Love And Contract

Love And Contract
Rencana Pernikahan



Angkasa dan juga Laretta turun dari mobil, mereka melangkah masuk kedalam rumah keluarga Angkasa. Sebelumnya Laretta meminta Angkasa untuk pergi ke salah satu mall terdekat. Laretta tidak bisa jika tidak membawakan apapun untuk Citra. Meski awalnya Angkasa menolak, tetapi Laretta terus memaksa Angkasa. Tidak mungkin Laretta tidak membawa apapun. Beruntung, Angkasa mau pergi ke salah satu mall terlebih dulu.


Angkasa menggenggam tangan Laretta, masuk kedalam rumah. Para pelayan menundukkan kepalanya dan menyapa Angkasa dan juga Laretta yang masuk kedalam rumah. Laretta membalas sapaan mereka dengan senyuman ramah di wajahnya.


"Ma..." panggil Angkasa saat dia dan Angkasa sudah tiba di ruang keluarga.


Citra tersenyum melihat Angkasa dan juga Laretta. "Kalian sudah datang? Kemarilah..."


"Apa kabar Bibi? Sapa Laretta dengan senyuman hangat di wajahnya.


"Baik sayang, kau terlihat sangat cantik hari ini." Citra memeluk Laretta, dia mengelus lembut pipi Laretta.


"Terima kasih, Bibi." balas Laretta. "Ini aku membawakan sesuatu untuk Bibi."


Laretta menyerahkan shopping bag yang berisi heels dari Christian Louboutin yang dia beli tadi saat datang ke rumah Angkasa.


"Oh, sweetheart. Kenapa kau itu harus merepotkan dirimu? Bibi hanya menginginkan agar kau datang, sayang." Citra yang merasa tidak enak, dia pun akhirnya menerima shopping bag itu.


"Tidak merepotkan Bibi, aku harap Bibi menyukai pilihanku." ujar Laretta.


"Calon istriku ini tidak bisa datang menemui Mama tanpa membawa apapun, tadi dia memaksaku untuk menemaninya ke mall dan membeli sepatu untuk Mama," sambung Angkasa dengan nada yang sedikit kesal. Menemani Laretta berbelanja dan memilih sepatu itu tidaklah sebentar. Angkasa harus sabar menunggu hingga Laretta menemukan sepatu yang paling tepat menurutnya.


"Benarkah? Kalau seperti itu, kau memang menantu idaman Mama." balas Citra. "Laretta, mulai detik ini kau harus memanggilku dengan sebutan Mama. Bukan Bibi lagi, karena kau sudah seperti putriku sendiri."


"Tapi Bi-"


"Tidak ada kata tapi sayang, ini sudah keharusan. Nanti juga kau akan memanggilku Mama, jadi tidak ada salahnya jika sekarang kau memanggilku Mama," Citra langsung memotong ucapan Laretta dengan cepat.


Laretta tersenyum, "Ya Mama, terima kasih karena telah menganggapku seperti putrimu."


"Ya sudah, lebih baik kita makan. Mama telah memasakkan makanan khusus untuk kalian berdua," ujar Citra dan Laretta mengangguk.


Kemudian mereka melangkah menuju ke arah ruang makan. Citra memang sengaja memasak untuk Laretta yang dia undang datang hari ini.


Saat mereka tiba di ruang makan, makanan mereka sudah terhidang di atas meja makan. Citra, Laretta dan Angkasa duduk, dan mau menikmati makanan yang sudah terhidangkan itu.


"Laretta, sayuran itu baik untuk ibu hamil. Mama membuat Taco hari ini khusus untukmu. Mama tidak tahu apa kau itu suka sayur atau tidak, jadi Mama khusus membuat Taco karena ini di campur dengan daging. Mama harap kau menyukai makanan Mama."Citra mengambil Taco yang telah di buat, lalu memberikannya kepada Laretta.


Laretta tersenyum, menerima piring yang berisi Taco. "Terima kasih, Ma..."


