Love And Contract

Love And Contract
Menjelaskan Kesalahpahaman



Devita menoleh dan menatap Edwin melangkah mendekat, " Papa sudah pulang?"


"Ya sayang, Papa sudah pulang." Edwin mengecup kening putrinya itu, lalu duduk di samping Devita. Kini tatapannya menatap Nadia yang duduk di hadapannya. " Ma, Papa ingin berbicara denganmu."


"Ada Devita, aku tidak ingin putriku mendengar keributan." tukas Nadia dingin, dia mengalihkan pandangannya tidak ingin menatap Edwin.


"Tujuan aku berbicara bukan ngin mengajak bertengkar denganmu," balas Edwin tegas.


"Pa, ada apa ini?" tanya Devita yang tidak mengerti.


"Sayang, Papa hanya ingin memberitahukan sebuah kebenaran. Karena selama ini, kalian masih salah paham pada Papa." Edwin mengelus rambut Devita dan menatapnya dengan tatapan yang lembut.


"Salah paham? Maksud Papa apa?" Devita mengerutkan dahinya, dia benar - benar tidak mengerti maksud perkataan dari Edwin.


"Ini tentang Gelisa," jawab Edwin, dengan membuat wajah Nadia dan juga Devita berubah. Mereka terlihat menahan emosinya ketika Edwin kembali menyebutkan nama itu lagi di hadapan mereka.


"Edwin! Aku tidak ingin membicarakannya!" Nadia menegur dan memperingatkan Edwin untuk tidak membahas masalah itu di depan Devita.


"Aku ingin membicarakan ini, agar tidak ada lagi kesalahpahaman yang terjadi di antara kita." Edwin mengambil amplop putih di balik jasnya lalu memberikannya pada Nadia. " Kau baca ini, jika masih tidak percaya kau bisa bertanya langsung pada Brayen.Karena dia yang membantuku."


Nadia terdiam, dia menatap amplop putih yang ada di hadapannya. Dengan penuh keraguan, akhirnya Nadia mengambil amplop putih itu dan membukanya. Terdapat satu lembar kertas di dalam amplop itu. Kemudian Nadia mulai membuka lembaran kertas dan melihatnya. Seketika Nadia terdiam saat melihat yang tertulis di kertas itu. Dia masih tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja dia lihatnya ini.


Devita menatap wajah Nadia yang terlihat begitu terkejut, " Ma, Mama kenapa?" tanya Devita yang cemas dan panik.


Nadia tidak bergeming, bahkan matanya terus menatap isi kertas tersebut. Edwin pun membiarkan Nadia terus menatap hasil itu. Edwin menunggu hingga Nadia bertanya padanya.


"Kau sudah membaca hasilnya? Dan itulah kenyataannya, Nadia. Jika kau masih tidak mempercayaiku, maka kau bisa bertanya langsung pada menantumu, Brayen." kata Edwin menjelaskan kebenarannya. Beruntung Brayen membantu dirinya.


"Ma, Mama kenapa hanya diam?" desak Devita tidak sabar. Sejak tadi, Ibunya itu tidak menjawabnya.


"Apa maksudmu ini?" akhirnya Nadia bertanya dan menatap Edwin.


"Kau sudah melihat bukan? Bukankah hasil tes itu sudah tertera dengan jelas. Bahwa anak Gelisa bukanlah anakku. Kau bisa bertanya pada menantumu, Brayen. Karena dialah yang sudah membantuku. Jika bukan karena Brayen, mungkin aku tidak tahu seperti apakah keluarga kita ini." kata Edwin menjelaskan semuanya.


Devita tersentak saat Ayahnya menyebutkan nama Brayen suaminya yang terlibat, "Maksud Papa apa? Brayen sudah membantu Papa?"


"Ya, suamimu sudah membantu Papa untuk melakukan tes DNA itu. Sekarang sudah terbukti, anak dari Gelisa Wilson bukan anak Papa." jawab Edwin, dia mengelus dengan lembut rambut Devita. " Anak Papa hanya kau, Devita. Putri kesayangan Papa yang sejak dulu. Bahkan meski Papa sudah tidak lagi bernafas kau tetap putri kesayangannya Papa."


