Love And Contract

Love And Contract
Kekecewaan Brayen Dan Permohonan Angkasa



Sepanjang perjalanan suasana begitu menegangkan. Laretta ikut di mobil Brayen, dia tidak di perbolehkan ikut di mobil Angkasa. Devita melihat ke arah Laretta yang duduk di sampingnya, adik iparnya itu terlihat begitu takut. Tangan Laretta bergetar ketakutan, bahkan Laretta terus menggigit bibir bawahnya untuk menangani rasa takut wanita itu.


Brayen duduk di kursi depan, Devita sangat tahu suaminya kini sangat marah. Malam ini, apa yang di lakukan Alena memang sudah di luar batas. Devita tidak pernah terpikir, Alena akan mempermalukan Laretta. Bahkan apa yang di lakukan oleh Alena di lihat langsung Brayen dan juga Angkasa. Devita sangat mengenal suaminya itu.


Devita melihat ke arah belakang, mobil suaminya beriringan dengan beberapa mobil pengawal dan juga mobil Angkasa. Devita mengingat wajah Angkasa tadi yang terlihat begitu muram. Devita memahami, Angkasa mencemaskan Laretta. Tapi di sisi lain, Angkasa ingin dirinya sendiri yang menghukum Alena. Namun, kenyataannya itu akan sulit terjadi. Jika Brayen sudah ikut campur, maka tidak ada yang bisa menahannya. Meski Angkasa Kakak dari Alena sekalipun, Brayen tetap tidak perduli.


Mobil Brayen mulai memasuki mansion, kemudian Brayen lebih dulu turun dari mobil. Terlihat jelas kemarahan dari wajah Brayen, dia membanting kasar pintu mobil. Dengan cepat Devita dan Laretta menyusul, mereka turun dan masuk ke dalam rumah.


"Brayen tunggu," Angkasa turun dari mobilnya, dia berlari mengejar Brayen yang masuk kedalam rumah.


Brayen berbalik, dengan tatapan tajamnya menatap Angkasa. "Untuk apa kau kesini?" suara Brayen terdengar begitu dingin, bahkan kali ini Brayen terlihat begitu membenci Angkasa.


"Brayen, dengarkan penjelasanku. Aku sungguh tidak tahu jika adikku akan berniat seperti ini. Tapi Demi Tuhan aku tidak akan pernah membela adikku. Laretta begitu penting di hidupku. Aku sungguh mencintai adikmu Brayen. Aku bersumpah hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi. Aku akan menjaga Laretta dengan baik," kata Angkasa dengan nada penuh permohonan.


Laretta dan Devita yang berada di sana, mereka menatap iba ke arah Angkasa yang terus memohon kepada Brayen. Devita sungguh tidak tega, melihat semua ini. Tapi Devita tidak bisa melakukan apapun. Kemarahan Brayen malam ini, membuat Devita tidak bisa berbicara sekarang. Paling tidak, Devita membutuhkan waktu hingga emosi Brayen jauh lebih membaik.


"Apa? Mencintai adikku?" Brayen tersenyum sinis. "Seperti ini caramu mencintai adikku? Bahkan kau tidak mampu melindungi adikku dari orang - orang yang berniat melukainya! Bagaimana bisa aku membiarkan adikku berada di tangan pria macam dirimu?"


"Aku tidak tahu! Jika aku mengetahuinya aku pasti tidak akan pernah tinggal diam!" Balas Angkasa sengit.


"Kau tidak tahu? Tentu kau tidak bisa menutupi kebodohanmu! Adikmu yang sialan itu berani menghina adikku? Dimana letak kau melindungi adikku?!" Seru Brayen meninggikan suaranya.


"Cukup, Kak! Ini bukan salah Angkasa!" Suara Laretta berseru membela Angkasa. Karena memang Angkasa tidak tahu apapun. Laretta selalu menutupi ini dari Angkasa.


"Diam Laretta!" Bentak Brayen.


