
Terdengar suara ketukan pintu, membuat Brayen, kini melihat ke arah pintu, tidak menunggu lama, dia langsung menginterupsi untuk masuk.
" Tuan," sapa Alberlt saat masuk ke dalam ruang kerja Brayen.
"Ya, sekarang kau jemput Elena di bandara, katakan padanya hari ini aku sangat sibuk,". tukas Brayen dingin.
Alberlt menganguk patuh, " Baik Tuan"
"Apa kau sudah membelikan Apartemen untuk Elena?" tanya Brayen sambil menatap Alberlt yang sedang berdiri di hadapannya.
"Sudah Tuan, tapi maaf Tuan saya tidak membelikannya Apartemen mewah di sini. Saya membelikan Apartemen kelas menengah untuk Nona Elena," jawab Alberlt.
"Kenapa kau membelikan Apartemen kelas menengah untuknya?" tanya Brayen sambil mengerutkan keningnya.
"Begini Tuan, jika saya membeli Apartemen mewah untuk Nona Elena, ketika Tuan ingin menemuinya pasti banyak orang yang mengenal Tuan," jelas Alberlt.
Brayen membuang napas kasar dan berkata, "Kau benar,"
"Tuan, jika saya berani untuk berbicara, tapi apa Nyonya tahu tentang ini?" tanya Alberlt hati - hati.
"Aku sudah memberitahu Devita, jika Elena adalah kekasihku," jawab Brayen dingin.
"Maaf Tuan. Apa Tuan tidak menyukai Nyonya? Istri Tuan adalah gadis yang baik, dia sangat cantik, dan lahir dari keluarga yang baik - baik. Edwin Smith, Ayah Nyonya adalah pria yang hebat. Beliau mampu membawa perusahaannya kini berada di atas,"ujar Alberlt berusaha mengingatkan Brayen.
"Aku tidak tahu, tapi aku rasa aku tidak mungkin bersamanya. Aku tidak mungkin mengkhianati Elena. Hubunganku dengan Elena sudah sangat lama. Devita juga memiliki seorang pria yang dia tunggu," balas Brayen datar. Ya, dia tidak mungkin mengkhianati kekasihnya. Hubungannya dengan Elena sudah lama. Dan Devita, wanita itu juga telah memiliki seorang pria yang dia tunggu.
"Tuan, apa Tuan sangat yakin, jika Nona Elena setia dengan anda?" tanya Alberlt yang memberanikan diri mengajukan pertanyaan ini pada Brayen.
Brayen menaikan sebelas alisnya, "Maksudmu, Elena berselingkuh dariku? Aku rasa dia tidak memiliki keberanian itu,"
"Tapi banyak pemberitaan Nona Elena berkencan dengan pria lain. Beberapa pengusaha juga mengatakan, jika mereka pernah berkencan dengan Nona Elena. Maaf Tuan, jika saya sudah berani berbicara seperti ini," ujar Alberlt. Lalu dia menundukkan kepalanya tidak berani menatap Tuannya itu.
"Mungkin itu hanya berita media yang membesar - membesarkannya. Kau tahu resiko menjadi seorang artis, tidak lepas dari pemberitaan media," jawab Brayen, dia masih begitu mempercayai Elena. Dia yakin, Elena tidak mungkin berselingkuh darinya.
"Apa Tuan Brayen, ingin aku menyelidikinya Tuan?" tanya Alberlt hati - hati.
"Untuk sementara ini belum, jika aku membutuhkan penyelidikan maka aku akan memberitahumu," jawab Brayen, sambil mengambil gelas sloki yang berada di hadapannya, yang berisikan wine, lalu menyesap winenya.
"Baik Tuan, kalau begitu saya akan menjemput Nona Elena sekarang!" Alberlt menundukkan kepalanya lalu undur diri dari hadapan Brayen.
...***...
Bandara Internasional kota B, Indonesia.
Elena baru saja tiba di Bandara dengan wajah yang kesal. Karena Brayen tidak memberinya private jet untuk menjemput Elena. Brayen hanya memberikan tiket first class untuk Elena. Padahal yang Elena inginkan adalah Brayen mengirimkannya ke private jet miliknya untuk menjemput Elena.
Elena melihat arlojinya, Brayen sudah terlambat lima belas menit. Padahal, Elena sudah memintanya untuk menjemputnya agar jangan sampai terlambat.
"Nona Elena," sapa Albert yang sudah berada di hadapan Elena.
Elena terkejut karena Alberlt yang datang, dengan tatapan tidak suka, Elena menjawab, "Kenapa kau yang datang? Dimana Brayen?"
"Tuan hari ini sangat sibuk Nona? Tuan meminta saya untuk menjemput Nona. Mari Nona saya antar ke Apartemen." jawab Alberlt.
