
Olivia mencebikkan bibirnya. "Jangan berisik, sudah makan saja ice creammu."
Devita tersenyum, dia langsung menikmati ice cream coklat di tangannya. Suara tawa dan canda Devita dan Olivia
Devita tersenyum, kemudahan mereka memasuki salah satu toko baju yang sudah di lihat oleh Devita. Saat tiba di toko baju itu, Olivia begitu terdengar saat mereka selalu membahas masa mereka sekolah dulu.
"Olivia bagaimana kabar Ricky? Pria yang mengejarmu dulu itu," Devita terkekeh mengingat pria yang bernama Ricky yang mengejar Olivia.
"****! Jangan membahas pria culun itu. Aku tidak tahu bagaimana dia sekarang. Pasti kacamatanya sangat tebal, bukan hanya itu. Tapi tubuhnya juga sangat gemuk. Astaga, kenapa nasibku buruk sekali di kejar pria seperti dia," tukas Olivia yang kesal mengingat masa sekolahnya dulu.
Devita tertawa, " Kau jangan seperti itu, siapa tahu Ricky sangat tampan sekarang. Kita sudah lama tidak pernah melihatnya."
"Bagaimana cara dia bisa tampan, Devita? Kau ini, jangan asal bicara. Sudahlah, jangan membahas dia. Aku ini sedang makan ice cream kesukaanku!" Seru Olivia yang malas membahas tentang Ricky.
"Ya, ya baiklah. Olivia, sepertinya aku ingin membeli beberapa dress. Bagaimana denganmu?" tanya Devita, seraya melirik ke arah toko baju yang letaknya tidak jauh dari mereka.
Olivia mengangguk setuju. "Aku juga ingin berbelanja, let's go,"
Devita tersenyum, kemudian, mereka memasuki salah satu toko baju yang sudah sejak tadi sudah di lihat oleh Devita. Saat tiba di toko baju itu, Devita dan Olivia mulai memilih dress yang mereka inginkan.
"Ah, Devita ini pasti bagus untukku," kata Olivia yang menunjukkan dress berwarna merah dan hitam.
"Ya, kau akan terlihat sangat seksi, jika memakai itu," jawab Devita yang menyetujui pilihan Olivia.
"Baiklah, aku akan mengambil ini." Olivia tersenyum, dia langsung memilih dress yang ada di tangannya itu. "Bagaimana denganmu? Dress mana yang ingin kau ambil?"
"Sepertinya aku akan mengambil mini skirt yang berwarna coklat dan mustard ini. Atasannya aku lebih memilih crop top dan model one off shoulder," Devita menunjukkan pakaian yang sejak tadi dia inginkan.
"Great, kau memang sangat bagus dalam memilih pakaian. Lebih baik kita bayar ini, lalu kita makan. Aku sudah lapar," tukas Olivia yang sudah tidak sabar.
Devita mengangguk. "Baiklah, kita bayar dulu."
Setelah membayar barang belanjaan mereka, Devita dan Olivia pun berjalan meninggalkan toko pakaian. Mereka langsung mencari Restaurant yang tidak terlalu jauh.
"Devita, kita makan seafood saja hari ini." tukas Olivia.
"Baiklah, aku juga ingin sekali makan seafood." balas Devita.
Mereka melangkah masuk kedalam Restaurant, sesuai dengan keinginan Olivia di awal. Devita dan Olivia memesan seafood. Mulai dari kepiting,kerang, udang dan juga cumi. Devita pun terkekeh geli melihat mejanya. Padahal hanya dua orang saja yang akan makan, namun porsi seafood itu terlihat untuk makan sepuluh orang. Ya, mereka berdua memang sejak dulu tidak pernah memikirkan berat badan. lagi pula, mau makan banyak pun badan mereka berdua pun tidak pernah gemuk.
Tidak lama kemudian, pelayan mengantarkan makanan yang sudah di pesan oleh Olivia dan Devita. Saat makanan sudah terhidang di atas meja itu.
"Ya, terakhir aku makan seafood di Turkey. Ada satu tempat yang namannya Galata Bride, di sana banyak sekali makanan seafood yang sangat enak ," ujar Devita yang menceritakan sedikit tentang Turkey pada Olivia.
Olivia mendengus kesal, "Aku ingin sekali pergi denganmu. Tapi kau sudah pergi lebih dulu."
"Tenanglah, kita akan berlibur saat kita lulus kuliah nanti," jawab Devita sembari menikmati makanannya.
"Benarkah? Kita akan berlibur setelah kita lulus kuliah nanti?" kata Olivia dengan mata yang berbinar mendengar ucapan sahabatnya. Senyum di bibirnya terukir ketika mendengar ucapan Devita.
Devita mengangguk, "Ya, kita akan berlibur. Sebelumnya aku sudah meminta izin dengan Brayen dan dia memberikan izin asalkan aku harus memakai pesawat pribadi milik Brayen, karena aku pasti tidak boleh naik pesawat komersial."
Devita menggeleng pelan. "Kau ini, sungguh berlebihan, aku lebih menyukai pesawat komersial. Kita pasti tidak merasakan kesepian. Banyak penumpang lainnya di sana."
Olivia mencebikkan bibirnya, "Kau ini, sudah diberikan fasilitas yang begitu mewah dengan suamimu, kau terima saja! Aku sekarang akan berdoa mendapatkan suami yang bisa sekaya suamimu, agar hidupku juga bisa senang,"
"Felix juga hebat, dia mendirikan perusahaannya sendiri. Aku dengar, dia mampu mengembangkan perusahaannya dengan sangat baik. Jadi, aku rasa kau dan Felix sangat cocok." kata Olivia yang meyakinkan Devita. Dia tahu, sebenarnya Olivia juga menyukai Felix. Hanya saja, Olivia selalu mengelak itu.
Olivia berdecak pelan. "Sudahlah, kau jangan bicara yang tidak - tidak. Aku tidak ingin membahas sepupu dari suamimu itu. Dia sudah kehilangan akal sehatnya!"
"Terkadang jatuh cinta, membuat kita kehilangan akal sehat kita," Devita terkekeh.
"Sudah cukup, Devita! Karena aku masih belum yakin pada sepupu dari suamimu itu. Banyak hal yang menganggu pikiranku," tukas Olivia.
"Devita," suara bariton memanggil nama Devita yang cukup keras. Devita dan Olivia yang tengah mengobrol, mereka mengehentikan obrolan mereka, saat ada seseorang yang memanggil nama Devita. Devita dan Olivia, langsung mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara itu.
Devita mengerutkan keningnya, saat melihat sosok pria dengan balutan jas formal berjalan mendekat ke arahnya. "K...Kau?"
Pria itu mengatakan mendekat ke arah meja Olivia dan juga Devita. "Apa kabar Devita? Lama tidak bertemu?" sapanya dengan senyuman di wajahnya.
"W.. William kau di sini?" Devita sedikit terkejut melihat William, kini sudah berada di hadapannya.
William tersenyum. "Kau masih mengingatku rupanya, setelah kita sudah lama tidak bertemu."
"Ingatanku masih bagus, William. Kau juga pemilik perusahaan tempat dimana aku pernah magang. Tidak mungkin, aku lupa " balas Devita.
Tatapan William kini teralih pada Olivia yang duduk di depan Devita. "Hi, Olivia.."
"Hi, Tuan William." sapa Olivia dengan senyuman di wajahnya.
"Cukup panggil aku William saja," jawab William. Olivia mengangguk
pelan.
Kemudian William, kembali menatap Devita. "Bagaimana kabarmu, Devita? Lama tidak bertemu?"
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.