"Angkasa, kau makan yang banyak. Jangan terlalu sibuk bekerja, tapi kau tidak memikirkan kesehatanmu sendiri." kata Citra memberikan peringatan kepada putranya itu.


Angkasa mengangguk, dia mengambil soup kepiting dan juga Mashed potato. Jika sudah di rumah, tidak mungkin Angkasa tidak menuruti keinginan ibunya. Angkasa sudah terbiasa dengan permintaan Citra yang meminta dirinya untuk makan banyak.


"Ma, dimana Papa?" tanya Angkasa, yang sejak tadi tidak melihat Ayahnya.


"Papa sedang sibuk, belakangan ini Papa banyak meeting dengan perusahaan Asia," jawab Citra. "Angkasa, kapan kau akan menikah dengan Laretta? Kandungan Laretta sudah membesar. Tidak baik, jika kau menunda terlalu lama."


"Rencananya, aku dan Laretta akan menikah bulan depan. Aku akan memilih wedding organizer yang di pakai saat pernikahan Devita." balas Angkasa.


Laretta tersedak, dia terbatuk ketika mendengar perkataan dari Angkasa. Citra yang duduk di samping Angkasa, langsung mengambilkan air putih untuk Laretta.


"Terima kasih, Ma." ucap Laretta yang menerima air putih dari Citra.


"Hati - hati Laretta." balas Citra.


Angkasa tersenyum, "Kau sepertinya terkejut dengan apa yang aku katakan tadi?"


"Bagaimana tidak terkejut!" Laretta meletakkan gelas itu di tempat semula. "Kau tidak membahas apapun padaku, sekarang kau mengatakan jika kita akan menikah bulan depan. Kau sungguh gila Angkasa! Bahkan aku belum mempersiapkan apapun."


"Ah, jadi Angkasa tidak menceritakan apapun padamu?" tanya Citra.


Laretta menggangguk. "Aku bahkan tidak tahu dengan rencana Angkasa ini, Ma."


"Aku memang tidak membahasnya padamu, lagi pula persiapan pernikahan kita akan di urus oleh wedding organizer, jadi kau tidak perlu memikirkan masalah tentang persiapan pernikahan kita," balas Angkasa. "Untuk gaun pengantin, kau bisa memakai gaun desainer langgananmu. Aku yakin satu bulan untuk persiapan pernikahan kita sangat cukup. Aku tidak ingin lagi menunda. Usia kandunganmu sudah besar. Kita itu tidak mungkin menikah menjelang persalinan mu bukan?"


Laretta mendengus kesal, "Tapi tidak bisa dengan mendadak seperti ini Angkasa. Banyak yang harus aku persiapkan. Terutama keluargaku Mommy dan Daddyku pasti banyak mempersiapkan segalanya."


"Tapi-"


"Laretta sayang, benar apa yang di katakan oleh Angkasa. Kalian berdua tidak bisa menunda lagi pernikahan kalian. Usia kandunganmu sudah membesar. tidak mungkin kalian menikah, menjelang persalinanmu." sambung Citra yang menyetujui rencana Angkasa. Karena memang, usia kandungan dari Laretta sudah membesar. Tidak mungkin jika mereka menunda lagi.


Laretta mendesah pelan, "Baiklah, nanti aku akan segera membahasnya pada orang tuaku."


Angkasa tersenyum. "Ya sudah, hari ini aku harus pergi ke kantor sebentar. Nanti sore, aku akan menjemputmu Laretta. Apa kau tidak apa - apa?"


"Tentu tidak apa - apa. Biarkan Laretta di sini dengan Mama." balas Citra dengan wajah yang senang.


"Benar Angkasa. Aku tidak apa - apa. Kau bisa menjemputku nanti sore." ujar Laretta.


"Baiklah, kalau begitu aku berangkat sekarang." Angkasa beranjak dari tempat duduknya, dia mengecup kening Laretta dan juga Citra. Kemudian Angkasa melangkah meninggalkan Laretta dan juga Citra.


"Laretta, maaf jika Angkasa itu terlalu sibuk dengan urusan perusahannya." kata Citra saat Angkasa sudah pergi meninggalkan mereka.


