia dan juga Felix. Orang - orang yang ada di bandara terus bertepuk tangan ketika melihat Felix dan Olivia yang terlihat begitu romantis.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.