Tatapan Edwin, kini beralih menatap Nadia yang mulai menangis. Edwin beranjak bangkit berdiri, membantu Devita untuk berdiri. Lalu dia menarik tangan Nadia membawanya masuk kedalam pelukannya. Edwin memeluk dengan erat istrinya. Dia mengecupi berkali - kali pucuk kepala istri dan juga anaknya. Dia sungguh bersyukur dengan kenyataan ini. Tuhan masih begitu baik dengan keluarganya.


Sekarang Edwin menyadari satu hal. Semua orang bisa berubah seiring berjalannya waktu. Semua telah kembali di posisi semula. Dimana kebahagiaan keluarganya mengelilingi kehidupan mereka.


...*****...


Gelisa turun dari mobil dengan penuh amarah di wajahnya. Dia membanting pintu mobil dan berjalan masuk. Lucia pun melakukan hal yang sama, tapi kini perasaan Lucia di penuhi dengan rasa malu. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya dalam hidup Lucia di permalukan seperti ini.


"Mom tunggu! Aku ingin berbicara denganmu?" Lucia menarik lengan Gelisa dan berusaha menghentikan langkah Gelisa. "Jelaskan semua ini, Mom. Apa maksudnya? Kenapa hasil Tes DNA itu mengatakan, kalau aku bukanlah anak dari Edwin Smith? Bukankah sejak kecil Mommy selalu mengatakan jika Daddyku bernama Edwin Smith. Sebenarnya siapa Daddyku, Mom?"


"Lepaskan Mommy, Lucia! Biarkan Mommy sendiri dan jangan menganggu Mommy." Gelisa menghetakkan tangannya berusaha melepaskan cengkraman tangan dari Lucia. Namun Lucia semakin mencengkram kuat tangan Gelisa. "Katakan sebenarnya, Mom. Aku ingin mendengarkannya." tukas Lucia yang terus memaksa Gelisa.


Gelisa membuang napas kasar, "Apa yang kau ingin dengarkan? Kau ingin mendengar hasil tes yang sebenarnya? Belum waktunya kau mengetahui semua kebenarannya, Lucia. Kau harus tahu, selamanya Mommy tidak akan pernah membiarkan Edwin berbahagia dengan keluarganya." Gelisa mengatakan dengan tegas. "Sekarang tujuan Mommy adalah memberikan pelajaran yang berharga pada Edwin tentang arti sebuah kehilangan. Karena dia harus membayar mahal, setiap kebahagiaan yang dia dapat. Saat dia merasakan kebahagiaan, Mommy harus merasakan penderitaan. Dia harus membayar untuk itu."


"Sebenarnya ada apa, Mom? Kenapa Mommy terlihat begitu membenci mereka?" Lucia bertanya tidak mengerti dengan Ibunya yang terlihat begitu membenci kebahagiaan di keluarga Edwin Smith.


"Kau tidak mengerti dengan kebenaran yang ada, Lucia. Teruslah untuk selalu mendukung Mommy, karena semua ini demi membahagiakan kalian. Selama ini Mommy bisa bertahan karena memilikimu dan juga Edgar. Suatu saat dan di waktu yang tepat, Mommy berjanji akan mengatakan semuanya." Gelisa mengelus pipi Lucia dan menatapnya penuh dengan kasih sayang. "Mommy selalu mendukungmu di setiap langkahmu, Lucia. Mommy juga berharap kau juga selalu mendukung Mommy di setiap langkah Mommy. Percayalah sayang, Mommy melakukan ini demi kebaikan kita semua."


Lucia menyentuh tangan Ibunya dan mengecup punggung tangan Gelisa. "Aku selalu percaya padamu, Mom. Dan aku akan selalu mendukung Mommy apapun kondisi Mommy. Aku akan selalu berdiri di samping Mommy, kita akan melewati ini semua, Mom."


Gelisa tersenyum, "Kau memang putriku, kau akan tumbuh menjadi perempuan yang paling sempurna."


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.