"Brayen, kau tenangkan dirimu. Kita bisa bicarakan ini baik - baik." kata Devita yang berusaha untuk menenangkan suaminya itu.


"K- kau? Jadi kau sudah tahu tentang ini Devita?" Brayen mengalihkan pandangannya, dia menatap tajam Devita.


"A-Aku," Devita menunduk, dan tidak berani menatap Brayen.


"Kakak, jangan salahkan Devita. Alena melakukan itu, karena dia belum mau menerimaku, Kak. Tapi suatu saat nanti Alena pasti akan menerimaku, Kak." ucap Laretta dengan tatapan memohon pada Brayen.


"Kau tidak pantas di perlakukan seperti itu Laretta!" Seru Angkasa. "Aku berjanji, tidak akan pernah membiarkan Alena melakukan hal seperti itu lagi padamu!"


"Angkasa, aku mohon jangan salahkan Alena. Dia seperti itu karena dia masih menginginkan Devita menjadi Kakak Iparnya. Tapi aku yakin, suatu saat nanti Alena pasti akan menyukaiku." balas Laretta.


"Masuk kedalam Laretta!" Sentak Brayen.


"Tapi-"


"Masuk!" Bentak Brayen dengan tatapan tajam. Laretta menunduk lalu masuk kedalam kamar.


Devita masih terdiam, dia tidak bergeming dari tempatnya. Devita masih tidak berani menatap Brayen yang kini di penuhi dengan amarah.


"Brayen, aku mohon. Kita bisa menyelesaikan masalah ini. Aku mohon padamu Brayen." kata Angkasa yang kembali memohon pada Brayen.


Brayen mengalihkan pandangannya, menatap tajam ke arah Angkasa. "Kau pergi dari sini, dan jangan pernah berharap kau bisa menginjakkan kakimu lagi di rumahku!"


"Kau tidak bisa melakukan itu Brayen!" suara Angkasa berseru. "Laretta adalah calon istriku!"


"Singkirkan itu dari pikiranmu sialan! Mulai detik ini, kau bukan lagi calon suami dari adikku!" Bentak Brayen. Rahangnya mengetat, dia menggeram berusaha untuk mengendalikan amarahnya. Tatapannya terus menatap tajam dan penuh kebencian pada Angkasa.


"Kau tidak mungkin melakukan ini! Laretta sedang hamil anakku, Brayen!" Balas Angkasa tak terima.


Hingga kemudian, Brayen menggerakkan kepalanya memberikan isyarat untuk mengusir Angkasa keluar dari rumah. Anak buah Angkasa berhamburan ketika melihat Angkasa di tarik paksa oleh anak buah Brayen.


"Brayen....." Devita menatap iba ke arah Angkasa, tapi dia tidak melakukan apapun. Brayen hanya melihat ke arah Devita sekilas, dia sama sekali tidak menjawab Devita.


"Aku tidak ingin melihat pria ini lagi. Bawa dia keluar!" Tunjuk Brayen ke arah Angkasa.


"Aku akan tetap menikah dengan Laretta! Meski kau menghalangi langkahku Brayen Adams Mahendra! Aku tidak perduli!" Tukas Angkasa menekankan. Kemudian dia membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan Brayen.


"Bermimpilah! Karena aku akan menjadi orang pertama yang akan menghalangimu!" Desis Brayen tajam.


"Brayen...." Devita kembali memberanikan diri berbicara pada suaminya itu.


Brayen menatap dingin Devita, dia langsung menarik paksa tangan Devita menuju ke arah kamar mereka. Devita meringis kesakitan, tapi Brayen tidak memperdulikan itu. Devita memejamkan matanya ketika Brayen semakin mencengkram kuat pergelangan tangannya.


...***...


"Apa lagi yang kau tutupi dariku Devita Mahendra!" Teriak Brayen begitu menggelegar.


Devita tergugu, dia terus menunduk dan tidak berani menatap Brayen. "A-Aku..."