"Aku tidak mau! Antarkan aku perusahaan Brayen sekarang!" Ucap Elena ketus. Tatapannya menatap dingin Alberlt yang masih tidak bergeming di tempatnya.
"Tapi Nona...,'
"Apa kau tidak mendengarkan ucapan ku? Kau ini hanya seorang asisten saja! Kau harus menuruti perkataan ku. Cepat, antarkan aku ke perusahaan kekasihku sekarang!" Seru Elena meninggikan suaranya.
Alberlt menganguk patuh, dan berkata, " Baik Nona,"
Elena berjalan menuju mobil. Lalu, Alberlt langsung membukakan pintu mobil untuk Elena. Kini mobil mereka sudah meninggalkan bandara. Alberlt terpaksa menuruti keinginan Elena. Karena Alberlt sangat tahu, jika ia tidak menuruti Elena maka Elena akan marah besar.
...***...
Albert dan Elena berjalan masuk ke dalam menggunakan lift pribadi. Elena berjalan dengan sangat anggun. Elena biasa tidak tersenyum pada seseorang, dia lebih sering bersikap angkuh ketika seseorang menyapanya.
Ting.
Pintu lift terbuka, Elena langsung melangkah menuju ke ruangan kerja Brayen. Dia sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Brayen.
"Brayen," panggil Elena saat masuk kedalam ruang kerja Brayen.
Brayen yang tengah duduk di kursi kerjanya, dia terkejut Elena datang ke ruang kerjanya. Padahal ia sudah meminta Alberlt untuk mengantarkan Elena langsung ke Apartemen yang sudah dia beli.
"Elena kau kesini?" tanya Brayen yang terkejut.
Elena pun berjalan mendekat ke arah Brayen dan dia pun langsung duduk di pangkuan Brayen. Dia mencium dan ******* bibir Brayen. Namun Brayen hanya diam, tidak membalas ciuman Elena.
"Kau tidak merindukanku? Kenapa kau tidak membalas ciumanku?" seru Elena yang kesal, karena Brayen tidak membalas ciumannya.
Brayen membantu Elena untuk berdiri, dia juga Bagun dari kursi kerjanya "Jangan seperti ini Elena, kita sedang berada di kantor," balas Brayen.
"Kenapa? Saat kita di Milan, kita juga sering bercinta di ruang kerjamu," jawab Elena dengan nada kesal.
"Kau ingin minum apa?" tanya Brayen sengaja mengalihkan ucapan Elena.
"Tidak, aku hanya merindukanmu, kenapa kau tidak menjemputku?" seru Elena.
"Aku sibuk Elena. Aku baru saja selesai meeting," balas Brayen.
Kemudian Brayen menarik tangan Elena agar mereka duduk di sofa.
Elena mendengus, " Aku tidak suka jika kau tidak mengutamakanku, Brayen. Apa pekerjaanmu itu terlalu penting?"
"Kau tahu, tanggung jawabku besar di Perusahaanku. Saat di Milan itu adalah perusahaan cabang ku. Ini di Kota B Elena, ini kantor pusat Perusahaanku. Aku lebih banyak sibuk di sini," jelas Brayen.
"Baiklah, tapi aku ingin tinggal di mansion mu! Aku tidak ingin tinggal sendirian di sini, apalagi di Apartemen!" Cebik Elena kesal.
"Tidak bisa, kau tidak bisa tinggal di mansionku. Kau tinggal saja di Apartemen. Aku sudah membelikan Apartemen itu untukmu!" Tukas Brayen menekankan.
"Kenapa? Saat di Milan kita juga sering tinggal bersama. Kenapa di sini tidak bisa?" ucap Elena ketus.
"Elena jangan pernah samakan Milan dengan Indonesia. Di sini tempat tinggal keluargaku. Aku tidak ingin ada pemberitaan yang macam - macam tentang diriku," seru Brayen yang mulai malas menanggapi ucapan Elena.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak memperkenalkan aku dengan keluargamu? Kita sudah menjalin hubungan sangat lama, Brayen!" Balas Elena.
Brayen membuang napas kasar. " Aku belum bisa mengenalkanmu pada keluargaku . Banyak hal yang harus aku katakan padamu Elena."
"Ada apa? Kau ingin mengatakan apa?" tanya Elena menatap serius Brayen.
"Banyak hal yang harus kau ketahui, mungkin kau belum melihat berita di media tentang diriku," tukas Brayen dingin.
Elena mengerutkan dahinya " Apa yang kau maksud Brayen? Aku tidak mengerti?"
"Aku di jodohkan dengan anak sahabat Daddyku. Dia anak dari Edwin Smith. Aku rasa kau pernah mendengar nama Edwin Smith. Beberapa bulan terakhir Edwin Smith, mampu membawa perusahaannya berada di puncak," jawab Brayen menatap lekat manik mata Elena. "Dan aku sudah menikah dengan anak dari Edwin Smith,"
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.