Laretta tersenyum, "Tidak masalah, Ma. Aku sangat mengerti, Angkasa sangat sibuk karena mengurus pekerjaannya. Aku tidak akan marah, karena semua itu dia lakukan hanya untuk diriku dan anak kami nanti. Angkasa itu pria yang sangat hebat dan bertanggung jawab."


"Kau benar, dia itu sangat bertanggung jawab. Mama itu selalu bangga atas dirinya." balas Laretta. "Laretta, ayo ikut Mama. Mama ingin memberikanmu sesuatu."


"Ya Ma," Laretta beranjak dari tempat duduknya, begitu pun dengan Citra yang beranjak dari tempat duduknya. Mereka kemudian berjalan meninggalkan ruang makan.


Citra membawa Laretta masuk kedalam kamarnya, wajah Laretta pun sedikit bingung karena Citra membawa dirinya masuk kedalam kamarnya. Laretta duduk di sofa, kemudian Citra mengambil sesuatu dari dalam brankasnya.


Laretta menatap Citra yang melangkah mendekat ke arahnya dengan membawa sebuah kotak di tangannya. Citra pun duduk di samping Laretta, dia langsung membuka kotak itu. Dan Laretta menatap sebuah kalung berlian yang sangat indah.


"Laretta, Mama ingin sekali kau memakai ini." Citra memasangkan kalung berlian itu di leher Laretta. "Lihatlah, kau itu sangat cantik memakai kalung ini."


Laretta menyentuh kalung berlian yang sudah terpasang di lehernya itu. "Mama? Tapi ini-"


"Jangan menolaknya sayang, ini adalah kalung turun - temurun dari keluarga Nakamura. Setiap menantu keluarga Nakamura akan mendapatkan kalung seperti ini." ujar Citra. "Dan sebentar lagi kau akan menikah dengan Angkasa, itu artinya kau harus mendapatkan kalung ini sayang. Lihatlah, kau ini terlihat sangat cantik memakai kalung ini. Mama sangat senang, akhirnya Mama bisa memberikan kalung ini pada calon istri Angkasa."


"Aku sungguh merasa tidak enak menerima ini, Ma." balas Laretta.


"Ini memang untukmu, sayang. Sebentar lagi kau akan menjadi menantu di keluarga Nakamura." Citra mengelus lembut pipi Laretta. "Tuhan sungguh baik, dia mengirimkan wanita yang baik di hidup Angkasa. Dulu saat Mama mendengar Devita sudah menikah dengan pria lain, Mama sangat kecewa. Mama berfikir tidak ada lagi wanita yang baik untuk Angkasa. Tapi kenyataannya tidak. Kau sangat baik Laretta. Bahkan meski kau adalah putri dari keluarga Mahendra, kau itu sangat baik dan tidak pernah memandang rendah orang lain. Wanita yang sepertimu lah yang pantas bersanding dengan putraku."


Laretta tersenyum. "Angkasa juga pria yang tepat untuk bersanding denganku."


"Mama," suara Alena berseru saat masuk kedalam kamar Citra. Alena tersentak saat melihat Laretta berada di dalam kamar Citra.


"Alena? Kau sudah pulang?" Citra tersenyum melihat Alena yang melangkah masuk kedalam kamarnya.


"Hi Alena," sapa Laretta.


"Untuk apa kau kesini?" Alena melayangkan tatapan dingin ke arah Laretta.


"Alena! Bicara yang sopan!" Tegur Citra.


"Aku tidak ingin melihatmu berada di rumahku! Pergi, dan jangan datang lagi kerumahku! Kau sudah memiliki istana sendiri, bukan! Jadi jangan datang lagi kerumahku! Aku tidak menerima ****** ini datang kerumahku!" Seru Alena meninggikan suaranya. Tatapannya terus menatap tajam Laretta. Wajah Alena menunjukkan ketidaksukaan pada Laretta.


"Alena!" Sentak Citra menajamkan matanya pada putrinya.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.