Love And Contract

Love And Contract
Mencari Devita



Devita mematut cermin merapikan rambut panjangnya. Hari ini Brayen meminta dirinya untuk ikut bertemu dengan rekan bisnisnya.


"Brayen apa kau tidak salah mengajakku meeting dengan clientmu?" tanya Devita kesal tanpa melihat ke arah Brayen yang tengah berkutat pada ipad di tangan pria itu. Devita sungguh tidak mau menemani Brayen meeting dan hanya berdiam diri. Itu akan sangat membosankan.


"Ya, kau harus menemaniku." jawab Brayen dengan suara dingin. Brayen memang sengaja membawa Devita untuk ikut meeting dengannya. Alasannya, Brayen tidak ingin gadis kecil itu membuat masalah ketika dia meninggalkannya sendirian.


Devita membuang napas kasar dan berkata, "Baiklah,"


Kini Brayen dan Devita, berjalan meninggalkan kamar. Setibanya mereka tiba di lobby. Brayen dan Devita langsung masuk ke dalam mobil. Sopir sudah sejak tadi menjemput mereka. Selama di Berlin, Brayen sudah menyewa mobil dan beserta dengan sopir.


Tidak lama kemudian, mobil yang membawa Brayen dan Devita mulai berjalan meninggalkan lobby hotel. Tujuan Brayen pagi ini adalah ke Steward Company. Salah satu perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.


Mobil yang membawa Devita dan juga Brayen sudah tiba di Steward Company. Mereka turun dari mobil, dan berjalan masuk ke dalam perusahaan.


"Brayen, aku harus ikut denganmu masuk ke dalam?" tanya Devita. Dia tidak suka menemani Brayen. Itu akan sangat membosankan jika hanya diam dan menunggu pria itu meeting.


"Ya, aku meeting sekitar satu jam. Kau bisa menungguku di ruang tunggu. Dan jangan kemana - mana," balas Brayen memperingatkan.


Devita mengangguk. Dengan terpaksa dia mengikuti Brayen berjalan masuk ke dalam.


"Kau tunggu di sini, aku harus masuk ke ruang meeting. Satu jam lagi aku akan kembali. Ingat! Kau jangan kemana - kemana!" Tukas Brayen kembali memperingati gadis kecil itu. Kini mereka telah tiba di ruang tunggu. Tepat tiba di sebrang ruang meeting.


"Ya, ya aku mendengarnya Brayen!" Cebik Devita kesal.


Brayen tidak lagi menjawab, dia langsung berjalan masuk ke dalam ruang meeting. Sedangkan Devita terpaksa menunggu di ruang tunggu.


"Brayen kurang ajar! Kenapa kau tidak membiarkanku jalan - jalan. Memangnya dia pikir aku anak kecil? Aku sudah mendapatkan kartu identitas! Itu artinya aku sudah dewasa!" Gerutu Devita saat melihat Brayen pergi.


Devita mengambil ponselnya di dalam tas sambil menunggu Brayen, dia memilih untuk mengirim pesan pada Olivia.


Devita : Olivia, kau sedang apa? Brayen kurang ajar, dia meninggalkanku meeting dan membuatku menunggu di ruangan. Benar - benar membosankan!


Olivia : Kenapa kau tidak jalan - jalan?


Devita : Aku belum pernah jalan - jalan ke Berlin sendirian, terakhir ke Berlin saat usiaku masih 10 tahun dan itu bersama dengan orang tuaku.


Olivia : Ya, kalau kau tidak berani terpaksa kau harus menunggu Brayen.


Devita : Tapi aku bosan! Brayen memang benar - benar menyebalkan!


Olivia : Kau jalan - jalan saja ke mall terdekat dengan tempatmu sekarang. Lalu kau kembali lagi jika Brayen sudah selesai meeting.


Devita : Kau benar! Aku akan jalan - jalan. Aku akan membelikan oleh - oleh untukmu.


Olivia : Good! You have to!


Devita beranjak dari tempat duduknya, dia sempat membaca di internet jika mall yang terdekat adalah Mall Of Berlin. Dengan cepat di memberhentikan taksi.


"Mall Of Berlin, Please," kata Devita pada supir taksi.


"Alright miss," jawab Supir taksi itu.


Kemudian taksi yang membawa Devita mulai berjalan meninggalkan lobby perusahaan.


...***...


"Terima kasih, Tuan Brayen. Semoga kerja sama kita membuat perusahaan yang kita dirikan nantinya akan sukses," kata Darrel rekan bisnis Brayen.