"Jawab! Apalagi lagi yang kau tutupi dariku!" Bentak Brayen.


Hingga akhirnya, Devita mengangkat wajahnya. Dia memberanikan menatap Brayen. "Maafkan aku...."


"Aku tidak membutuhkan perkataan maaf sialanmu itu!" Seru Brayen meninggikan suaranya.


Mata Devita berkaca-kaca, tidak pernah Brayen mengumpat kasar di hadapannya. Devita tidak berniat menutupi ini, hanya saja Devita sudah berjanji pada Laretta.


"Brayen, aku melakukan ini demi Laretta." kata Devita lirih.


Brayen tersenyum sinis. "Demi Laretta? Kau membiarkan adik iparmu di hina depan umum? Begitu maksudmu, Devita Mahendra?"


"Bukan!" Sela Devita cepat. "Aku tidak mungkin membiarkan itu terjadi. Kau sudah sangat tahu, Brayen. Aku itu sangat menyayangi Laretta."


"Perasaan sayangmu itu pada kenyataannya membiarkan orang lain melukainya! Jika kau mengatakan padaku tentang adik Angkasa yang j****ng itu sejak awal tidak menyukai Laretta, maka dari awal aku sudah memberikan pelajaran padanya!"


Suara Brayen terdengar begitu kecewa dan menahan geraman nya. Rahangnya mengetat, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Brayen tidak mengira, jika istrinya akan menutupi ini darinya.


"Alena adalah teman masa kecilku. Dulu aku berjanji akan menikah dengan Angkasa. Aku pikir Alena sudah melupakan itu, karena itu sudah lama sekali dan aku juga sudah menikah denganmu. Tapi kenyataannya tidak, Alena masih menginginkan aku menikah dengan Angkasa. Alena juga menuduh jika Laretta sudah menjebak Angkasa. Aku ingin sekali menceritakan ini padamu Brayen. Tapi Laretta melarangku. Laretta mengatakan, dia ingin menyelesaikan sendiri masalahnya. Aku sungguh tidak bermaksud untuk menutupi ini darimu, Brayen. Aku juga tidak menyangka jika Alena akan berbicara seperti tadi di depan umum." Devita lebih memilih untuk menjelaskan semuanya, matanya masih berkaca-kaca. Menatap Brayen agar mau memaafkan dirinya.


"Terlalu banyak hal yang kau tutupi dari diriku Devita. Selama ini, kau tidak pernah mendengarkan suamimu! Kau juga tidak pernah menuruti perkataan ku, bahkan kau sudah berjanji untuk mengatakan apapun, tapi kenyataannya kau tetap memilih untuk merahasiakannya!" Seru Brayen dengan tatapan kecewa.


"Brayen, aku tidak bermaksud..."Air mata Devita berlinang membasahi pipinya, dia terisak napasnya sesak dan sakit.


"Tidak bermaksud?" Brayen menyalang dengan tatapan dingin. "Pada kenyataannya, kau itu selalu menutupi semuanya dariku sialan! Kau tidak pernah menurutiku! Apa itu yang dinamakan seorang istri! Hah? Katakan padaku Devita!" Teriak Brayen keras.


Devita tersentak, dia tidak mampu lagi berkata - kata. Devita menunduk dan terus menangis. Percuma saja menjelaskannya sekarang, karena Brayen tidak mungkin mendengarkannya.


"Aku sangat mempercayaimu Devita. Tapi kenyataannya kau selalu mengecewakanku." tutup Brayen, dia membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan Devita yang masih terus menangis.


Tangis Devita pecah, ketika Brayen berjalan meninggalkannya, hatinya sangat sesak mendengar perkataan dari Brayen. Selama ini Devita memang sering menutupi sesuatu, tapi dia melakukan ini karena Devita mengetahui sifat keras suaminya. Devita sama sekali tidak menyangka, malam ini Brayen membentak dirinya dan begitu marah padanya.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.