"Ya, aku berharap demikian. Kalau begitu aku harus pergi dulu, karena Istriku sudah menungguku," balas Brayen.


"Tuan Brayen membawa Istri?" tanya Darrel yang terkejut. Bagaimana tidak, Brayen terkenal dengan sifat dingin dan angkuh tidak suka mengumbar kemesraan ke publik dengan pasangannya.


"Ya, aku membawanya. Maaf aku harus duluan," kata Brayen.


Darrel mengangguk. " Baik Tuan,"


Brayen melangkah keluar dari ruang meeting, menuju ke ruang tunggu, dia tidak menemukan Devita. Brayen keluar menuju receptionist di depan ruangan.


"Apa kau melihat perempuan yang memakai Dress berwarna maroon? Harusnya dia berada di ruang tunggu," kata Brayen dengan nada cemas pada receptionist.


"Ya, benar. Apa kau melihatnya?" Brayen kembali bertanya.


"Saya melihatnya, dia keluar Tuan," jawab receptionist itu.


Raut wajah Brayen berubah menjadi panik. "Keluar? Apa kau yakin?" tanya Brayen memastikan.


"Ya Tuan, saya melihatnya keluar." balas receptionist itu.


"****! Merepotkan saja! Kemana kau gadis kecil!" Desis Brayen.


...***...


Brayen mengambil ponselnya dan menghubungi Devita kembali. Sejak tadi gadis kecil itu tidak menjawab telepon darinya. Satu, dua hingga lima kali dia mencoba menghubungi Devita, tapi tidak ada jawaban. Tidak menyerah, kali ini Brayen kembali menghubungi Devita.


"Devita, kau dimana?!" Seru Brayen dengan nada tinggi ketika panggilan berhasil terhubung.


"Hallo?" suara bariton menjawab dari sebrang telepon.


Brayen terkejut saat mendengar suara pria menjawab ponsel Devita.



"Siapa kau! Kenapa ponsel istriku kau yang menjawab!" Bentak Brayen yang emosi, seorang pria menjawab ponsel milik Devita.


"Tuan maaf, ponsel ini terjatuh di dalam taksi saya,"


Brayen mengumpat di dalam hati ketika mendengar penjelasan sopir taksi itu. "Katakan padaku, kemana kau mengantar istriku?"


"Tadi saya mengantar istri anda ke butik, setelah dia selesai berbelanja, Istri anda langsung menuju ke Mall Of Berlin."


Brayen membuang napas kasar. " Tiga jam lagi tolong antarkan ponsel Istriku ke Hotel Adlon Kempinski, Berlin. Aku akan membayarmu karena telah menemukan ponsel Istriku,"


"Baik Tuan,"


Panggilan tertutup, Brayen berlari ke arah lobby. Dia meminta sopirnya untuk ke Mall Of Berlin. Menjemput Istri kecilnya yang tengah berulah. Beraninya dia pergi saat dia sedang meeting.


...***...


Setelah Devita berkunjung ke butik - butik merk ternama di Berlin. Devita sudah puas berbelanja tas, sepatu dan baju - baju dengan merk yang ternama. Hermes, Louis Vouitton, Christian Louboution dan masih banyak yang lainnya. Kini Devita sudah berada di Mall Of Berlin. Devita memang sengaja berbelanja terlebih dahulu di butik sebelum ke Mall Of Berlin. Kini Devita tengah duduk di lobby sembari menikmati ice cream coklat di tangannya.


Seketika Devita kembali mengingat jika dirinya belum menghubungi Brayen. Dengan cepat Devita pun membuka tasnya. Dia hendak mengambil ponsel di dalam tas. Saat Devita mencari ponselnya di dalam tas, dia terkejut tidak menemukan ponselnya. Devita menuangkan seluruh isi tasnya ke kursi.Tidak hanya ponsel tetapi dia juga tidak menemukan dompetnya.Wajah Devita mulai panik, melihat ponsel dan dompetnya tidak ada.


"Astaga, dimana ponsel dan dompetku?" Devita berusaha untuk tenang, dia kembali mencari ponsel dan dompetnya tapi tetap tidak di temukkan.


Devita terlihat begitu gusar, dia tidak tahu harus bagaimana. Karena hotel dan perusahaan tempat Brayen meeting dia juga tidak mengingatnya.


"Bagaimana ini Brayen..., aku takut." mata Devita mulai berkaca - kaca. Dia sangat takut jika Brayen tidak bisa menemukannya.



"Hey, why are you crying?" sapa seorang pria.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.